Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Karena pelangi itu nyata, meski hanya bias cahaya


__ADS_3

Lebih dari satu jam menunggu, lampu di atas pintu ruang operasi itu akhirnya padam. Tidak berselang lama, sliding door itu terbuka dan menampakkan sosok seorang dokter yang keluar dari ruangan tersebut.


“Keluarga pasien Nona Gayatri?” tanya laki-laki itu.


“Saya,” empat belas orang itu kompak menoleh. Entah siapa yang tadi menjawab.


“Ooo….” Dokter itu sampai kaget dan bingung melihat respon orang sebanyak ini.


“Gimana anak saya Dok?” tanya Barkah yang maju paling depan.


Dokter itu menghembuskan napasnya pelan, sebuah kelegaan yang ditampakkan lewat senyumnya yang terkulum. "Kita duduk dulu Pak," ajak dokter tersebut.


Barkah mengangguk patuh, ia mengikuti dokter untuk duduk di kursi tunggu dan Mira pun segera mendekat.


"Putri bapak, bertahan dengan baik. Sepertinya, tuhan memang sangat melindunginya," ucap Dokter itu seraya tersenyum simpul.


"Alhamdulillah...." Barkah dan yang lainnya kompak mengusap wajahnya penuh rasa syukur.


"Benda ini yang melindunginya." Dokter itu juga mengeluarkan sebuah kalung plat identitas berbahan dasar logam tahan karat.


"Itu, milik saya dok," Shaka segera menghampiri. Ia takut identitasnya terbongkar di depan teman-teman Gayatri.


"Silakan di ambil," Dokter memberikan kalung itu pada Shaka.


Shaka memperhatikan kalungnya baik-baik, bagian pinggir plat identitasnya sedikit cekung, bekas hantaman peluru. Ada darah yang mengering di permukaan plat tersebut, lantas ia genggam benda itu dengan erat.


"Kalung itu telah membuat peluru meleset. Perdarahan yang dialami putri bapak, bukan karena tembakan yang menembus dadanya. Melainkan karena terkena serpihan peluru dan luka sayatan yang cukup panjang akibat peluru yang meleset tersebut."


"Kami sudah menjahit beberapa luka dan mengeluarkan sisa serpihan. Itu mengapa, tindakan di ruang operasi lebih cepat selesai. Dalam beberapa jam, sepertinya putri Bapak akan segera siuman. Semangat yaa, dia gadis yang hebat dan kuat...." terang sang dokter sambil menepuk bahu Barkah yang membungkuk.


Semua orang di ruangan itu ramai-ramai mengucap rasa syukur sepenuh hati. Mereka saling berangkulan penuh kelegaan.


"Alhamdulillah... terima kasih banyak Dok," sambil mengucap syukur laki-laki itu tersedu. Mira merangkul tubuh Barkah dan mereka menangis haru bersamaan. Ada senyuman yang terbit atas kelegaan yang didapatnya, tapi rasa waswas itu masih tetap ada.


"Sama-sama. Sekarang, Bapak dan Ibu bisa menunggu pasien di ruang perawatan. Sebentar lagi perawat akan mengantarnya ke sana. Barang-barang pribadi putri bapak pun sudah kami rapikan. Nanti bisa Bapak periksa kembali."


"Baik Dok, sekali lagi terima kasih," ucap Barkah.


"Terima kasih Dok," ucap teman-teman Gayatri.


Dokter itu hanya mengangguk seraya tersenyum. Setelah itu ia kembali ke ruangannya dan meninggalkan orang-orang yang tengah diliputi kebahagiaan itu.


Galih pun menghampiri kedua orang tuanya, mereka saling berpelukan dengan tangis bahagia. Sementara itu, Shaka masih terdiam di tempatnya. Ia memandangi kalung yang ia berikan pada Gayatri beberapa waktu lalu. Ia masih tidak menyangka, kalau kalung ini yang ternyata menyelamatkan hidup gadisnya.


"Kalung apa tuh? Kayaknya bagus sampe peluru meleset segala? Seettt! Desh!" ledek Dewa yang penasaran ingin melihat.


"Kepo," ucap Shaka seraya menyembunyikan kalung itu dan memasukkannya ke dalam saku.

__ADS_1


"Kalung tanda cinta ya? Apa kalung tanda jadian? Kagak bilang-bilang sih lo," Zaidan dengan sengaja meninju lengan Shaka.


Shaka hanya tersipu, sebagai respon atas candaan teman-temannya.


"Najis lo, mesem-mesem lagi. Beh si Shaka nih Beh! Macarin Aya kagak bilang-bilang! Udah minta restu belum?" seru Anton kemudian.


"Beneran lo?" tanya Barkah yang menghentikan sejenak tangisannya. Matanya melotot menatap Shaka.


Shaka segera menegakkan tubuhnya. "Emm, sebenernya...." laki-laki itu langsung kikuk.


"Ngaku lo! Beneran macarin anak gue?" Mira ikut bertanya. Tidak hanya bertanya, wanita itu pun beranjak dari tempatnya dan menghampiri Shaka.


"Mampus lo! Belom lagi ada abangnya, tamat riwayat lo, Shaka, " ucap Zaidan yang menakut-nakuti Shaka. Dengan kedua tangannya ia menyuruh teman-temannya menyingkir sebelum negara api menyerang.


"Ngaku!" seru Mira dengan mata yang membulat seraya menjewer telinga Shaka.


"A a awww... I-iya Nyak, emang deket sama Aya...." aku Shaka yang kesakitan.


"Hah, dasar lo ya!" Mira akhirnya melepaskan jewerannya. Ia memandangi Shaka yang masih meringis kesakitan lalu memukul lengannya. "Awas kalau lo bikin anak gue nangis. Gue sunat lo!" ancam wanita itu sambil berkacak pinggang.


"Ahahahahay, rasain mau di sunat!" seru Anton.


"Hush! jangan ketawa ngakak! Ini rumah sakit. Jaga etika lo." Barkah segera mengingatkan.


"Oh iya, ampun Beh, maaf. Maaf ya para pasien, keceplosan...." Anton sampai menangkupkan tangannya di depan dada. Setelah mengalami kejadian yang begitu menegangkan, mencandai Shaka ternyata menjadi obat pelepas ketegangan. Kapan lagi menggoda komandan mereka yang ternyata romantis itu?


"Siap Beh!" seru teman-teman Gayatri. Mereka kompak menurut karena sudah dipastikan kalau Gayatri akan baik-baik saja.


Di ruang perawatan saat ini Gayatri berada. Gadis itu di temani kedua orang tuanya yang setia menjaga gadis yang masih berada di bawah pengaruh obat bius. Mira setia membelai Gayatri, sesekali meniupi luka di dahi putrinya yang tertutup plester. Di sampingnya ada Barkah, yang menggenggam erat tangan putrinya dan sesekali ia kecup.


"Jangan ditiupin mulu lukanya, nanti kuman dari mulut lo, nempel di luka anak gue," protesan itu dilontarkan Barkah pada istrinya.


"Masa sih? Ngarang lo akh!" Mira tidak percaya.


"Ah elah, malah kagak percaya. Lo cium aja sendiri mulut lo, banyak kumannya makanya bau."


"Hah, emang iya ya?" Mira menangkupkan tangannya di depan mulut lalu menghembuskan napasnya di sana. Wanita itu langsung mengerucutkan bibirnya dan menguncupkan cuping hidungnya.


"Nah, kecium kan?" ujar Barkah kemudian.


"Hehehehehe... iyaa...." Mira segera mengusapkan tangannya ke bajunya sendiri. Baju kekecilan yang dipinjamkan Alya padanya.


"Maafin Enyak ya Neng, malah Enya tiupin itu luka." Mira menatap Gayatri dengan penuh rasa bersalah.


"Ngomong-ngomong, lo inget gak Bang, dulu si Aya tuh doyan banget tidur. Bayi lain tiap sejam bangun, mewek minta ASI, tapi dia malah anteng aja. Mesti di sentil dulu kakinya biar dia bangun dan nangis." Mira mengusap kepala putrinya dengan lembut.


"Gak kerasa, anak gue sekarang udah gede. Udah dewasa dan tumbuh jadi anak yang hebat dan kuat. Waktu dia sakit kemaren, gue berasa ngeliat anak gue waktu bayi. Dieeemmm terus, gak ngomong. Dunia gue berasa sepi. Gue sering nyesel, karena gue selalu nuntut dia untuk dewasa, paham sama kondisi keluarga, belajar nyari jalan keluar buat masalah yang dia hadapi."

__ADS_1


"Semua itu gak salah, karena dia harus siap menghadapi masa depan. Yang salah adalah, karena gue gak ada di saat dia butuh sama gue. Tanpa gue sadari, anggapan gue kalau dia harus dewasa itu ternyata malah ngejauhin gue sama dia."


"Akhir-akhir ini, gue kangen anak gue yang manja itu. Gue juga kangen tingkah ngeselinnya yang bikin gue naik darah. Beberapa hari gak liat bayangan dia di rumah, bikin gue gak bisa tidur. Gue kadang ngelamun, bayangin dia manggil gue. 'Nyaaakk... nama sepatu Aya? Nyaaakk, baju olahraga Aya kok gak ada? Nyaakkk, maaf kotak makannya ketinggalan di sekolah. Nyaaakkk, Aya masih ngantuk...." Suara Mira mulai melemah. Matanya berkaca-kaca.


"Nyaakkk aya capeekk, gak mau sekolah. Nyaaakkk... Aya mau tidur sama Enyak, gak enak badan. Nyaakkk... Aya mau cerita, dengerin, jangan liat gosip mulu," kali ini kalimat Mira terhenti. Berganti tangisan lirih yang ia bekap dengan tangannya sendiri.


"Gue kehilangan banyak moment sama dia. Gue coba nyembuhin diri gue, tapi gue lupa kalau gak cuma gue doang yang kecewa dan terluka. Keegoisan gue itu malah nambah luka di mental anak gue. Astagaaa... apa yang udah gue lakuin selama ini?" Mira terpekur sambil sesegukan. Sungguh ia sangat menyesal.


Barkah tidak menimpali. Di raihnya tubuh sang istri lalu ia bawa perempuan itu ke dalam pelukannya dan ia dekap dengan erat. Sementara satu tangannya masih menggenggam tangan Gayatri. Semalaman ini ia berjanji untuk tidak melepaskan tangan dua wanita kesayangannya.


Di luar ruangan, ada Galih yang sedang terduduk di bangku tunggu. Ia masih terdiam di tempatnya seorang diri. Shaka mengatakan kalau ia akan membeli minuman dan meminta Galih menunggunya. Sambil menunggu Shaka, laki-laki itu berjalan-jalan di sekitaran ruangan. Semakin lama, semakin jauh. Hingga kemudian ia tiba di sebuah ruangan bertuliskan UGD.


Dari celah pintu, ia melihat deretan blankar pasien yang tidak terlalu penuh. Ada dua blankar yang saling bersisian dan terlihat petugas medis sedang melakukan tindakan. Entah apa yang mereka lakukan, tetapi beberapa saat kemudian mereka pergi. Meninggalkan pasien tersebut seorang diri.


Mata Galih membulat, saat pandangannya menangkap sosok Oliver yang terbaring di ranjang tersebut. Kedua kaki dan tangannya di pasangi perban yang cukup tebal. Sementara pergelangan kaki dan tangannya terpasang borgol. Kalau Galih ingat-ingat, kedua kaki dan tangan itu terluka karena ia tembaki setelah laki-laki itu menembak Gayatri.


Mendadak, timbul kegelisahan dalam hati Galih. Mata tajamnya kemudian menghitam, keinginnya untuk membalas dendam muncul begitu saja. Ia tidak merasa puas hanya karena telah menembak laki-laki itu. Laki-laki itu masih bisa mengoceh dalam bahasa Rusianya. Dan saat itu tekadnya muncul. Dengan yakin Galih memutar handle pintu ruang UGD dan ia dorong hingga terbuka.


"Lo mau ke mana?" tanya sebuah suara dengan tangannya yang menahan tangan Galih.


Galih melirik orang tersebut dengan sinis. "Lepas!" seru laki-laki itu. Ia tidak suka orang ini mencampuri urusannya.


"Gue lepas, itu artinya gue membiarkan masalah semakin besar. Gue lebih memilih menembak lo, supaya lo gak nambah pelik masalah Shaka," timpal sang gadis yang tidak lain adalah Alya.


Galih tersenyum tipis, kesal dengan ucapan gadis itu. Ia mengibaskan tangan Alya dengan kasar dan melepaskan genggaman tangannya. "Cinta lo bertepuk sebelah tangan, sebaiknya lo berhenti. Lo juga udah tau kan, siapa yang Shaka suka?" Usaha balas dendam Galih ternyata cukup menyebalkan bagi Alya.


Alya tersenyum kecut, ia menyilangkan tangannya di depan dada lalu bersandar pada dinding dan menatap poster prilaku hidup bersih dan sehat yang ada di hadapannya.


"Adek lo masih kecil. Mana paham sama kondisi pekerjaan kami, terutama Shaka. Setelah kasus adiknya selesai, lo pikir Shaka bakalan tetep ada di sini?" kalimat itu diucapkan dengan sinis oleh Alya.


Galih menoleh Alya dan menatap wanita itu dengan tajam. "Maksud lo Shaka cuma maenin adek gue?" laki-laki itu tampak tidak terima.


Alya mengendikkan bahunya dengan ringan. "Shaka gak pernah main-main. Tapi, emang ada cowok yang kuat LDRan sama cewek? Mereka yang punya cewek depan mata aja masih bisa ngelirik yang lewat. Minat dikit langsung di kejar karena penasaran. Apalagi, seseorang yang punya insting pemburu kayak Shaka. Iya nggak?" Alya tersenyum sinis seraya mengangkat sepasang alisnya dengan kompak.


"Lo salah, gak semua cowok kayak gitu." Galih juga tidak mau kalah.


"Iya kah? Ada emang laki-laki yang gak begitu? Pengen banget gue percaya, tapi yang ngomong, cowok lemah model lo. Jangankan sama cewek, sama peluang dikit aja lo ke distract," ejek Alya.


"Heh, jaga mulut lo!" Galih langsung memegangi lengan Alya dengan kasar. Sangat kasar hingga terasa nyeri. "Perlu bukti?" Galih bertanya dengan tegas.


Alya hanya mengendikkan bahunya dan menunjuk tangan Galih agar menyingkir. Galih tidak lantas melepaskan. "Kita buat kesepakatan, jangan kasih jarak antara kita selama lo ada di sini. Setelah itu, lo boleh pergi ke mana pun. Kalau gue lupa sama lo dan ngelirik cewek baru, lo menang. Tapi kalau gue bertahan, lo kalah," tantang Galih.


Alya terdiam sesaat, ia memandangi Galih beberapa lama. "Kalau lo gak nyari masalah, bisa gue pikirkan." Itu jawaban singkat gadis itu, sekali lalu berlalu pergi meninggalkan Galih yang masih mematung di tempatnya.


Galih hanya tersenyum kecil, gadis itu memang keras kepala. Tapi dia cukup baik, buktinya ia menaruh sebotol air mineral di atas bangku. Mungkin titipan dari Shaka.


*****

__ADS_1


__ADS_2