
Sebuah motor sport berwarna hitam melaju dengan kecepatan sedang menuju gerbang sekolah bercat putih tulang. Hanya sekitar beberapa meter lagi ia akan sampai. Siswa-siswa sudah berdatangan dengan kendaraannya masing-masing. Tidak sedikit yang berjalan kaki.
Seutas senyum terukir di balik helm full face hitam. Rasanya tidak sabar untuk bertemu dengan seseorang yang selama beberapa jam tidak dilihatnya. Bagaimana wajahnya hari ini, apa cerah seperti sore kemarin?
Motor hitam itu kini berbelok ke gerbang, sempat ia tarik sejenak handle remnya saat terlihat seorang laki-laki dengan pakaiannya yang tidak terlalu rapi, berdiri di depan gerbang. Di tangannya ia memegangi sebuah gody bag berwarna oranye. Shaka menghentikan sejenak laju motornya dan turun sebentar untuk sekadar menghampiri laki-laki yang tampak kebingungan itu. Dilepasnya helm yang menutupi wajah dan kepalanya.
“Permisi, bapak nyari siapa?” tanya Shaka pada laki-laki yang sebagian rambutnya sudah mulai beruban.
Laki-laki itu terlihat cukup kaget mendapat sapaan dari seorang siswa dengan sosok tinggi menjulang. Sedari tadi para siswa mengabaikannya, tetapi remaja ini datang sukarela untuk membantunya.
“Saya, bapaknya Aya. Ini baju olahraganya ketinggalan. Saya teleponin anaknya, malah gak di angkat,” ucap laki-laki itu seraya menatap Shaka dengan segaris senyum.
“Apa yang bapak maksudkan adalah Gayatri?” Shaka ingin memastikan.
“Nah iya, kok kenal?” Keterkejutan tergambar jelas di air muka Barkah. Apa putrinya seterkenal itu?
“Saya Shaka Pak, saya satu kelas dengan Aya. Biar saya bantu ngasihin baju olah raganya sama Aya,” lelaki muda itu menawari dengan sopan.
“Wah, makasih banyak yaa… Maaf ngerepotin.” Tangan gemetar lelaki paruh baya itu terulur untuk menyodorkan pakaian olah raga milik puterinya. Bibirnya yang kehitaman melengkungkan senyum karena ada yang bisa menolongnya.
“Nggak lah Pak, nggak ngerepotin.” Shaka menerimanya dengan senang hati.
“Ya udah, nitip ya… Belajar yang rajin, saya permisi dulu,” pamit Barkah dengan tergesa-gesa. Ia sempatkan untuk menepuk lengan Shaka dua kali sebelum kemudian berlalu pergi.
“Iya Pak, sama-sama. Hati-hati di jalan.” Lelaki muda berpostur jangkung itu mengangguk sopan pada Barkah.
__ADS_1
Barkah menyahutinya dengan sebuah lambaian tangan. Ia mengambil helm yang ia simpan di atas jok lalu ia pakai sebelum kemudian menunggangi motor RX K^ng kesayangannya yang berbunyi nyaring saat dinyalakan. Laki-laki itu membunyikan klaksonnya sebagai bentuk pamit. Shaka membalasnya dengan anggukan.
“Temen si Aya ada yang ganteng begitu juga,” Barkah membatin seraya memandangi sosok Shaka dari spionnya. Laki-laki bertubuh tegap itu tampak gagah saat menaiki kembali kuda besinya yang hitam legam, menuju area parkir para siswa.
Roda motor Shaka terhenti di area parkir. Dahinya sedikit mengernyit saat melihat tempat yang biasa ia tempati sudah terisi oleh motor sport lain berwarna senada dengan miliknya. Hanya saja, motor itu berasal dari brand internasional dengan jumlah produksi yang terbatas dan berharga fantastis.
“Rasanya gue kenal sama motor ini,” gumam Shaka. Ia memarkir motornya tidak jauh dari motor Gayatri. Hanya terhalang satu motor bebek lainnya. Ia memperhatikan benar motor tersebut sambil melepas helmnya. “Gue yakin, gue pernah liat motor itu.” Shaka berjalan mundur dan tetap memandangi motor itu hingga kemudian ia masuk ke lorong sekolah sambil terus berpikir, mengingat kendaraan beroda dua tersebut.
“Pagi Shaka,” sapa beberapa orang siswi yang bertemu Shaka dalam perjalanan menuju kelas.
“Pagi,” seperti biasa Shaka menyahuti dengan ramah membuat para gadis itu berbisik-bisik sambil tersenyum, sepertinya sangat bahagia mendapat sahutan dari Shaka.
Menaiki anak tangga menuju lantai dua, pintu kelas Shaka sudah terlihat di depan sana. Para siswa masih berada di luar karena bell masuk baru akan berbunyi sekitar sepuluh menit lagi. Pemilik kaki panjang itu mempercepat langkahnya, mengangguki beberapa sapaan ramah. Mata bulatnya memperhatikan ke dalam kelas melalui jendela yang terbuka, ia melihat sosok Gayatri sudah terduduk di kursinya dengan sebuah earphone yang menutupi kedua lubang telinganya.
“Pagi,” laki-laki itu tidak bosan menyahuti. Ia langsung menuju mejanya dan menaruh tas ranselnya di atas meja. “Pagi,” ia juga menyapa Gayatri yang tampak manis pagi ini. Mengetuk meja Gayatri dua kali.
Gadis itu melirik dengan ekspresinya yang dingin, lebih tepatnya melirik godybag yang di bawa Shaka. “Oh ya, ini titipan bokap lo. Tadi gue ketemu di gerbang sekolah. Katanya ini baju olah raga lo.” Gody bag itu Shaka taruh di atas meja belajar Gayatri.
Gayatri tidak mengatakan apa pun. Tidak ada niatan sama sekali untuk sekedar mengucapkan terima kasih. Ia mengambil gody bag itu dan memasukkannya ke dalam kolong meja. Shaka melihat ke sekelilingnya. Ia berpikir kalau suasana gaduh seperti ini membuat Gayatri tidak nyaman. Mungkin hal itu yang membuat gadis berambut panjang itu hanya terdiam.
“Ini dompet lo, kemaren ketinggalan di rumah gue,” kali ini Shaka menaruh dompet Gayatri di atas meja. Ucapan Shaka itu berhasil membuat Indah menoleh pada gadis itu, menatapnya beberapa saat lalu mendelik.
“Dia gak datang kan, ke pesta?” tanya Wanda yang ternyata juga menyimak.
“Gue sih gak liat. Lagian mana mau dia datang ke pesta, cewek isos begitu.” Rima ikut menimpali, kemudian tiga gadis itu terkekeh.
__ADS_1
“Isos apa ya?” Alya yang duduk di tengah-tengah ikut penasaran.
“Isolasi social, gak bisa di berbaur sama orang lain, apalagi datang ke pesta.” Rima menjawab sambil terkekeh. Menyenangkan ternyata meledek Gayatri.
Bibir Alya membulat, membentuk huruf O, ia juga ikut memandangi Gayatri yang tidak berkata apa pun dan langsung memasukkan dompetnya ke dalam tas. Hatinya sedikit tidak nyaman, membayangkan seharian kemarin mungkin Gayatri di rumah Shaka. Harusnya, ia mengikuti keinginan David untuk datang ke rumah Shaka.
“Shaka kenapa ya, kepalanya? Kebentur gitu ya?” Ada satu orang yang penasaran dengan dua perban kecil di kepala Shaka, yaitu Indah.
“Gak tau gue, coba lo tanya buat mendekatkan tali silaturahmi,” Wanda malah meledeknya.
“Hahahahha… silaturahmi gak tuh,” Rima ikut menimpali, membuat Indah tersipu malu dengan wajahnya yang merona dan ia kipasi.
“Ada Dion, ada Dion!” seru seorang siswa yang berlari masuk ke dalam kelas. Semua mata langsung tertuju pada anak laki-laki itu.
“Hah, si dion udah balik?” Wanda yang penasaran, segera melongok dari jendela. Tidak hanya Wanda, tetapi juga siswa lainnya, mereka kompak mendekat ke jendela.
Benar saja, sosok laki-laki berwajah indo eropa dengan postur tubuhnya yang jangkung, berjalan mendekat ke kelas XII IPS 1. Alya ikut penasaran dan tidak lama, laki-laki itu tiba di pintu kelas membuat para siswa kompak bubar dan duduk di kursinya masing-masing. Kelas mendadak hening, semua membisu, tidak ada yang berani bersuara.
Shaka ikut memperhatikan sosok laki-laki yang berwajah dingin itu. Dari raut mukanya terlihat tidak ramah sama sekali dan cenderung garang. Pakaiannya tidak lebih rapi di banding siswa lain. Kancing bajunya ia buka sebagain, memperlihatkan kalung rantai yang melingkar di lehernya. Anda tindikan di tengah bibir juga telinga kanannya. Rambutnya pelontos dan sedikit berwarna kecokelatan saat terkena cahaya matahari.
Hal tidak terduga yang dilakukan laki-laki itu adalah, menarik satu kursi dengan tangan kanannya, memutarnya dengan cepat dan menaruhnya di samping meja Gayatri. Ia duduk di sana, membuat tubuh Gayatri menegang seketika.
“Hay Aya,” ucap laki-laki itu, dengan senyum miring yang mengintimidasi.
****
__ADS_1