Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Kekompakan


__ADS_3

"Aaakkkk.... Apa ini anjir? Kenapa nama gue ada di sini?" teriak Indah saat melihat ponselnya.


"Hah, apaan? Mana coba gue liat," seru Rima yang ikut penasaran.


"Lo buka grup begok, ngapain liat hape gue?!" seru Indah kesal.


Ketiga gadis itu langsung mengecek ponsel masing-masing.


"Brengsek gue juga ada!" seru Winda.


"Punya gue juga!" Rima ikut berreaksi.


Hanya satu orang yang terlihat tenang saja, yaitu Alya. Gadis ini mengulum senyum dalam hati melihat tingkah berani gadis muda yang menjadi saingannya.


Ya, benar. Dia adalah Gayatri.


Kericuhan terlihat di satu sekolahan sesaat setelah tersebarnya daftar nama siswa yang diminta mengklarifikasi terkait kepemilikan akun media sosial oleh pihak sekolah. Daftar akun itu ditulis oleh seseorang dan disebar di grup antar kelas. Pelakunya tidak lain adalah Gayatri. Gadis yang sedang duduk tenang sambil menikmati orange juicenya.


“Gila, lo bikin satu sekolah geger,” ucap Zaidan seraya mendentingkan gelas jusnya ke gelas gayatri lalu meneguk minumannya dengan nikmat.


Tatapannya tidak beralih dari gadis manis yang membuat heboh satu sekolah dengan langkah tidak terduganya dan membuat kepala sekolah malu dengan tantangannya untuk mengeluarkan semua siswa yang memiliki akun medsos.


Saat ini Gayatri dan teman-temannya sedang istirahat di kantin. Mereka berkumpul di salah satu sudut, menikmati waktu luang di jam sitirahat. Layaknya sang putri, gadis itu dikelilingi oleh teman-teman laki-lakinya yang berjumlah delapan orang di tambah satu orang wanita, yaitu Rosi.


“Jadi cuma aku sama Aya yang gak punya akun medsos itu?” tanya Rosi untuk meyakinkan. Sedari tadi yang dibahas hanya tentang para pemilik akun media sosial yang akan dkeluarkan dari sekolah ini..


“Gue sama Shaka juga gak punya,” David menimpali.


“Oh, ada temen rupanya. Jadi nanti di sekolah ini kita berempat aja, yang lainnya di keluarin, hehehe….” ucap polos gadis tersebut.

__ADS_1


“Yeee… gue juga masih mau sekolah kali. Lagian gue punya aplikasi itu buat usaha, bukan buat aneh-aneh. Nih lo liat sendiri," Anton menunjukkan tampilan di layar ponselnya dengan bangga.


"Wuuuu...." teman Anton kompak bersorak. Mereka baru tahu kalau seorang Anton piawai membuat video cinematography untuk iklan produk.


"Keren kan? Hasil duitnya juga keren anjir. Makanya, jangan sampe lah nyuruh d stop juga. Ngerintisnya susah anjir!” Anton menimpali dengan malas. Tidak terbayang kalau ia harus merintis ulang dari nol lagi.


“Menurut gue sih, gak akan dikeluarin juga siswanya, asal kalian kompak aja,” hasut Shaka.


“Kompak gimana? Masa orang tua kita harus kompakan pas di panggil sama kepala sekolah?” tanya Dewa. Laki-laki itu sudah gelisah, pasalnya ia sudah beberapa kali kena teguran pihak sekolah karena pembulyan dan sekarang ia malah kena masalah kasus media sosial.


“Ya gak masalah kalau orang tua kalian di panggil. Asalkan kalian bisa ngebuktiin kalau akun medsos kalian memang di pakai buat hal yang bener. Jangan nyebarin isu sara yang memecah belah persatuan.” Memang agak lain pesan dari seorang prajurit seperti Shaka.


“Nggak lah, mana pernah gue pake buat yang aneh-aneh. Gue makenya buat review game atau film. Itu aja,” Zaidan juga ternyata memiliki ide unik.


“Ya udah, gak usah takut kalau gitu. Yang penting kalian sebarkan kebaikan, bukan kejahatan. Lagi pula sekarang kan udah era digital, orang-orang banyak yang semakin kreatif dengan adanya platform digital seperti itu.” Shaka menegaskan kalimatnya.


“Iya juga sih, kita kan gak salah, kenapa kita harus takut? Kalau kita semua di keluarin, emang siapa yang mau bayar sekolah ini? Seolah ini kah bisa maju karena kita semua di pungut bayaran yang gede. Harga seragamnya aja mahal. Kalau kehilangan siswa, bukannya mereka yang rugi?” Dewa seperti baru tersadar.


"Setuju!" timpal Kelima anggota genknya. Shaka mencoba membaca situasi dari kondisi yang terjadi sekarang dan sepertinya ada yang bisa dimanfaatkan.


"Ya udah, berarti kita harus kompak," Anton berseru dengan semangat.


"Cakep! Gitu aja. Kita harus bersatu. Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh." Dewa mengepalkan tangannya di tengah-tengah meja dan teman-temannya mengikuti. Tangan mereka saling berangkulan lalu berseru, "Banzay!" ucap mereka di iringi tawa.


Mereka mulai sedikit lega, karena pada akhirnya mereka akan sama-sama berjuang untuk mempertahankan .


"Ngomong-ngomong Dion kemana? Kok gue jarang liat?" tanya Shaka kemudian. Sudah seminggu ini laki-laki itu tidak terlihat di sekolah.


"Dia bilang sih sakit, tapi gak bilang sakit apa." Anton menyahuti dengan malas. Sudah terlalu sering temannya itu bermain-main dengan sekolah.

__ADS_1


"Gak pada ditengokin?" tanya Shaka lagi.


"Gak berani gue main ke rumahnya Dion. Takut ketemu sama bokapnya. Sarkas banget anjir kalau ngomong. Belum lagi dia, agak kasar!" Dewa memelankan suaranya di ujung kalimat yang ia ucapkan, mungkin takut di dengar yang lain.


Mereka terlihat enggan untuk menengok sahabatnya, tetapi tidak begitu dengan Shaka, ia malah semakin tertantang. Toh ia harus mencari bukti ke rumah itu dan tepat ada alasan yang bisa ia gunakan.


"Nengokin Dion yuk Ya," ajak Shaka tiba-tiba. Laki-laki itu menatap Gayatri dengan lekat.


"Ayo!" Gayatri menyahuti dengan semangat.


"Waahh ini sih bakalan langsung sembuh kalau lo yang nengokin Ya. Langusng full baterainya setelah liat muka lo. Bawain buah tangan lah, biar dia tambah seneng," Goda Zaidan seraya menyikut lengan sahabatnya.


"Lebay!" hanya itu sahutan Gayatri sebelum kemudian ia beranjak dari tempatnya.


"Woy, mau kemana?" tanya Anton saat melihat Gayatri pergi.


"Bayar makanan sama minuman lo lah!" sahut gadis itu dengan penuh percaya diri.


"Wuhuuu!!! mantap nihh Aya. Sering-sering lah! Kapan lagi di traktir tuan putri." Dewaberseru dengan suaranya yang keras.


Gayatri hanya etrsenyum kecil, memang sudah cukup lama ia tidak mentraktir teman-temannya.


Biasanya selalu ada pesta barbeque setiap kali mereka merayakan kemenangan Gayatri. Tapi kali ini hanya traktiran sederhana saja.


Pulang dari sekolah, ada satu rencana yang kemudian di jalankan oleh Shaka dan Gayatri. Mereka membeli buah tangan untuk oleh-oleh untuk seseorang yang akan mereka temui. Parcel buah-buahan yang saat ini ada di tangan Gayatri.


"Lo inget kan, apa yang harus kita lakukan di dalam?" tanya Shaka saat mereka berdiri di depan pintu gerbang sebuah rumah mewah.


"Ya, gue inget," sahut Gayatri dengan penuh keyakinan.

__ADS_1


"Okey, ayo kita masuk," ajak Shaka.


"Hem," Gayatri mengangguk pasti. Mereka mantap melangkah masuk ke sebuah rumah mewah dengan di sambut pengawal keluarga Santoso. Benar, ini adalah kediaman Dion. Apa yang akan mereka temukan di sana?


__ADS_2