
Tolong divote ceritanya dan kasih sarannya ya π.
Silahkan tinggalkan jejak dengan mengklik like di bawah cerita setiap babnya π.
Kasih bintang lima ya π.
Happy reading π€.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Billy, Rogen, Samuel, Clara, Liza dan Irene sedang menanti kepulangan Rafael di ruang keluarga penthousenya Rafael. Suasana hening dan tegang menyelimuti ruangan itu. Mereka ingin membahas tentang perselingkuhan Rafael dengan Regina yang ketangkap basah sama Liza. Rogen duduk di sofa panjang sambil mengepalkan tangan kanannya. Rogen sangat murka setelah mendengar perselingkuhan Rafael dengan Regina. Rafael telah mencoreng nama keluarganya.
Sedangkan Billy mengeraskan rahang mukanya. Dia tidak pernah mengajarkan Rafael untuk mengkhianati seorang wanita dan mengkhianati sebuah janji suci. Billy mengusap wajahnya dengan kasar. Emosi jiwa menyelimuti dirinya. Wajahnya yang memerah menampakkan emosi dengan jelas di mukanya. Dia memejamkan lagi dua matanya yang merah untuk meredam angkara murkanya yang sejak dari tadi pagi.
"Rafael benar - benar tidak punya otak! Dan wanita itu benar - benar memiliki nyali untuk membuat masalah dengan keluarga ini. Benar - benar tidak bisa dimaafkan. Aku akan memberikan mereka pelajaran!" ucap Billy dengan emosi yang membuyarkan keheningan.
"Aku nggak habis pikir, kenapa Rafael masih seperti itu? Padahal sudah berkali - kali kita menegurnya supaya dia kembali menjadi Rafael yang tidak seperti itu," ucap Rogen.
"Itu semua karena kamu!" ucap Clara ketus.
"Kok karena aku? Apa salahku coba?!" ucap Rogen dengan emosi.
"Kamu terlalu sibuk dengan dirimu sendiri sehingga tidak pernah memberikan perhatian dan kasih sayang ke Rafael sejak dia dilahirkan! Hanya selalu memberikan materi, seharusnya seorang ayah itu juga memberikan perhatian dan kasih sayang!" celetuk Clara emosi.
Irene menarik pergelangan tangan kirinya Rogen ketika Rogen hendak berdiri dari sofa. Rogen menoleh ke Irene. Irene memberikan isyarat agar Rogen kembali duduk dengan menganggukkan kepalanya. Akhirnya Rogen tidak jadi berdiri. Rogen menghela nafas panjang sambil beristighfar di dalam hati.
"Clara, masalah yang dulu nggak usah dibahas. Yang penting sekarang kita bahas tentang persoalan rumah tangga Rafael dengan Liza," ucap Billy bijak.
Pintu lift terbuka memperlihatkan sosok Rafael dan Edward. Rafael dan Edward langsung keluar dari dalam lift, lalu pintu lift tertutup secara otomatis. Tak lama kemudian terdengar derap langkah kaki Rafael yang tegas menuju ruang keluarga penthousenya Rafael. Sedangkan Edward melangkahkan kakinya ke ruang kerjanya Rafael sambil membawa dua buah koper. Edward ditugaskan untuk menyelesaikan sebagian pekerjaan Rafael karena ada pembicaraan serius tentang rumah tangga Rafael dengan Liza.
Rogen menarik nafas dalam - dalam lalu menghembuskannya secara perlahan berulang kali untuk menenangkan emosi di dirinya. Dengan tenang Rafael menghampiri Billy, Rogen, Irene, Clara, dan Samuel untuk menyalim mereka secara bergantian. Rafael tersenyum sinis ke Liza, lalu duduk di sebelah kanan Liza. Menatap satu persatu orang - orang yang menyayangi dirinya.
"Papi mau kamu jujur, apakah kamu selingkuh sama Regina?" tanya Rogen serius.
__ADS_1
"Iya Pi."
"Sebenarnya siapa Regina?" tanya Clara serius.
"Teman di ranjang."
"Kamu masih melakukan free ***?" tanya Billy geram.
"Iya Dad."
"Sejak kapan kamu berhubungan sama Regina?" tanya Rogen.
"Yah, empat bulanan."
"Apakah kalian masih intens berhubungan setelah kamu menikahi Liza?" tanya Billy.
"Nggak juga, jika aku menginginkan dia, aku telepon."
"Kenapa kamu masih melakukan itu El? Kamu kan sudah menikah sama Liza," ucap Clara dengan nada suara yang sendu.
Rogen langsung berdiri sambil mengepalkan dua tangannya, lalu berucap, "DASAR BRENGSEK!"
"Kayak Papi nggak pernah brengsek aja," ucap Rafael sinis yang membuat Rogen naik pitam dan Liza menundukkan kepalanya.
Billy langsung menghadang Rogen yang mau menghampiri dan menonjok Rafael. Rogen menoleh ke Billy, lalu Billy menggelengkan kepalanya. Rogen mendengus kesal. Rafael yang melihat adegan itu tersenyum miring. Irene langsung berdiri, lalu mengarahkan tubuhnya Rogen ke tempat duduknya. Rogen mengikuti arahan Irene. Irene mengusap punggungnya Rogen supaya Rogen kembali tenang.
"Kamu nggak boleh gitu sama Papi kamu El, bagaimana pun juga dia itu ayah kamu, kamu harus menghormatinya," ucap Billy yang bijak.
"El, Mami minta kamu untuk belajar mencintai Liza lagi. Dia itu anak yang baik, dan Mami yakin dia akan membuat kamu menjadi pribadi yang lebih baik lagi," ucap Clara.
"Kalau dia wanita yang baik, mana mungkin dia selingkuh! Dia bermesraan sama laki - laki lain Mi!" bentak Rafael kesal dengan ekspresi wajah yang garang.
"El! Kamu nggak boleh ngebentak Mamimu seperti itu!" ucap Irene kesal.
__ADS_1
Rafael menoleh ke Irene, lalu berucap, "Cih, kamu nggak berhak mengatur diri saya lagi!"
"RAFAEL!!" bentak Rogen sambil berdiri.
Irene langsung menarik tangan kirinya Rogen supaya Rogen kembali duduk. Rogen menghela nafas panjang sambil menduduki tubuhnya. Rafael langsung berdiri sambil mengeraskan rahang mukanya. Billy langsung berdiri, lalu menghampiri Rafael karena teringat pesan dari mendiang istrinya bagaimana caranya meluluhkan hatinya Rafael. Billy langsung mendekap tubuhnya Rafael dengan penuh kasih sayang. Mengusap punggungnya Rafael berulang kali.
"Tenangkan dirimu Nak, kami semua sayang kamu. Kami menginginkan yang terbaik untukmu dan Liza," bisik Billy dengan lembut.
"Sekarang kalian menginginkan apa dariku?" tanya Rafael yang sudah melunak.
"Kami minta kamu untuk mencintai Liza, hargailah nilai suci pernikahan kalian dan berubahlah menjadi pribadi yang lebih baik lagi," ucap Clara memelas sambil melihat Billy melepaskan pelukannya.
"Fine, tapi itu semua tergantung Liza. Liz, apakah kamu mau mendampingi diriku di dalam pernikahan kita?" tanya Rafael serius sambil menoleh ke Liza.
Liza mengadahkan wajahnya, lalu berucap, "Iya."
Shittt! Dia mengiyakan. Tadi waktu ditelepon minta cerai tapi sekarang masih mau mempertahankan pernikahan ini. Dasar wanita plin - plan. Kalau seperti ini, aku harus bikin surat perjanjian perceraian dan aku akan membuat dia menderita.
Batin Rafael.
"Terima kasih Rafael, kalian sudah mau melakukan yang terbaik untuk kalian. Nah sebaiknya sekarang kalian istirahat, lusa kan kalian akan merayakan pesta pernikahan kalian," ucap Billy dengan lembut.
Rafael menoleh ke Liza dengan tatapan mata yang tajam, lalu melangkahkan kakinya ke kamar tanpa berpamitan. Dengan hati yang dongkol, dia harus mempertahankan rumah tangganya. Dia mendengus kesal sambil berjalan. Berjalan melewati pintu kamar yang terbuka, lalu menutupnya.
Rafael menduduki tubuhnya di sofa yang berada di dalam kamarnya. Telapak tangan kanannya mengepal, rahang muka mengeras dan gigi menggeretak. Fernandez sangat marah karena dia belum bisa terlepas dari pernikahan yang memuakkan baginya. Dia juga marah karena Liza berubah pikiran. Hatinya menjadi beku bagaikan es di kutub utara. Marah dan hawa nafsu bergejolak di dalam jiwanya.
"Dasar wanita plin - plan!" gerutu Rafael.
Pintu kamar terbuka secara perlahan. Menampilkan siluet tubuh indahnya Liza. Liza tersenyum kikuk ke Rafael sambil menutup pintu kamar. Liza melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat. Rafael beranjak berdiri, lalu berjalan dengan derap langkah kaki yang tergesa - gesa menghampiri Liza. Rafael tidak bisa menahan rasa amarahnya lagi. Tubuhnya bergerak sangat cepat untuk menyergap Lizal masuk ke dalam pelukannya. Rasa ingin untuk membuat Liza menderita memenuhi dadanya.
"Aaakkhhpp!" suara terkesiap dari mulutnya Liza menggantung di udara.
Rafael langsung membalikkan tubuhnya Liza, lalu ******* bibirnya Liza dengan kasar karena Rafael tak mau membiarkan Liza mengatasi rasa terkejutnya. Sementara tangan kirinya bergerak liar menjelajahi tubuhnya Liza. Liza mulai meronta - ronta, namun tenaganya tidak sekuat Rafael sehingga dia tidak bisa melepaskan dirinya dari pelukan Rafael dan pasrah menerimanya karena dia sudah tidak ada lagi tenaga untuk memberontak.
__ADS_1
Rafael dengan sekuat tenaga memeluk tubuh indahnya Liza, sementara tangan kanannya menahan kepalanya Liza agar berhenti bergerak. Merengkuh, meraba, dan meremas dengan brutal. Tak ada kelembutan dalam setiap sentuhan yang telah diberikan Rafael terhadap Liza saat ini. Rafael tidak peduli dengan apa yang dia lakukan terhadap Liza. Jiwanya Rafael telah dibutakan oleh hasrat ingin membuat Liza menderita.
Kenapa Bang El melakukan itu lagi terhadap diriku? Apakah dia marah sama diriku?"