Asa Diriku

Asa Diriku
Jangan Ke Sini Lagi


__ADS_3

Dilike ya guys 😁


Divote ya guys 😁


Dikomen ya guys 😁


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Suhu udara kota Jakarta panas membara. Sang surya dengan bentuk bulat sempurna bertengger di tengah cakrawala menyinari bumi. Cahaya benderangnya berpijar di tengah petala langit menaungi segala aktivitas para manusia, termasuk Rafael. Rafael melangkahkan kakinya menyusuri lorong menuju apartemennya Jack. Rafael menghentikan langkahnya ketika berada di depan pintu apartemennya Jack.


"Kalian tunggu di sini aja," ucap Rafael ke para pengawalnya tanpa menoleh.


Rafael memencet bel pintu. Tak lama kemudian pintu terbuka secara perlahan. Rafael tersenyum sinis ke Jack. Jack yang hanya mengenakan celana training memasang muka datar. Tiba - tiba Liza datang yang hanya mengenakan bathrobe dan rambut basahnya dibiarkan terurai acak - acakan. Liza tertegun melihat Rafael. Hatinya Liza berdebar kencang menatap wajahnya Rafael. Rafael mengeryitkan keningnya melihat Liza.


Habis ngapain mereka?


Batin Rafael.


"Sedang apa kamu berada di sini?" ucap Rafael ketus sambil menatap tajam ke Liza.


"Kalau bertamu di rumah orang harus sopan dong!" ucap Jack kesal.


"Saya tidak punya urusan sama anda!" ucap Rafael marah.


"Hey! Ini apartemen saya! Anda jangan semena - mena di sini! ucap Jack geram.


"Jack, biarkan Bang El masuk, kalau di sini terus nggak enak sama tetangga," ucap Liza yang menenangkan kondisi, lalu Liza membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya ke ruang tamu apartemen.


"Masuk," ucap Jack datar sambil memiringkan tubuhnya.


Rafael nyelonong masuk ke dalam apartemen dengan derap langkah yang tegas. Mengikuti langkahnya Liza. Selain merasakan hatinya yang berdebar kencang, Liza juga merasakan desiran lembut menelusuri di setiap nadinya. Liza menduduki tubuhnya di atas sofa panjang. Rafael duduk di sofa single yang berhadapan sama Liza. Jack duduk di sebelah kanan Liza setelah menutup pintu apartemen. Seketika suasana hening dan tegang.


"Ada apa Bang El ke sini?" tanya Liza yang mencairkan suasana.


"Kamu ngapain ke sini?" tanya Rafael ketus.


"Karena aku ingin menata hatiku yang telah hancur lebur karena Bang El."


"Sekarang kamu maunya gimana?" tanya Bang El.


"Aku ingin kita mengakhiri pernikahan kita secepatnya tanpa menunggu orang tua kamu meninggal."


Rafael tersenyum miring, lalu berucap, "Kamu ingin seperti itu karena kamu telah selingkuh sama Jack?" ucap Rafael dengan nada suara yang marah.


"Kalau iya emangnya kenapa?" celetuk Jack kesal.


"Bang El, aku tidak pernah berselingkuh sama siapa pun," ucap Liza tegas

__ADS_1


"Cih, kamu jangan bohong. Aku punya buktinya jika kamu berselingkuh!" ucap Rafael marah.


"TERSERAH!!! Terserah Bang El mau ngomong apa. Yang jelas AKU INGIN KITA BERCERAI! ucap Liza geram sambil mengepalkan telapak tangan kanannya.


Rafael langsung berdiri, lalu berucap, "Baiklah, aku turuti keinginan dirimu."


"Terima kasih telah mengikuti keinginan diriku," ucap Liza melunak.


Rafael menghela nafas dengan kasar, lalu melangkahkan kakinya menuju pintu apartemen. Ketika Liza hendak berdiri untuk mengantar Rafael pulang, Jack memegang pergelangan tangan kanannya. Liza menoleh ke Jack. Jack menggelengkan kepalanya untuk memberikan kode agar Liza tidak boleh melakukan itu.


Jack berdiri, lalu mengikuti langkahnya Rafael. Liza merasakan perutnya keroncongan karena lapar. Liza berdering dari sofa, lalu melangkahkan kakinya ke kitchen isle. Sekilas dia melihat punggungnya Rafael di ambang pintu apartemen sambil berjalan. Tak diduga, air matanya mengalir lembut. Luka hatinya yang belum kering terbuka menganga. Liza mengalihkan pandangannya dari Rafael sambil menyeka air matanya. Menarik nafas panjang, lalu menghembuskan nafasnya secara perlahan berulang kali untuk menenangkan hati dan emosinya.


Liza membuka pintu lemari pendingin. Mengambil botol air mineral. Menutup pintu lemari pendingin. Membuka segel tutup botol itu, lalu meminumnya. Jack mengusap puncak kepalanya Liza hingga Liza menoleh setelah meneguk air mineralnya. Liza menoleh ke Jack yang sedang tersenyum hangat ke Liza. Liza menaruh botolnya di atas meja pantry.


"Kamu tidak perlu menangis dirinya lagi. Kamu harus kuat," ucap Jack menyemangati dirinya.


"Iya, terima kasih atas perhatiannya," ucap Liza sambil menoleh ke Jack dengan tatapan mata yang sayu


Hatinya Jack tersentuh lagi melihat wajahnya Liza. Dia merasakan lagi gelayar halus di relung hatinya ketika menatap dua mata Liza dengan intens. Spontan Jack mengelus pipi kirinya Liza. Liza terkejut menerima perlakuan Jack yang tiba - tiba mengelus pipinya. Liza menepis tangan kanannya Jack dari pipinya. Dia mengalihkan pandangannya ke beberapa macam makanan yang tersaji di atas meja pantry. Tapi tak ada makanan yang menggiurkan dirinya.


Aku pikir - pikir, sejak pertama kali bertemu sama Liza, apa yang aku rasakan ketika berada sangat dekat dengan Liza sama seperti perasaanku ketika berada sangat dekat dengan Etta, kekasihku. Ah, aku tidak boleh selingkuh, aku harus menghargai perasaan wanita. Bagaimana pun juga, Liza itu saudaraku walaupun kami tidak memiliki hubungan darah.


Batin Jack.


"Liz, maaf jika perlakuanku tadi membuat dirimu tidak nyaman. Sebenarnya aku sayang kamu, sayang sebagai saudara," ucap Jack lembut.


"Kamu nggak mau makan?" tanya Jack.


"Iya, tapi aku mau buah alpukat," ucap Liza sambil mencari - cari buah alpukat.


Ting nong ... ting nong ... ting nong ...


"Iya tunggu sebentar!" sahut Jack sambil melangkahkan kakinya ke pintu apartemen.


Sedangkan Liza masih sibuk mencari buah alpukat sehingga dia menemukan dua buah alpukat. Dia tersenyum senang karena mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia menutup pintu kulkas yang ukurannya sangat besar. Jack menghampiri dirinya sambil memperhatikan gerak - geriknya. Liza menaruh dua buah alpukat lalu mengambil pisau. Ketika baru memotong setengah, dirinya dipanggil seseorang.


"Liza!" panggil Vina yang membuat dirinya terkejut.


"Aauuwww!" suara Liza kesakitan karena jarinya tak sengaja teriris sambil membuang pisau.


Sontak Jack meraih tangan kirinya Julia dan melihat jari tengah Liza mengeluarkan darah segar. Spontan Jack mengulum jari tengahnya Liza untuk menghisap darah yang keluar dari jari itu dengan lembut. Vina tertegun melihat perlakuan manis Jack terhadap Liza. Vina tidak pernah menyangka sama sekali melihat bini semua. Vina juga terkejut melihat sosok Liza yang hanya memakai bathrobe di dalam apartementnya Jack. Ditambah rambut basahnya Liza dibiarkan terurai acak - acakan, Jack dengan muka bantalnya yang hanya memakai celana training dan perlakuan lembut Jack terhadap Liza.


Sejak pertama kali dia bertemu sama Jack, dia tidak pernah diperlakukan lembut seperti itu. Padahal dia menginginkan itu karena dia telah jatuh cinta kepada Jack. Tapi Jack telah menolaknya karena Jack memiliki seorang kekasih yang berada di Berlin. Vina menggeleng - gelengkan kepalanya berulang kali untuk menyangkal perasaan hatinya yang terluka. Dia menghirup udara sebanyak mungkin, lalu membuangnya secara perlahan agar dirinya tenang.


"Darahnya sudah berhenti," ucap Jack lembut setelah menghisap darah yang keluar sampai darahnya berhenti dengan sendirinya sambil menggenggam telapak tangan kirinya Liza.


"Terima kasih," ucap Liza sambil melepaskan genggaman Jack.

__ADS_1


"Liza, kamu ngapain berada di sini?" tanya Vina.


"Itu bukan urusanmu," celetuk Jack yang membuat Liza menatap dirinya dengan tatapan mata yang bingung.


Jack menoleh ke Vina, lalu berucap, "Katanya tadi kamu mau ngomong sesuatu, tapi malah melengos masuk ke sini. Kamu mau ngomong apa?"


"Awalnya aku mau minta kamu nemaniku mencari Liza yang kabur dari rumah. Tapi sekarang aku tidak usah mengkhawatirkan Liza lagi dan mencari Liza karena keadaan Liza baik - baik saja berada di sini."


"Vin, makan yuk!" ucap Liza ramah.


"Tidak, terima kasih. Kenapa kamu kabur ke sini?"


"Karena dia kekasihku," samber Jack ketus yang membuat Vina dan Liza kesal.


"Jack!" bantah Liza.


"Kamu jangan malu - malu mengakuinya," ucap Jack sambil memberikan kode ke Liza sehingga membuat Liza mendengus kesal.


"Bukannya kamu sudah punya kekasih di Berlin?"


"Sama dia sudah putus, lalu aku kemarin jadian sama Liza," ucap Jack yang senang melihat kesedihan di raut mukanya Vina.


"Bolehkah aku bicara empat mata sama Liza?" tanya Vina sedih sambil menoleh ke Jack.


"Boleh, tapi satu menit," jawab Jack ketus.


"Baiklah."


"Ya udah, aku mandi dulu," ucap Jack, lalu dia melangkahkan kakinya menuju kamar pribadinya.


"Kamu mau ngomong apa?" ucap Liza datar.


"Kamu jangan salah paham dulu soal yang kemarin kamu lihat. Waktu itu aku janjian ketemuan sama Bang El di Star club. Aku ingin meminta dia untuk tidak menyakiti dirimu lagi dan dia juga bilang sedang berusaha untuk menjaga hatimu sebagai istri sahnya. Tapi setelah kami meminum minuman pesanan kami, tubuh kami panas dan bergairah sehingga kami tidak tahu berbuat apa untuk menghilangkan gairah yang berada di dalam tubuh kami selain berhubungan intim," penjelasan Vina yang membuat emosi Liza naik.


"Alasan yang klasik," ucap Liza ketus.


"Benaran Liz, aku tidak bohong," ucap Vina yakin.


"Terima kasih atas penjelasan darimu. Sebaiknya kamu sekarang pergi dari sini."


"Tapi kamu percaya kan samaku?"


"Aku tidak tahu. Aku mohon kamu secepatnya pergi dari sini!" ucap Liza marah.


"Vin, lebih baik sekarang kamu keluar dari apartemenku!" ucap Jack kesal yang tiba - tiba nongol di antara mereka.


Vina menoleh ke Jack, lalu berucap dengan nada suara kecewa dan sedih, "Iya, aku juga ingin keluar dari sini. Aku juga tahu diri untuk tidak mau mengganggu waktu kencan orang yang sedang jatuh cinta."

__ADS_1


"Syukurlah jika kamu tahu diri. Dan aku minta kamu jangan ke sini lagi."


__ADS_2