Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Kedukaan


__ADS_3

Dua pasang kaki tanpa alas, berjalan tergopoh-gopoh melewati lorong panjang sebuah rumah sakit. Dua pasang kaki itu adalah milik Mira dan Barkah yang berjalan secepat mungkin meski dengan gemetar. Rasanya mereka ingin berlari, tetapi kabar yang mereka terima setengah jam lalu telah membuat seluruh sendi di tubuhnya melemah.


Mencoba tetap bertahan di antara langkahnya yang terseok-seok sambil berpegangan tangan. Sesekali Mira nyaris terjatuh, namun dengan segera Barkah memegangi tubuh sang istri.


“Aya tertembak,” itu yang dikatakan Zaidan melalui sambungan telepon. Entah mengapa remaja itu begitu berinisiatif memberi tahu sepasang orang tua ini dengan begitu cepat tanpa bertanya pada Shaka atau pun Galih.


Seketika, dunia Mira dan Barkah benar-benar hancur, langit kelabu itu telak menimpa mereka. Bayangan kesakitan sang anak yang terbaring tidak berdaya dengan berlumuran darah, tak lekang hilang dalam pikiran mereka. Mira mengusap wajahnya sendiri, bibirnya yang bergetar, mengatup rapat nyaris ia gigit karena gugup dan menahan tangis.


Di mana luka tembaknya? Di kaki? Tangan? Dada? Kepala?


Akh tidak!


Mira semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Barkah, ia tidak bisa membayangkan semua itu lebih jauh lagi. Air mata yang berderai ia usap dengan kasar. Wajahnya yang berusaha tegar, gagal menyembunyikan perasaan hancur dan terpukul.


Di pertengahan jalan, mereka berpapasan dengan seorang laki-laki berseragam militer serba hitam. Entah siapa nama orang tersebut, Mira tidak terlalu memperhatikannya. Ia hanya mendengar Alya berkata, “Izin, saya membawa orang tua korban,” begitu ujaran wanita muda di samping Mira, sambil slawir.


“Korban sedang menjalani operasi. Bawa mereka menunggu di tempat aman,” ucap laki-laki tersebut sambil mengangguk sopan pada Barkah dan Mira. Tatapannya penuh rasa empati.


Hanya Barkah yang membalasnya, sementara Mira masih dengan pikirannya yang kosong. Ia tidak suka berlama-lama menghentikan langkahnya. Ia terus menarik tangan Alya dan Barkah agar segera melanjutkan langkahnya.


“Siap!” Alya segera melanjutkan langkahnya.


“Kok banyak tentara ya Neng?” tanya Barkah dengan pikiran yang bingung.


Sejak tiba di rumah sakit ini, mereka sudah melihat mobil pasukan khusus di depan sana. Orang-orang berpakaian serba hitam khas agent khusus pun banyak yang ia lihat. Ada juga beberapa orang berseragam polisi dan TNI.


“Iya, mereka sedang bertugas,” hanya itu sahutan Alya. Ia tidak bisa menjelaskan lebih lanjut apalagi mengatakan kalau Gayatri baru saja berhadapan dengan ******* sekaligus gembong narkoba internasional. Bukankah mereka akan semakin ketakutan?

__ADS_1


Barkah mengangguk saja, ia menyimpan dalam-dalam pikirannya. Langkahnya berubah semakin cepat, saat ia melihat teman-teman Gayatri sedang menunggu di ujung lorong sana. Ada Galih dan Shaka yang terpekur dengan segala macam kecemasannya.


Baru kali ini Mira benar-benar berlari, menghampiri Galih yang terduduk lesu. Ia bersimpuh di hadapan putranya yang tengah memandangi tangannya yang berlumuran darah Gayatri.


“Lo gak apa-apa?” tanya Mira yang segera memeluk Galih.


Galih terhenyak mendapat pelukan tiba-tiba dari ibunya. Pertanyaan Mira seolah membangkitkan kembali rasa marah dan sedihnya. “Aya, Nyaakk… Ayaa….” ujar laki-laki itu seraya terisak. Tidak ubahnya seperti anak kecil yang ketakutan.


Mira hanya mengangguk, ia mengatupkan mulutnya rapat-rapat agar tidak terisak. Dadanya sesak, kepalanya sakit menahan tangis, tetapi ia harus terlihat tegar di hadapan putranya.


“Dia akan baik-baik aja. Lo harus percaya, adek lo itu kuat, jagoan. Jadi dia pasti akan baik-baik aja.” Suara Mira gemetar dan tersendat-sendat itu milik Mira. Bukan hanya untuk menenangkan putranya, melainkan dirinya sendiri.


Galih tdak menimpali, pikirannya masih kalut. Ia melihat dengan jelas kalau darah Gayatri sangat banyak. Baju Galih dan Shaka sama-sama terkena darah Gayatri. Lalu peluru itu menempus tubuhnya, apakah bersarang di jantungnya?


Tidak! Galih tidak ingin membayangkan hal itu. Seperti yang Mira katakan, adiknya harus baik-baik saja.


Mereka menggeleng, wajahnya masih pucat pasi. Tidak ada yang duduk dengan tenang, semuanya gelisah.


Sekali lalu, ia melihat sosok lelaki yang berdiri di kejauhan. Di dekat pintu ruang operasi. Laki-laki itu tertunduk lesu dengan bajunya yang dipenuhi darah Gayatri. Mira segera bangkit berdiri, ia menghampiri Shaka yang sama pucatnya dengan yang lain.


“Mana anak gue?” tanya Mira pada laki-laki itu.


Shaka menegakkan tubuhnya, namun tidak berani mengangkat wajahnya apalagi menatap Mira. Ia paham benar, Mira sedang melampiaskan kemarahannya.


“Heh, liat muka gue, MANA ANAK GUE?!” teriak wanita itu di depan wajah Shaka.


“Di dalam Nyak,” sahut laki-laki itu dengan mata yang berkaca-kaca dan kepala yang tegak menatap Mira. Ia melihat mata keriput Mira yang merah dan berair. Bengkak dan sembab, tentu saja.

__ADS_1


“Di dalam lo bilang?” Mira mengulang kalimat Shaka. Shaka mengangguk dengan bulir air mata yang kemudian menetes di sudut matanya.


“Lo lupa apa janji lo sama gue?” suara Mira terdengar berbisik, namun penuh penekanan. Tangannya memukul dada Shaka berulang kali. "Lupa lo?!" suaranya mulai meninggi.


“Mir, udah Mir.” Barkah segera memegangi tangan sang istri agar berhenti memukuli Shaka.


“DIA JANJI SAMA GUE BUAT JAGAIN ANAK GUE!” teriak Mira dengan suaranya yang lantang, membuat semua orang terdiam. Suara Mira seperti tamparan untuk Shaka yang membuat laki-laki itu merasakan sesak di dada. Benar, ia memang pernah mengatakan hal itu.


“MIR! CUKUP!” Barkah segera menarik tangan Mira, hingga tubuh wanita itu berpaling menghadapnya. Wanita itu menangis terisak dengan dada yang terasa sesak.


“Tapi dia janji mau jagain anak gue….” Telunjuknya yang gemetar masih menunjuk Shaka. Suaranya tidak terlalu jelas karena bersamaan dengan suara tangisan.


“Sssttt!! Udah! Diem!” ucap Barkah dengan penuh penekanan. Ia membawa tubuh Mira ke dalam pelukannya dan memeluknya dengan erat.


“Lo gak liat kalau dia udah jaga anak kita dengan baik? Sangat baik malah, sampai anak kita sembuh. Tapi dia manusia Mir, gak semua hal bisa dia kendalikan hanya karena dia udah berjanji akan jaga anak kita,” Barkah berujar dengan bijak.


Tangannya mengusap-usap punggung Mira, tetapi matanya menatap Shaka yang terlihat sangat menyesal. “Dia udah berusaha semaksimal mungkin. Dia gak cuma jagain anak perempuan kita, tapi keluarga kita. Masa sekarang lo maki-maki? Lo pikir dia juga juga gak sedih? Liat, dia juga terpukul. Lo gak kasian sama dia?” Barkah masih terus melanjutkan kalimatnya.


Shaka hanya terpekur, ia menekan sela di kedua sudut matanya yang berair.


Mira tidak menimpali, Wanita yang masih terisak itu melepaskan pelukan suaminya. Lantas ia berbalik untuk menatap Shaka. Sungguh tidak terduga saat Mira tiba-tiba memeluk Shaka. “Maafin gue, tong,” ucap lirih wanita itu.


Pelukannya erat, sambil mengusap-usap kepala Shaka dengan lembut layaknya seorang ibu pada anaknya. Ia sadar benar kalau ucapan Barkah lah yang tepat. Shaka telah melindungi keluarganya tanpa pernah ia minta. Tetapi karena kemarahannya, ia malah menumpahkan kesedihannya itu pada Shaka.


“Maafin Shaka, Nyak,” ucap Shaka pada akhirnya.


Mira menggeleng. “Lo gak salah, takdir hidup gue dan keluarga gue emang lagi diuji seberat ini,” timpal Mira seraya menepuk-nepuk pelan punggung Shaka. "Gue terlalu marah sama takdir, sampe gue lupa bersyukur ada lo di keluarga gue," imbuh Mira. Shaka tidak menyahuti, mereka berangkulan untuk waktu yang cukup lama, sementara yang lainnya hanya terdiam, membiarkan Mira dan keluarganya meluapkan semua perasaannya agar kemudian bisa berdamai dengan keadaan.

__ADS_1


****


__ADS_2