
“Permainan lo bagus,” puji Shaka saat terduduk di samping Gayatri. Mereka berada di tepian lapangan basket setelah bermandikan keringat di bawah teriknya mentari.
Satu set permainan ia habiskan dan ia lewati bersama David, tetapi lebih menyenangkan bermain dengan gadis berkulit putih ini walau hanya sesaat.
“Basket favorit gue,” aku Gayatri. Baru sekarang gadis ini bersuara, itu pun setelah tidak ada siapa-siapa di sekitar mereka.
Rosi dan David sedang berlatih passing di lapangan yang luas dan panas menyengat. Mereka keasyikan sampai lupa waktu dan tidak sadar jam pelajaran telah berakhir. Rosi di buat kerepotan di kerjai oleh David, berlarian ke sana ke mari mengejar bola, sementara pria itu tampak asyik mengerjai anak kecil yang sesekali merajuk dan ingin menyerah. Tawanya terdengar lepas saat melihat Rosi sampai terjatuh di lapangan dan mengeluh capek.
“Sama siapa lo main basket?” pancing Shaka. Ia sebenarnya tahu kalau Gayatri sering main basket dengan adiknya, hal itu yang Rasya akui di buku hariannya.
“Temen gue,” aku Gayatri sekali lalu mengambil botol minumnya dan meneguk sisa air untuk membantu melegakan tenggorokan yang rasa tercekat.
“Si Zaidan?” Shaka makin menelisik.
Gayatri yang baru selesai minum, hanya termenung. Sudut bibirnya tersenyum kecil mengingat sosok Rasya yang dulu selalu mengisi hari-harinya. Dua bulan lalu mereka masih bermain basket di lapangan ini dan mereka berjanji untuk menonton pertandingan basket profesional secara langsung. Sayangnya, janji tinggallah janji dan tidak akan pernah bisa Rasya tepati.
“No. Ada orang lain.” Gayatri mengakui dengan sebenarnya.
"Sepertinya orang yang spesial," pancing Shaka lagi.
"Apa urusan lo?" Gayatri menimpali dengan acuh, meski sudut bibirnya menarik garis senyum samar.
Sudut hati Shaka ikut tersenyum mendengar pengakuan Gayatri. Gadis di sampingnya mulai terbuka, sepertinya ia mulai percaya untuk berbicara dengan Shaka. Gadis ini pun hanya bersuara saat berdua dengan Shaka. Seolah tidak ada ketakutan dan rasa terancam hingga membuatnya bisa mengungkapkan apa pun.
“Siapa sih? Gue penasaran loh. Kok gue gak pernah liat ya?” ini pertanyaan penting bagi Shaka, ia ingin mendengar jawaban Gayatri. Ia menatap lekat wajah merona yang membuat gadis itu terlihat sangat menarik. Titik-titik keringat masih terlihat jelas di dahi dan rahangnya. Saat terkena cahaya matahari, semuanya tampak berkilauan.
Gayatri terlihat menghembuskan napasnya kasar. Ia tidak lagi menimpali, melainkan beranjak dari tempatnya. Hatinya belum siap untuk bercerita banyak hal tentang Rasya pada Shaka yang baru di kenalnya.
“Aya, obrolan kita belum selesai,” Shaka menahan tangan Gayatri yang hendak pergi. Gadis itu sedikit menoleh dan menatap tangannya yang di genggam Shaka.
“Gue mau ganti baju,” timpal pemilik bibir tipis itu seraya mengibaskan tangannya dari Shaka dan berlalu pergi meninggalkan pria itu.
Shaka memandangi langkah Gayatri yang terlihat tenang menyusuri tepian lapangan basket. Masih banyak hal yang ingin ia tahu tentang gadis itu dan membuatnya semakin tertarik saja.
"Kalau dia gak berarti buat lo, lo gak akan seberat itu mengakuinya. Terlebih mengakui kalau orang itu udah gak ada," gumam Shaka yang masih memandangi Gayatri dari kejauhan.
“Aya!!! Tunggu! Gue ikut!” seru Rosi yang memanggilnya dari tengah lapangan. Ia sudah kelelahan belajar passing dengan David. Tidak, lebih tepatnya dikerjai David. Gayatri tidak menimpali, ia hanya melambatkan jalannya untuk menunggu Rosi.
__ADS_1
"Woy, belum selesai belajarnya!" teriak David.
"Nye nye nye nye nye. Mang eeaaakkk?" ledek Rosi yang tetap meneruskan langkahnya menyusul Gayatri.
“Hah, lemah kau siswa!!!" tanpa sadar gaya militernya terbawa. Beruntung Rosi tidak sadar dan hanya terkekeh saja mendengar ledekan David.
"Duh, lelah sekali badanku ini Bang,” keluh David seraya duduk di samping Shaka dan meneguk botol minumnya hingga habis setengahnya. Ia sampai sendawa dan menoleh Shaka dengan senyum canggungnya.
“Kamu sibuk gak Vid?” tanya Shaka tiba-tiba. Tepat setelah sahabatnya minum.
“Sibuk apa aku bang, selain ngafalin rumus hitung? Anak SMK masuk ke IPS ya begitu doang pusingnya. Apalagi mau ujian tengah semester. Tuhaaaann... gimana caraku menjawab semua soal yang gak aku mengerti itu?" David menengadah ke atas meminta pertolongan.
Shaka tersenyum kecil mendengar jawaban David. “Kalau gak sibuk, bantu aku memata-matai Dion.” Laki-laki itu langsung memberi perintah.
“Why?” David langsung menoleh dengan penasaran.
“Karena sepertinya dia juga monitorku gara-gara deket sama Aya.” Shaka kembali meneguk minumnya dengan santai.
“Maksudnya, dia beneran suka sama Aya?” David mempertegas rasa penasarannya.
“Mungkin. Yang jelas dia minta aku jauh-jauh dari Aya. Dia bilang Aya punya dia.” Shaka mengulang sebagian kalimat Dion.
“Lebih dari itu, aku rasa dia ada hubungannya dengan kematian adikku.”
“APA?!” suara David langsung terdengar jelas. Shaka menoleh laki-laki itu dengan lirikan tajam agar David merendahkan suaranya. “Eh maaf, gak sadar aku. Tapi ngomong-ngomong, abang tau dari mana?” David semakin penasaran.
Shaka menghembuskan nafasnya kasar. “Ini baru perkiraanku. Aku menebak itu dari luka cakaran yang berbekas di lengan kanannya. Sekilas ukurannya tampak cocok dengan ukuran kuku Rasya yang patah.” Shaka mengingat kembali bekas luka cakaran yang berbekas di bawah jam tangan Dion yang disamarkan dengan tato tengkorak.
“Astagaaa….” David sampai melongo, tidak menyangka Shaka sedetail itu memperhatikan orang-orang disekitarnya.
“Itu baru sebatas asumsi. Aku harus memeriksanya lebih lanjut. Aku membutuhkan bantuan kamu untuk mengawasinya. Aku gak bisa ngelakuin itu sendiri karena dia juga mengawasiku.” Shaka mengungkapkan dengan sebenarnya.
“Hem, aku paham Bang. Aku udah yakin bocah itu akan memperhatikan abang karena duduknya deket Aya dan terlihat akur. Lalu, apa Aya udah mau bicara sama abang?” David dengan rasa penasarannya yang tinggi. Menurutnya, apa yang kelak Gayatri katakan akan jauh lebih valid.
Shaka hanya menggeleng, dalam artian enggan menjawab pertanyaan David. Untuk sementara sepertinya akan lebih baik kalau hanya ia yang tahu bahwa Gayatri sudah mulai mau berbicara.
****
__ADS_1
Perut Gayatri dan Rosi sama-sama lapar setelah menghabiskan energinya di lapang basket. Mereka bergegas berganti pakaian dan rencananya akan ke kantin.
“Aya, kayaknya aku mau makan nasi. Aku butuh banget karbo,” ucap Rosi sebagai pemberitahuan. Ia sudah selesai berganti pakaian dan sedang mematut dirinya di depan cermin, mengelap kaca matanya yang berembun. Ia terawang ke atas, setelah yakin tidak ada embun, pelindung kedua matanya pun ia kenakan kembali.
Gayatri tidak menimpali. Di ruang ganti yang terpisah ia masih merapikan penampilannya. Memasukkan seragam ke dalam roknya lalu merapikan kerah dan kancing. Rambutnya yang panjang ia gerai kembali dan ia sisir dengan jari hingga rapi. Rambut hitam legam itu tampak berkilauan saat terkena cahaya lampu ruang ganti.
Rasya pernah bilang kalau rambutnya sangat wangi. Tetapi sekarang sudah berbau asam keringat. Setelah semuanya siap, ia keluar dari ruang ganti.
“Heemm… udah wangi aja. Yuk, kita ke kantin,” ajak Rosi yang menyambut Gayatri di depan ruang ganti. Gadis itu melingkarkan tangannya di lengan Gayatri.
Gayatri mengikuti kemauan gadis ini. Mereka berjalan berdua menuju kantin yang ramai. Sudah ada genk Indah di sudut exclusive yang biasa mereka tempati. Tawa keempat gadis itu terdengar jelas, membicarakan tentang fashion show yang Indah hadiri.
“Ya lo bayangin aja, lagi jalan di catwalk tiba-tiba heels model itu patah. Nyungseplah dia, hahahahaha….” Indah tertawa terbahak-bahak di ikuti kedua sahabatnya. Sementara anggota gank baru mereka hanya tersenyum pilu membayangkan penderitaan model yang mereka tertawakan.
“Kita duduk di sana aja yu Ya. Biar gak berisik,” ucap Rosi, sengaja mengambil tempat yang jauh dari sumber riuh itu.
Gayatri mengikuti kemauan Rosi, ia duduk di salah satu sudut yang lumayan jauh dari genk Indah.
Tidak lama berselang, Shaka datang bersama David. Mereka celingukan mencari tempat duduk. Senyum David langsung terbit saat melihat Gayatri yang duduk berdua dengan Rosi. Masih ada dua kursi kosong untuknya dan Shaka.
“Ke sana yuk bang,” ajak David.
“Shakaaa!!!” teriak Indah, membuat Shaka urung mengiyakan. Gadis itu berlari menghampiri Shaka dengan senyumnya yang lebar. “Shaka, kita mau makan siang bareng kan?” tanya indah dengan mata berbinar.
“Lo lagi sama temen-temen lo. Gue gak mau ganggu,” Shaka beralasan.
“Mereka bisa gue usir, lo tenang aja,” Indah langsung menimpali.
Shaka hanya terdiam, ia memang sudah berjanji untuk makan siang dengan gadis ini sebagai bayaran informasi tentang Dion. “Ayoooo….” Indah bergelayut manja di tangan Shaka dan menarik tangan lelaki itu.
“Lo duluan aja, gue makan sama Indah,” ucap Shaka pada David.
“Ya, okey,” sepertinya David tidak bisa menolak. Ia membiarkan Shaka pergi bersama Indah. Dengan berani Indah melingkarkan tangannya di lengan Shaka yang ia ajak ke mejanya. Banyak pasang mata yang menatap iri pada gadis itu.
“Dih, kok Shaka makan sama Indah sih?” tanya Rosi sambil menatap Gayatri.
Gayatri tidak menimpali, dahinya hanya berkerut dengan pertanyaan yang sama, “Kok bisa?” dalam hatinya seraya meneguk minumnya. Mendadak saja tenggorokannya terasa kering.
__ADS_1
****