Asa Diriku

Asa Diriku
Sering Bertemu Dengannya


__ADS_3

Di sebuah bangunan apartemen yang belum selesai dibangun daerah kota Malang, Liza melihat Rafael memberikan arahan ke para karyawan yang sedang bekerja. Liza berdiri bersandar sambil merentangkan dua kakinya di salah satu sisi tembok. Dia mengalihkan pandangannya ke pemandangan yang alami nan indah. Pemandangan alam sebuah gunung yang bernama gunung Arjuna.


Setelah memberikan briefing kepada para pekerja, Rafael menoleh ke Liza yang sedang termenung. Rafael berjalan menghampiri Liza sambil menyeringai licik. Rafael memperhatikan penampilan Liza dari bawah sampai atas. Liza yang mengenakan blouse putih lengan panjang, rok klop warna hitam, sepatu hitam, dan tas warna merah telah memberikan kesan yang mampu menarik perhatian matanya Rafael.


"Ekhm," deheman Rafael.


Liza gelagapan mendengar suaranya Rafael. Liza menegakkan tubuhnya sambil mengatur nafasnya yang tersengal - sengal. Liza merapikan rambutnya yang berantakan karena tertiup angin sambil menundukkan kepalanya. Rafael menarik dagunya Liza dengan jati telunjuk tangan kanannya. Tatapan mata mereka saling bertemu. Cepat - cepat Liza membuang mukanya supaya bisa mengendalikan dirinya.


"Tolong lepaskan jari Anda Pak dari dagu saya," ucap Liza dengan nada suara yang sedikit grogi.


Rafael mengabulkan ucapan Liza, lalu berucap, "Kamu masih marah?"


"Itu hak saya."


Rafael menjauhkan dirinya dari Liza, lalu membalikkan badannya. Melangkah kakinya sambil membawa tas kerjanya. Liza mengikuti langkahnya Rafael. Seketika suasana hening. Mereka menelusuri apartemen yang belum selesai dibangun.


"Kenapa kamu menambah pilar bangunan apartemen di sebelah timur, padahal setiap pilar menggunakan beton massa yang berkualitas bagus, dan itu menambah biaya anggaran untuk proyek ini?"


"Karena struktur tanah yang di sana labil dan tidak kuat."


"Kan bisa digali dulu sampai menjadi lebih adat dan aman untuk digunakan."


"Saya sudah konsultasi ke pihak sipil, mereka menggunakan cara itu, dan supaya lebih aman sebaiknya pilar bangunan apartemen ditambah."


"Baiklah, nanti saya acc anggaran tambahan proyek ini. Kenapa kamu tidak membicarakan hal ini saat rapat kemarin?"


"Niatnya saya bilang soal itu pas rapat bulan depan. Karena yang di sini aja belum selesai bangunannya."


Kringgg ... kringgg ... kringgg ...


Dering smartphone milik Rafael berbunyi. Rafael mengambil smartphone miliknya di kantong sebelah kanan celananya. Sekilas Rafael melihat nama Vina di layar smartphonenya. Rafael langsung meriject panggilan itu dan menon - aktifkan smartphonenya. Menaruh smartphonenya di tempat semula.


Tululut ... tululut ... tululut ...


Bunyi dering smartphone milik Liza. Liza membuka tasnya untuk mengambil smartphonenya. Dia melihat nama Vina tertera di layar smartphonenya. Liza menyentuh ikon warna hijau di layar smartphonenya untuk menerima panggilan melalui aplikasi pesan itu. Liza mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.


"Hallo ada apa Vin?"


"Bang El lagi sama kamu nggak?"


"Iya, emangnya kenapa?"


"Aku mau ngomong sama dia."


"Iya," ucap Liza, lalu Liza menepuk pelan pundaknya yang membuat Rafael menghentikan langkahnya.

__ADS_1


Rafael membalikkan badannya. Tatapan mata mereka bertemu lagi saling memaku. Tidak mau terlena lagi sama suasana, Liza langsung memberikan handphonenya ke Rafael. Rafael mengambil smartphone milik Liza, lalu menyentuh gambar pengeras suara. Mendekatkan benda pipih itu ke mulutnya.


"Hallo, ada apa?" ucap Rafael sambil menatap tajam ke Liza.


"Kok tadi aku telepon diriject, terus aku telepon lagi, nomor handphone kamu nggak aktif?" ucap Vina dengan nada suara yang manja.


"Aku sudah bilang beribu kali ke kamu, jangan ganggu aku pas aku kerja," ucap Rafael ketus.


"Tapi aku kangen."


"Jangan kekanak - kanakan!" bentak Rafael.


"Maaf cintaku yang tak terhingga. Abangku yang sangat ganteng nanti pulang bobo samaku ya, nanti aku servis sampai kamu puas."


"Iya, sampai sepuluh ronde setiap hari," ucap Rafael datar sambil menyeringai licik


Jadi sebenarnya Rafael hanya menginginkan tubuhnya Vina dan tidak mencintainya. Ya Tuhan, ampunilah dosa mereka.


batin Liza.


"Ok, cintaku yang tangen 90 derajat," ucap Vina dengan nada suara yang menggoda.


"Emangnya trigonometri pakai segala tangen 90 derajat," ucap Rafael kesal yang membuat Liza tertawa kecil.


Ada - ada aja Vina ngerayu Rafael.


batin Liza.


"Yang benar nilai dari tangen 90 derajat itu tak terdefinisi," ucap Rafael ketus.


"Tapi waktu aku di SMA, guruku bilang nilainya tak terhingga," ucap Vina dengan nada suara yang gugup.


"Aku kasih tahu yang benar, kamu malah ngeles," ucap Rafael ketus.


Ada - ada aja nich Vina sama Rafael. Awalnya ngerayu, ujung - ujungnya berdebat.


batin Liza.


"Kalau kamu nggak percaya tanyakan saja sama Liza."


"Ya udah," ucap Rafael dingin, lalu dia menyentuh pengeras suara.


Rafael memberikan benda pipih itu ke Liza. Liza menerima handphonenya. Tak sengaja, ikon merah di layar smartphonenya ke sentuh. Otomatis panggilan itu terputus. Liza melihat layar smartphonenya, tidak ada keterangan panggilan telepon itu masih tersambung. Liza menaruh smartphonenya ke tempat semula, lalu menutup tasnya. Rafael tersenyum simpul melihat gerak - gerik Liza.


"Memang benar guru matematika kamu di SMA bilang bahwa nilai tange 90 derajat adalah tak terhingga. Itu kan suatu jawaban yang tidak akurat," ucap Rafael sambil menatap tajam ke Liza

__ADS_1


"Iya."


"Kenapa bisa begitu? Sedangkan Diketahui sin 90 derajat sama dengan 1 dan cos 90 derajat sama dengan 0 serta persamaannya adalah tange 90 derajat sama dengan sinus 90 derajat dibagi sama cosinus 90 derajat sama dengan 1 dibagi sama 0, jelas 1 per 0 itu tak terdefinsi, tidak ada jawabannya. Misalnya 1 buah apel dibagi 0 hasilnya tidak ada jawabannya. Mustahil dong memotong 1 melon menjadi 0 bagian. So … itu berarti yang mengatakan nilai tan 90 derajat sama dengan tak terhingga adalah suatu kekeliruan," penjelasan Rafael.


"Eh, tunggu dulu, jangan buru - buru menyimpulkan argumen seperti itu. Yang mengatakan nilai tangen 90 derajat adalah tak terhingga juga mempunyai argumentasi. Di dalam radian, kita tahu bahwa 90 derajat sama dengan π/2 rad. Kita juga tahu bahwa π adalah bilangan irasional yang mempunyai tak hingga banyaknya digit dibelakang koma serta digit-digit tersebut tidak berulang. Nilai π dalam 100 digit 3,1415926535897932384626433832795028841971693993751058209749445923078164062862089986280348253421170679. Karena π mempunyai tak hingga banyaknya digit maka jelas π/2 juga mempunyai tak hingga banyaknya digit. π/2 ≈ 1,5707963267948966192313216916397514420985846996875529 … .Jadi berapa nilai tangen 90 derajat tergantung bagaimana cara kita menghitungnya," penjelasan Liza.


Pintar juga berdebatnya.


Batin Rafael.


"Kenapa cos 90 derajat nilainya 0?" ucap Rafael dengan tatapan mata yang intens.


Maksudnya apa Bang El menanyakan itu? Apakah dia ingin menjebakku? Pasti kalau aku jawab benar dibilang salah sehingga aku masuk ke dalam jebakannya.


batin Liza.


"Kenapa ujung - ujungnya Bang El menanyakan soal trigonometri?" ucap Liza dengan nada suara yang gugup.


"Karena aku ingin ngetes daya ingat kamu. Jika kamu bisa menjawabnya, aku belikan semua yang kamu mau. Jika kamu salah atau tidak bisa menjawabnya, kamu harus mengikuti semua kemauanku," ucap Rafael, lalu dia menyeringai licik


Benar dugaanku, dia tersenyum licik berarti dia ingin menjebakku lagi. Bang El tak bisa memperdaya diriku lagi karena sekarang aku bisa membaca ekspresi Bang El dan mengendalikan perasaan diriku.


Batin Liza.


"Kalau gitu ogah," ucap Liza sambil membuang mukanya.


"Kenapa? Daya ingat kamu lemah?" ucap Rafael dengan nada suara yang meledek.


Wajahnya Liza menoleh, lalu berucap, "Jika aku tidak bisa atau salah menjawab, aku tidak mau memuaskan nafsumu."


"Yah nggak bisa gitu dong."


"Kalau begitu, aku nggak mau."


"Berarti kamu cemen, takut salah," ledek Rafael.


"Biarin aja," ucap Liza sambil memundurkan langkahnya supaya bisa menghindar dari jebakan Rafael sehingga dia tersandung batu.


"Aauuwww!' pekik Liza.


Dengan sigap, Rafael menarik pinggangnya Liza agar Liza tidak terjatuh. Rafael memeluk erat pinggangnya Liza. Jarak wajah mereka sangat dekat hingga bisa merasakan hembusan nafas mereka. Tatapan tajam dari matanya Rafael yang intens melihat dua bola mata Liza yang berbinar - binar. Seketika degupan jantungnya Liza tak beraturan dan gelayar lembut menelusup ke relung hatinya.


Bagaimana aku bisa menghilangkan perasaan cintaku kepadanya, jika aku sering bertemu dengannya?


__ADS_1


💐🌸🌺🌷💐🌸🌺🌷💐🌸🌺🌷💐🌸🌺🌷


Terima kasih sudah membaca cerita ini 😊, Mohon dukungannya dengan memberikan like, vote, hadiah, komentar dan bintang lima.😊


__ADS_2