
Shaka mengangguk pasti. “Hal itu yang bikin gue di skorsing. Awalnya gue juga gak paham kenapa masuk ke ruang arsip bisa menjadi pelanggaran serus dan bikin gue sampe di skors. Tapi sekarang gue paham. Pihak sekolah menyembunyikan beberapa identitas siswa yaitu Rasya, lo dan Dion. Gue belum mastiin identitas Dewa dan anak genk lo lainnya, tapi dari situ terlihat kalau pihak sekolah lagi menyembunyikan sesuatu.”
“Apa mungkin sekolah juga terlibat dalam masalah ini?”
“Gue gak berani berasumsi. Tapi patut untuk kita cari tau, mengingat bokap Dion adalah penyumbang dana terbesar di sekolah ini dan orang yang paling berpengaruh. Gak ada salahnya kita nyari tau kan?”
Gayatri mengangguk setuju. “Terus kita harus mulai dari mana? Gue ngerasa peer kita terlalu banyak Shaka.” Gayatri mulai terlihat pesimis, tidak terbayang sama sekali bagaimana ia mengurai semua benang merah yang kusut ini.
“Yang harus kita cari tau dulu, kenapa pelaku ngincer Rasya? Apa rahasia yang Rasya simpen dari lo? Kalau dia sampai ketakutan melihat orang itu, bukankah berarti Rasya pernah ngeliat orang itu sebelumnya? Apa Rasya pernah cerita sesuatu sama lo?”
Gayatri tampak berpikir dalam, ia berusaha mengingat setiap moment pentingnya bersama Rasya. “Dia gak pernah cerita hal yang aneh sama gue. Cuma, ada satu hal yang pernah dia larang ke gue, sampe dia marah besar,” ucap Gayatri tiba-tiba.
“Apa?” Shaka sampai membalik tubuhnya menghadap Gayatri.
“Sewaktu gue pulang dari Bromo sama Rasya, tiba-tiba dia marah sama gue karena gue upload foto liburan gue sama Rasya di akun ig gue. Dia gak bilang alesannya apa, yang jelas dia nyuruh gue buat hapus semua foto itu.” hanya ingatan itu yang terlintas di pikiran Gayatri saat ini. Ia ingat persis bagaimana marahnya Rasya saat itu karena Gayatri mengupload foto liburan mereka tanpa izin.
“Boleh gue liat fotonya?” Shaka semakin penasaran.
Gayatri segera mengeluarkan ponselnya. Foto-foto itu tersimpan rapi di galerynya. Ada sekitar empat foto yang Gayatri tunjukkan pada Shaka.
Ponsel itu kini berpindah pada Shaka. Ada satu foto saat mereka sedang di bukit teletubis Bromo dengan padang rumputnya yang hijau, foto saat di kawah Bromo, area penajakan satu dan terakhir di depan kemah mereka.
Shaka memperhatikan satu per satu foto itu, entah misteri apa yang ada di foto ini sehingga Rasya melarang Gayatri menguploadnya. Padahal foto-foto ini sangat indah dan Rasya tersenyum indah di foto tersebut.
__ADS_1
“Cuma empat foto ini?” tanya Shaka untuk meyakinkan.
“Iya, waktu itu gue upload foto ini barengan dalam satu feed, terus Rasya nyuruh gue buat hapus aja postingannya. Jangan upload foto-foto ini. Gue gak tau kenapa, perasaan gak ada yang aneh, tapi dia sampe bentak gue gara-gara gue nanya alesannya.”Gayatri masih mengingat persis bagaimana marahnya Rasya saat itu. Laki-laki yang selalu terlihat tenang itu sampai meninggikan suaranya pada Gayatri.
Shaka pun merasa aneh karena ia tidak pernah mendengar adiknya marah apalagi sampai membentak. Benar-benar bukan seorang Rasya.
“Apa karena foto yang ini backlight ya? Tapi masa gara-gara masalah sepele doang?” tanya Gayatri pada foto yang di ambil di depan kemah.
“Menurut gue fotonya masih lumayan. Walau pun back light tapi pemandangannya masih bisa di nik-ma-ti,” suara Shaka berubah pelan dan tersendat-sendat saat ia memperhatikan foto itu dengan lebih detail.
Ia memperbesar foto itu untuk melihatnya lebih jelas lagi. Ada yang janggal dengan foto ini. Foto ini memang back light, tapi ada cahaya yang memantul pada kamera bukan berasal dari cahaya matahari. Menyilaukan dan saat di perbesar, “Akh sial!” dengus Shaka.
“Kenapa?” Gayatri ikut kaget.
Shaka tidak lantas menjawab, ia membuka tabnya dan melihat gambar liontin milik para pengedar narkoba yang ia tangkap. Sepasang mata Shaka memperbandingkan dua gambar itu dan ada satu kesamaan, titik merah dan kemilau putih yang membias di foto, bukan bagian dari cahaya matahari, melainkan pantulan dari kalung yang tidak sengaja terpotret.
“Itu orang ya Shaka?” tanya Gayatri yang membulatkan tangannya.
“Iya, masalahnya ada di tiga orang yang ikut terpotret ini, terutama yang mengenakan kalung ini,” sahut Shaka dengan yakin.
Shaka segera mengirim foto itu ke tabletnya, lalu mengubah kontras warna dari foto tersebut. Semakin lama semakin terlihat tiga sosok orang yang berada di bawah pepohonan. Satu orang yang berdiri di tengah, sosoknya tidak jauh berbeda dengan yang diceritakan petani singkong itu.
Mata Gayatri ikut membulat saat melihat orang-orang yang berpakaian serba hitam dan memakai topi. Kalung titanium itu juga melingkar di lehernya. Sementara dua orang lainnya sedang berjabat tangan. Seperti habis membuat sebuah kesepakatan.
__ADS_1
“Lo berpapasan sama orang-orang yang mencurigakan gak waktu ke Bromo?” tanya Shaka penuh selidik. Ia masih berusaha mengubah-ubah kontras foto agar terlihat semakin jelas.
“Nggak. Banyak orang yang gue temui, tapi sesama pendaki. Gak liat yang rapi kayak gini, kecuali waktu di tempat perisirahatan, itu pun sebelum gue sama Rasya naik.” Gayatri mencoba mengingat kejadian saat di Bromo.
Shaka masih berpikir dalam, apa mungkin hanya karena foto ini orang-orang itu masih mengincar Rasya?
“Apa ada yang tau lo sama Rasya ke Bromo?” Shaka ingin memastikan.
“Emm, paling anak-anak genk motor gue doang.”
“Dion tau?”
“Tau lah. Orang tadinya dia mau ikut, tapi di larang sama bokapnya.” Jawab Gayatri yang bersamaan dengan terhentinya pencarian Shaka saat melihat jam tangan yang melingkar di tangan salah satu dari tiga orang tersebut.
Shaka melakukan tangkapan layar pada foto tersebut untuk mencari tahu tentang jam tangan itu. Pria berwajah oval itu terdiam untuk beberapa saat, berusaha mengingat siapa orang yang pernah memakai jam tangan dengan bentuk seperti ini.
“Kenapa?” tanya Gayatri yang kebingungan.
“Lo punya foto bokap Dion?” tanya Shaka kemudian.
“Ada, di akun medsos perusahaannya.” Gayatri segera melakukan pencarian dan akun itu sidah ia dapatkan. “Ini,” diberikannya benda pipih miliknya pada Shaka.
Shaka segera memeriksanya, ada banyak foto di sana, tetapi foto sosok ayahnya Dion tidak lah banyak. Laki-laki itu pernah menjadi salah satu model di majalah bisnis dan itu cukup membuat Shaka meyakini sesuatu.
__ADS_1
“Oh, I got this!” ucap laki-laki itu.
****