
Ironis, keheningan yang dirasakan Barkah berbanding terbalik dengan kondisi jalanan yang sedang dilalui putrinya. Suara bising knalpot sepeda motor yang berlarian saling berkejaran, terus terdengar nyaring di sahuti oleh sorakan para pendukung jagoan masing-masing.
Gayatri menjadi salah bagian dari kontestan pada pertandingan tersebut. Gadis dengan kuda besi berwarna hitam legam itu berada di posisi enam saat pertandingan di mulai. Baru satu putaran yang berhasil di selesaikan. Handle gas itu di pacu semakin kencang hingga RPM maksimal. Sedikit melambat saat berbelok di tikungan tajam.
BRAK!!!
Satu motor di depan Gayatri jatuh tergelincir karena kurang seimbang. Motor itu berputar di tengah jalanan hingga memunculkan percikan api. Gayatri segera menghindar, mengambil sisi kanan untuk melewati motor tersebut. Beberapa motor di belakangnya ikut oleh bahkan menabrak motor yang rodanya maish berputar itu. Beruntung seorang Gayatri masih fokus dan dapat melanjutkan perjalananya menuju putaran ke dua.
“Line 2!” seru seorang wanita saat Gayatri melewati pemegang bendera.
Gayatri memacu kendaraannya lebih cepat lagi. Menyalip di tikungan hingga lututnya nyaris mengenai aspal hitam.
“Aaaaakkk ajig! Hampir aja! HUH!!!” seru Dewa seraya memegangi kepalanya. Tangannya mengepal geram melihat aksi Gayatri yang nyaris mencium aspal hitam itu.
Berkat salipan di belokan tersebut Gayatri berhasil mendahului posisi ke empat dan tiga. Persaingan semakin panas, saat ini pembalap di posisi satu dan dua mulai mengeluarkan siasatnya. Mengendarai motornya dengan zigzag hingga kakinya terus berusaha menendangi motor Gayatri. Gadis itu mulai kesulitan menghindar dan kesulitan mengendalikan kuda besinya.
“Lo pikir lo bakal menang dari gue, hah?” seru laki-laki tersebut.
Gayatri tersenyum kecil mendengar seruan tersebut. “Tentu harus menang, orang curang gak layak jadi pemenang!” timpal gadis itu dengan berani.
Di jalanan yang lurus, Gayatri sengaja menjaga jarak dengan lawannya, memilih lajur kanan yang cukup jauh dari lawannya. Diposisi yang membuatnya percaya diri ini, gadis itu mantap untuk menggunakan NOS yang pernah Galih pasang di motornya. Dalam satu tarikan, motor Gayatri melesat dengan cepat menyalip pengendara kedua.
“Gila si Aya, berani banget dia. Di depan ada belokan anjir!! Da bisa jatuh kalau gak seimbang!” Anton ikut panik, mereka sampai berlari menyusul Gayatri untuk melihat permainan gadis itu dari sudut yang terlihat.
__ADS_1
“Pake motor lo, kita ikutin dari luar. Gue khawatir dia jatuh. Bisa tamat kalau dia sampe jatoh.” Zaidan segera naik ke atas motor Anton yang CC mesinnya kurang lebih sama besar dengan motor Gayatri.
“Pegangan!” seru Anton dengan cepat. Ia segera menyalakan mesin motornya dan segera menyusul Gayatri dari luar. Terlihat Gayatri akan segera tiba di tikungan terakhir sebelum finish.
Jantung Zaidan dan teman-temannya berdebar kencang saat melihat Gayatri bermanuver, motor itu berbelok dan nyaris menempel pada permukaan aspal.
“Aaakkkk, awas Ayaaa!!!” seru Zaidan sambil mencengkram bahu Anton yang memboncengnya.
Anton dan Dewa tidak berani melihat. Suasana mendadak hening untuk beberapa saat, waktu pun merambat pelan. Hanya suara detakan jantung mereka yang terdengar cepat dan kuat.
Brak!!
Motor lawan Gayatri kembali terjungkal bersamaan dengan usaha Gayatri yang berhasil menaklukan tikungan terakhirnya. Di detik berikutnya gadis itu membawa motornya kembali tegak, melaju mulus dengan kecepatan tinggi melewati garis finish.
Penonton pun bersorak melihat keberhasilan rider tersebut. Gayatri segera membanting stangnya, sambil menekan handling rem hingga motornya memutar 180 derajat dan menyisakan kepulan asap hitam serta jejak ban yang hitam di aspal tebal.
Laju motor terhenti, Gayatri di serbu para penonton dan sorakan penuh kekaguman atas atraksi hebat Gayatri malam itu. Seorang laki-laki membuka sebuah botol sampanye yang sengaja is semprotkan ke udara bersamaan dengan nyala kembang api yang menghibar di langit malam yang gelap.
Gayatri tersenyum puas mendapati dirinya berhasil menaklukan sirkuit yang tidak mudah. Mereka membuka botol minuman untuk merayakan kemenangan Gayatri. Tidak sedikit yang kesal karena terkalahkan oleh sosok pengendara yang tidak membuka helmnya ini. Namun sebagian besar diantara mereka hanya bisa takjub pada skil balap sang juara.
Di dalam helmnya, Gayatri memejamkan matanya beberapa saat seraya mengatur napasnya yang masih menderu. Nyaris saja ia celaka di putaran terakhir, namun keberuntungan masih memayunginya.
“BRENGSEK LO AYA! LO BIKIN JANTUNG GUE HAMPIR COPOT!!!” teriak Zaidan seraya memeluk Gayatri dengan erat.
__ADS_1
Gayatri hanya menghembuskan napasnya kasar, ia pun sempat berpikir kalau ia mungkin akan berakhir malam ini.
“Udah gue bilang, lo harus percaya sama gue,” timpal gadis itu dengan santai padahal perasaannya tidak sesantai itu. Beberapa kali jantungnya seperti melorot dan pasrah jika kemudian putaran rodanya harus terhenti karena sebuah kekalahan. Ia melerai pelukannya dari Zaidan, laki-laki itu menatap mata Gayatri yang berada di dalam helm dengan senyum penuh kebanggan sambil menepuk bahu Gayatri.
“Selamat Ya! Lo keren!” ucap Dewa yang seraya mengulurkan tangannya pada Gayatri. Gayatri membalasnya dan mereka saling menepuk lengan satu sama lain. Begitu pun dengan teman Gayatri yang lainnya, mereka memberi selamat atas kesuksesan Gayatri.
Dari kejauhan, seorang laki-laki juga berjalan mendekat ke arahnya. Laki-laki yang tidak melepas helmnya itu mengepalkan tangannya ke udara dan memberikan salam salute atas kemenangan Gayatri. Dari cara jalannya, tentu saja Gayatri tahu siapa laki-laki itu.
Ya, dia adalah Shaka. Laki-laki yang sempat jantungan saat David mengirim pesan, "Gayatri balapan malam ini." Rasanya ia ingin mengomeli gadis nakal itu. Tapi melihat Gayatri yang masih berdiri tegak di tempatnya, rasa kesal itu berubah menjadi rasa bangga.
Gayatri tersenyum simpul di dalam helmnya. Belum tiba Shaka di hadapan Gayatri, gadis itu sudah lebih dulu di tarik tangannya untuk naik ke atas podium yang terbuat dari susunan kerat minuman. Gadis itu didaulat untuk menerima hadiah uang senilai seratus lima puluh juta rupiah. Kilatan kamera mengabadikan moment kemenangan Gayatri. Seperti dejavu, karena ia pun pernah merasakan euphoria seperti ini saat bersama Galih. Sayangnya kini ia sendirian.
Rasanya menyedihkan dan membikin sesak.
“Lo bisa lepas helm lo gak?” tanya laki-laki yang menyerahkan uang pada Gayatri. Ia menatap penuh harap pada sosok misterius tersebut.
Gayatri hanya menggeleng, lantas mengangguk sopan sebelum kemudian berlalu pergi setelah menerima hadiah dari laki-laki tersebut.
“Tunggu!” seru laki-laki berperawakan tegap tersebut. Sedari tadi laki-laki ini memperhatikan atraksi Gayatri dan sangat terpukau. Gayatri menghentikan langkahnya sejenak, “Gue Cakra,” imbuh laki-laki itu.
Mendengar laki-laki itu menyebutkan namanya, Gayatri berbalik. Menatap laki-laki itu dari dalam helmnya, lantas mengangguk sopan. Tidak ada yang ia katakan karena kemudian Gayatri pergi begitu saja.
*****
__ADS_1