Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Hukuman yang lebih baik


__ADS_3

Suara derap kaki berlarian terdengar menggema di sepanjang lorong menuju aula. Langkah kaki itu adalah milik Shaka, Gayatri dan Dewa. Mereka berlari sekencangnya demi tidak terlambat untuk berkumpul bersama teman-temannya. Suara decitan terdengar jelas saat langkah kaki Shaka terpaksa terhenti di pintu Aula. Dengan napas terengah-engah, mereka berusaha berdiri tegak sambil mengatur napasnya yang memburu.


Mereka kompak mengelap keringat yang bercucuran di wajahnya dengan lengan kanannya. Jangan tanyakan soal baju seragamnya, sudah pasti basah karena keringat.


Dari pintu itu, terlihat para siswa sudah berkumpul di ruangan luas, entah sejak kapan. Satu per satu berbaris rapi untuk menyerahkan ponselnya pada wakasek kesiswaan dengan tidak rela. Sementara kepala sekolah menunggu di podium bersama wakasek umum, bernama Oliver. Mereka berbincang pelan, tidak terdengar sama sekali, kalah oleh suara riuh para siswa yang menggerutu kecewa. Satu hal yang terlihat jelas, sikap Oliver saat berbicara dengan kepala sekolah cenderung lebih dominan di banding kepala sekolah yang lebih sering mengangguk.


Satu ketukan di pintu, membuat seluruh tatapan kini tertuju pada ketiga siswa yang datang terlambat. "Kalian baru datang?" tanya guru BK dengan tatapannya yang tajam.


"Iya Pak, mohon maaf kami terlambat," timpal Dewa dengan takut-takut. Mereka berjalan masuk, mengabaikan setiap tatapan heran dan cemas dari teman-temannya yang lebih dulu berbaris.


"Berdiri di depan! Dari mana saja kalian?!" Wakasek kesiswaan segera menghampiri Shaka, Gayatri dan Dewa. Menatap ketiga siswa itu bergantian dan penuh selidik.


"Ka-kami dari indoor pool Pak, sedang belajar berenang. Kami tidak tau kalau kami harus berkumpul di sini." Dewa menjawab sekenanya tanpa berani mengangkat wajahnya.


Wakasek kesiswaan itu tersenyum kecil, menatap Dewa dengan lekat. "Apa ada orang berenang sampai berkeringat?" tanya laki-laki itu seraya menarik kerah baju Dewa hingga tubuh jangkung remaja itu tertarik ke arahnya. Mengendus remaja itu sesaat, "Emh! Kamu bau keringat!" seru laki-laki itu sekali lalu mendorong Dewa hingga mundur beberapa langkah. Ia juga mengibas-ibaskan tangannya yang terkena air keringat Dewa.


Dewa semakin gemetar, ia sadar kalau ia ketahuan berbohong. "Saya beri kesempatan sekali lagi, jawab dengan jujur. DARI MANA KALIAN?!" teriak laki-laki itu hingga suaranya menggema di ruang aula yang luas dan membuat mereka terhenyak kaget.


Dari tempatnya, Gayatri perhatikan, emosi laki-laki ini mendadak tidak terkontrol, padahal saat menghadapi Mira, laki-laki ini masih bisa berbicara dengan tenang. Anggapan Gayatri, mungkin laki-laki ini sudah sangat kesal.


Suara bising akibat bisikan para siswa yang menyerupai suara lebah itu pun langsung terhenti.


"JAWAB!!" teriak laki-laki itu lagi seraya mengangkat tangannya ke udara hendak menampar Dewa.


"A-ampun Pak, saya tadi habis main basket?" Dewa sampai tergagap. Seperti seekor penyu, remaja itu menarik kepalanya untuk bersembunyi sambil menggigit bibirnya kelu, takut dengan tatapan tajam wakasek itu.


"Bagus! Tadi belajar berenang, sekarang main basket. Kamu bisa cerdas dikit gak kalau bikin alasan?" Wakasek itu menunjuk-nunjuk kepala Dewa lalu mentoyornya hingga wajahnya berpaling.


Gayatri yang berdiri di dekat Dewa, refleks menoleh pada sang guru yang ia tatap dengan tidak suka. Bisa-bisanya laki-laki itu memperlakukan siswa sekasar itu. Tangannya sudah menepal kesal dan nyaris terangkat, tetapi Shaka segera menahannya. Hanya hembusan napas kesal yang kemudian terdengar.


"Kenapa, kamu tidak suka?" Wakasek itu menatap Gayatri dengan sinis, bibirnya mencebik menatap penampilan Gayatri yang sama berantakannya dengan Dewa. Gayatri tidak bergeming, tetapi tidak menurunkan pandangannya juga pada laki-laki itu.

__ADS_1


Mata tajamnya menatap laki-laki itu dengan berani, dan tangannya mengepal kasar. "Apa kamu juga di besarkan untuk menjadi seorang pembohong?!" seru laki-laki itu setengah berteriak di depan wajah Gayatri, seperti harimau lapar yang ingin memakan kepala Gayatri.


"Jaga sikap Anda!" seru Shaka yang mulai tidak terima. Suara laki-laki itu tidak kalah tinggi dari gurunya. Ia tidak terima Gayatri diperlakukan kasar.


"Waahh! Rupanya ada yang berani melawan saya?" Wakasek kesiswaan kali ini berpindah menatap Shaka. Ia melipat lengan kemejanya dan memperlihatkan tangannya yang kekar dan dipenuhi tatoo. Para siswa sudah meringis takut membayangkan apa yang akan dilakukan oleh laki-laki itu. Tetapi mereka tidak protes, takut di perlakukan sama seperti ketiga temannya.


"Kamu berani, menantang saya?" kali ini wakasek kesiswaan itu mencengkram kerah baju Shaka dengan kuat. Matanya melotot pada laki-laki yang terlihat santai saja dengan gayanya yang selengean.


"Kenapa harus takut pada para pecundang seperti kalian?" tanya Shaka dengan suaranya yang rendah. Ia balas menatap sepasang mata yang tajam menusuknya dengan senyuman yang tersimpul.


"Apa maksud kamu brengsek?" tanya Wakasek kesiswaan dengan suaranya yang rendah namun penuh penekanan.


Shaka tidak lantas menjawab. Ia mendekatkan tubuhnya pada laki-laki itu lalu sedikit mengendus bau tubuh pria tersebut. "Apa shabunya enak Pak?" tanya Shaka saat ia mencium aroma tubuh laki-laki itu berbeda dari aroma tubuh manusia pada umumnya. Ia sangat mengenali bau tubuh semacam ini karena ia memang di latih untuk mengenali hal itu.


Mata laki-laki itu langsung membulat kaget, tidak menyangka Shaka mengetahui apa yang dilakukannya. Perlahan tangannya melepaskan cengkramannya yang kasar dan mundur satu langkah menjauh dari Shaka.


"Jaga bicaramu," tanya laki-laki yang fokusnya mulai berkurang. Tangannya terlihat sedikit gemetar, efek dari obat-obatan yang dipakainya. Ia menoleh kepala sekolah beberapa saat dan samar terlihat menggeleng. Seperti sedang memberi isyarat kalau anak ini tidak bisa dibiarkan.


"Kalau saya tidak mau?" tantang Shaka.


Kepala sekolah itu tersenyum penuh percaya diri, "Tentu kamu akan dikeluarkan." Laki-laki itu menjawab dengan santai.


"Oh ya?" tanya Shaka seraya terkekeh mendengar jawaban kepala sekolahnya. Laki-laki itu mengangguk dengan penuh percaya diri. "Jadi, kami harus ikut menutupi aib sekolah ini dan membohongi nurani kami. Begitu?" sindir Shaka.


"Aib apa maksud kamu? Kematian Rasya tidak ada hubungannya dengan sekolah ini. Dia dibunuh oleh orang yang tidak di kenal. Mana mungkin terhubung dengan sekolah ini." Laki-laki itu menjawab dengan suara yang keras.


"Kalau begitu kenapa Anda harus takut?!" suara Shaka tidak kalah tinggi. Mata tajamnya juga membulat penuh kemarahan. Gayatri bisa melihat kilatan itu di mata sahabatnya.


"Apa yang membuat Anda takut sampai harus melakukan hal konyol semacam ini? Melarang para siswa untuk memiliki akun media sosial dengan alasan takut mencemarkan nama baik sekolah. Apa ada di antara mereka yang melakukan hal itu? Menyebut nama sekolah yang seolah tidak peduli pada kematian siswanya dan malah menyuruh keluarga korban untuk diam?"


" Apa yang sebenarnya Anda sembunyikan di sekolah ini, Pak? Apa Anda hanya ingin membodohi mereka? TIdakkah Anda tau kalau akun media sosial itu penting bagi beberapa siswa? MEREKA MENCARI MAKAN DARI SANA!" teriak Shaka dengan suaranya yang lantang.

__ADS_1


Suasana pun hening seketika. Kepala sekolah yang tersudutkan tidak bisa menjawab. Matanya menatap tajam siswa baru yang begitu berani menentangnya. Keberanian itu juga yang membuat satu siswa mengambil kembali ponselnya dari tangan guru BK.


"Iya Pak, apa alasan bapak harus selalu melarang kami menggunakan akun media sosial?" tanya siswa itu.


"Kami gak akan memberikan ponsel kami, kalau bapak tidak punya alasan yang bisa kami mengerti." Siswa lainnya ikut mengambil ponsel mereka. Di susul oleh siswa lainnya yang mengambil ponsel mereka yang dikumpulkan dalam beberapa kotak.


"Kami tidak akan memberikan ponsel kami tanpa alasan yang jelas dan masuk akal. Silakan saja kalau bapak mau mengeluarkan kami bersama-sama," tantang Anton yang mendadak berani.


"Iyaa, keluarkan saja. Saya tidak takut pak. Sekolah ini tidak bisa mengintimidasi kami dengan alasan yang tidak masuk akal!" Zaidan ikut bersuara. Gara-gara perintah kepala sekolah ini, ia terpaksa menghapus akun medsosnya yang bisa menghasilkan uang jutaan rupiah setiap harinya.


"Iyaa, kami tidak takut!" seru para siswa bersamaan. Mereka menatap kepala sekolah dengan berani.


"DIAM!!!" teriak kepala sekolah dengan suara besar dan kasar. Rahangnya sampai menggeretak menahan kesal. Suasana pun hening kembali. "Bawa tiga berandal ini keruangan saya!" seru laki-laki itu lagi. Ia merasa tiga siswa ini yang membuat anak didiknya mulai tak patuh.


Matanya menatap tajam seisi ruangan yang luas ini, bisa-bisanya anak-anak kecil ini menantangnya.


"Ayo, ikut!" seru Guru BK yang di bantu beberapa guru pria lainnya. Mereka membawa Shaka ke ruangan kepala sekolah.


Anton dan teman-temannya mulai khawatir. Tapi otaknya tidak buntu, diam-diam ia merekam semua kejadian di sekolahnya hari ini dan membagikannya ke dalam group.


"Yang mau menyelamatkan kebebasan kita, upload video ini, biar semua orang tau gimana perlakuan para guru di sini terhadap kita." Begitu kalimat yang di tulis Anton, lengkap dengan video candid yang ia sebarkan.


"Kumpulkan hape kalian!" seru kepala sekolah dengan suara lantang.


Bukannya menurut, para siswa itu malah menunduk dan sibuk dengan ponselnya masing-masing. Mereka mengabaikan ucapan kepala sekolah dan satu per satu keluar dari aula tersebut tanpa permisi.


"HEY!! MAU KEMANA KALIAN?! SAYA PANGGIL ORANG TUA KALIAN SEMUA!" ancam kepala sekolah.


Sayangnya, ancaman itu tidak digubris. Para siswa tetap berbondong-bondong keluar dari aula itu tanpa rasa takut sedikit pun. Mereka sangat yakin kalau kepala sekolah tidak akan mengeluarkan mereka.


"Ya kali sekolah ini bakal jadi sekolah hantu. IIihhhhh...." Rima bergidik takut membayangkan isi pikirannya sendiri.

__ADS_1


"Jangan ngaco loh! Gue cemas ini sama Shaka. Dia diapain di ruangan kepsek?" Indah berujar dengan penuh kecemasan.


__ADS_2