Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Undangan penting


__ADS_3

Sudut bibir Shaka tersenyum kecil melihat usaha Gayatri untuk menahannya. Gadis itu tidak segan memegangi lengan Shaka dengan erat. Apa harus dengan membicarakan Dion baru gadis ini mau mendekat padanya?


“Jadi gimana, mau jadi pawang gue gak? Kalau mau, baru gue kasih tau.” Dengar, laki-laki itu mulai memainkan siasatnya.


“Ck! Lo ya! Emang lo gak niat buat ngasih tau gue,” Gayatri berdecik dengan sebal. Ia melepaskan tangan Shaka yang ia genggam dengan erat, lantas bersidekap.


Rupanya gadis ini kesal, kesabarannya hanya setipis tissue di bagi tujuh.


“Dia bilang, lo trauma sama dia,” Shaka sengaja memancing gadis di sampingnya. Seketika, wajah Gayatri pun berubah pucat pasi. Ia tidak bergeming, masih menerka-nerka apa benar Dion mengatakan hal itu.


Sepertinya dugaan Shaka benar, padahal laki-laki itu hanya menebak berdasarkan apa yang ditunjukkan Gayatri setiap kali Dion mendekatinya.


“Dia yang bikin lo diem dan suara lo hilang. Iya kan?” Lagi Shaka menambahkan kalimatnya, membuat mata Gayatri mengerjap kaget. Binar semangat itu hilang, berganti rasa takut.


Shaka memang sengaja berbohong, karena ia ingin meyakinkan apa yang dilihatnya adalah benar. Dari perubahan ekspresi Gayatri saja sudah jelas terlihat kalau apa yang ia terka memang benar adanya.


“Satu yang pengen gue tanya, kenapa lo selalu ngeliatin tangan Dion? Apa karena lebih kekar dari tangan gue?” Di balik candaannya itu, Shaka memiliki pertanyaan yang serius.


Ia melihat ada beberapa persamaan antara Gayatri dan Dion. Ya, persamaan itu adalah tato tengkorak yang khas di tangan Dion, stiker tengkorak di helm Gayatri dan yang baru ini adalah, stiker tengkorak di spakbor motor besar yang menurut Gayatri milik abangnya.


Ada penghubung apa antara tiga orang ini?


“Sebaiknya lo pulang, gue mau istirahat,” ucap gadis itu dengan tegas. Rasa ingin tahunya mendadak hilang. Sikapnya pun berubah, ia tidak menatap Shaka sedikit pun.


Shaka menghembuskan napasnya kasar, ia paham benar kalau seorang Gayatri sepertinya memerlukan waktu untuk menenangkan dirinya.

__ADS_1


“Nomor gue aktif kalau lo mau ngomong,” ucap laki-laki muda itu seraya menepuk bahu Gayatri yang melorot, sebelum akhirnya pergi meninggalkan sang gadis untuk menenangkan diri.


Gayatri tidak menimpali, ia membiarkan Shaka pergi. Beberapa kali ia menghela napasnya dengan berat dan menghembuskannya dengan kasar. Dada bidangnya ia usap-usap untuk menenangkan lompatan jantung di rongga dadanya.


“Mau balik lo?” tanya Barkah yang tidak sengaja berpapasan di pintu rumah. Laki-laki itu membawa keresek besar berisi belanjaan. Ada banyak buah-buahan yang di belinya.


“Iya Beh, pamit dulu ya. Maaf udah ngerepotin,” Shaka salim sebentar pada laki-laki itu.


“Iyaa, ati-ati lo di jalan. Kalau laper, lo kemari aja dah. Kedai gue buka dari jam lapan pagi sampe jam sepuluh malem. Itu juga kalau sotonya kagak habis. Pokoknya lo dateng aja kalau butuh apa-apa ya!” Barkah begitu perhatian pada lelaki muda yang telah membantunya.


“Iya Beh, salam buat enyak, permisi,” pamit Shaka.


“Iyaa tar gue sampein. Langsung balik ke rumah lo!” Barkah melambaikan tangannya pada Shaka.


Gadis itu tidak berreaksi apa pun. Memilih masuk ke kamarnya untuk menenangkan diri.


****


Bagi seorang gayatri, hari ini Shaka seperti kembang api dan petasan yang banyak memberinya kejutan dari ledakan perasaan yang menyala-nyala. Tidak menyakitkan tetapi sangat mengagetkan. Bayangkan saja, laki-laki itu mengatakan kalau ia berbicara dengan seorang Dion. Dion yang memang telah membuatnya trauma.


Di sudut kamarnya Gayatri terduduk. Ia menangkup wajahnya yang pucat setelah mendengar banyak kalimat dari Shaka. Ia menyuruh laki-laki itu pergi, padahal masih banyak hal yang ingin ia dengar. Kepergian Shaka bukan keinginannya sepenuhnya, ia hanya sedang mengingkari rasa takut yang tiba-tiba menyergapnya.


“Lo harusnya gak deket-deket sama Dion. Gue gak mau lo pergi kayak Rasya.” Kalimat itu yang terdengar samar keluar dari bibir tipis Gayatri.


Bagi seorang Gayatri, Dion bukan orang yang mudah untuk dihadapi. Selain laki-laki itu kasar, ia tidak segan membuat seseorang hilang dari dunia ini. Dia pandai menggunakan tangan orang lain untuk menyingkirkan orang yang tidak ia sukai seperti yang dilakukannya pada Rasya.

__ADS_1


“Lo dalam bahaya Shaka,” Gayatri seperti tersadar, kalau posisi kang rusuh itu saat ini tidak lah aman. Bukankah Dion bisa melakukan apa saja, terlebih dia sudah memberi Shaka peringatan?


“Akh sial!” dengus Gayatri dengan kesal. Ia masih memikirkan apa yang harus ia lakukan sekarang untuk membantu Shaka. Ia tidak mau melewatkan satu pun hal penting yang membuatnya kelak akan menyesal.


Di tempat berbeda, Shaka baru tiba di rumahnya. Pria bepostur sempurna itu memarkirkan motornya di basement lalu turun ke ruang rahasianya. Lampu di ruangan gelap itu pun menyala otomatis. Setelah menekan passcode dan pemindaian retina mata, pintu ruangan itu pun terbuka. Ia masuk untuk menyimpan dan memeriksa beberapa alat bukti yang ia dapatkan.


Pria muda itu menarik kursinya dan terduduk di dihadapan komputernya. Ia memasukkan password rahasia dan segera melakukan pencarian terhadap beberapa hal yang dilihatnya. Ponsel yang ia gunakan pun ia sambungkan dengan komputer untuk mengunggah gambar yang ia dapat. Ya, gambar tengkorak yang ia potret dari helm Gayatri.


“Gambar tengkorak, gue harus nyari tau ini di internet. Harusnya sih ada,” Shaka bergumam sendiri. Ia mulai berselancar di dunia maya. Tatapannya begitu fokus, melihat dengan teliti layar selebar 32 inci tersebut. Beberapa halaman gambar tengkorak di bukanya, tetapi hingga halaman ke enam, gambar yang Shaka cari tidak juga tampak.


Dari sekian banyak gambar tengkorak yang muncul di layar, hanya ada dua atau tiga gambar yang tampak mirip. Sayangnya saat Shaka mengkliknya, ternyata tautan itu telah di hapus. Ada juga yang aksesnya di larang.


“Akh sial!” dengus Shaka dengan kesal. Sulit sekali mencari tahu hal-hal yang berhubungan dengan Gayatri dan sekelilingnya.


Ia mengguyar rambutnya kasar, kesal dengan semua benang merah yang kusut dan begitu sulit untuk diurai. Di sela kekesalan itu, ada pesan masuk yang diterima Shaka. Sebuah pesan dari nomor yang tidak di kenal.


“Bro, balapan jam sebelas malem ini. Ini waktunya kita naklukin salah satu genk motor resek. Gue yakin lo pasti menang.” Begitu isi pesan yang di terima Shaka.


“Berapa bayaran gue?” Shaka membalasnya dengan cepat. Ini kesempatannya mencari tahu tentang logo tengkorak itu. Saat anak-anak genk motor yang mengundangnya, maka bisa dipastikan kalau balapan ini aman.


“30 juta. Lo juga bakalan gantiin posisi wakil ketua genk kalau lo menang.” Begitu isi tawaran yang Shaka terima.


“Gue gak butuh posisi wakil ketua genk. Sebagai gantinya, bantu gue cariin tentang gambar ini, kalau bisa, baru gue datang.” Shaka mengirimkan foto gambar tengkorak yang ia ambil dari helm Gayatri.


“Aman, gue bisa cari tau ini. Pastiin lo dateng kalau mau tau detailnya.” Begitu isi balasan pesan dari anak genk motor tersebut. Shaka tersenyum tipis, memang selalu ada jalan menuju roma.

__ADS_1


__ADS_2