
Gadis itu tampak tegang, debaran jantung yang berloncatan itu kembali datang. Terlihat jelas kalau sang gadis menelan salivanya kasar-kasar akibat perasaan yang tidak menentu dan tiba-tiba itu. “Thanks,” ucapnya pelan.
“Hah?” Shaka pura-pura tidak mendengar.
Gayatri mencondongkan tubuhnya mendekat pada telinga Shaka, “Thanks,” ia mengulang ucapannya.
Di waktu yang bersamaan Shaka menoleh, dengan segaris senyuman yang merekah. Gayatri sampai terhenyak saat ternyata hidung mereka bersinggungan. Dua orang muda itu saling bertatapan beberapa saat dengan wajah yang sama-sama memerah.
Tidak sampai sepuluh detik hingga kemudian Gayatri dan Shaka sama-sama memalingkan wajahnya dan membuang napasnya kasar untuk mengusir rasa tegang yang tiba-tiba mengisi hatinya.
“Inget, telurnya jangan terlalu mateng,” ucap laki-laki itu seraya berlalu meninggalkan Gayatri yang masih mematung kebingungan.
Sambil berjalan, laki-laki itu mengelus-elus dadanya yang berdebar tidak menentu.
“Giliran gue masakin mie, dia gak bilang makasih sama gue,” gumam Gayatri seraya mencengkram mie di tangannya dengan erat, kesal dan semua perasaan yang campur aduk jadi sndgwjwbsvwjwvwg 😆.
Di tepuk-tepuknya dada sang gadis yang terus berdebaran tidak karuan. “Brengsek emang si Shaka,” imbuhnya. Bukan karena tidak mengucapkan terima kasih, tetapi karena tingkahnya yang membuat Gayatri jantungan.
Sepuluh menit menghindar, tiba-tiba mata Shaka membulat lebar saat semangkuk mie buatan Gayatri tersaji di atas meja. Wanginya yang semerbak memenuhi ruangan. Penampilannya juga begitu cantik, melebihi expectasinya. Gayatri ternyata pandai memasak dan menyajikan makanan.
“Silakan di makan yang mulia,” ucap gadis itu seraya terangguk sopan.
“Hahahaha... bisa aja lo. Waahhh.... berasa jadi sultan gue,” seru Shaka yang terlihat begitu terpesona pada penataan makanan yang dibuat Gayatri. “Makasih banyak Aya, ayo kita makan bareng,” Shaka menepuk tempat di sampingnya. Satu mangkuk besar mie kuah spesial itu diyakini tidak akan habis olehnya sendiri.
“Gue gak laper, lo lanjut aja.” Alih-alih ikut makan, Gayatri memilih kembali ke tempat duduknya semula di sofa, melanjutkan membaca buku pelajaran untuk besok.
“Kalau capek, jangan di paksain belajar. Yang lo butuhin itu istirahat. Biar besok pagi lo segeran dan otak lo bisa nyerap ilmu dengan baik.” Petuah itu keluar dari mulut laki-laki penikmat mie instan. Perkiraan tidak akan habis, ternyata begitu lahap meski masih panas.
Gayatri tidak lantas menurut, ia masih memandangi tulisan berparagrap rapat dengan huruf yang terlihat saling bertumpukan. Pusing memang.
__ADS_1
“Gue banyak ketinggalan selama dua bulan ini. Nilai gue banyak yang turun. Kalau rata-rata nilai gue di bawah delapan puluh, bisa-bisa gue kehilangan beasiswa.” Sahutan Gayatri terdengar menyedihkan, membuat kawannya menoleh. Ia mengunyah dulu makannya, lalu menelannya hingga habis.
“Nilai rata-rata lo berapa sekarang?” tanya Shaka yang penasaran.
“Gue belum tau. Yang jelas ada nilai kuis gue yang nilainya cuma 60 sama 70. Kuis berikutnya gue gak boleh gagal, atau gue bakalan makin susah ngejar ketertinggalan.” Baru kali ini Gayatri menurunkan bukunya dan menatap Shaka dari tempatnya.
“Hem, cukup berat. Tapi kayaknya lo bisa. Rasya bilang lo anak yang cerdas, otaknya kayak spon yang gampang nyerap air. Tapi spon itu bisa nyerap air kalau dia lentur dan gak kaku. Selain otak lo yang harus siap nyerap pelajaran, fisik dan mental lo juga perlu di siapkan. Lo gak bisa maksa diri lo terlalu keras, lo harus ngasih sedikit hak diri lo.” Nasihat Shaka cukup panjang, membuat gadis itu termenung beberapa saat. Lantas mengangguk, setuju dengan nasihat laki-laki itu.
“Okey, kalau gitu gue mau tidur aja.” Gayatri memutuskan untuk menutup wajahnya dengan buku.
“Hey, kok tidur? Ayo temenin gue makan,... ini enak loh,” laki-laki itu menarik-narik ujung baju Gayatri yang malah membaringkan tubuhnya.
“Gue gak pengen makan Shaka... udah lo aja... itu kan makanan sultan, gak cocok sama rakyat jelata macam gue,”
“Dih, baper lo ya? Gue kan becanda doang.” Shaka masih berusaha menarik-narik ujung baju Gayatri.
“Ya udah,” Shaka akhirnya menyerah, tidak lagi menarik ujung baju Gayatri. Ia melanjutkan makannya dan tanpa laki-laki itu tahu, Gayatri sedang mengintipnya di balik buku. Saat Shaka menoleh, Gayatri segera menutup kembali wajahnya dengan buku.
“Cita-cita lo mau jadi apa, sampe belajar sekeras itu?” sambil menikmati makanannya, Shaka melanjutkan obrolan. Ia sangat yakin kalau Gayatri belum tidur.
“Gue pengen ngerti hukum dan cara kerjanya. Biar gue dan keluarga gue gak dibegoin. Gue juga pengen belajar membela diri gue sendiri, biar gak di tindas. Gue mau menghancurkan paradigma kalau hukum itu hanya berlaku tajam bagi orang bawah, tapi tumpul bagi orang atas.” Kalimat Gayatri terdengar matang.
“Pemikiran yang bagus. Gue bantuin apa biar lo semangat ngejar mimpi lo?” tanya laki-laki itu kemudian.
Gadis itu menggeleng. “Lo udah ngelakuin banyak hal buat gue, gue gak mau semakin berhutang budi sama lo.” Gadis itu menjawab dengan serius.
“Banyak? Emang apa aja?” Shaka jadi berhenti menyendok mie nya. Menyimak pembicaraan Gayatri malah jauh lebih menyenangkan.
“Eemm... ada banyak. Satu, lo bikin gue berani ngomong. Dua, lo bikin gue berani mengingat pengalaman traumatis itu. Tiga, lo bikin gue berani ngehadapin rasa takut gue. Empat, lo bikin gue belajar untuk optimis. Dan masih banyak hal lainnya. Lo bahkan ngajarin cara ngejaga keluarga dan orang yang gue sayang. Gimana bisa gue ngebales semuanya?” Gayarti menatap laki-laki itu dengan serius, membuat Shaka tersenyum kecil seraya mengusap dagunya.
__ADS_1
“Tapi lo juga terlalu nyampurin hidup gue. Emang lo gak capek mikirin masalah orang lain?” Gayatri menambahkan satu pertanyaan itu.
Shaka tidak lantas menjawab, ia menatap Gayatri dengan cukup lekat. “Gue suka hidup sendirian. Melibatkan orang lain seperlunya, tapi jika hidup gue harus berdampingan sama lo, gue terima, itu pengecualian.
"Gue gak suka hal yang rumit, tapi kalau hal rumit itu adalah tentang lo, itu juga pengecualian. Dan yang terakhir, gue gak suka masuk ke kehidupan orang lain, tapi jika itu hidup lo, gue bersedia untuk terlibat lebih jauh dan dalam. Buat gue, lo satu-satunya pengecualian,” terang Shaka dengan sepenuh hati.
Gayatri tersenyum kecil mendengar ucapan laki-laki itu, wajarkah kalau ia tersentuh? “Semuanya jadi pengecualian karena gue terlibat sama orang yang paling berarti buat lo, yaitu Rasya,” timpal gadis itu dengan wajahnya yang sendu. Bukankah kalau tanpa Rasya, hubungan mereka tidak akan sedekat ini?
“Ya, gue gak munafik kalau alasan pertama gue adalah itu. Tapi membuka hati untuk seorang gadis yang bikin jantung gue berdebar kencang, menjadi satu-satunya pengecualian terbesar gue.” Dengan mantap kalimat itu di ucapankan Shaka.
Gayatri sampai terdiam, bibirnya mendadak kelu dengan wajah yang berubah hangat. Ia merasakan hal yang sama. Harus ia akui kalau banyak perhatian dari lawan jenis yang pernah ia terima, tetapi semuanya bisa ia abaikan. Lalu laki-laki ini, mengapa malah menjadi sebuah pengecualian?
Bungkam, satu-satunya pilihan yang Gayatri ambil. Alih-alih menimpali kalimat Shaka, gadis itu malah berbalik dan membelakangi Shaka. Ia mengigiti kuku ibu jarinya untuk mengalihkan rasa gugup yang tiba-tiba datang. Satu tangannya mencengkram baju kaosnya sendiri saat merasakan dadanya bergemuruh. Berharap Shaka tidak mendengarnya.
“Aya, apa gue juga pengecualian buat lo?” tanya Shaka di tengah keheningan. Suara detakan jam menjadi bunyi yang mengintimidasi Gayatri agar segera menjawab.
“Gue udah tidur,” hanya itu sahutan Gayatri yang membuat Shaka tersenyum kecil.
Laki-laki itu beranjak dari tempatnya, ia mengusap kepala Gayatri beberapa saat. Terlihat jelas tubuh sang gadis yang mengkerut kaget. “Selamat malam, yang udah tidur,” bisiknya sekali lalu ia pergi meninggalkan Gayatri yang sedang menahan agar jantungnya tidak lepas.
Derap langkah Shaka terdengar menjauh dari dekatnya, dan gadis itu memilih untuk tidak berbalik sampai suara langkah kaki Shaka sudah benar-benar tidak terdengar.
“Gila, lo gila Shaka. Lo lagi ngapain sebenarnya?”
Kalimat itu di ucapkan dua hati yang berbeda. Hati milik Gayatri yang sedang memejamkan matanya dan hati milik Shaka yang berdiri dengan tegang sambil bersandar pada daun pintu kamarnya.
Ya, apa yang sedang mereka lakukan?
****
__ADS_1