Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
I D


__ADS_3

“Nackal!” decik Shaka seraya menyentil dahi Gayatri dengan gemas. Mata tajam lelaki itu menatap Gayatri dengan penuh kecemasan bersamaan dengan rasa syukur saat melihat gadis ini ternyata baik-baik saja.


Kalau mengingat balapan yang tadi Gayatri ikuti, rasanya ia ingin membubarkan balapan itu, terutama saat ada orang-orang yang berusaha curang dan bermain kotor untuk mengungguli Gayatri.


“Ish, sakit tau!” Gadis itu mendengus kesal seraya mengusap dahinya yang pedih di sentil Shaka. Bibirnya mengerucut sebal pada sikap Shaka, bukannya memberi selamat karena menang, laki-laki ini malah menyentilnya.


Shaka hanya terkekeh, sekali lalu ia menarik lengan Gayatri untuk ia bawa ke pelukannya. Ia mendekap erat tubuh gadis yang membuatnya cemas setengah mati. Gayatri sampai tercengang atas tingkah Shaka yang tiba-tiba ini.


“Gue bersyukur lo baik-baik aja,” ucap Shaka perlahan. Tangan kekarnya mengusap-usap punggung Gayatri untuk meyakinkan kalau gadis ini ada dalam pelukannya dalam kondisi tidak kurang satu apa pun.


“Gue kan emang baik-baik aja,” timpal Gayatri seraya mendorong tubuh Shaka agar sedikit menjauh. Pelukan Shaka membuat ia sulit bernapas dan dadanya terasa sesak dengan jantung yang seperti akan pecah.


“Ya, makanya gue bilang sangat bersyukur.” Tatapan lekat dari sepasang mata elang itu masih hangat tertuju pada sang gadis.


Bibirnya yang kemerahan tersenyum simpul, dengan tangannya yang terangkat untuk menyelipkan helaian rambut yang menutupi wajah sang gadis. Ia ingin melihat dengan jelas sepasang mata cerah milik Gayatri yang tampak gelisah mendapat tatapan mendalam seperti saat ini.


Di rooftop sebuah Gedung saat ini mereka berada. Entah bagaimana caranya Shaka bisa menemukan tempat tersembunyi ini. Gedung ini masih beroperasi, tetapi sepi di malam hari. Melalui jalan khusus mereka bisa sampai ke tempat ini, katanya cocok untuk menenangkan diri yang semula tegang setelah balapan.


Gayatri akui kalau hembusan angin malam terasa menyegarkan. Tiupan udara malam itu menerbangkan helaian rambut Gayatri dan Shaka perlahan. Dari tempat ini juga mereka bisa melihat kota Jakarta di malam hari, sungguh sky light yang indah dan memanjakan mata.


“Lo kenapa gak bilang kalau mau balapan? Dan kenapa lo masih balapan?” Dua pertanyaan itu di lontarkan Shaka dengan penuh selidik.


Gayatri tidak lantas menjawab, ia beranjak menuju pagar rooftop dan bersandar di sana. “Kalau gue bilang, lo pasti bakal resek. Lagi pula gue butuh untuk ikut balapan ini,” sahut gadis itu dengan santai.


Senyum kecil terbit di bibir Shaka, ia menghampiri gadis itu dan berdiri di sampingnya.


“Gue resek karena cemas. Emang salah kalau gue mencemaskan orang yang gue sayang?” tanya laki-laki itu dengan enteng, menatap wajah Gayatri yang terlihat sangat cantik saat terbiaskan cahaya lampu malam yang samar-samar. Tajamnya sudut hidung Gayatri saat dilihat dari samping, ternyata menjadi pemandangan yang lebih indah di banding lautan cahaya di bawah sana.


“Please deh, lo gak usah obral gombalan sama gue. Gak bakalan ngaruh juga,” Gayatri balas menatap Shaka, gadis itu bertahan sekuat mungkin agar hatinya tidak goyah. Mungkin saja laki-laki ini hanya sedang menggodanya. Bukankah seharusnya ia hanya tertawa?


“Lo kenapa sih selalu nganggap kalau omongan gue ini gombalan doang? Sulit tau Ya, buat ngomong kayak gitu sama lo. Perlu mental dan tekad yang kuat biar gak sakit hati kalau lo acuhin.” Shaka berujar dengan sungguh-sungguh.


“Kalau sulit, ya jangan di lakuin. Gue gak minta kok,” gadis itu memalingkan wajahnya. Menatap nanar lampu-lampu yang menyala indah di kejauhan sana. “Lagi pula, orang-orang selalu pergi setelah bilang sayang sama gue,” lanjutan kalimat gadis itu terdengar lemah, seperti penuh sesal.


“Gimana kalau gue gak akan pernah pergi?” tanya Shaka kemudian. Seperti ingin meyakinkan Gayatri.

__ADS_1


“Yakin lo gak akan pergi? Bukannya seorang agent rahasia harus pergi walaupun dia gak mau? Lagian setiap tempat yang dia datangi cuma buat singgah untuk menyelesaikan masalah?” Gayatri kembali menoleh Shaka, kali ini tatapan Gayatri yang terlihat lekat.


“Lo tau?” Shaka cukup terkejut dengan ucapan Gayatri.


Gayatri tidak lantas menjawab, ia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, sebuah kalung dan id card. “Lain kali, simpan baik-baik benda kayak gini,” ucap gadis itu, seraya menyodorkan benda itu pada Shaka.


Shaka sampai melotot saat ternyata dua identitas resminya sebagai agent ditemukan oleh Gayatri.


“Gue nemuin itu di jaket yang semalem lo selimutin di badan gue. Lain kali lebih hati-hati, gak lucu kalau di jadiin mainan sama bocah atau di anggap imitasi,” imbuh gadis itu seraya memalingkan wajahnya dari Shaka.


Shaka tersenyum kecil, rupanya ia yang lupa. Semalam, saat melihat Gayatri tertidur di sofa, ia memang memakaikan jaketnya untuk menyelimuti tubuh Gayatri. Sungguh ia tidak ingat kalau ia menyimpan dua identitas ini di saku dalam jaketnya.


“Okey, gue udah ketauan,” Tidak ada cara lain bagi Shaka selain mengakuinya.


“Lo seorang agent, kenapa gak minta bantuan tim lo buat nyari tau siapa pembunuh adek lo? Gue liat pangkat lo juga tinggi, Mayor Arshaka Gibran?” Panggilan Gayatri terhadapnya seperti ejekan yang membuat Shaka tersenyum kecil.


“Kalau bisa, gue gak akan sampai sekesulitan ini,” hanya itu jawaban Shaka yang kemudian di angguki paham oleh Gayatri. Sepulang sekolah ia mencari tahu tentang agent rahasia itu seperti apa dan memang benar kalau Shaka tidak bisa menyalahgunakan identitasnya sembarangan, ada aturan baku yang harus dia ikuti agar tetap profesional.


“Rasya selalu bilang, andai aja dia kuat seperti tokoh hero favoritnya, dia akan masuk sekolah militer. Dia gak perlu jadi orang lemah dan minoritas di sekolah hingga harus bersembunyi di bawah ketiak gue supaya gak di bully. Gue pikir, tokoh hero kebanggan Rasya itu kapten america, ternyata seorang Shakaman,” lagi Gayatri menoleh laki-laki di sampingnya dan dia tersenyum kecil.


“Sekarang gue paham, kenapa Rasya gak pernah cerita soal lo. Karena identitas lo memang setersembunyi itu. Saat dia terdesakpun dia gak bisa minta tolong lo karena tugas lo jauh lebih besar di banding ngebantu dia ngehadapin seorang pembully. Iya kan?”


Gayatri jadi memandangi wajah Shaka yang tampak muram. Binar kelegaan saat mendapati Gayatri baik-baik saja, kembali hilang. Sebesar itu rasa sesalnya.


Satu tangan Gayatri tiba-tiba terulur untuk menepuk punggung Shaka, tepukan yang sangat lembut hingga membuat laki-laki itu tersenyum kelu.


“Terkadang kita merasa bersalah pada hal yang gak bisa kita kendalikan, salah satunya kematian. Tapi kita malah abai pada hal yang sebenarnya bisa kita kendalikan, meski sederhana tetapi memberi kita rasa syukur dan bahagia. Hanya karena tidak memiliki yang kita inginkan, kita merasa hidup kita gak adil, tapi saat memilikinya kita lupa untuk bersyukur.” Kalimat panjang itu terlontar begitu saja dari mulut Gayatri dan di angguki pelan oleh Shaka.


“Kalau gitu, syukuri dong keberadaan gue walau cuma bisa bikin lo mesem doang.” Shaka menimpalinya dengan jayus.


“Lo ngomong apa sih anjir,” Gayatri jadi tersipu dalam hati mendengar ujaran Shaka.


“Tuh kan, gue bikin lo mesem,” telunjuk Shaka menunjuk wajah sang gadis yang merona malu.


“Ikh, kagak yaa, gak usah kepedean lo!” Gayatri segera menepis telunjuk Shaka yang terasa mengintimidasinya.

__ADS_1


“Ngaku ajaa, ngakuu, jangan malu-maluu….” Shaka sengaja menggoda Gayatri dengan mencolek-colek pipi dan dagu gadis itu.


“iisshh, Shakaaa, lo apaan sih? Iiiihhh….” Gayatri membalasnya dengan pukulan di lengan laki-laki itu.


“Akh Aya, ampun Ayaa, sakit,” keluh laki-laki itu sambil menyilangkan tangannya berusaha berlindung dari serangan Gayatri. Gayatri masih terus memukuli laki-laki itu dengan kepalan tangannya yang kecil dan bertubi-tubi hingga memaksa Shaka untuk meraih tangan Gayatri.


Tangan Gayatri berhasil diraihnya dan ia pegangi dengan erat agar tidak memukulinya lagi. Gayatri berontak, berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Shaka. Tetapi genggaman Shaka malah semakin erat, sambil tersenyum tengil ia tidak melepaskan tatapan matanya yang lekat.


“Gue gak akan lepas,” ucap laki-laki itu dengan sungguh.


“Oh ya?” mudah saja bagi Gayatri untuk memelintir tangan Shaka, ia memutar tubuhnya membelakangi Shaka dan hendak membanting tubuh sang pria. Sayangnya pertahanan Shaka cukup kuat hingga berganti Gayatri yang sekarang ada dalam pelukan Shaka. Ya, laki-laki itu memeluk Gayatri dari belakang.


“Udah gue bilang, gak akan gue lepas,” bisik laki-laki itu di telinga Gayatri, hembusan napasnya yang hangat meniup daun telinga Gayatri hingga membuat bulu kuduk sang gadis meremang.


Pelukan Shaka semakin erat, walau hanya dengan satu tangan saja, membuat tubuh Gayatri terkunci dan tidak bisa berontak. Sementara satu tangan Shaka lainnya merogoh sesuatu dari dalam sakunya. Yaitu kalung yang tadi Gayatri kembalikan.


Dilingkarkannya kalung itu di leher Gayatri dengan soldier dog tag yang menunjukkan identitas Shaka tepat berada di tengah dada Gayatri.


“Gue gak bisa menjanjikan berapa lama gue bisa bersama lo. Tapi, kalau gue gak kembali, tolong ingat gue ya Aya. Ingat baik-baik cowok redflag yang baru pertama kali jatuh cinta sama seorang gadis bernama Gayatri Sekar Ayu. Namanya Arshaka Gibran, usia 27 tahun id 648220482XXAG. Sebutkan identitas itu kalau suatu saat lo nyari gue. Bisa lo ingat kan?” bisik Shaka dengan pelukannya yang semakin erat.


Gayatri membisu, tapi isi kepalanya mengingat dengan benar id Shaka. Tidak hanya di kepalanya, melainkan juga di hatinya. “648220482XXAG,” batin Gayatri. Entah mengapa saat mengingat id itu ia merasa kalau perpisahan dengan Shaka itu nyata. Apa kebersamaannya juga nyata?


“Lo bisa ingat id itu kan Aya?” tanya Shaka lagi. Ia membalik tubuh Gayatri menghadapnya. Sepasang mata tajamnya menatap Gayatri dengan dalam.


Gadis itu menggeleng. “Gue gak mau inget, gue gak akan inget id itu. Bukan gue yang harusnya nyari lo, tapi lo yang seharusnya gak pernah pergi.” Suara Gayatri terdengar parau. Meski berusaha tegar, tetapi menghabiskan waktu yang cukup lama dan dekat dengan Shaka, membuat Gayatri tidak bisa membayangkan perpisahan itu.


Shaka tersenyum kecil, ibu jarinya mengusap lembut pipi Gayatri yang tampak kemerahan. Gadis itu memejamkan matanya, merasakan desiran halus saat usapan jari Shaka terasa menyentuh hatinya. Tanpa Gayatri duga, ada kecupan lembut di bibirnya, kecupan lembut dari Shaka yang tengah mengungkapkan perasaan terdalamnya pada sang gadis.


Mata Gayatri terbuka beberapa saat, kaget. Ia ingin memastikan kalau yang ia lihat benar-benar Shaka. Laki-laki ini tidak akan pergi dalam waktu dekat kan?


Merasa tidak ada tanggapan dari Gayatri, Shaka pun mengakhiri kecupannya dengan sebuah gigitan gemas di bibir Gayatri. Ia memandangi mata Gayatri yang bergoyang karena kaget. Di peluknya tubuh gadis itu dengan erat, sangat erat seolah ia sangat takut jika takdir memisahkan mereka.


“Lo bener, gue yang harusnya gak pernah pergi. Dan andai saja kalau bisa, Aya….” bisik Shaka dengan berat hati.


Gayatri tidak menimpalinya, ia hanya membalas pelukan Shaka dengan erat, seraya memejamkan matanya. Karena cahaya kekuningan yang membias di wajah sang gadis, membuat cukup jelas adanya bulir bening yang menetes di pipi itu. Gayatri membenamkan wajahnya di dada Shaka, agar bulir bening itu mengering dan tidak di lihat Shaka.

__ADS_1


Begini saja, lebih baik.


****


__ADS_2