Asa Diriku

Asa Diriku
Siapa Bapaknya?


__ADS_3

Terima kasih sudah membaca novelku ini 😁


Di like ya guys 😁


Di vote ya guys 😁


Di komen ya guys 😁


Happy reading 🤗


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


"Éta henteu mungkin! Éta henteu leres!" ucap Erika kesal setelah Rachel membacakan surat warisannya.


"Leres Erika. Bapa anjeun nyerat nyalira," ujar Rachel.


"Abdi henteu percanten éta. Pasti Papi dipaksa ku Liza."


"Hey Erika! Upami anjeun nyarios kaleresan, mangga! Teu kunanaon nuduh kuring maksa Papi. Sigana mah kuring kawas anjeun!" ucap Liza kesal.


"Erika! Éta parantos kaputusan Papa anjeun. Urang kudu narima," ucap tante Magdalena.


"Abdi henteu tiasa ngalakukeun éta, Mami. Nalika Mami ngan meunang 1 milyar bari Liza meunang imah, sarta kuring ngan meunang mobil heubeul. Urang kudu ngagugat manéhna."


"Punten upami hoyong gugat."


"Apanya yang mau digugat?" tanya Immanuel yang tiba - tiba berada di ambang pintu ruang tamu.


"Beb," ucap Erika dengan suara yang manja sambil beranjak berdiri dari sofa, lalu berjalan ke Immanuel.


"Érika rék ngagugat pembagian warisan," ucap Rachel.


"Beb, masa bagian Mami lebih kecil dari bagian Liza. Mami hanya dapat yang 1 miliyar sedangkan Liza mendapatkan rumah ini beserta isinya. Sedangkan aku hanya mendapatkan satu mobil kuno," ucap Erika dengan nada suara yang pura - pura sedih.


"Biarin aja, itu kan hak Papi kamu untuk membagikan warisannya," ucap Immanuel sambil menoleh ke Erika


"Ihhh, Beb kok belain Liza sich!" ucap Erika kesal sambil menggandeng tangannya Immanuel.


"Aku nggak belain dia. Aku ngomong sesuai dengan kenyataan. Udah terima aja dengan ikhlas."


"Tuch dengarin! Lagi pula kan kamu mau menikah sama Immanuel, minta beliin rumah sama Immanuel, dia kan anak orang kaya," celetuk Liza.


Tiba - tiba Liza merasakan rasa mual lagi di perutnya. Liza langsung beranjak berdiri dari sofa, lalu berlari ke kamarnya. Liza menekan handle pintu kamarnya untuk membuka pintu. Mendorong daun pintu dengan kasar. Dia masuk ke dalam kamar, lalu masuk ke dalam kamar mandi yang pintunya sudah terbuka. Liza mendekatkan dirinya ke bibir westafel.


"Huek ... huek ... huek ... huek ... huek ... ." muntahan Lily di westafel kamar mandi


sambil memegang perutnya, lalu dia membuka kran untuk membersihkan muntahannya.


"Liza, naon anu anjeun lakukeun?" tanya Rachel khawatir sambil berdiri di ambang pintu kamar mandi.


Liza membasuh bibirnya menggunakan air dari kran wastafel. Mematikan kran setelah dia membersihkan muntahannya. Kemudian Lily menegakkan tubuhnya dan mengeringkan bibirnya dengan tisu yang berada di dinding samping kiri westafel. Rachel merasa kasihan dan khawatir melihat Liza mengeluarkan makanannya.


"Rahel, beuteung abdi mual, ti tujuh dinten kapengker, abdi sapertos kieu," kata Liza lemas.


"Naha urang kedah angkat ka dokter pikeun mariksa kaséhatan anjeun?" tanya Rachel yang mengkhawatirkan keadaan Liza.


"Henteu kedah. Biasana saenggeus sare deui, beuteung teh geus teu seueul deui. Abdi hoyong saré heula," ucap Liza, lalu dia melangkah kakinya dengan lemas keluar dari kamar mandi.


"Anjeun hoyong abdi nelepon dokter kulawarga kuring datang ka dieu sangkan anjeunna tiasa pariksa kaséhatan Anjeun," ujar Rachel sambil mengikuti langkahnya Liza.


"Henteu kedah."


"Anjeun yakin teu hayang?"


"Enya."


"Sahenteuna anjeunna hamil," celetuk Erika yang berdiri di ambang pintu kamar.

__ADS_1


Liza menoleh, lalu berucap, "Anjeun teu ngobrol."


Erika tersenyum sinis menanggapi ucapan Liza, lalu dia melengos pergi. Liza berjalan menghampiri tempat tidurnya untuk beristirahat. Dia menaikkan badannya ke atas tempat tidur. Sedangkan Rachel berjalan menuju pintu kamar milik Liza, tak sengaja Rachel melihat testpack.


Rachel menoleh ke Liza yang sedang memejamkan dua matanya dengan posisi terlentang. Rachel mengerutkan dahinya karena bingung melihat sebuah testpack di atas meja hias Liza. Rachel melanjutkan langkahnya ke pintu kamar, lalu menutupnya dan menguncinya. Rachel berjalan menghampiri Liza. Duduk di tepian tempat tidur sebelah kanan ranjang.


"Liza."


"Enya," ucap Liza sambil membuka dua matanya, lalu menoleh ke Rachel.


"Naon maksud anjeun meuli testpack?" pertanyaan Rachel yang membuat Liza kaget.


Kok dia tahu aku beli testpack.


Batin Liza.


"Kuring nempo eta saméméhna dina tabel hiasan Anjeun."


Tok ... tok ... tok ...


"Siapa!" pekik Liza.


"Vina mau masuk!" teriak Immanuel.


Tak lama kemudian, Rachel memegang tangan kanannya Liza sebagai kode supaya Liza tetap di tempat tidur. Rachel langsung berdiri dari pinggiran tempat tidur, lalu berjalan ke pintu kamar. Membuka kunci pintu, menekan handle pintu. Menarik handle pintu secara perlahan sehingga pintu terbuka. Vina nyelonong masuk ke dalam kamar dengan langkah kaki yang tergesa - gesa. Rachel langsung menutup pintu, lalu menguncinya.


"Hiks ... hiks ... hiks ... Liza, aku sakit hati hiks ... hiks ... hiks ...," ucap Vina di dalam tangisannya. sambil memeluk tubuhnya Liza.


"Kamu kenapa Vin?" tanya Liza lembut.


"Hiks ... hiks ... hiks ... aku melihat langsung Bang El sedang bercinta sama wanita lain hiks ... hiks ... hiks ...."


"Waktu éta kuring mamatahan anjeun teu bobogohan Bang El, tapi anjeun tetep hayang jadi kabogoh Bang El. Éta résiko kaluar sareng Bang El. Upami anjeun kuat, anjeun teraskeun. Lamun anjeun teu kuat, hayu balik. Tapi kuring pikir anjeun guys kudu putus," ucap Rachel tegas.


"Hiks ... hiks ... hiks .... Tapi aku sudah mengorbankan Thomas supaya aku bisa pacaran sama Bang El. Aku tidak bisa melupakan dan melepaskan dirinya hiks ... hiks ... hiks ...."


"Naha? Anjeun impregnated ku anjeunna yén anjeun teu bisa ninggalkeun?" rentetan pertanyaan Rachel.


"Vina yang cantik, sebaiknya kamu putus sama Bang El, itu untuk kebaikan hidup kamu. Hidup kamu masih panjang, isi hidup dengan hal - hal yang baik untuk dirimu. Jika kamu masih kekeh menjadi pacarnya Bang El, kamu pasti makan hati terus. Kamu mau sakit hati terus?" ucap Liza dengan lembut.


Vina hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban di dalam tangisannya. Liza mengelus lembut punggungnya Vina untuk menenangkan Vina. Rachel merasa iba melihat Vina menangis tersedu - sedu. Rachel melanjutkan kakinya menghampiri Vina. Duduk di samping kirinya Vina. Mengusap lembut puncak kepalanya Vina. Tanpa disangka, Liza merasakan mual lagi di perutnya. Liza mendorong tubuhnya Vina dengan pelan.


"Kenapa?" ucap Vina yang parau.


"Perutku mual," kata Liza sambil beranjak berdiri, lalu berlari kecil ke kamar mandi.


Liza mendekatkan diri di bibir westafel, lalu memuntahkan isi perutnya, "Huek ... huek ... huek ...."


Rachel buru - buru berlari. Memijat pelan tengkuk lehernya Liza. Liza membuka kran wastafel untuk membersihkan muntahannya. Mencuci tangan dan mulutnya. Mengeringkan tangan dan mulutnya dengan tisu yang berada di dinding sebelah kiri westafel. Rachel menghentikan pijatannya. Liza berdiri lunglai. Dengan sigap, Rachel memapah Liza.


"Ulah saré," ucap Rachel lembut.


"Iya," ucap Liza lemas, lalu mereka berjalan pelan menghampiri tempat tidur.


"Liza, kamu lagi hamil?" tanya Vina yang parau.


Liza melihat dua mata sembabnya Vina dengan tatapan sendu, lalu berucap, "Aku tidak tahu."


"Ini untuk apa?" tanya Vina pelan sambil mengacungkan testpack.


"Ehmmm ... baiklah aku periksa dulu. Apakah aku hamil atau tidak," ucap Liza.


Vina berjalan cepat menghampiri Liza untuk memberikan testpack. Liza menerima testpack itu, lalu masuk lagi ke kamar mandi. Rachel melepaskan tangannya dari tubuhnya Liza. Liza berdiri sambil memegang tempat gantungan handuk. Rachel berjalan keluar dari dalam kamar mandi. Menutup pintu kamar mandi.


"Dari kapan Liza seperti itu?" ucap Vina yang masih parau.


"Cenah sich ti Minggu kamari."

__ADS_1


"Kenapa dia beli testpack?" tanya Vina bingung.


"Abdi henteu terang ogé," jawab Rachel.


"Jika dia hamil, siapa yang menghamilinya?"


Rachel hanya menggelengkan kepalanya untuk merespon pertanyaan Vina. Rachel berjalan menghampiri tempat tidurnya Liza. Duduk di pinggiran tempat tidur. Meraba - raba kasur ranjang. Tak sengaja, Rachel menyentuh sebuah foto yang berada di bawah bantal. Dia mengambil foto itu, lalu melihatnya. Rachel tercengang melihat foto Bang El.


"Foto siapa?" tanya Vina kepo.


"Poto Immanuel," kilah Rachel supaya tidak ada keributan di antara Liza dan Vina.


Rachel menaruh lagi foto itu ke tempat semula. Pintu kamar terbuka memperlihatkan Liza yang sedang berdiri sambil memegang gagang pintu kamar mandi. Vina langsung menoleh ke Liza. Sedangkan Rachel berlari menghampiri Liza. Vina dan Rachel menatap ke Liza dengan raut wajah yang penasaran.


"A — ku positif hamil," ucap Liza pelan.


"What? Siapa Bapaknya?"


________________________________________________


Translate


Itu tidak mungkin. Itu tidak benar.


Itu Benar Erika. Papi kamu sendiri yang menulisnya.


Aku tidak percaya itu. Pasti Papi dipaksa sama Liza.


Hey, Erika. Kalau ngomong yang benar dong! Enak aja nuduh - nuduh aku maksain Papi. Emangnya aku matre kayak kalian!


Erika! Itu sudah menjadi keputusan Papimu. Kita harus menerimanya.


Nggak bisa gitu dong Mami. Masa Mami hanya dapat uang 1 miliyar sedangkan Liza mendapatkan rumah, dan aku hanya mendapatkan sebuah mobil kuno. Kita harus menuntutnya.


Silahkan jika kalian mau menuntutnya.


Erika mau gugat pembagian warisan.


Liza, kamu kenapa?


Rachel, perutku mual, dari tujuh hari yang lalu, aku seperti ini.


Apa kita ke dokter aja untuk memeriksa kesehatan kamu?


Tidak usah. Biasanya setelah aku tidur lagi, perutku sudah tidak mual lagi. Aku mau tiduran dulu.


Kamu mau aku telepon dokter keluargaku untuk datang ke sini supaya dia bisa memeriksa kesehatan kamu.


Tidak usah.


Kamu yakin tidak mau?


Iya.


Palingan dia hamil.


Kamu jangan asal ngomong.


Maksud kamu beli testpack apa?


Tadi aku melihatnya di atas meja hias kamu.


Waktu itu aku sudah menasehati kamu untuk tidak berpacaran sama Bang El, tapi kamu kekeh ingin menjadi pacarnya Bang El. Itulah resikonya pacaran sama Bang El. Kalau kamu kuat, kamu terusin. Kalau kamu tidak kuat lepaskan. Tapi menurutku sebaiknya kalian putus.


Kenapa? Kamu dihamili olehnya sampai tidak bisa melepaskannya?


Kamu tidur aja ya.

__ADS_1


Katanya sich dari Minggu kemarin.


Aku juga nggak tahu.


__ADS_2