
Gayatri masih mematut dirinya di depan cermin. Pagi ini ia memakai seragam baru yang dibelikan sang ibu di sebuah toko baju terkenal kemarin siang. Baju seragamnya memang tidak di jual bebas di pasaran, harganya pun cukup mahal.
Ukuran baju barunya lebih pas, tidak terlalu kecil atau terlalu besar. Panjang rok rampel berwarna abu kebiruan ini pun tidak terlalu pendek. Gayatri mencobanya saat duduk, roknya tidak terangkat terlalu tinggi, tidak perlu ia tutupi dengan cardigan.
Harus Gayatri akui, kalau ia lebih percaya diri dengan pakaian ini. Warna atasannya yang masih putih bersih membuat wajahnya terlihat lebih cerah. Juga dasinya yang berbentuk pita kecil mempermanis penampilannya.
Tinggal ia lengkapi dengan sweater rompi dan blazer berwarna navy. Selama ini Gayatri lebih sering memakai cardigan karena blazernya kekecilan. Tetapi sekarang, ia tidak perlu memakai jaket kulit meski harus mengendarai motornya. Blazer ini cukup tebal dan bisa menahan angin.
Setelah pakaiannya rapi, Gayatri menyisir rambutnya yang panjang dan lurus sepinggang. Rambutnya yang lebat dan berwarna hitam itu terlihat sedikit bergelombang di bagian bawah. Ia tidak sengaja membuatnya curly, rambutnya ikal alami di bagian ujung. Agar terlihat rapi, Gayatri mengikatnya ekor kuda. Ini akan terasa nyaman saat ia belajar karena rambutnya tidak menghalangi.
Tetapi tunggu, ia tidak siap tampil seterbuka ini. Gayatri melepas kembali ikat rambutnya. Ia lebih memilih menutupi lehernya dengan rambut lebat itu. Wajahnya pun ia tutupi sedikit dengan helaian rambutnya agar tidak terlihat jelas. Ya, begini lebih baik.
Setelah semuanya rapi, Gayatri segera mengambil tas punggungnya. Memakai sepatunya dan mengambil helm yang ia taruh di atas meja belajar.
“Wiih, cakep banget anak Bapak. Udah gede aja,” Barkah yang pertama menggodanya, saat Gayatri keluar dari kamar. Mira yang sedang menyiapkan sarapan pun ikut menoleh. Sudut bibirnya ikut tertarik melengkung tipis saat melihat penampilan putrinya yang cantik dengan seragam barunya.
“Sarapan dulu neng,” Barkah menarikkan kursi untuk Gayatri. Gadis itu duduk sebentar hanya sekedar untuk memakan telur mata sapi dan meneguk segelas susu. Setelah semuanya masuk ke perut, ia segera beranjak.
“Buru-buru amat,” komentar Barkah. Ia memperhatikan Gayatri yang sedang memakai tas ranselnya.
“Gak liat ini udah jam berapa?” sinis Mira. Laki-laki sarungan itu pun melihat jam dinding dan ternyata sudah jam setengah tujuh. Gayatri memang sudah terlambat, pantas saja gadis itu terburu-buru.
“Pake dulu helmnya.” Tanpa di minta Barkah memakaikan helm pada putrinya. “Cakep banget anak gue,” masih saja laki-laki itu memuji Gayatri seraya tersenyum menunjukkan deretan giginya yang menguning bekas merokok. Ia memasangkan tali helm di bawah dagu Gayatri lalu menepuk kedua sisi helm.
"Belajar yang rajin, nurut sama guru, jangan pilih-pilih temen dan pertahanin nilainya. Kamu anak bapak yang hebat, semangat!!!" seru Barkah seraya mengecup kening Gayatri hingga hidungnya beradu dengan kaca helm.
"Bapak kamu kopinya gak di aduk Aya, jadi kepalanya gak puyeng." Mira menyindir sang suami yang bersikap manis pada putri mereka. Barkah hanya terkekeh mendengar ledekan istrinya.
Gayatri masih dengan sikapnya yang dingin. Setelah selesai ia segera menghampiri motor kesayangannya dan berangkat ke sekolah menggunakan motor matic itu. Barkah mematung sejenak, memandangi arah berlalunya Gayatri sambil melambaikan tangan.
“Gue kok kangen banget yaa sama anak gue yang dulu berisik banget,” gumam Barkah sambil memandangi arah berlalunya Gayatri yang hanya menyisakan kepulan asap knalpot motornya. Ia juga memandangi foto keluarga kecilnya yang terpajang di dinding. Foto ia dan istrinya bersama kedua anaknya.
Terlihat helaan napasnya yang berat menatap foto yang ia ambil dua tahun. Matanya sedikit merah dan berkaca-kaca. Perlahan air matanya menetes, ia usap kasar dengan lengannya yang besar. Ada tato bergambar naga di lengannya.
__ADS_1
“Pake baju lo, buka warung sekarang. Jangan malah mewek, malu tuh sama tato naga.” Mira berujar dengan sinis. Ia melemparkan baju sang suami dan Barkah sigap menangkapnya.
Laki-laki itu memandangi sang istri yang sedang mengangkat panci besar untuk ia berjualan. Wanita yang jarang melakukan kontak mata dengannya itu benar, kalau tidak ada gunanya merutuki kesedihan keluarganya saat ini. Bukankah hidup harus tetap berjalan?
Barkah akhirnya beranjak dari tempatnya, ia memakai baju kaosnya lalu pergi ke warung soto yang ada di depan rumahnya. Ia buka satu per satu tirai penutup jendela dan membiarkan cahaya matahari masuk. Ia mematung sejenak memandangi langit yang cerah, berkebalikan dengam hidupnya yang suram. Pria yang tidak lagi muda itu berharap, semoga kebahagiaan segera kembali pada keluarga kecilnya.
"Hari ini gue gak ke pasar, bantu lo aja di kedai. Kasian lo pasti capek kan?" tanya Barkah tiba-tiba.
"Itu lo tau! Kemaren-kemaren lo ke mana aja?!" Mira menimpali dengan sinis.
"Ah elah, galak banget sih lo. Rusak ya kopling lo sampe bawaannya ngegas mulu ama gue." Barkah memandangi sang istri dari kejauhan. Wanita itu mengenakan koyo di pelipis kiri dan kanannya, sepertinya kurang sehat.
"Maafin gue ya, gue banyak banget bikin lo kesel," ucap Barkah penuh sesal.
Mira melirik sang suami yang hari ini benar-benar berbeda. "Tirainya buka semua, jangan di sisain begitu," timpal Mira. Ia tidak menjawab permintaan maaf suaminya.
Barkah hanya menghembuskan napasnya dengan kasar. Ia tahu kalau meminta maaf pada sang istri tidak semudah itu.
****
“Ini beneran, Shaka mau tanding renang sama anak-anak berandal cuma gara-gara pengen ngobrol sama si Aya?” suara itu terdengar jelas oleh Gayatri saat melewati salah satu sudut kelas, dekat mading.
“Iyaa, gue juga dengernya gitu. Itu anak-anak juga pada nanya di group, tapi Shaka gak jawab,” timpal suara lainnya.
Gayatri yang penasaran segera mengecek group messangernya. Ternyata sudah ada ribuan chat yang entah membicarakan apa. Gayatri membaca pesan itu sekilas saja, dan ternyata benar, grup ini ramai setelah Zaidan memposting pengumuman tanding renang antara Shaka melawan Dewanto.
Acaranya besok sore, tetapi penghuni grup sudah ramai memberikan dukungan dari sekarang. Penghuni grup terbagi dua kubu, tim Shaka dan tim Dewa. Entah siapa di antara mereka yang akan menang.
Gayatri mengabaikan itu, baginya bukan urusannya. Sekalipun alasan Shaka tanding renang karena ingin berbicara dengannya, tetapi bukan ia yang menantangnya. Ia tidak menjanjikan kalau ia akan berbicara dengan Shaka.
“Bodoh! Harusnya dia bertanya padaku, aku yang berhak memutuskan mau atau tidak berbicara dengannya.” Gayatri mengumpat dalam hatinya.
Gadis itu melanjutkan langkahnya dan beberapa pasang mata tertuju padanya. Ia hanya bisa menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik rambut tebalnya. Langkahnya begitu cepat untuk segera sampai ke kelas.
__ADS_1
“Ssttt udah, udah!” ujar Wanda saat melihat kedatangan Gayatri. Rupanya mereka sedang membicarakan Gayatri. Gayatri yang sempat ragu untuk masuk ke kelas, tetap melanjutkan langkahnya pelan. Seseorang tiba-tiba mendahuluinya.
“Pagi Shakaa....” sambut Indah dengan wajah sumeringahnya.
“Pagi,” sahut Shaka tidak terlalu cerah seperti biasanya. Laki-laki itu sengaja sedikit menyenggol Gayatri dan tidak menyampaikan maaf. Saat Gayatri menolehnya, laki-laki itu hanya melirik dan mengangkat alisnya yang tertaut. “Pagi juga,” ucapnya dengan tengil, padahal Gayatri tidak menyapa sedikit pun.
Tentu saja Gayatri tidak menjawab, ia hanya memalingkan wajahnya kemudian duduk di tempatnya. Shaka pun ikut duduk, ia sengaja memundurkan kursinya dan sedikit menengadah. “Nonton gue ya, besok. Dan gue harap lo gak kabur. Kalau lo kabur, sama aja lo mempermalukan lo dan temen-temen lo sendiri. Gue bisa bilang kalau kalian itu kumpulan pecundang,” ujar Shaka seraya tersenyum sinis.
Ia melirik Gayatri sedikit dan gadis itu tampak sedang membuka-buka buku pelajarannya dengan pelan, seperti tidak menyimak pembicaraan Shaka.
Shaka tidak peduli dengan hal itu, ia yakin kalau Gayatri mendengar ujarannya. Laki-laki itu tersenyum kecil melihat Gayatri memundurkan tubuhnya dan bersandar pada bangkunya. Tangannya mengetuk-ngetukkan ballpoint ke bukunya, menunjukkan kalau gadis itu merasa tertantang.
Selama jam pelajaran berlangsung, Gayatri dan Shaka tidak banyak berinteraksi, termasuk saat istirahat. Meski bangku mereka berdekatan, Gayatri lebih suka membaca buku pelajarannya, sementara Shaka tetap dikerumuni oleh para gadis yang memujanya. Gadis-gadis itu berkumpul di meja Shaka sampai akhirnya jam pelajaran berakhir.
Selesai pelajaran hari ini, Gayatri memilih segera pulang. Ia tidak mau mendapat omelan lagi dari ibunya. Terlebih wanita itu sudah membelikannya baju seragam baru. Sudah seharusnya Gayatri berterima kasih atas pemberian ibunya.
“Aya! Gue basket dulu, lo aman kan pulang sendiri?” panggil Zaidan yang berteriak dari lapang basket.
Seperti biasa, Gayatri tidak menimpali. Ia berlari kecil meninggalkan lapang basket karena sengatan matahari yang sangat terik. Di belakangnya ada Shaka yang berjalan dengan santai. Pria dibelakangnya sengaja menjaga jarak dengan Gayatri karena gadis itu terlihat tidak nyaman.
“WOY!!! Awas lo gangguin si Aya! Inget, kalau si Dewa kalah, baru lo boleh ngobrol sama si Aya,” Zaidan meneriaki Shaka dari lapang basket.
Shaka hanya tersenyum kecil sambil mengacungkan jempolnya pada Zaidan. Tentu saja, ia memegang perjanjian mereka. Toh hanya perlu menunggu besok bukan?
Pria itu melanjutkan langkahnya. Ia melihat motor Gayatri sudah melaju menuju pintu gerbang. Entah mengapa gadis itu begitu terburu-buru. “Cewek itu selalu sibuk dengan dunianya sendiri,” gumam Shaka. Ia memperhatikan Gayatri yang keluar gerbang. Tidak ada yang aneh sampai kemudian Shaka melihat sebuah sepeda motor mengikuti Gayatri dari belakang. Sepeda motor itu melaju dengan cepat seperti hendak menyusul Gayatri.
Seorang Shaka yang peka dengan kondisi yang tidak biasa, segera menyusul Gayatri. Ia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, mencari Gayatri dan pria bermotor yang tadi mengintai lalu mengejarnya.
Perhatiannya melebar ke sekeliling jalanan yang dilaluinya. Arah lurus ke depan sana bukan jalan Gayatri pulang, maka ia memilih untuk berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalanan yang mulai sepi. Tidak jauh dari tempat Shaka berada, ia melihat motor Gayatri terparkir di depan sebuah bangunan tua bersama sebuah sepeda motor sport yang tadi di lihatnya.
Shaka mempercepat laju motornya dan berhenti di samping motor Gayatri. Ia mencari gayatri si sekitar tempat itu, tidak ada jejak kaki Gayatri yang tertinggal selain pintu gerbang besi yang masih bergerak seperti bekas di dorong.
Shaka segera masuk ke area bangunan itu. Mencari keberadaan Gayatri dengan teliti. Telinganya ia pasang lebar-lebar untuk menangkap suara apa pun. Siapa sebenarnya orang itu, apa yang dia inginkan dari seorang Gayatri?
__ADS_1
****