Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Ngobrol


__ADS_3

Permintaan Shaka akhirnya di kabulkan, setelah makan sore, Gayatri mengajak Shaka ke teras belakang rumahnya. Mereka duduk di bangku panjang sambil menikmati semilir angin sore yang masih membawa hawa panas kota Jakarta. Tidak ada kesejukan sama sekali, mungkin karena di teras belakang ini tidak ada pohon yang rindang. Hanya beberapa tumbuhan palm yang memagari tanah lapang berumput tipis yang tidak terlalu luas.


Jarang memang merasakan kesejukan di ibu kota, terlebih di area yang padat penduduk dan dekat lokasi pabrik seperti rumah Gayatri. Untuk menghirup udara segar saja kesempatan mereka tidak terlalu banyak. Udara telah banyak tercemar, berrcampur dengan berbagai jenis zat yang konon katanya mempengaruhi kesehatan.


Meskipun demikian, pada akhirnya Gayatri tetap melanjutkan hidupnya di kota yang katanya lebih kejam dari ibu tiri. Benarkah? Entahlah, Gayatri tidak pernah merasakan seperti apa memiliki seorang ibu tiri.


“Lo suka ngopi?” tawar Gayatri saat melihat Shaka yang terdiam membisu di beranda belakang rumahnya. Laki-laki itu tengah memandangi langit Jakarta yang tidak terlalu bersih itu. Matanya sedikit memincing karena silau.


Sedikit menoleh saat mendengar tawaran Gayatri. “Nggak, makasih,” sahut laki-laki bertangan kekar itu. Otot tangannya sampai terlihat jelas saat kedua tangannya menopang kuat tubuhnya di samping kiri dan kanan.


Tidak masalah bagi seorang Gayatri. Ia ikut berdiam diri di sana, berdiri bersandar pada tiang pintu, ikut menatap langit di atas sana. Ralat, menatap layangan yang terikat pada kabel listrik dan sulit melepaskan diri. Di terpa angin pun ia tetap bertahan, sesekali berputar-putar seperti pikiran Gayatri yang belum menemui ujungnya.


“Lo suka boxing?” tanya Shaka tiba-tiba. Ia melihat samsak yang tergantung di salah satu sudut halaman. Di sampingnya ada tiang besi seperti gawang yang biasanya di gunakan untuk berlatih pull up.


“Cukup berguna buat melampiaskan kemarahan,” sahut Gayatri, secara tidaak langsung mengiyakan pertanyaan Shaka.


Shaka mengangguk paham, pantas saja gadis ini piawai berkelahi. Gerakan tubuhnya pun lincah. Hal paling menonjol dari seorang Gayatri adalah tendangannya yang sangat keras. Pasti karena gadis ini belajar ilmu bela diri. Tumpukan bata yang tersusun rapi seolah menegaskan olahraga jenis apa yang diminatinya.


“Punya lo?” kali ini Shaka menunjuk sebuah sepeda motor besar yang di tutupi cover pelindung mobil. Hanya roda depannya saja yang sedikit tersingkap, mungkin terkena hembusan angin.


Gadis itu menggeleng, “Punya abang gue,” Gayatri menjawab dengan sejujurnya.


“Oh, gue gak tau kalau lo punya abang.” Shaka berpura-pura. Padahal ia sudah melihat hal itu dari foto keluarga yang terpajang di dinding ruang tamu.

__ADS_1


“Lo selain ‘kang rusuh’ kayaknya ‘kang sensus’ juga ya?” Gayatri menyidir laki-laki yang banyak bertanya itu.


Shaka terkekeh mendengar pertanyaan Gayatri yang menurutnya lucu. “Kang naklukin macan betina juga, raaawwrrr!!!” Shaka iseng mencandai.


“Cewek berkipas itu?” sindir Gayatri, yang ia maksudkan adalah Indah. Gadis yang begitu bangga bergandengan tangan dengan Shaka saat di kantin. Semakin riuh sorakan dari para siswa, semakin ia merasa di atas angin.


“Oh, kalau gitu nambah satu lagi, kang bikin cemburu.” Shaka langsung menembak maksud kalimat Gayatri, ia menatap gadis itu dengan lekat seraya mengumbar senyum, memamerkan deretan giginya yang putih bersih daan rapi.


“Dih, buat apa gue cemburu?” Gayatri menyahuti tidak terima. Ia memalingkan wajah merahnya dari Shaka yang memandanginya.


“Emang yang gue maksud itu lo?” Dengan santai Shaka menjebak Gayatri.


Mulut Gayatri sudah terbuka hendak menimpali, tetapi entah mengapa kosakata di pikirannya mendadak hilang.


“Hey, jawab dong. Ck!” Shaka sengaja menggoda Gayatri dengan mencebikkan lidahnya.


“Buaya?" Shaka mengernyitkan dahinya. "Oh jadi gue buaya?” Shaka menunjuk hidungnya sendiri.


“Emang iya!! Lo gak ngaca? Liat deh muka lo pas lo tebar pesona sama cewek, mirip banget buaya.” Gayatri menjawab dengan sesungguhnya. Kesal dengan tingkah Shaka yang suka tebar pesona.


Shaka masih terkekeh, namun tidak lantas menjawab. Ia menghampiri Gayatri dan berdiri di samping gadis itu. Di senggolnya lengan Gayatri yang bersidekap itu agar menolehnya.


“Buaya biasanya butuh pawang. Lo bisa jadi pawangnya?” suara Shaka di buat sedikit pelan, sambil memiringkan kepalanya untuk berbisik di telinga kiri Gayatri.

__ADS_1


Gayatri tersenyum kecut, ia menoleh Shaka membuat jarak wajah mereka cukup dekat. “Bisa, tapi gue gak minat!” ejek gadis itu yang tersenyum sarkas. Ia segera beranjak dari tempatnya memilih berjalan-jalan ke sudut beranda yang lain. Ke mana saja, yang penting tidak berdekatan dengan Shaka. Tubuhnya seperti meriang kalau di dekat laki-laki itu.


Melihat tingkah Gayatri, Shaka hanya terkekeh. Beberapa point yang Rasya tulis tentang gadis ini belum terbukti. Diantaranya, Gayatri itu lemah lembut, Gayatri itu penuh semangat, Gayatri itu kocak dan Gayatri itu ceria. Sisi ini yang belum bisa Shaka buktikan kebenarannya. Gadis berambut panjang ini masih menutup dirinya rapat-rapat.


“Okey, gak jadi pawang gak apa lah. Lo jadi pemilik tempat penangkarannya aja, biar gue gak ke mana-mana.” Laki-laki itu masih membahas tentang buaya.


“Emang boleh serajin itu sampe harus ngurusin lo?" Gayatri melirik sinis.


"Kenapa nggak," Shaka mengendikkan bahunya acuh.


"Ck! Lo harus tau kalau gue bukan orang yang suka terlibat sama hidup orang lain. Lo mau jadi buaya kek, mau jadi gorilla kek, mau jadi beruang kek, terserah lo aja. Gue gak peduli.” Gayatri menegaskan dengan sinis.


“Kalau maunya jadi pacar lo, gimana?” tanya Shaka tiba-tiba. Tidak ada angin tidak ada hujan, pertanyaan Shaka kali ini benar-benar di luar perkiraan BMKG.


Mendengar pertanyaan itu, Gayatri hanya tersenyum kecil, menatap Shaka dengan sinis. “Sakit lo! Semua orang aja lo tawarin jadi pacar. Balik lo sana!” pertanyaan Shaka membuat jantung Gayatri bergemuruh. Telunjuknya reflek menunjuk ke pintu. Mudah sekali pejantan ini menawarkan sebuah hubungan. Seolah hubungan pacaran itu hanya sebuah candaan saja.


“Hahahahhaa… canda Ayaaa, rileks….” ejek Shaka dengan enteng. “ Lagian Dion bilang lo itu punyanya dia. Gue gak boleh deket-deket sama lo. Tapi ya gimana, perut gue yang maksa gue datang ke sini. Mudah-mudahan sih gue gak ketemu dia di jalan, terus di hajar habis-habisan.” Shaka memasang raut mukanya yang menyedihkan.


“Lo ngobrol sama dia?” Gayatri langsung berreaksi, terusik dengan nama Dion.


“Hem, gak bisa di sebut ngobrol juga sih. Ngobrol kan sama temen ya, kalau sama dia jatuhnya gue kayak di introgasi dan di kasih peringatan. Waah, Dion itu emang keren, gak ada lawan. Sembah sujud gue sama dia.” Shaka mengangkat tangannya ke udara sebagai bentuk menyerah.


“Lo ngomong apa aja sama dia?” Gayatri masih penasaran. Reaksi wajahnya antara terkejut, panik dan khawatir.

__ADS_1


“Yaa, obrolan antar laki aja. Ck! Gue gak bisa cerita banyak, lo kan gak suka ikut campur urusan orang lain. Dah ya, gue balik dulu,” pamit Shaka tiba-tiba.


“Eh tunggu, lo mau ke mana?” Gayatri berjalan dengan cepat sampai memegangi yangan Shaka, menahannya agar tidak pergi.


__ADS_2