
"Ya gak apa-apa, kan ada lo yang pasti mau bantuin gue lagi. Iya kan?" Shaka menatap Gayatri seraya menyandarkan kepalanya di sofa. Jika saja jarak mereka dekat, mungkin kepala Shaka akan bersandar di bahu Gayatri. Sayangnya gadis itu memilih menegakkan tubuhnya dengan kaku, menjauh dari sandaran sofa dan anteng dengan minuman yang sedang ia seruput.
"Dah! Balik gue," Gayatri menaruh gelas minumnya yang belum sepenuhnya habis.
"Eh, bentar dulu," Shaka menahan tangan gadis itu hingga kembali duduk.
"Apaan sih? Udah capek gue bantuin lo, mau pulang gue!" Gayatri menimpali dengan terang-terangan. Tangannya yang dipegangi Shaka, ia kibaskan begitu saja.
"Iyaa, tunggu dulu bentar, diem di sini!" titah Shaka yang beranjak dari tempatnya. Gayatri hanya menghembuskan napasnya kasar dan membiarkan Shaka pergi.
"Gue gak butuh bayaran. Anggap aja itu ucapan terima kasih karena lo nolongin gue!" seru gayatri dengan suaranya yang cukup keras hingga bergaung di rumah yang sepi penghuni ini.
Shaka tidak menimpali, ia hanya tersenyum mendengar ocehan geer Gayatri. Yang ia lakukan saat ini adalah mengambil salah satu mantelnya untuk ia berikan pada Gayatri. Mantel berwarna hitam legam dan cukup tebal untuk ia bawa menemui Gayatri.
"Apaan ini?" Gayatri menatap mantel yang disodorkan Shaka.
"Udara sore, udaraya dingin, lo pake aja. Jaket lo biar gue cuci dulu," ucap laki-laki itu.
Gayatri mengernyitkan dahinya, "Gak usah, gue biasa nyuci baju gue sendiri." Gayatri hendak mengambil jaketnya, tetapi Shaka menahannya. Memegangi tangan Gayatri dengan erat.
"Gue yang bikin jaket lo basah, gue cuma mau bertanggung jawab," Laki-laki itu beralasan dengan penuh kesungguhan. Gayatri memandangi sesaat tangannya yang di genggam Shaka, ada hantaran halus seperti barisan semut yang menggelitik aliran darahnya hingga sampai ke jantung. Cepat-cepat gadis itu mengibaskan tangannya.
"Terserah lo!" Akhirnya ia menyerah. Di ambilnya mantel itu dari tangan Shaka. Membukanya sedikit dan ternyata ukurannya cukup besar, panjangnya melewati lutut Gayatri. Cukup tebal karena terbuat dari sintetik dan campuran bulu domba.
"Emang mesti banget gue pake mantel musim dingin begini?" tanya Gayatri seraya tersenyum kecil. Shaka balas tersenyum karena ternyata Gayatri mengenali fungsi mantel ini. Padahal kalau sekilas, semua mantel tampak sama saja.
__ADS_1
"Udah, lo pake aja." Shaka mengambil alihnya lalu memakaikannya pada Gayatri. Gadis itu tidak melakukan perlawanan dan memakai mantel itu dengan nyaman. Hangat memang, mengusir rasa dingin setelah Shaka mengerjainya tadi.
"Gue pinjem," ucap Gayatri. Ia mengambil kunci motornya yang tergeletak di atas meja.
"Hem, makasih udah bantuin gue beres-beres. Hati-hati di jalan," ucap Shaka. Ia tidak lagi menahan Gayatri yang akan pulang karena hari sudah sore. Khawatir juga kalau Gayatri pulang terlalu malam.
"Hem, gue balik," pamit Gayatri yang berlalu begitu saja.
Shaka membalasnya dengan lambaian tangan. Tidak masalah gadis itu pulang, toh besok akan bertemu lagi kan?
*****
Sepeninggal Gayatri, Shaka membawa jaket Gayatri dan gelas bekas Gayatri ke lantai bawah rumahnya, tepatnya sebuah basement. Di salah satu sudut basement ada sebuah pijakan dari baja berukuran satu kali satu meter. Shaka mengeluarkan sebuah kunci, ternyata pijakan itu adalah pintu masuk menuju ruang bawah tanah.
Beberapa anak tangga ia pijaki, lalu ia tutup kembali pintu baja itu dari dalam. Lampu kekuningan menyala otomatis menerangi ruang bawah tanah yang gelap itu. Melewati empat belas undakan anak tangga, kini Shaka berdiri di depan sebuah pintu.
Dengan lincah tangannya menekan passcode rahasia untuk membuka pintunya. Itu validasi pertama, validasi kedua adalah retina matanya. Ia fokus menatap layar di pintu selama beberapa saat, membiarkan alat canggih itu menscan retinanya barulah pintu terbuka.
Sebuah ruangan luas berada di hadapan Shaka. Ruangan yang ia bangun dan rapikan selama stau bulan lamanya. Ia menyalakan lampu di dekat pintu dan seisi ruanganmu mulai terlihat jelas. Ada banyak alat canggih yang Shaka simpan di ruangan ini sebagai alat bantu untuk melakukan penyelidikan atas kematian sang adik.
Hal pertama yang ia lakukan adalah menaruh jaket Gayatri di atas sebuah meja besar. Ia mengambil sebuah alat scan dengan sinar uv yang menyala kebiruan. Matanya ia lindungi dengan kacamata besar saat memeriksa jaket Gayatri. Memilih bagian yang kering hanya untuk mengecek sidik jari gadis itu. Setelah terlihat berkas sidik jari, Shaka mengambil serbuk halus berwarna putih dan menaburkannya di permukaan jaket Gayatri lalu menyapunya sedikit dengan kuas halus.
Setelah itu ia tempelkan selotip transparan untuk mengambil sidik jari itu. Setelah sidik jari terambil, ia mengambil kertas berwarna hitam untuk menempelkan selotip itu lalu melakukan pemeriksaan di bawah microscop. Beberapa gambar di ambilnya dan sidik jari Gayatri sudah mulai bisa di gunakan dan disandingkan dengan sidik jari lainnya.
Kalian benar, jika menganggap semua yang Shaka lakukan sejak pagi tadi adalah usahanya untuk mendapatkan sidik jari dan DNA Gayatri. Laki-laki ini merasa beruntung bisa mendapatkan sidik jari Gayatri setelah gagal mengundang gadis itu ke pestanya. Lebih beruntung lagi karena ada helaian rambut Gayatri yang tertinggal di sana. Rambut hitam, panjang dan tebal itu tercium wangi.
__ADS_1
Shaka sisihkan helaian rambut itu di sebuah gelas kaca, untuk ia periksa. Hal terakhir yang ia temukan adalah sebuah dompet. Ya, ini dompet milik Gayatri yang tertinggal di salah satu saku jaketnya. Laki-laki itu mematikan alat UV nya juga melepas kacamata besarnya. Dibukannya dompet Gayatri yang tipis itu.
Yang pertama terlihat adalah foto Gayatri berukuran 3x4, di belakangnya ada foto Gayatri bersama Rasya. Sepertinya gadis ini mengambil foto tersebut di sebuah foto box. Rasya merangkul Gayatri dari samping, tersenyum lebar pada kamera, sementara Gayatri memasang raut wajah kesal sambil mengerucutkan bibir, ekspresi yang membuat Shaka tersenyum tipis.
Di dalam dompet itu juga Shaka menemukan uang recehan, lengkap dengan sebuah kartu ATM dan tanda pengenal. Shaka segera mencopy KTP milik Gayatri, ia yakin suatu saat ia akan membutuhkannya. Ia baca benar-benar alamat yang ada di KTP Gayatri.
"Tunggu, kenapa alamatnya berbeda?" batin Shaka. Shaka mengecek kembali tabletnya dan melihat alamat kedai soto Gayatri di map, tidak sesuai dengan yang tertera di KTP. Ia cek juga alamat Gayatri sesuai KTP, ternyata alamatnya sesuai dengan rumah yang Gayatri masuki tempo hari.
"Apa sebenarnya rumah itu benar-benar rumah Gayatri?" Shaka berpikir dalam. "Kenapa dia pindah? Apa sebelumnya dia orang berada?" Shaka terus bertanya-tanya.
Rasa penasaran itu menuntun Shaka untuk melakukan pencarian tentang kedai soto milik Gayatri. Kedai soto di alamat tersebut sudah ada sejak setahun lalu, dengan nama 'Kedai soto Beh Mahmud'. Sementara sekarang berganti nama menjadi 'Kedai Soto Mpok Mira.' Beberapa postingaan foto rating diperiksa oleh Shaka, postingan paling lampau tentang 'Kedai Soto Mpok Mira' adalah sebulan lalu.
"Apa berganti kepemilikan?" Shaka berpikir semakin keras. Semua tentang Gayatri berputar di kepalanya seperti puzzel yang belum menemukan sudut keterikatan yang serasi. Ia juga mencari info tentang rumah sesuai alamat Gayatri. Tidak ada info apa pun, termasuk info penjualan rumah tersebut hingga membuat Gayatri tinggal di alamat yang berbeda.
"Akh, sial! Kenapa pelik sekali?" gerutu Shaka sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Aku harus mencatatnya dulu," imbuh laki-laki itu.
Shaka menghampiri satu sudut ruangan itu, berdiri di depan sebuah gorden berwarna hitam yang kemudian ia buka. Tampaklah sebuah kaca besar yang sudah ia gambari dengan banyak tanda panah. Beberapa foto juga tertempel di sana, foto bukti-bukti penyelidikannya termasuk foto Gayatri yang paling kontras karena ia lingkari dengan spidol merah.
Di ambilnya sebuah spidol berwarna merah. Ada satu tulisan yang kemudian Shaka lingkari. Tulisan itu berbunyi, 'Membuat Gayatri bicara', ya, membuat Gayatri berbicara adalah salah satu misi Shaka. Misi ini sudah tercapai, tetapi ada banyak misi lainnya di bawah sana. Misi terdekat adalah 'Membuat Gayatri percaya'.
Shaka memandangi beberapa saat tulisan itu sambil memikirkaan cara seperti apa yang harus ia lakukan untuk membuat Gayatri percaya padanya dan mengatakan semua hal yang ia tahu. Ia tidak bisa memaksa gadis itu untuk mengatakan semuanya. Gadis itu pasti menyimpan banyak rahasia termasuk saat ia membisu karena sebuah trauma.
'Trauma,' kata itu yang saat ini Shaka tulis dengan huruf kapital. Ini tugas Shaka berikutnya yaitu mencari tahu penyebab Gayatri trauma. Dengan cara apa?
__ADS_1
Ada yang bisa memberi ide?
*****