
“Lo apa kabar?” tanya Gayatri saat ia memeluk sang kakak. Sudah sangat lama ia tidak memeluk Galih seerat ini.
“Baik,” suara Galih terdengar pelan. Laki-laki itu juga mengusap punggung Gayatri dengan lembut. “Lo balapan?” tanya laki-laki itu lagi. Semalaman di telinganya terus terngiang perkataan Mira kalau sang adik ikut balapan.
Gayatri melepaskan sejenak pelukannya. “Gue ada di sini, ada buat lo,” sahut gadis itu seraya tersenyum. Galih tidak menimpali, ia masih tertunduk dan sesekali melirik Gayatri. “Menurut lo, gue boleh balapan gak?” Gayatri balik bertanya.
Menurut psikiater salah satu upaya terapi penderita depresi saat di rumah adalah dengan mengajaknya berkomunikasi dan menunjukkan perhatian lebih pada perasaan dan pemikirannya.
“Nggak, gak boleh,” meski jawabannya singkat tetapi cukup jelas.
“Okey, gue akan nurut sama lo. Gue gak akan balapan lagi,” sahut Gayatri dengan semangat. Gadis itu menatap sang kakak dengan lekat dan Galih tampak menoleh walau ragu-ragu.
“Ya udah, ngobrolnya sambil duduk, babeh sama Shaka mau ke depan dulu.” Barkah ingin memberikan ruang untuk Gayatri dan Galih. Berharap putrinya bisa membuat kondisi mental dan kejiwaan Galih semakin membaik.
“Babeh sama Shaka emang mau ke mana?” tanya gadis itu kemudian.
“Yaa, jalan-jalan dikit. Lemesin otot, udah tua Babeh, ngurang-ngurangin kram sama kesemutan.” Laki-laki itu beralasan. Sendi tangannya Ia tekut-tekuk hingga berbunyi.
“Abang mau jalan-jalan juga gak sama Aya?” tanya gadis itu kemudian. “Aya seneng kalau bisa jalan sama abang,” Gayatri mulai bertingkah manja pada sang kakak. Ia sengaja melakukannya agar Galih merasa penting untuknya.
Galih mengangguk kecil, mengiyakan ajakan Gayatri. “Okeeyy, Aya ganti baju dulu. Abang juga ganti baju. Waktu kita lima menit, okey?” seru Gayatri dengan semangat.
Galih Kembali mengangguk, ia berbalik menuju kamarnya begitu pun dengan Gayatri.
“Babeh bantu tong!” seru Barkah seraya mengikuti anaknya. Mereka berjalan dengan semangat menuju kamar Galih.
__ADS_1
Tinggalah Shaka seorang diri, ia berdiri sambil bersidekap dan memandangi dua daun pintu kamar milik Gayatri dan Galih. Sepertinya terapi interpersonal antar anggota keluarga ini berjalan dengan baik. Melihat tingkah manja Gayatri pada sang kakak, membuat Shaka ingin memasukkan gadis itu ke dalam toples. Lucu pasti.
Keluarga cemara itu saat ini sedang berjalan-jalan di sekitar komplek perumahan Shaka. Keluarga cemara yang tidak selalu bahagia, tetapi saat terpuruk mereka berusaha ada untuk satu sama lain. Saling menguatkan dan saling menjaga meski satu sama lain tidak utuh. Hal itu yang membuat Shaka tersenyum senang melihat interaksi keluarga Barkah.
Gayatri dengan setia menggenggam tangan sang kakak. Laki-laki yang masih tampak asing dengan dunia luar ini, sesekali tampak menghindar saat ada kendaraan atau orang-orang yang berpapasan dengan meraka.
“Tenang, ada gue, Babeh dan Shaka. Mereka gak akan gangguin lo.” Hal itu yang selalu Gaytari ingatkan pada sang kakak.
Galih tidak menimpali, meskipun demikian, laki-laki itu tetap terlihat lebih tenang.
Di sebuah warung penjual bubur, saat ini langkah mereka terhenti. Berjalan sekitar beberapa seratus meter, ternyata cukup mengeluarkan keringat.
“Temenin Aya makan bubur ya Bang,” ajak Gayatri dengan semangat. Galih mengikuti Gayatri dan dua orang di belakangnya tampak tersenyum senang melihat usaha Gayatri untuk melibatkan Galih dalam segala hal.
“Campur?” tanya laki-laki itu.
“Campur, biar komplit,” hanya itu sahutan Shaka.
“Okey, di tunggu.” Penjual bubur pun segera membuatkan empat mangkuk bubur untuk pelanggannya. Barkah memperhatikan kedua anaknya yang sedari tadi tidak lepas berpegangan tangan.
“Entar lo begini yaa sampe tua. Saling sayang sama saling jaga. Adek lo butuh banget sama lo tong, jadi cepet sehat dan kuat lagi. Gak di jagain sama lo dia jadi bengal,” ucap Barkah pada putranya.
“Hehehehe… dikit doang Bang. Tapi kalau sama Abang, Aya pasti nurut.” Gayatri kembali memeluk sang kakak membuat laki-laki itu sedikit kaget namun ada rasa hangat dalam setiap perhatian dan sikap manja Gayatri. Shaka ikut tersenyum melihat Gayatri. Semanis itu gadis yang ia kenal saat bersama sang kakak. Padahal saat dengan dirinya sangat dingin dan kaku.
Empat mangkuk bubur sudah ada di depan mata. Mereka segera meramu bubur dengan menambahkan bumbu lainnya. Kecap atau merica, sesuai selera. Gayatri mulai menikmati makanannya dengan lahap, beberapa kali ia mengangguk senang saat Galih menolehnya.
__ADS_1
Acara makan bubur ini menjadi sesi terapi yang berguna untuk Galih.
“Shaka ini, juga baik sama Aya Bang. Abang bisa berteman sama dia,” ucap Gayatri tiba-tiba, saat ia merasa kalau Galih sering sekali melirik sahabatnya. Seperti waspada pada laki-laki yang menyodorkan air minum pada adiknya.
Laki-laki itu mengangguk saja, melirik diam-diam pada laki-laki yang ada di hadapan adiknya. Dalam pikirannya, sepertinya laki-laki ini juga yang menjaga Gayatri.
“Mau pake telor puyuh Bang?” tawar Shaka untuk mencairkan suasana. Ia harus ikut bergabung untuk mendekat pada Galih.
Laki-laki itu menggeleng. Ia lebih suka makan tanpa banyak suara makanan, karena itu membuatnya lebih tenang dan tidak bingung.
Di tempat berbeda, Mira masih terduduk di atas kasurnnya. Ia memandangi empat surat yang ia baca berulang kali. Rasanya sampai ia hapal setiap baris kalimat berikut titik dan koma dari isi surat itu.
“Gue udah bikin anak gue berusaha keras karena kesulitan ini. Apa semalam gue terlalu kasar sama dia? Apa tangan si Aya sakit gara-gara gue pukulin?” Wanita itu bertanya pada dirinya sendiri. Ada rasa cemas dalam hatinya, saat ia mulai tersadar akan kekasarannya pada Gayatri. Karena kesal dan marah, wanita ini sampai tidak bisa mengendalikan emosinya sendiri.
“Hah, ibu macam apa gue ini,” gumam wanita itu seraya menunduk dan memijat pelipisnya perlahan. Sepasang koyo yang menempel di pelipis kiri dan kanannya ternyata tidak membuat rasa pusingnya reda. Ia masih harus memikirkan apa yang akan ia lakukan esok pagi saat menghadap kepala sekolah. Apa mungkin Gayatri akan dikeluarkan?
“Dia udah berusaha banyak hal untuk keluarga ini, mana mungkin gue biarin anak gue dikeluarin. Gak, gue gak akan biarin keluarga ini lebih hancur lagi,” tekad itu tiba-tiba muncul di benak Mira.
Nyalinya memang selalu menciut setiap kali membayangkan saat ia berhadapan dengan kepala sekolah Gayatri. Terlebih laki-laki itu pernah mengintimidasi keluarganya agar tidak melakukan perlawanan hukum juga melibatkan pihak sekolah atas kasus pembunuhan yang dilakukan putranya. Tapi kali ini sepertinya seorang Mira tidak akan menyerah untuk kedua kalinya.
“Ya, gue harus membela anak gue depan kepala sekolah galak itu. Gua gak akan biarin dia maki-maki anak kedua gue. Cukup dia maki-maki di Galih, tapi gak gue biarin dia bertindak kasar sama anak perempuan gue.” Begitu bulat tekad Mira untuk membela putrinya.
Seorang ibu boleh merasa kesal dan marah pada anaknya, tetapi ia tidak akan membiarkan orang lain untuk memarahi apalagi bertingkah kasar pada anaknya. Bukankah seperti itu usaha setiap ibu dalam memperlakukan anaknya?
****
__ADS_1