
Motor Gayatri melaju pelan memasuki jalanan yang tidak terlalu lebar lagi beraspal tipis. Ia masih mengikuti lokasi yang ditunjukkan oleh map. Sejenak ia berpikir, apa mungkin ia salah jalan? Tempat yang ia datangi saat ini sungguh sangat asing. Ia berada di area perkebunan yang tidak terawat. Hamparan lahan kosong disekelilingnya di penuhi rumput ilalang setinggi pinggang, juga beberapa pohon besar yang membuatnya terlihat menyeramkan.
Seperti tersesat, karena ia belum pernah datang ke tempat ini.
“Si Dion salah ngirim alamat apa map nya yang eror sih?” gumam Gayatri.
Dari aplikasi map nya, ia akan tiba dalam waktu satu menit lagi. Itu berarti lokasinya benar-benar berada di tempat yang saat ini ia pijak. Tidak ada penerangan berarti di area ini, hanya cahaya remang-remang dari lampu jalan yang menyala kekuningan.
Gayatri menghentikan sejenak laju motornya. Ia coba untuk mengirimkan pesan pada Dion yang entah berada di mana.
“Lo di mana? Gak salah ngirim lokasi kan?” sebaris pesan itu yang di kirimkan Gayatri pada Dion. Tubuhnya sudah meremang di tiup semilir angin malam yang dingin di tambah membayangkan sang kakak yang mungkin sedang mengintrogasi sahabatnya. Entah kesalahan apa yang di buat Rasya hingga membuat laki-laki itu kesal.
Pesannya terkirim, namun belum di baca apalagi di balas. Gayatri memutuskan turun dari motornya. Mematikan mesin motor juga lampu depannya. Helmnya ia taruh di atas motor lalu berjalan-jalan di sekeliling lahan kosong itu sambil memperhatikan lingkungan di sekitarnya.
Ada sebuah bangunan tua di kejauhan sana, berada di bawah pohon yang rindang. Tidak ada cahaya sama sekali di bangunan tua itu, sepertinya sudah sangat lama di tinggalkan.
“Si Dion mau ngerjain gue apa gimana sih?” gerutu Gayatri dengan kesal. Ia mencoba menghubungi nomor Dion, tetapi malah tidak aktif. “Ish, brengsek emang si Dion!” Gayatri mengeram kesal dengan tingkah teman satu genknya.
“WOY! SEMBUNYI DI MANA LO?!” sebuah teriakan tiba-tiba terdengar menggema di lahan luas yang tidak berpenghuni itu.
Gadis itu sampai terhenyak, memutar tubuhnya untuk mencari sumber suara. Sayangnta tidak ada sosok orang yang ia lihat. Gayatri memutuskan untuk mencari, menuju jalan setapak yang mengarah ke dalam hutan. Tidak ada lagi suara yang terdengar, membuat Gayatri memutuskan untuk terus menyusuri jalanan setapak itu, guna mencari sumber suara.
__ADS_1
Semakin jauh melangkah, Gayatri semakin terjebak dalam ilalang yang mengelilinginya. Di antara ilalang yang tinggi itu, Gayatri melihat sekelebat bayangan yang berlari dengan cepat dari arah timur.
“Woy! Lo kalo gak salah jangan kabur!” Lagi suara itu terdengar dan Gayatri yakini milik kakaknya Galih.
“Galih!” panggiil Gayatri, tetapi tidak ada sahutan dari sang kakak.
Gayatri mulai berlari mencari sumber suara itu, berlari ke barat, menuju area yang terjal dan berbukit. Penglihatannya samar-samar saja karena tidak ada cahaya yang meneranginya. Dengan tubuh yang bercucuran keringat, Gayatri mengejar sosok bayangan sang kakak yang sedang mengejar seseorang. Kedua tangannya sibuk menyibak ilalang yang menghalangi langkah dan pandangannya. Napasnya terengah-engah, menyesakkan.
Dari tempatnya, ia melihat seorang laki-laki yang berlari ke atas bukit dengan terseok-seok. Gayatri bergegas menyusulnya, sesekali nyaris terjatuh karena tersandung jalanan yang terjal. Ia segera bangkit berdiri mengejar hingga sosok Galih terlihat berdiri di tepi tebing bersama seorang laki-laki.
Itu Rasya, Gayatri berlari secepatnya saat melihat tangan Galih mencengkram kerah baju Rasya. Entah apa yang mereka bicarakan, tidak terlalu jelas. Beberapa saat kemudian, Gayatri melihat Galih di sembur cairan dari mulut Rasya. Tidak berselang lama Sosok Rasya terkulai lemah dan meronta-ronta.
Galih yang terkejut, segera melepaskan cengkramannya, tetapi tangan Rasya terlalu erat menggenggam tangannya, mencakarnya hingga terasa sakit dan perih.
Gayatri segera berlari menghampiri namun tiba-tiba sesosok bayangan menangkap tubuhnya dan menariknya untuk bersembunyi di balik pohon. Mulutnya di bekap, hanya menyisakan suara teriakan memanggil nama Rasya yang samar-samar terdengar. Sosok tubuh tinggi menekan tubuh Gayatri ke sebatang pohon besar. Menekan dadanya dengan lengannya yang besar tanpa melepaskan bekapan di mulut Gayatri.
Samar-samar Gayatri bisa melihat wajah yang ada di hadapannya. Mata Gayatri menyalak kaget, ia berontak, berusaha melepaskan dirinya dari cengkraman lelaki itu. Merasa di lawan, laki-laki itu semakin kuat saja menahan tangan dan tubuh Gayatri hingga tidak bisa bergerak dan bersuara.
“Tolong!!!” lolongan suara Gayatri teredam oleh bekapan tangan besar itu. Sorot matanya terlihat begitu ketakutan dan gelisah.
“Diem di sini Aya! Lo gak boleh ke sana!” seru sebuah suara yang tidak lain adalah suara Dion.
__ADS_1
Gayatri tidak menghiraukannya, tangannya yang gemetar mencoba mendorong tubuh Dion agar menjauh darinya.
“PEMBUNUHAN! PEMBUNUHAN!” teriak orang-orang semakin terdengar jelas, entah dari mana asal orang-orang yang berdatangan itu. Ada sekitar lima orang yang menghampiri Galih dan Rasya.
Mereka memeriksa tubuh yang terkulai, “Panggil polisi! Korbannya mati!” seru seorang laki-laki. Mata Gayatri semakin menyalak kaget, tidak mempercayai ujaran orang tersebut.
“Nggak! Bukan saya! Bukan saya yang bunuh dia!” seru Galih saat orang-orang menghampirinya. Laki-laki itu tampak kebingungan dengan wajah yang berlumur darah dari mulut Rasya. Saking bingungnya, ia sampai tidak melakukan perlawanan. Laki-laki itu sangat shock dan ketakutan melihat Rasya yang terbujur kaku di hadapannya.
“Kamu pembunuh! Pembunuh!!” seru orang-orang itu sekali lalu menendang tubuh Galih hingga terjungkal. Tidak hanya satu orang yang memukuli dan menandangi laki-laki muda itu, melainkan ke lima orang tersebut. Galih melindungi kepalanya dengan kedua tangan, tetapi serangan bersamaan dari orang-orang itu tidak bisa ia lawan.
Gayatri semakin meronta-ronta, “Jangan!!!! Jangaaannn!!!” teriak Gayatri sekuat tenaga, tetapi bekapan tangan Dion terlalu kuat. Meski urat nadi di lehernya sudah meregang, berteriak sekuatnya, tetapi suaranya tetap tidak terdengar. Gayatri menangis tersedu-sedu, membayangkan Rasya yang katanya meninggal dan sang kakak yang dipukuli oleh orang-orang itu. Jantungnya berdebar sangat kencang, tidak karuan.
Dion pun ketakutan, tetapi ia tidak bisa berbuat apa pun.
“Aya! Berhenti berontak! Rasya udah meninggal dan abang lo di pukulin! Lo gak bisa ke sana Aya! Kalau lo ke sana, lo juga bakal di pukulin sama mereka!” suara Dion terdengar pelan, namun penuh penekanan.
Tubuh Gayatri mendadak lemah, tidak bisa di gerakkan setelah mendengar ujaran Dion. Nalarnya masih mencoba menerima kenyataan, benarkah Rasya meninggal? Tidak mungkin kan? Baru beberapa jam lalu ia berkirim pesan dengan Rasya, tetapi sekarang laki-laki itu dinyatakan meninggal. Apa orang-orang itu berbohong? Lalu mengapa Rasya tidak bergerak, mengapa orang-orang itu menutup tubuh dan wajah Rasya dengan selembar kain? Tubuh Rasya dibiarkan tergeletak begitu saja. Ya, tidak ada yang berani menyentuhnya.
Tidak bisa melakukan apa pun, membuat Gayatri terduduk bersandar di batang pohon. Air mata gadis itu meleleh bersamaan isak tangis yang tidak mengeluarkan suara. Tubuhnya gemetar, ia mencengkram rambutnya kuat-kuat, menampar-nampar wajahnya agar tersadar. Tangisnya semakin menjadi, tetapi tidak ada suara yang terdengar. Hanya air matanya yang berderai.
Air mata yang sama seperti yang Shaka lihat saat ini.
__ADS_1
****