
“Cieeee… kiw kiw kiw!!” ledek Wanda dan Rima saat melihat kedatangan indah yang menggandeng tangan Shaka.
Gadis itu menyunggingkan senyum cerah pada temen-temennya, mengipasi wajahnya yang merona karena malu. Sementara Shaka tampak biasa saja. Sesekali ia menoleh Gayatri yang sedang menikmati mie ayamnya, gadis itu tampak begitu serius, tidak menoleh sedikit pun.
“Minggir lo pada, gue sama Shaka mau duduk di sini. Nyari tempat lain gih,” usir gadis berkipas itu pada teman-temannya.
“Yaaahhh… gabung aja sih. Kan gak ada meja kosong lagi. Adanya deket si cupu,” Wanda merengek malas. Ia menunjuk Gayatri dengan bibirnya yang mengerucut.
“Ya lo kan selevel sama si cupu, udah sana pindah. Sekalian beresin mejanya, Shaka mau makan di sini sama gue.” Indah tetap mengusir temannya, tidak peduli kalau mereka sedang menikmati makananya.
“Ish lo yaa… pentingan Shaka di banding kita temen-temen lo.” Rima berdecik sebal.
“Itu lo tau. Udah, jangan ngoceh lo! berani ngoceh gue stop traktir lo makan.” Indah tidak segan memberi ancaman sekalipun pada sahabatnya. Gadis itu sudah tidak menunjukkan sikap baiknya lagi di hadapan Shaka. Yang ia tunjukkan sekarang adalah sikap berkuasanya.
“Parah nih ancamannya.” Rima akhirnya mengalah untuk pindah dari pada tidak mendapat traktiran.
“Udaahh sabar, aja. Yuk bisa yuukk….” Wanda berusaha menenangkan Rima dan mengajak sahabatnya untuk berpindah.
Rima pun berpindah walau kesal. Mangkuk berisi bakso tidak ia bawa karena selera makannya sudah hilang, hanya jus saja yang ia bawa berpindah ke meja di dekat Gayatri. Gadis itu hendak duduk, tetapi tiba-tiba sebuah kaki menendang kursi yang akan di duduki Rima.
“APAAN LO!!!,” seru Rima yang mendadak mengatupkan mulutnya saat ternyata yang melakukan hal itu adalah Dion. Kepalanya refleks menggeleng dengan wajah pias dan panik saat melihat remaja itu menatapnya tajam seraya mentautkan alisnya.
“Pindah lagi kita,” Mereka terpaksa pindah karena kursi itu sekarang di tempati Dion dan teman-teman genknya.
“Ke kelas aja gue, yuk!” Wanda menarik tangan Rima dan Alya bersamaan. Ia sudah bisa menebak kalau sebentar lagi pasti akan ada keributan. Mereka tidak siap menjadi saksi di hadapan kepala sekolah dan sama-sama mendapat hukuman.
Benar saja, Dion langsung menghampiri Gayatri dan duduk di samping gadis itu. Tubuh gadis itu tampak menegang, sambil memegangi sendok mie ayam yang seperti menempel dengan tangannya.
“Mau gue suapin?” tawar Dion yang menatap wajah Gayatri dari bawah. Ia bersedia merunduk demi melihat wajah Gayatri yang sedari tadi tertunduk.
“Dion, jangan di gangguin lah. Dia lagi makan,” Zaidan mencoba menengahi.
Shaka yang melihat kejadian itu pun, ikut memperhatikan. Harap-harap cemas menunggu reaksi Gayatri.
“Shaka, suapin dong… gue udah pesen pasta nih, kita makan berdua biar romantis.” Di tengah kegundahan itu Indah malah merengek manja.
__ADS_1
“Gak bisa, nyuapin lo gak ada dalam ketentuan pertukaran. Tugas gue cuma nemenin lo makan, tidak termasuk nyuapin apalagi bayarin.” Shaka menjawab dengan tegas. Perhatiannya pun tetap tertuju pada Gayatri.
“Ishk!” Indah mencebik kesal. Ia mengaduk pastanya dengan asal lalu menyuap pasta itu dengan serakah hingga sausenya belepotan di mulut.
Shaka mengacuhkannya, ia tetap memperhatikan Gayatri dari tempatnya.
“Gak ada yang minta pendapat lo, jadi mending lo diem!” Dion berujar dengan kasar pada Zaidan.
“Maksud lo apa nyuruh gue diem? lo mau gangguin Aya, mana mungkin gue diem aja?” Zaidan langsung berreaksi, ia berdiri dari tempatnya dan menantang Dion. Laki-laki itu menyeringai tipis dan beranjak dari tempatnya. Tidak terima Zaidan melakukan perlawanan.
“Terus mau lo apa?” Dion balas menantang. Ia menghampiri Zaidan dan meraih kerah baju remaja itu untuk ia cengkram dengan kuat.
“Bro, udah bro. Ada yang lapor nanti. Masa kalian mau pada ribut di kantin,” Dewa berusaha mengingatkan. Ia menepuk bahu Dion beberapa kali.
Dion tidak menimpali, ia hanya menyeringai sarkas lalu mendorong tubuh Zaidan sekuat tenaga.
BRUK!
Tubuh remaja itu sampai terdorong jauh ke belakang, terjatuh dan menubruk meja di belakangnya. Seisi meja itu berjatuhan bersamaan dengan tumbangnya meja itu di lantai.
“Lo gak apa-apa?” Shaka menghampiri dan mengulurkan tangannya untuk membantu Zaidan. Ia sengaja menggunakan kesempatan ini untuk membuat orang-orang Dion berbalik memihaknya agar bisa ia manfaatkan sebagai sumber informasi.
Zaidan memandangi tangan Shaka yang terulur dan tidak lama ia pun meraih tangan Shaka untuk membantunya berdiri. Dion tersenyum sinis seraya mengusap dagunya melihat pengkhianatan Zaidan di depan matanya. Ia segera menghampiri Zaidan hendak memukulnya,
“DION!! Gue bilang cukup!!” Dewa berseru lebih keras, membuat tangan Dion mengepal di udara. “Lo mau di hukum lagi?” imbuh laki-laki itu, membuat tubuh Dion membisu. Tangannya yang mengepal kuat lalu ia kibaskan.
Pria itu pun menoleh ada Dewa dan menatap Dewa dengan penuh kekesalan. “Lo neriakin gue, padahal gue bukan bawahan lo. Lo udah mempermalukan gue,” ucap laki-laki itu pelan namun penuh penekanan. Terlihat jelas kilatan kemarahan di matanya yang tajam.
“Dion sorry," sepertinya Dewa baru tersadar atas sikapnya. "Gue gak ada maksud gitu, Dion. Gue cuma gak mau lo di hukum lagi,” Dewa berusaha memberi penjelasan.
“TAIK!” Dion menjawabnya dengan teriakan kasar. Ia segera pergi dari hadapan teman-teman yang memandanginya. Rasanya, mulai hari ini teman-teman yang ia harapkan menjadi pendukungnya, malah meninggalkannya.
Laki-laki itu berlalu pergi, saat melewati Shaka ia sengaja membenturkan bahunya ke bahu Shaka. Sayangnya Shaka tidak bergeming, posturnya lebih kokoh dari Dion.
Buk!!! Laki-laki itu juga memukul meja untuk melampiaskan kekesalannya. Tidak ada yang berbicara sampai kemudian laki-laki itu pergi begitu saja.
__ADS_1
Setelah Dion pergi, suasana pun riuh kembali. Masing-masing melanjutkan aktivitasnya menikmati makan siang mereka.
“Sebaiknya lo di periksa ke ruang Kesehatan,” saran Shaka pada Zaidan. Benturan di punggung Zaidan cukup keras dan khawatir terluka.
“Lo gak usah ikut campur,” pesan Zaidan sebelum kemudian laki-laki itu pergi meninggalkan orang-orang yang mencemaskannya termasuk Gayatri.
****
Siang itu, Gayatri dan Zaidan pulang bersama-sama. Gayatri melajukan motornya di depan dan Zaidan mengikutinya dari belakang. Ia ingin memastikan kalau Dion tidak datang lagi untuk mengganggu Gayatri.
Perjalanan setengah jam itu mereka tempuh dengan lancar. Gayatri berhenti lebih dulu dan Zaidan ikut menepikan motornya.
“Gue mau bicara sebentar sama lo,” ucap Zaidan.
Gayatri melepas helmnya dan terduduk di atas jok skuter matiknya. Bersiap menyimak benar apa yang akan diucapkan Zaidan padanya.
Terlihat Zaidan yang menghela napasnya dalam seraya menatap Gayatri penuh kecemasan. “Aya, sebaiknya lo jangan terlalu nunjukkin rasa takut lo sama si Dion. Ya memang gue gak tau apa yang terjadi antara lo sama Dion, tapi, semakin lo terlihat terintimidasi, dia akan semakin ganggu lo. Buruan balik lagi jadi Gayatri yang gue kenal. Gayatri yang tegas dan berani. Rasya udah pergi, lo terpuruk pun dia gak akan balik lagi.”
Zaidan berujar denan sungguh. Ia menatap lekat sepasang mata indah milih Gayatri. Sedikit bergoyang seperti akan menangis ketika Zaidan mengingatkan kalau Rasya sudah pergi dan tidak akan kembali.
“Lo harus berjuang ngelawan rasa takut lo. Walau pun lo sedih kehilangan Rasya, tapi lo harus tetap melanjutkan hidup lo. Lo pikir si Rasya bakal seneng liat lo kayak mayat hidup gini? Hidup segan mati tak mau. Gak akan! Yang ada dia malah bakalan sedih!”
Lagi peringatan Zaidan terasa seperti tamparan keras bagi Gayatri, membuat mata gadis itu benar-benar berkaca-kaca dan siap meneteskan bulir air mata di sudut matanya yang tajam.
“Gue khawatir sama lo, gue juga ingin lo baik-baik aja. Dan gak selamanya gue bisa jagain lo seperti pesan abang lo. Mau gak mau, suka gak suka, lo harus mulai bangkit. Lo kuat Aya. Lo pasti bisa.” Zaidan menepuk bahu Gayatri.
Gayatri hanya tertunduk lesu, dalam hatinya ia membenarkan ucapan Zaidan.
“Lagi ngapain lo berdua?!” tanya Mira yang keluar dari kedainya.
Gayatri dan Zaidan sama-sama menoleh pada Mira yang menatapnya penuh selidik.
“Apaan tuh ada air mata?” tanya Mira yang menatap Gayatri dengan tajam.
****
__ADS_1