Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Menyusun strategi


__ADS_3

“Pagi,” sapa seorang laki-laki yang bersandar di dinding sambil menyilangkan kakinya.


Laki-laki itu tersenyum manis menyambut kedatangaan Gayatri di lorong sekolah. Lak-laki itu memang sengaja menunggu Gayatri di sana, agar bisa berjalan sama-sama ke kelas.


“Pagi,” sahut gadis itu pelan. Ia balas tersenyum pada Shaka, laki-laki yang semalam muncul di mimpinya.


“Kayaknya hari ini matahari ada dua deh. Terang banget dunia ini,” celoteh Shaka yang segera menyusul Gayatri dan berjalan di samping gadis itu.


“Basi!” dengus gadis itu yang tersenyum kecut.


“Pelajaran apa jam pertama?” tanya Shaka mencoba berbasa-basi.


“Geography. Lo jangan lupa, kita gak ikutan kerja kelompok kemaren, siap-siap kena omel Rosi.” Gayatri mencoba mengingatkan dengan suaranya yang pelan.


“Astaga iyaaa. Okey lah, gue siap-siap terima omelannya.” Shaka begitu percaya diri menghadapi satu teman sekelompoknya itu.


Benar saja, di depan kelas sudah menunggu Rosi yang terduduk di bangku depan kelas. Gadis itu segera berdiri saat melihat kedatangan Gayatri dan Shaka.


“Pagii Shakaaa, pagi Ayaaa… ke mana aja kemaren? Apa hari liburannya menyenangkan?” sindir gadis itu dengan kesal.


“Pagi Rosi…. Pertama-tama, gue minta maaf karena udah lalai gak ikut ngerjain tugas karena ada satu dan lain hal yang gak bisa gue tinggal. Karena itu, gue relakan kuping gue buat dengerin omelan lo. Berikutnya, sebagai bentuk permintaan maaf, gue traktir lo mie ayam kantin. Gimana?” tawar Shaka dengan cepat.


“Waahh boeh juga tuh! Aku juga mau,” bukan Rosi yang menimpali, melainkan Indah yang baru datang.


Shaka segera menoleh dan tersenyum kecil pada gadis itu. “Pagi Indah,” sapa Shaka dengan wajah tanpa dosa.


“Pagi Shaka… kemaren aku nungguin kamu loohhh seharian. Perasaan kamu janji mau ngajak aku nonton deh…” Indah segera mengungkapkan kekesalannya.


“Hahaahha… iyaa, sorry gue lupa. Kemaren ada hal penting yang harus gue lakuin. sorry yaa.... Gue traktir mie ayam deh, ya ya ya?” Laki-laki itu meminta maaf dengan sungguh.


“Maafnya gue terima, tapi masa janji nonton di tebusnya pake mie ayam doang?” Indah mengerucutkan bibirnya kesal.


“Kan mie ayamnya unlimited. Boleh kok mau makan sepuluh mangkuk juga,” Shaka dengan cepat menyahuti.


“Kamu mau nraktir apa mau biki aku gendut? Ish, ngeselin!” dengus Indah yang segera masuk ke kelas berharap Shaka membujuknya.


“Ya udah kalau gak mau, gue gak maksa. Tapi jangan bilang gue ingkar janji lagi yaa. Gue udah mencoba ngasih lo penawaran. Ingat itu,” ujar Shaka, seraya mengekori Indah masuk ke dalam kelas.


“Iiiihhhh…. Shaka ngeselin!” Indah berujar dengan kesal.


Shaka tidak ambil pusing, baginya, permintaan maafnya sudah lebi dari cukup. ia hanya merentangkan tangannya sambil mengendikkan bahunya. “So what?” ucapnya sambil tersenyum manis, membuat mata Indah mendelik sebal. Kecewa dengan Shaka.


“Eh eh eh, tuh liat,” ucap Winda tiba-tiba. Ia menunjuk seorang gadis di luar jendela kelas mereka.


Indah, Rima dan Alya pun kompak menoleh ke luar jendela, tepatnya memperhatikan Gayatri. Gadis itu baru menerima sebuah gody bag dari Dion.

__ADS_1


“Coba tebak apa isinya?” tanya Rima dengan senyum mengembang dan wajah yang antusias.


“Apa yaaa….” tanya pick me girl yang lain. Mereka ikut penasaran dengan hadiah yang diberikan Dion pada Gayatri.


“Ini dari nyokap gue. Dia baru pulang dari Bali. Katanya buat lo,” ucap Dion pada Gayatri.


Gayatri menatap beberapa saat gody bag yang disodorkan Dion. Entah apa isinya. Awalnya ia ragu untuk menerimanya, tetapi setelah mengingat rencananya dengan Shaka, akhirnya Gayatri memutuskan untuk menerima hadiah itu.


“Gue seneng lo mau nerima hadiahnya Aya,” ungkap laki-laki itu dengan senyum terkembang. Baru kali ini suara Dion terdengar lembut di telinga Gayatri.


Gayatri tidak menimpali, di hadapan Dion ia masih berpura-pura tidak bisa bicara.


“Boleh gak kalau sepulang sekolah nanti, gue mau ngajak lo ngafe. Udah lama kan kita gak ngafe bareng,” Sepenuh hati Dion menawarkan ajakan itu. Ia berharap Gayatri mau menerima tawarannya.


Gayatri hanya mengangguk pelan, sebagai bentuk persetujuan.


“YES!!” remaja itu berseru dengan keras, hatinya sangat senang karena ternyata Gayatri mengiyakan ajakannya.


“Makasih Aya. Pulang sekolah, gue jemput lo ke sini ya. Jangan pulang duluan,” ucap laki-laki itu dengan senyum terkembang.


Lagi Gayatri mengangguk membuat wajah Dion tampak bahagia. “Okey, kalau gitu gue ke kelas dulu. Sampe ketemu nanti, Aya,” pamit laki-laki itu sambil melambaikan tangannya. Ia berjalan mundur meninggalkan Gayatri dengan senyuman yang tidak berhenti terkembang. Sekali waktu laki-laki itu melompat tinggi, untuk mengekspresikan rasa senangnya. Sementara itu Gayatri memilih masuk ke kelas karena bell sudah berbunyi.


“Dia ngajak lo ke mana?” tanya Shaka melalui pesan yang dikirimnya pada Gayatri saat gadis itu duduk. Rupanya bukan cuma trio pick me yang memperhatikan Gayatri dan Dion, melainkan seisi kelas ini.


Shaka tidak membalas, hanya tertunduk sambil memandangi saja pesan itu dengan perasaan yang entah.


“Apa yang harus gue lakuin nanti?” Tiba-tiba Gayatri mengirimkan pesan keduanya, membuat Shaka tersenyum kecil. Rupanya gadis ini berniat menjalankan misinya.


“Saat istrirahat, temuin gue di indoor pool. Ada yang harus kita obrolin,” pinta Shaka.


“Lo kan ada janji traktir temen-temen,” balas Gayatri dengan cepat.


“Kan mereka yang gue traktir, berarti mereka yang makan. Gue bebas mau ke mana pun, yg penting billnya gue yang bayar.” Begitu isi balasan Shaka.


“Silau anjir sama aura sultan,” Gayatri membalas pesan Shaka, membuat laki-laki itu tersenyum kecil.


Tanpa Shaka sadari, ada sepasang mata yang memperhatikannya dari kejauhan. Ya, dia adalah Indah. Ia melihat Shaka dan Gayatri sama-sama tersenyum pada benda pipih yang membuat mereka kompak menunduk. Bukan tidak mungkin kan kalau mereka saling berkirim pesan?


****


Jam istirahat teman-teman Shaka langsung menyerbu kantin. Seperti yang dijanjikan mereka akan di traktir makan mie ayam sepuasnya oleh Shaka. Suasana kantin pun mendadak riuh, penuh oleh siswa kelas XII IPS 1. Siswa kelas lain terpaksa harus mengalah dan menunggu mereka selesai lebih dulu.


Membiarkan teman-temannya menikmati traktiran, Shaka dan Gayatri bertemu kembali di indoor pool, sesuai yang mereka janjikan. Saat Gayatri tiba, laki-laki itu sudah menunggunya di bangku penonton, tepi kolam renang. Ia melambaikan tangannya pada Gayatri sambil tersenyum ramah menyambut gadis itu.


Pelan-pelan Gayatri menutup pintu indoor pool, ia berjalan menghampiri Shaka dan menciptakan suara gema dari langkah kakinya. Ia menaiki satu per satu tangga menuju tempat Shaka lalu duduk di samping laki-laki itu.

__ADS_1


“Gak ada yang liat lo masuk kan?” tanya Shaka dengan waspada.


“Nggak ada, anak-anak heboh di kantin.” Gayatri menyahuti dengan santai. “Apa yang mau lo omongin?” tanya gadis itu kemudian.


“Ada banyak hal,” Shaka mengeluarkan tabletnya dan menyalakannya di depan Gayatri. Gadis itu jadi penasaran pada apa yang akan Shaka tunjukkan. “Di mulai dari ini,” Shaka menunjukkan sebuah gambar kalung titatium dengan liontin berbahan emas putih berbentuk bulat dan titik merah di tengah-tengah liontin tersebut.


“Dari mana lo dapet kalung pelaku?” tanya Gayatri yang langsung tersadar.


“Gue yakin lo pasti ngira ini kalung pelaku,” Shaka tersenyum dengan bangga.


“Emang bukan?” gadis itu tampak penasaran.


Shaka menggeleng. “Kalung ini adalah kalung seorang pelaku pengeboman kantor kementrian perdagangan di Berlin. Dia juga bagian dari sindikat perdangan narkoba internasional.” Shaka memberi keterangan yang mencengangkan bagi Gayatri.


“Jadi maksud lo, yang bikin Rasya meninggal adalah anggota sindkat itu?” cepat sekali Gayatri menyimpulkan.


“Hem. Untuk sementara, gue sama David menyimpulkan hal itu.”


“David?” Gayatri mengutip nama yang disebutkan Shaka.


Shaka mengangguk pasti. “Gue sama dia satu tim. Ada satu orang lagi, yaitu Alya. Dia yang ngemata-matain Indah.” Shaka berpikir ini saatnya untuk ia jujur.


Mata Gayatri membulat tidak percaya mendengar penjelasan Shaka. Ternyata laki-laki ini tidak sendiri.


“Lo gak usah takut, mereka memang ada buat ngebantu kita. David saat ini yang mata-matain Dion. Dari dia juga gue tau kalau ternyata putra kedua keluarga Santoso itu bukan putra kebanggan. Dia di anggap sebagai biang masalah di keluarganya. Orang tuanya tidak berharap banyak sama anak bungsunya itu.”


“Dion sering kali menerima tindakan kekerasan dari ayahnya. Gue rasa hal itu yang bikin dia ngelakuin pembulyan di sekolah. Yaitu, untuk melampiaskan kemarahannya.”


Kalimat Shaka kali ini cukup membuat Gayatri tertegun. Ia bahkan tidak tahu kalau ternyata latar belakang keluarga Dion seperti yang ia dengar barusan.


“Lalu apa menurut lo Dion terlibat dalam masalah narkoba ini?” Gayatri semakin penasaran saja.


“Gue gak tau pasti, sepertinya ini jadi salah satu tugas kita buat nyari tau. Ini daftar kebiasaan para pengguna narkoba yang biasanya cukup terlihat, sebaiknya lo tau.” Shaka menunjukkan beberapa contoh prilaku para pengguna.


“Kirim ke wa gue,”


“Okey,” Shaka segera mengirimkannya. “Jadikan itu salah satu cara buat lo ngenalin di Dion. Kenali juga tanda sakau, karena kalau dia pemakai, mungkin aja dia ngalamin hal itu.”


Gayatri mengangguk paham, bibirnya bergumam melapalkan setiap baris kalimat yang ia baca perlahan.


“Selain itu, apa lo tau kalau arsip kesiswaan lo gak ada di ruang arsip?”


Gayatri segera menoleh. “Lo meriksa itu?” tanya Gayatri dengan dahi terkerut.


*****

__ADS_1


__ADS_2