
Di depan sebuah rumah mewah saat ini Shaka dan Gayatri menghentikan laju kuda besi mereka. Mereka sama-sama memandangi pagar tinggi yang terbuat dari besi tebal dengan ukiran berwarna keemasan di bagian atasnya.
Tidak ada rasa ragu dalam hati Gayatri dan Shaka untuk menemui Dion. Bagaimana pun mereka perlu tahu kondisi Dion yang menjadi salah satu saksi kematian Rasya.
“Adek mau bertemu siapa?” tanya penjaga keamanan keluarga Santoso. Laki-laki bertubuh tegap itu menjeda di di pintu yang sengaja di buka sedikit saja.
“Saya temannya Dion pak, Gayatri. Dan ini Shaka.” Gayatri segera memperkenalkan diri.
“Oh ya. Ada perlu apa?"
"Saya mau jenguk Dion, Pak."
"Baik, tunggu sebentar di sini ya, saya coba tanyakan dulu,” Laki-laki itu beranjak pergi ke dalam pos penjagaannya dan menghubungi sang tuan rumah lewat sambungan telepon.
Entah apa yang laki-laki itu laporkan yang jelas sesekali laki-laki itu tampak melirik ke arah Shaka dan Gayatri. Dua orang muda itu tampak santai saja, sesekali tersenyum saat laki-laki itu menolehnya. Tidak berselang lama sampai kemudian laki-laki itu kembali dan membukakan pintu gerbangnya lebih lebar.
“Silakan,” ujarnya.
“Terima kasih, Pak,” Shaka yang menyahuti.
Di balik pintu gerbang itu, sudah menunggu seorang pelayan yang menyambut Shaka dan Gayatri. Wanita itu mengangguk sopan seraya tersenyum, serta menujukkan arah pada Gayatri dan Shaka yang mengikuti dari belakang.
Masuk ke rumah Dion, suasana dingin dan sejuk mulai terasa. Wangi ruangan terasa khas dengan wangi floral yang memanjakan syaraf penciuman. Sayangnya, darah Gayatri dan Shaka tetap sama-sama saling berdesiran. Mereka masih menduga-duga apa mungkin mereka akan bertemu dengan Arisman di dalam atau tidak?
Pelayan itu mempersilakan Gayatri dan Shaka untuk menunggu di ruang tamu. Keduanya memperhatikan seisi rumah yang rapi lagi dipenuhi barang-barang mewah. Arisman sepertinya memang pengusaha yang sukses. Pemilik pabrik sepatu ini masuk ke dalam jajaran salah satu konglomerat ibu kota.
“Ehh, ada Aya sama Shaka,” Sambutan seorang wanita terdengar dari dalam ruangan.
Wanita itu adalah Deby, ibu dari Dion. Shaka dan Gayatri kompak bangkit dan mengangguk sopan pada wanita itu
“Selamat siang tante,” ujaran merekapun kompak tanpa di rencanakan.
Shaka dan Gayatri sama-sama tersenyum dalam hati.
“Selamat siang…. Apa kabar?” Wanita itu memeluk Gayatri dengan akrab.
__ADS_1
“Baik Tante. Tante apa kabar?” Gayatri memang cukup akrab dengan wanita ini, mungkin karena Dion pernah beberapa kali mengajak Gayatri ke rumahnya. Dulu, saat hubungan mereka baik-baik saja.
“Tante juga baik. Mau jenguk Dion ya?” tanya wanita itu seraya melerai pelukannya. “Pake bawa buah-buahan segala. Manis banget sih,” imbuh wanita tersebut.
“Iya Tante, udah satu minggu Dion gak masuk, Aya cemas dengan kabarnya.” Gayatri beralasan.
“Silakan duduk, ya ampun, Dion pasti seneng kalau denger Aya jenguk. Cuma sekarang Dion lagi istirahat, demamnya masih tinggi.” Wanita itu langsung memberi penjelasan.
“Oh gitu. Udah ke dokter, Tan?” Gayatri semakin penasaran, ia merasa ada yang berbeda dari penampilan wanita ini.
Sudut bibirnya merah seperti terluka, lalu tidak biasanya wanita ini memakai kaca mata. Kalau dilihat lekat-lekat, matanya sedikit sembab. Tidak, sudut matanya lebam seperti kena benturan. Serta tangannya yang selalu saling memilin satu sama lain. Tidak lupa dengan dahinya yang sedikit kebiruan.
“Udah di ajak ke dokter, tapi Aya tau lah gimana Dion. Dia takut banget sama dokter.” Wanita itu tersenyum simpul, dengan sudur bibir yang kaku, tertahan.
“Boleh Aya bujuk Tan? Aya juga kangen sama Dion,” Gayatri sedikit mendesak.
“Emm tapi, Dionnya,” Wanita itu tampak gelisah, tangannya seperti memberi isyarat pada Gayatri. Sekali waktu ia mengatupkan ibu jari dan membiarkan empat jari lainnya terbuka (menunjukkan angka empat). Lalu menunjukkan empat jari ini ke arah Gayatri, kemudian, melipat empat jari ke bawah hingga tangan membentuk sebuah kepalan. “… susah dibangunin kalau habis minum obat,” Wanita itu menggenapkan kalimatnya.
“O gitu Tan,” Gayatri paham benar dengan maksud Deby, Wanita ini seperti berusaha meminta tolong. “Aya juga sebenarnya mau ngambil buku yang Dion pinjem, besok ada ujian. Gimana ya Tan?”
“Ehm!” Sebuah deheman terdengar dari dalam sana dan terlihat Arisman yang keluar untuk menemui mereka.
“Apa kabar Om?” Shaka sengaja mengulurkan tangannya untuk menylimi laki-laki yang sedari tadi menyembunyikan tangannya di belakang punggung, seperti beristirahat di tempat.
Melihat usaha Shaka, terpaksa Arisman pun membalas uluran tangan itu. Shaka dan Gayatri menyalimi Arisman bergantian. Mata laki-laki itu sedikit tajam saat menatap Gayatri, sepertinya terkejut karena gadis ini sudah bisa bicara.
Shaka tersenyum kecil, saat mendapati jam tangan yang melingkar di lengan kiri Arisman, jam tangan yang sangat familiar. Telapak tangan laki-laki ini juga sangat hangat dan kemerahan, seperti habis memegang sesuatu dengan erat.
“Mereka mau jengukin Dion Mas,” Deby tampak takut-takut melihat tatapan Arisman yang lekat padanya.
“Dion gak bisa ditemui. Kalau ada yang mau kamu ambil, biar Mamahnya yang ambilin,” laki-laki itu tegas menolak. Sepertinya ia sudah mendengar perbincangan Gayatri dengan istrinya.
“Oh iya Om, maaf jadi merepotkan.” Gayatri berusaha terlihat setenang mungkin.
“Okey, seperti apa bukunya? Biar tante ambilin,” Deby segera menengahi.
__ADS_1
“Bukunya warna abu-abu tante. Ada tulisan nama Aya. Pingirannya ada stiker hitam.” Sambil berbicara tangan Gayatri bergerak-gerak memberi isyarat bentuk buku itu.
“Okey, tante ambilin dulu ya. Aya tunggu di sini,”
“Siap Tan, makasih banyak.” Gayatri mengangguk setuju. Ia duduk dengan tenang, berhadapan dengan Arisman yang memperhatikannya.
“Om hobby offroad juga rupanya?” tanya Shaka saat melihat foto besar Arisman bersama teman-temannya dengan latar beberapa mobil offroad yang berjejer.
“Ya, sesekali saja, untuk hiburan.” Arisman menjawab dengan dingin. “Om dengar, kamu hampir dikeluarin dari sekolah ya Aya?” tanya laki-laki itu pada Gayatri. Rupanya kekisruhan di sekolahnya sudah sampai pada sang ketua komite.
“Iya Om, maaf ya Om, Aya malah bikin gaduh. Tadinya sih Aya cuma ngasih liat kalau gak cuma Aya yang punya akun medsos, tapi juga orang lain. Selain itu, akun itu bukan akun medsos buatan Aya, jadi gak seharusnya Aya di keluarin. Iya kan Om?” terang Gayatri panjang lebar.
“Hem… Lain kali berhati-hatilah, gak semua orang suka sama kita,” Arisman mencoba mengingatkan.
“Siap Om, makasih banyak nasihatnya.” Gayatri menyahuti dengan semangat. Laki-laki itu hanya menyahuti dengan anggukan.
Tidak lama berselang, Deby kembali dengan membawa sebuah paperbag. “Aduh tante tadi nyari-nyari dulu, soalnya Dion lupa nyimpen. Yang ini bukan bukunya?” Wanita itu memberikan paperbag tersebut pada Gayatri.
Gayatri mengintipnya sedikit saat ternyata isi paperbag ini sebuah buku dengan benda berbentuk kotak berwarna abu-abu yang dimaksud Gayatri.
“Oh iya tante, buku yang ini. Makasih ya Tan, maaf udah ngerepotin.” Gayatri segera mengambil alih paperbag itu.
“Iya gak apa-apa. makasih juga udah jengukin Dion, maaf gak bisa ketemu ya…”
“Iya Tan, salamin aja sama Dion. Semoga cepet sembuh. Kangen main basket bareng sama Dion,”
“Iyaa, makasih ya Aya, Shaka.”
“Sama-sama Tan. Kalau gitu kami permisi dulu, Om, Tan. Mari,” Gayatri segera berpamitan. Ia dan Shaka menyalimi Deby dan Arisman bergantian.
"Hati-hati di jalan yaa...." Deby yang mengantar Gayatri dan Shaka keluar, sementara Arisman memperhatikan dari dalam.
"Iya Tan, sampe jumpa." Gayatri melambaikan tangan sebelum kemudian pergi bersama Shaka.
"Kayaknya, dia butuh pertolongan kita," ucap Gayatri sesaat setelah mereka berada di luar pagar.
__ADS_1
"Ya, gue pikir juga gitu," timpal Shaka seraya memakaikan helm Gayatri. Mereka saling bertatapan beberapa saat sebelum kemudian pergi dari kediaman Santoso.
*****