
"Lo mau ke mana?" tanya Shaka saat melihat Gayatri yang tiba-tiba keluar dari kamarnya dengan tergesa-gesa. Ia sempat memegangi lengan Gayatri, tetapi gadis itu mengibaskannya. "Hey, Aya! Jawab gue!" seru Shaka seraya menarik lengan Gayatri hingga gadis itu berpaling padanya.
Tapi Gayatri segera mendorong tubuh Shaka menjauh darinya. Alih-alih menjawab, gadis itu malah mempercepat langkah kakinya, menuruni anak tangga dua sekaligus. Tiba di bawah, Ia juga menyambar helm dan kunci motor besarnya yang tergeletak di atas meja.
"AYA!!" lagi Shaka memanggil nama itu.
Gayatri yang sedang mengenakan helm pun, segera berbalik. "Gue harus pulang, kedai sama rumah gue kebakaran," Gayatri menimpali dengan suaranya yang bergetar.
"APA?" seru Shaka dengan wajah yang kaget. "Lo ser-," kalimat Shaka terhenti, saat ponselnya berbunyi disusul puluhan pesan masuk. Pesan berisi foto kejadian kebakaran yang dikirim Zaidan melalui grupnya.
"Astaga! Gue ikut!" Shaka yang panik segera mengambil helmnya.
"Ikut ke mana?! Lo diem aja di sini!" seru gayatri dengan tegas. Pikirannya sudah kalang kabut, ia hanya tahu kalau ia harus segera pulang.
"Abang lo aman! Jadi gue ikut sama lo." Shaka bersikeras memaksa.
"Please Shaka! Kondisi kita lagi genting, Gimana kalau tiba-tiba ada yang masuk ke sini dan nyelekain abang gue? Semuanya akan semakin sulit. Kita akan semakin susah menyelesaikan masalah ini." Gayatri kukuh menolak. Sorot matanya jelas terlihat putus asa.
"Akh sial!" dengus Shaka saat ia baru sadar kalau ia memang harus menjaga Galih. Tidak mungkin meninggalkan pria itu sendirian.
"Gue mohon, titip abang gue sebentar. Gue harus nolongin orang tua gue. Tolong bantu gue lagi Shaka," Gadis berhelm hitam itu memohon dengan sungguh. Matanya yang jernih itu tampak berkaca-kaca, membuat tak tega saja.
Shaka tidak lantas menimpali, ia menatap Gayatri dengan khawatir. "Tolong berhati-hati. Kabarin gue secepatnya," pesan Shaka kemudian. Ia tidak bisa melakukan hal lain, selain memberi gadis ini izin dan mengingatkannya agar menjaga keselamatan.
__ADS_1
"Thanks." Hanya itu sahutan Gayatri sebelum kemudian gadis itu berlalu pergi, setengah berlari.
Mata khawatir Shaka masih memperhatikan Gayatri yang berjalan dengan cepat, memandangi sosok yang semakin menjauh itu dengan wajah penuh kecemasan. Gadis itu sudah naik ke atas kuda besinya dan perasaan Shaka semakin tidak karuan saja.
"Lo harus baik-baik aja, Aya," batin Shaka, berharap pesan itu sampai pada gadis yang ia sayangi.
Suara deru mesin motor Gayatri terdengar menggema, nyala lampunya yang terang, benderang menerangi jalanan beraspal yang cukup tebal. Motor itu melaju mengitari taman di depan rumah Shaka, lalu keluar dari gerbang dan masuk ke jalanan, berbaur dengan kendaraan lainnya. Hanya sisa asapnya saja yang masih mengepul sebelum kemudian motor itu melaju cepat membelah jalanan.
Pikiran Gayatri benar-benar tidak karuan. Kejadian itu baru terjadi beberapa saat lalu. Itu berarti kedainya masih ramai pengunjung. Entah seperti apa kondisinya di sana. Apa hanya kedai dan rumahnya yang hancur atau ada korban,
Tidak, Gayatri tidak mau membayangkan kalau sampai ada korban jiwa. Gadis itu mengerjapkan matanya berulang kali, berusaha menghapus pikiran yang tidak-tidak tentang tempat kejadian. Tangan kanannya yang gemetar, semakin semangat memutar handle gasnya hingga motor itu melesat dengan cepat, bersaing dengan kendaraan lain yang masih ramai berpacu di jalanan.
Sesekali ia melirik dari spion, tampak empat buah mobil yang mengikutinya dari belakang. Gayatri mempercepat laju motornya, sengaja menggunting kendaraan di depannya untuk berlindung. Tetapi mobil di belakangnya itu semakin kencang menyusulnya. Membunyikan klakson beberapa kali agar kendaraan di depannya menyingkir. Cara mengemudinya pun ugal-ugalan dan begitu agresif.
Untuk meyakinkannya, gadis itu sengaja berbelok ke jalan memotong, jalanan yang tidak terlalu ramai dan hanya beberapa kendaraan saja yang melintas. Mobil itu masih mengikuti Gayatri, serta dua buah motor yang melaju kencang berlawanan arah dengannya. Mobil itu menyalip dari kiri. Dengan sengaja menyudutkan ke sebelah kanan, hingga motor Gayatri hampir bersinggungan dengan kendaraan lain.
"Brengsek!" dengus Gayatri saat melihat laki-laki bertato yang mengendalikan mobil itu, menurunkan kaca jendela mobilnya. Laki-laki itu menyeringai pada Gayatri dan Gayatri melihatnya dengan jelas wajah laki-laki terssebut.
"Sial! Mereka memang sengaja ngejar gue," gumam Gayatri. Ke mana ia harus mencari jalan sekarang?
Malam itu juga, Shaka mendapat kabar dari Farid, kalau mereka telah berhasil melakukan penangkapan pada kepala sekolah dan salah satu wakil kepala sekolah. Sementara satu wakasek masih dalam pengejaran karena melarikan diri, bersamaan dengan orang tua Dion.
Shaka mengeram kesal, saat kewaspadaannya di paksa harus bertambah. Hilangnya dua pelaku itu membuat peluang serangan terhadap mereka semakin besar. Sepertinya kejadian kebakaran di kedai dan rumah Gayatri pun salah satu bentuk aksi teror dari pelaku.
__ADS_1
"Farid, bisa tolong jemput seseorang di rumahku? Dia salah satu saksi dan korban yang harus dilindungi," ucap Shaka pada Farid melalui sambungan telepon.
"Aku usahakan Bang, tapi sepertinya gak bisa dalam waktu cepat. Kami masih menunggu bantuan personil, karena pelaku melakukan perlawanan." Begitu sahutan Farid, yang membuat Shaka harus menghembuskan napasnya dengan gelisah.
"Baik. Kabari aku saat kalian bisa datang ke sini," pesan Shaka sebelum panggilannya terputus.
Laki-laki itu segera menyudahi panggilannya. Ia membaca kembali grup di ponselnya. Zaidan memberitahukan kalau api telah dipastikan tidak menjalar ke tempat lain, walau belum sepenuhnya bisa di padamkan.
"Aya masih dalam perjalanan. Enyak sama Babeh gimana kondisinya?" tanya Shaka dengan harap-harap cemas.
Zaidan membalas pesan itu dengan sebuah video. Video yang menampakkan saat para warga berduyun-duyun membantu memadamkan api. Sementara Mira terlihat shock. Ia ditemani Barkah, terduduk di tepian jalan dengan wajahnya yang pucat dan berurai air mata.
Bagian kedai sudah hangus terbakar, nyala api hanya tersisa di bagian rumah yang hanya menyisakan bagian tembokannya saja. Sesekali terlihat ada percikan seperti jalur listrik yang terbakar, itu mengapa sekeliling area itu gelap gulita.
"Astaga...." Shaka mengusap wajahnya kasar. Sungguh ia tidak menyangka kejadian semacam ini akan menimpa keluarga Gayatri.
"Lo ke sini gak Shaka?" tanya Zaidan kemudian.
"Gue akan nyusul secepatnya," hanya itu yang bisa Shaka janjikan. Ia bergegas menuju kamar Galih. Mengetuk pintu kamar laki-laki itu tetapi tidak ada jawaban.
Shaka memberanikan diri untuk membuka pintu perlahan, khawatir mengusik Galih.
"Ke mana dia?" gumam Shaka saat melihat sekeliling kamar yang kosong.
__ADS_1
Shaka membuka pintu kamar itu lebih lebar, masuk ke dalam kamar dengan tergesa-gesa dan mencari laki-laki itu hingga ke kamar mandi. "Akh sial! Di mana dia?" Shaka mulai frustasi. Galih yang di sangka ada di kamarnya ternyata menghilang.