
Terik matahari di lapangan seperti melumerkan isi kepala Gayatri. Gadis itu masih terduduk di tanah sambil menggerak-gerakan kakinya yang mulai membaik setelah keram. Laki-laki itu benar, ia keram akibat tidak melakukan pemanasan terlebih dahulu. Tetapi saat ini sudah membaik, jauh lebih baik setelah Shaka memijatnya.
Ya, sekarang ia ingat nama laki-laki populer itu adalah Shaka. Entah apa karena tidak ada masalah dalam hidupnya hingga ia begitu suka mengurusi hidup orang lain. Menyapanya, padahal Gayatri mengabaikannya. Menolong orang yang tidak memerlukan pertolongan, berbicara dengan orang yang jelas tidak ingin berbicara dengannya dan sok akrab dengan orang yang jelas hanya ingin sendirian.
Kehadiran Shaka benar-benar bertolak belakang dengan kebiasaan Gayatri. Gadis ini menginginkan hidup yang tenang tanpa gangguan, tanpa kebisingan dan tanpa beban lain yang membuat pundaknya semakin melorot. Cukup beberapa beban ini yang ia pikul, ia sudah sangat kewalahan.
"Hidup lagi capek-capeknya malah ada laki-laki modelan Shaka. Dia seperti sedang meledek hidupku yang memuakan ini," batin Gayatri. Laki-laki itu terlalu aneh untuk bisa dimengerti.
Memikirkan Shaka, membuat tenggorokan Gayatri terasa kering. Laki-laki sok akrab itu begitu berani mengambil botol minum miliknya tanpa permisi. Katanya sebagai bentuk ucapan terima kasih. Padahal tidak hanya laki-laki itu yang memiliki tenggorokan kering, ia pun sama. Untungnya botol minum itu bukan dari brand yang digandrungi para ibu, kalau saja dari merek itu, tamatlah riwayat Gayatri di tangan ibunya.
Dengan malas, Gayatri beranjak dari tempatnya. Ia berjalan sedikit tertatih-tatih menuju kantin. Ia merogoh sakunya, akh sial ia lupa mengantongi uang. Uang jajannya yang tidak seberapa itu pasti tersimpan saku roknya. Terpaksa gadis itu pergi ke kelas.
Melewati lorong kelas yang sepi karena sebagaian besar siswa masih belajar di dalam kelas dan sisanya masih di lapangan juga tersebar di kantin. Baru akan menuju kelasnya, ia melihat dari kejauhan laki-laki itu berada di mulut pintu kelas bersama seorang gadis.
Entah ia harus meneruskan langkahnya atau tidak, yang jelas sepertinya gadis yang tertunduk malu itu sedang memberikan sesuatu pada Shaka.
“Ini aku bikin sendiri loh Kak. Kak Shaka mau kan terima kue dari aku?” tanya gadis itu, setengah memohon.
Rupanya laki-laki itu sedang mendapatkan pernyataan cinta untuk ke sekian kalinya. Sudah tidak aneh bagi Gayatri melihat adegan seperti di novel roman picisan semacam ini, karena di kelas pun para siswi begitu menggilai laki-laki itu. Tanpa merasa terusik, Gayatri meneruskan langkahnya. Baginya lebih penting menghapuskan dahaganya di banding menunggu urusan mereka selesai.
Gayatri lewat begitu saja, tanpa menghiraukan dua orang yang ada di pintu itu. Ia melenggang masuk ke dalam kelas sampai kemudian tiba-tiba Shaka merentangkan tangan kirinya untuk menghalangi Gayatri, membuat langkah gadis itu terhenti. “Lo suka cake cokelat?” tanya laki-laki itu seraya tersenyum kecil.
Gayatri mengernyitkan dahinya tidak mengerti, apa urusannya dengan cake cokelat. Ia melirik Shaka yang menunggu jawabannya, juga menoleh gadis yang berada di belakangnya. Gadis itu tampak kesal karena Shaka menahan langkah Gayatri. Tanpa menjawab, gadis itu mengibaskan tangan Shaka dan melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kelas.
Shaka tidak berkomentar, ia hanya tersenyum sarkas sambil mengusap rambutnya, semudah itu seorang Gayatri menjatuhkan harga dirinya. “Dia tidak suka, aku juga tidak suka. Buat yang lain aja ya cantik,” ucap Shaka seraya mengusap kepala gadis itu dengan lembut.
Gadis itu terlihat sedih, namun sedikit terobati dengan kalimat Shaka yang terdengar manis. “Kalau aku mau nebeng pulang bareng sama Kak Shaka, boleh gak?” Nyali gadis ini memang lumayan besar, ia pantang mundur setelah satu penolakan dari Shaka.
“Bisa, tapi tidak sekarang-sekarang. Sudah ada dua ratus siswi yang mengantri giliran mau nebeng pulang. Kamu nomor 201.” Bisa-bisanya laki-laki itu beralasan, walau entah benar atau tidak.
__ADS_1
Gadis itu mengerucutkan bibirnya kesal membuat Shaka iba. “Gini deh, aku kasih saldo g^pay aja mau gak?” Shaka berusaha membujuk.
Mulut gadis itu sudah terbuka hendak menjawab, tetapi kalimatnya terjeda saat Gayatri lewat lagi di sebelah mereka. Berjalan dengan santai menuju kantin tanpa kata-kata permisi sekali pun.
“Gak usah Kak, makasih. Kalau gop^y doang sih aku punya. yang aku butuhin sekarang bukan itu,” timpal gadis berkacamata bulat tersebut.
“Okey, aku juga gak suka maksa orang. Aku ke kantin dulu ya, bye!” pamitnya seraya mengekori Gayatri di belakang.
Ditinggalkan begitu saja, gadis itu hanya bisa memendam kecewa. Padahal ia sudah membayangkan kalau ia akan menikmati cake cokelat itu berdua dengan Shaka. Terpaksa Ia membuang cake buatannya ke tong sampah, kecewa dengan penolakan Shaka.
Berjalan di belakang Gayatri ternyata cukup mengasyikan. Irama langkahnya teratur, tidak terlalu cepat atau pun lambat. Tanpa Shaka sadari gadis ini begitu asyik untuk diperhatikan. Lihat kebiasaannya berjalan sambil mendengarkan musik melalui earphonenya. Sesekali gadis itu menyentuh bunga yang ada di koridor kelas, setelah itu tangannya kembali saling mencengkram di belakang pinggangnya, seperti posisi tangan istirahat di tempat.
“Hay, Aya... mau ke kantin ya?” tiba-tiba segerombolan siswa yang sedang terduduk di tangga, menyapa Gayatri. Ada sekitar enam orang di sana.
Gayatri tidak menimpali, ia tetap berjalan dengan santai seolah tidak mendengar sapaan mereka.
"Cakep!!!"
"Jarjit lo! Bisa-bisanya lo pantun padahal temen lo lagi dicuekin," remaja itu berujar kesal sambil mentoyor kepala temannya hingga hampir terjungkal.
"Gue bukan mau pantun begok, emang segitu doang kalimatnya."
“Hahahha...kiraaiin... Gue gak tau anjir! Tenang, slow, nanti juga ada waktunya Aya cantik ngejar-ngejar gue.” Remaja pria itu berdiri di tempatnya sambil merapihkan kerah bajunya dan mengusap rambutnya yang tergolf rapi.
“Kagak bakal! Taruhan sama gue, sampe lulus lo kagak bakalan bisa deketin si Aya,” timpal remaja lainnya.
“Eh, jangan salah. Nama ayang Aya selalu ada dalam do’a gue. Setiap waktu, setiap saat.”
“Halah, pake bilang ada dalam do’a lo segala, mau makan aja lo kagak pernah baca do’a!”
__ADS_1
“Hahahaha... bener! Makanya lo sering sakit perut!”
“Hahahahaahha... Brengsek lo!!!" mereka tergelak renyah karena berhasil meledek temannya.
Shaka yang memperhatikanpun ikut menahan tawa melihat tingkah remaja tanggung itu. Satu di antaranya memegang gitar, sudah pasti dia juru lagu galau.
“Apaan lo ikut ketawa?” ternyata seseorang yang menyadari keberadaan Shaka.
“Eh, ini si anak baru kan?” Siswa lainnya ikut berdiri menghadang Shaka.
“Ya, gue Shaka, murid baru di sini.” Shaka mengangguk sopan, ia memang tidak berniat mencari masalah dengan siswa-siswa ini.
“Halah, sok ramah lo! Lo kan yang gangguin cewek-cewek di sini? Sampe semuanya sibuk liatin foto lo di grup.” Satu remaja segera menghampiri Shaka dan mendorong bahu Shaka. Sayangnya bahu Shaka terlalu kokoh, hingga malah tangannya sendiri yang sakit.
“Gue gak ganggu siapa-siapa. Ya sorry kalau lo ngerasa ke ganggu. Gue cuma mau ke kantin.” Shaka menimpali dengan tenang. Lihat senyum kecilnya yang menawan dan membuat kesal lawannya di waktu yang bersamaan.
“Kagak ada ke kantin ke kantin segala, ada ayang gue di kantin. Sana lo balik lagi, sebelum gue gibeng!” Remaja itu mengarahkan tinjunya pada Shaka.
“Ada apa ini?!” tanya seorang guru yang melintas.
“Gak ada apa-apa bu! Mau ke kantin!” seru remaja tersebut. Mereka langsung merubah sikap mereka dan bergegas pergi. Ia sempatkan untuk berbisik di telinga Shaka sebelum benar-benar pergi. “Inget, jangan macem-macem atau gue bikin muka lo ikut bengep. Paham lo?!” seru remaja tersebut sebelum kemudian mereka pergi berlarian menuju kantin.
Shaka hanya terdiam, baru kali ini ia melihat sisi gelap dari sekolah ini elite ini. Sepertinya, ia harus mulai mengenal remaja tanggung yang tadi mengancamnya. Mungkin saja ia akan menemukan beberapa informasi penting dari mereka yang berbakat menjadi pembully.
“Lagi apa kamu di sini?” Guru itu pun bertanya pada Shaka. Remaja itu hanya mematung setelah tadi mendapat intimidasi dari temannya.
“Mau ke kelas, Bu. Permisi,” pamit Shaka. Sepertinya ia tidak bisa mengikuti Gayatri sampai ke kantin. Terlalu banyak pintu yang harus ia terobos.
****
__ADS_1