Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Permintaan telak


__ADS_3

“Ayaaa, gimana kondisi lo sekarang? udah sampe rumah belum?” sebaris pesan itu di kirimkan Rosi di grop kerja kelompok mereka.


“Y,” hanya itu balasan Gayatri, singkat saja.


“Oo syukurlah. Kaki lo kenapa bisa bengkak banget? Lo jatuh apa gimana?” Rosi masih dengan rasa penasarannya saat mendengar dokter mengatakan kaki Gayatri yang bengkak dan terluka, namun malah di tutupi oleh kaus kakinya yang setingi betis.


Gayatri tidak langsung menjawab, perlu waktu beberapa menit sampai kemudian muncul notifikasi typing. Shaka ikut menunggu jawaban Gayatri, entah gadis ini akan jujur atau berbohong.


“Jatoh di kamar,” Gayatri menjawab sekenanya.


Shaka tersenyum kecil, seperti dugaannya Gayatri akan berbohong.


“Aya jatuh dari ranjang?” David ikut bertanya.


“Tidurnya gerasak ya?” Rosi ikut penasaran.


“Hem,” Gayatri kembali menjawab singkat. Ia masih memandangi kakinya yang diperban ulang oleh sang dokter. Katanya tidak boleh di gerakkan beberapa hari ke depan.


“Kok bisa sih Aya, emang mimpi apa sampe jatuh dari tempat tidur?” Rosi semakin penasaran. “Aku sedih dengernya, tapi pengen ngakak, sorry...” imbuh gadis itu dengan beberapa emoticon yang mengikuti kalimatnya.


“Mimpi jatuh dari balon udara di capadocia bukan Aya? It’s my dream mas! It’s my dream!” David malah berceloteh, lengkap dengan gambar stiker Kinan. (Yang penasaran cari tahu sendiri, wkwkwk)


“Maksudnya, David berharap jatuh dari balon udara gitu?” Rosi balas meledek.


“Ish bukan Rosi gemoy, itu penggalan sinetron. Gak tau ya?”


“Astoge, anak lanang, tontonannya sinetron,ckckckck miris,” puas sekali Rosi meledek.


“Ya gak gitu, itu rame di sosmed. Gue taunya dari sosmed juga. Lo gak tau?”


“Heemm, kami kan di larang punya akun sosmed apa pun… hayoohh David masih suka buka sosmed ya? Awas loh ketauan pak Kepsek dan guru BK, lo bisa dikeluarin,” ancam Rosi.


“Ya nggak dong, kan pake akun fake,” David berkilah.


“Punya Rima juga pake fake akun ketauan lohhh… mereka sampe di kasih surat peringatan, untung temenannya sama Indah. Orang tuanya punya kuasa jadi mereka selamat.” Tanpa sadar Rosi menceritakan hal itu.

__ADS_1


Shaka yang asyik menyimak obrolan di grup pun melirik Indah yang sedang mengatur kemudinya. Katanya ia ingin di temani ke toko buku. Kencan klise yang biasa dilakukan oleh anak muda dari zaman pubra dulu.


“Jangan sampe laah, gue yang remahan rengginang ini backingannya siapa kalau kena tegur?” David menimpali dengan emoticon sedih.


“Ya makanya, jangan main sosmed, sebelum nanti ketauan sama pihak sekolah,” Rosi kukuh mengingatkan.


“Iyaa-iyaaa nanti gue hapus. Ngomong-ngomong ini grup cuma kita berdua doang Rosi, dua lagi ke mana sih? Mereka online padahal,” David mengetag nama Shaka dan Gayatri.


“Lagi chatingan berdua kali, wkwkwk… eh iya aku punya hadiah buat mereka,” tulis Rosi membuat Shaka dan Gayatri sama-sama mengulum seyum dan penasaran di waktu yang bersamaan.


Shaka iseng mengecek akun wa Gayatri dan gadis itu memang sedang online.


“Afah? Hadiah afaaahhh?” David yang tidak sabar.


“Waiitt, lagi aku kirim, sabar ya buk David,” Rosi menimpali dengan emoticon terkekeh.


“Iya jeng, pasti aku tunggu loh jeng…”


Untuk beberapa menit grup itu pun sepi. Tidak ada interksi sampai kemudian,


“Wanjaaayy!!! Rosi dapet foto ini dari mana? Udah macam dispatch aja!” David terlonjak kaget dengan enam foto kiriman Rosi.


“Awokk! Awookk! Panas hati nganaa! Es mana es Mak....” komentar David.


“Hhahahaha… aku udah bikin videonya loh, aku kasih musik romantis segala. Mau liat gak?” iseng sekali memang Rosi ini.


“Mau bilang gak pengen liat, tapi pasti bakal tetep di kirim. Kenapa gak langsung aja nyakitinnya, jangan di jeda-jeda gini? “ David memberi banyak emoticon menangis di ujung kalimatnya.


“Hahahahaha… sabar ya buk, agak besar ini filenya.”


Dua orang penyimak lainnya mengulum senyum melihat foto mereka. Pengambilan sudut foto yang dilakukan Rosi memang ciamik. Mirip adegan-adegan romantis di web series. Dan tanpa sadar, saat ini Shaka dan Gayatri pun menantikan kiriman video dari Rosi. Statusnya masih mengirim.


“Jiirr lama banget!! Ini ngirimnya dari luar angkasa ya Rosi?” David yang mulai tidak sabaran.


“Hahahaha… iyaaa… kurirnya siput, jadi sabar yaa… maklum jaringan aku masih 3G, belum bisa sat set sat set.”

__ADS_1


“Makanya, beli hp sama beli towernya dong, biar melesat,”


“Udah beli, tapi tower air,”


“Itu toren Rosi, toreeennn…. Ikuti yuk ibu, toreeeennnn, bukan toweerrr,” David gemas sendiri dengan tulisan Rosi.


"Rileks Bu David," balas Rosi dan mendapat acungan jari tengah dari David.


“Berapa MB sih filenya?” Shaka mulai tidak sabar menunggu.


“Cieeee… penasaran nieeehhh, wkwkwkwwk….” Iseng sekali Rosi menimpali.


“Gak sih, B aja.” Shaka berpura-pura padahal hatinya ketar ketir, berontak menahan rasa penasaran.


“Syabaaarr, orang syabaarr pant4tnya lebar, wkwkwkwk….”


“Eehhh neng Rosi bawa-bawa begituan. Gak boleh akh, anak kecil bilang begituan,” David segera mengingatkan.


“Hahahha… iyaa maaf. Aku hapus lagi yaaa, sama foto-fotonya, videonya juga aku batalin kirim,” ancam Rosi.


“Gue sih gak masalah, cuma ini dua orang yang menyimak, udah sempet nyimpen fotonya belum?” goda David.


Shaka memberi emoticon jempol sebanyak enam, sementara Gayatri hanya tersenyum kecil, tangannya juga lincah menyimpan foto-foto itu.


“Hapus.” Begitu balasan Gayatri.


“Aaakkk… ada yang merasa terganggu rupanya. Videonya japri aja deh Rosi, takut bikin gak nyaman,” timpal David.


“Videonya kan video gue, kenapa lo yang gak nyaman?” Gayatri menimpali.


“Eh cieeehh kepancing, emang siapa yang bilang gue gak nyaman? Gue kan gak nyebutin subjek? Ngerasa ya Ayaaaa… gue patah hati loh, ngeliat lo ngarep di kirimin video itu.” David memang pandai memancing membuat Shaka terkekeh sendiri.


“Shaka, baca apa sih dari tadi ketawa-ketawa sendiri?” Indah yang sedari tadi menyetir pun tampak kesal. Padahal ia kesulitan mencari lahan parkir di mall ini, tetapi Shaka malah asyik baca chat.


“Gue tau lo terpaksa jalan sama gue, tapi jangan ketara banget dong gak ada effortnya,” batin Indah.

__ADS_1


“Oh sorry,” Shaka segera mematikan layar ponselnya. “Tuh di sana kosong,” tunjuk Shaka pada area kosong di samping mobil box.


“Iya gue liat. Lo chat sama siapa sih sampe ketawa-ketawa gitu?” sambil memarkir mobilnya Indah tetap bertanya. Ia melirik Shaka sekilas, menunggu jawaban laki-laki itu.


__ADS_2