Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Penyelidikan langsung


__ADS_3

Sejoli berlabel pasangan baru itu saat ini sedang menikmati makan siangnya di kantin. Shaka dengan mie ayamnya dan Indah dengan pastanya. Dua budaya yang kontras menyatu di meja yang sama. Sesekali Indah mengusap dagu Shaka saat bumbu sisa mie ayam menciprat di dagu pria itu.


“Thanks,” hanya itu sahutan Shaka tanpa ada niatan melakukan hal yang sama pada Indah.


“Apa sih yang nggak buat lo,” Gadis bermata kecokelatan itu tersenyum manis pada Shaka. Shaka membalasnya sembari meneguk air kemasan dalam botol.


“Nanti siang, kita ke rumah Dion. Tuh anak sepulang sekolah biasanya gak ada di rumah. Lo mau ke sana pas dia gak ada kan?” bisik Indah seraya mencondongkan tubuhnya pada Shaka.


“Iya, jam berapa?” Shaka begitu penasaran. Ia menghentikan sejenak kunyahannya.


“Jam dua siang. Gue udah pesen kue yang mau gue bawa buat nemuin nyokapnya Dion. Sebagai gantinya, sabtu besok lo traktir gue nonton. Bisa?” pinta Indah dengan penuh harap.


“BISA!” Shaka menyahuti dengan penuh keyakinan.


“Good!” Indah tersenyum senang. Ia tidak sadar kalau Shaka sedang memanfaatkannya.


Dua orang ini makan dengan cepat. Shaka sudah tidak sabar menunggu siang ini, ia akan segera melancarkan aksinya.


Sesuai permintaan, siang hari Shaka mengantar Indah ke rumah Dion. Seorang wanita bersanggul khas bangsawan menyambut mereka.


“Tante apa kabar?” sapa Indah saat dua wanita itu saling berangkulan.


“Kabar baik. Indah apa kabar? Kok tambah cantik aja sih?” Wanita yang katanya bernama Deby itu memeluk Indah dengan erat.


“Aku juga baik tan. Oh iya kenalin, ini Shaka, pacar Indah.” Indah memperkenalkan Shaka dengan bangga sesaat setelah melerai pelukannya.

__ADS_1


“Oh, iya… wah udah punya pacar aja,” ungkap Deby seraya mengulurkan tangannya untuk di salimi oleh Shaka. Pipi Indah merona merah dengan senyum yang tersimpul.


“Salam kenal Tan, saya Shaka.” Shaka memperkenalkan dirinya dengan sopan. Harus Indah akui kalau sikap Shaka pada orang tua memang begitu santun.


“Iyaa salam kenal juga. Tante seneng liat kalian main ke sini. Sering-sering dong main ke sini, biar tante gak kesepian. Kalau Dion, mana pernah bawa cewek ke rumah, kerjaannya maiiinn terus,” keluh ibu dua anak itu.


“Iya Tan, nanti Indah sering-sering deh main ke sini. Oh iya, ada salam dari Mami buat tante,“


“Salam balik ya… tante denger mami kamu sama temen-temennya lagi liburan ke paris ya?” tanya Deby yang membawa Indah dan Shaka masuk ke dalam rumahnya.


“Iyaaa, biasa tan, sama temen-temen sosialitanya. Katanya sekitar dua minggu di paris, udah gitu mau ke turki. Udah kayak abege aja, jalan-jalan mulu,” keluh Indah tidak paham.


“Hahahaha… ya wajar, namanya juga di manja suami. Mau ngapain lagi coba, anak-anaknya udah besar, gak ada kesibukan berarti, ya mending menyenangkan diri sendiri kan?” langkah Deby membawa Indah dan Shaka ke gazebo belakang rumahnya. Sebuah taman menyambut mereka dengan sebuah kolam ikan kecil dihiasi berbagai bunga yang cantik.


“Iya sih tan, cuma kadang aku kesepian. Dia rumah paling sama Papi doang. Itu juga adanya kalau malem aja. Ya gini deh, nasib anak bungsu yang kakaknya udah nikah semua .” Entah keluhan atau rasa jumawa yang sedang Indah tunjukkan.


"Hhahaha.. sabar yaa... makanya sering-sering aja main ke sini. Kita juga bisa ketemu di luar kalau mau jalan bareng." Deby memang cukup ramah, mungkin karena mereka satu circle.


“Permisi Tan, saya boleh numpang ke toilet?” tanya Shaka tiba-tiba. Ini alasan yang ia buat agar bisa melancarkan misinya.


“Oh boleh dong. Masuk ke rumah, terus nanti Shaka belok ke kanan aja, ada kamar mandi di sana,” terang Deby tanpa rasa curiga.


“Siap Tan, terima kasih.” Shaka menepuk bahu Indah sebelum kemudian berlalu pergi.


Dengan alasan pergi ke toilet, Shaka memilih mencari kamar Dion. Di rumah yang luas ini, bukan hal yang mudah untuk menemukan kamar seseorang. Setiap ruangan berpintu itu tampak sama, tidak ada bedanya.

__ADS_1


Shaka berjalan menuju tangga yang menuju ke lantai dua, “Ada yang bisa di bantu tuan?” tanya seorang pelayan yang melihat Shaka celingukan.


Shaka cukup terhenyak mendengar sapaan wanita muda tersebut.


“Oh ya, aku mau ke kamar Dion buat ngambil buku pelajaran yang Dion pinjam. Udah izin sih sama mamahnya, katanya langsung ke kamarnya aja. Kalau boleh tau, kamarnya sebelah mana ya?” Shaka dengan lihai memberi alasan.


“Kamar Den Dion di atas, mari saya antar,” tanpa rasa curiga pelayan itu langsung memberi bantuan.


“Okey, makasih.” Shaka seperti berada di atas angin, peluangnya terbuka lebar untuk mencari bukti sebanyak mungkin. Ia segera naik ke lantai dua mengikuti langkah kaki sang pelayan. Ada sekitar empat pintu di lantai dua ini. Pelayan itu membawa Shaka ke kamar yang ada di ujung lalu berhenti di depan sebuah pintu berwarna putih.


“Ini kamar den Dion. Buku pelajaran biasanya di simpan di rak samping meja belajarnya,” ungkap Wanita itu sambil tetap menunduk sopan pada Shaka.


“Iya terima kasih Mba. Saya masuk dulu, kalau bingung nanti saya telepon Dion aja.” Shaka berusaha terlihat sesantai mungkin, seolah ia dan Dion sangat dekat.


“Baik den. Kalau aden perlu sesuatu, panggil saya saja.” Pelayan itu dengan sopan menimpali.


“Iya,” sahut singkat Shaka.


Laki-laki itu segera masuk sesaat setelah pelayan pergi dari hadapannya. Ia mulai menyisir seisi kamar Dion tanpa meninggalkan jejak apa pun. Kamar Dion cukup luas, pencarian Shaka di mulai dari permukaan Kasur. Mencari helaian rambut yang mungkin jatuh, tetapi sepertinya tidak ada.


Shaka memilih masuk ke kamar mandi, mengambil sikat gigi milik Dion dan memasukkannya ke dalam plastic. Buku yang ada di atas meja belajar ia periksa dengan menggunakan sebuah alat yang mengeluarkan sinar UV berwarna kebiruan yang ia keluarkan dari dalam tasnya. Ia periksa dengan benar kemungkinan adanya sidik jari Dion.


Benar saja, ada banyak sidik jari Dion di meja itu. Shaka mengambil sample sidik jari Dion dengan alat seadanya yang ia bawa. Selotip transparan yang menjadi andalannya. Selesai menemukan dua hal itu, Shaka masuk ke dalam sebuah ruangan yang berbentuk seperti walk in closet. Ia hendak mencari sepatu yang mungkin memiliki sol sepatu sama dengan jejak yang ia temukan.


“Gila, banyak banget!” seru Shaka saat ia melihat jejeran sepatu yang tertata rapi di salah satu sudut.

__ADS_1


__ADS_2