Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Terbuka


__ADS_3

“Mereka di mana sih?” tanya seseorang pada layar ponselnya, yang tidak lain adalah David. “Nggak akan datang apa gimana? Nggak jelas begini.” ia mengecek kembali aplikasi messangernya dan chat yang ia kirim d grup masih belum juga di balas oleh Shaka dan Gayatri. Padahal ia dan Rosi sudah menunggu di panti sejak dua jam lalu untuk mengerjakan tugas geografi.


“Belum ada kabar juga?” tanya Rosi yang baru keluar setelah mengambilkan makanan untuk David.


“Belum, masih hening. Kayakanya mereka sedang sama-sama mengheningkan cipta bagi para pahlawan yang gugur di medan perang.” David menyahuti dengan kesal. Ia menaruh ponselnya di atas meja, menyambut Rosi yang membawakannya makanan.


Ada dua piring nasi dengan lauk di dua tempat terpisah. Menunya sederhana, hanya telur dadar dan tumis buncis, namun mengundang selera.


“Ya udah dari pada kesel, mending kita makan siang dulu. Ibu panti udah masakin kita. Katanya biar kita semangat belajarnya.”


Rosi menaruh dua gelas teh manis untuk dirinya dan David, di samping makanan yang telah di tata.


“Gue masih penasaran mereka ke mana sih?” gerutu David sekali lalu mengambil air tehnya dan meneguknya dengan nikmat. “Ahhhh… Tehnya wangi, ada manis-manisnya gitu,” ungkap David.


“Gak usah iklan, namanya juga teh manis.” Rosi menimpali dengan sinis, tingkah David memang ada-ada saja. Ia menaruh baki di sampingnya. Makan siang kali ini sedikit berbeda, karena di lakukan di taman belakang panti bersama David.


“Enak ini langsung pake nasi,” ungkap David, seraya mengangkat gelas teh manisnya.


“Serius?” Rosi menatap David tidak percaya.


“Ya, serius!” David menjawab dengan yakin. Laki-laki itu langsung melakukan apa yang ia ucapkan tadi, yaitu menyiram nasi putihnya dengan air teh manis lalu mengaduknya, layaknya makan dengan kuah sop.


“Astagaa, kamu beneran serius. Aku kira bercanda. Terus, telor dadarnya gimana ini?” Rosi mengernyitkan dahinya tidak mengerti.

__ADS_1


“Pasti aku makan,” ucap laki-laki itu yang memulai suapan pertamanya.


Rosi melongo beberapa saat, ia ikut membuka mulutnya saat melihat David makan dengan lahap. Ia juga ikut mengatupkan mulutnya saat makanan kawannya dikunyah dengan sempurna di dalam mulut.


“Enak?” tanya Rosi penasaran.


“Tentu enak. Cobalah,” David mendekatkan teh manis milik Rosi.


"Nggak dulu deh Vid," Rosi segera memindahkan piringnya, khawatir di siram air teh oleh David.


“Ya sudah." David mengendikkan bahunya acuh. "Kira-kira Gayatri sama Shaka ke mana ya?” pertanyaan David menyadarkan Rosi dari lamunannya memperhatikan David makan. Ia pun mulai menikmati makanan siang yang alakadarnya. Telur dadar dan tumisan bunci sebagai lauknya. Tetapi rasanya sangat nikmat.


“Gak tau juga. Kalau Aya, paling bantuin ibunya di kedai soto, kalau Shaka, hah paling pacaran,” ungkap Rosi seraya menghembuskan napasnya kasar.


“Ngomong-ngomong, kamu yakin gak kalau Shaka pacaran sama Indah? Kok aku ngerasa mereka kayak mau pamer doang gak sih?” tanya Rosi di sela suapan makanannya.


“Hah, iya juga… udahlah mending kita makan aja. nanti kita lanjut nugas. Tugas ini sebenarnya tanggung jawab kamu gara-gara pake nanya segala ke guru geograpi. Kalau ada tugas lagi, giliran Aya sama Shaka yang bikin. Balas dendam aja kita,” sahut Rosi yang mulai menikmati makan siangnya.


Dua orang yang dimaksud David dan Rosi saat ini baru tiba di sebuah tempat yang cukup asing untuknya. Di sekitaran mereka ada banyak orang yang berpakaian pasien dengan warna putih bergaris-garis hitam. Ada yang asyik sendiri dengan dunianya, ngalor ngidul bicara tidak jelas dan sesekali tertawa. Ada yang berjalan-jalan dengan di temani pendamping untuk melakukan kegiatan apa saja di luar ruangan yang dapat menyegarkan pikirannya.


Ya benar, mereka saat ini sedang berada di sebuah rumah sakit jiwa. Di tempat ini sekarang seorang atlet taekwondo itu berada. Gayatri dan Shaka masih menuju ruang kunjungan pasien untuk menemui Galih. Kunjungan mereka di batasi hanya sampai jam tiga sore. Sekitar dua jam lagi waktu jenguk akan habis.


"Gimana bisa abang lo masuk ke rumah sakit ini?" tanya Shaka di sela langkahnya bersama Gayatri. Mereka berjalan di bawah pohon yang rindang. Angin sepoi-sepoi menerbangkan rambut Gayatri yang diikat ekor kuda.

__ADS_1


Gayatri terlihat menyiapkan dirinya sebelum menjawab. Tentu saja ada hati dan mental yang harus disiapkan saat ia harus mengingat kembali kenangan buruknya dua bulan lalu.


“Selama seminggu dalam penjara, abang gue mendapatkan perlakuan tidak adil. Dia dipukuli hingga babak belur. Sering di kurung di ruang isolasi karena di anggap membuat kegaduhan, padahal dia berusaha membela dirinya."


"Makanannya di tumpahin, katanya sama napi yang lain, hingga memicu keributan. Selama satu minggu itu, dua kali abang gue di bawa ke UGD rumah sakit karena muntah darah dan tangannya yang patah bengkak karena infeksi.”


“Awalnya gue percaya aja kalau dia di pukuli oleh sesama napi, sampe suatu hari gue nemuin dia di rumah sakit setelah dia ngamuk. Dia bilang sama dokter, ‘saya tidak membunuh anak itu pak. Saya bersumpah tidak membunuhnya. Jangan pukuli saya lagi pak, jangan pukuli saya lagi,’ cuma kata-kata itu yang abang gue bilang dengan wajah yang ketakutan.”


“Gue mulai ngerasa ada yang aneh. Gue berpikir kalau yang mukulin abang gue mungkin bukan sesama napi, tapi oknum tertentu yang maksa abang gue buat ngakuin sesuatu yang gak dia lakuin.” Gayatri menjeda kalimatnya sejenak, ia berhenti di depan sebuah ruangan yang biasanya menjadi tempat ia bertemu dengan Galih.


“Abang gue pernah melakukan percobaan bukuh diri, dia memotong urat nadi di tangannya. Beruntungnya ketauan sama seorang napi yang nemenin dia di sel dan bisa di selamatkan. Tapi setelah itu, abang gue gak balik lagi ke penjara. Kasusnya berakhir gitu aja karena abang gue di diagnosa ngalamin gangguan jiwa. Sejak dua bulan lalu, dia tinggal di tempat ini, bersama pasien jiwa lainnya.”


Kalimat Gayatri terdengar berat, matanya tampak berkaca-kaca. Sedih rasanya melihat Nasib Galih saat ini. Anak laki-laki kebanggan Barkah, harus melanjutkan hidupnya di tempat ini. Ia sering kali mengambuk setiap kali mendengar suara gaduh atau pukulan. Sepertinya jiwanya benar-benar terguncang.


“Kalian gak coba nyari pengacara lain?” Rasa marah Shaka mulai berubah jadi iba. Sepertinya benar yang dikatakan Gayatri kalau kemungkinan besar Galih bukan pelaku pembunuhan Rasya.


“Udah, bokap gue udah nyari pengacara lain. Kami udah menyewa pengacara terbaik sampai bokap gue ngejual semua asetnya termasuk rumah. Tapi gak ada pengacara yang bisa bantu, karena tuduhannya telak terhadap abang gue, selain itu psikologos abang gue gak memungkinkan untuk dibela.”


“Keluarga gue hancur Shaka, oleh pelaku pembunuhan yang sebenarnya. Bokap gue diberhentikan dari pekerjaannya. Hutang kami menumpuk. Setelah membuka kedai soto pun, kami masih mendapat terror entah dari mana. Mereka gak pernah ngasih keluarga gue kesempatan buat bernapas lega. Kadang gue capek, ngehadapin semuanya.” Gayatri menghentikan kalimatnya. Ia menyeka air mata yang menetes di pipinya. Rasanya memuakkan dan menyebalkan.


Shaka dengan sigap mengusap punggung Gayatri untuk menenangkan gadis itu. Ia tahu persis kalau beban Gayatri tidaklah mudah. Gadis itu menengadahkan kepalanya untuk menghalau air mata yang tetap saja menetes. Shaka memberikan sapu tangannya pada Gayatri, awalnya gadis itu terlihat ragu, namun kemudian menerima sapu tangan itu untuk mengusap air matanya.


“Kalau gue boleh tau, apa isi terror yang keluarga lo dapat?” tanya Shaka kemudian.

__ADS_1


“Banyak. Tetapi pada akhirnya akan selalu ada perintah dengan tulisan agar kami diam,” tandas Gayatri yang membuat dua orang muda itu sama-sama terdiam untuk beberapa saat. Mereka duduk di bangku yang ada di depan ruang kunjungan, berusaha menangkan hati masing-masing sebelum bertemu dengan galih.


****


__ADS_2