Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Menghadapi serangan


__ADS_3

Sebuah godybag oranye bertuliskan 'Kedai Soto Mpok Mira' tergantung di stang motor milik Gayatri. Gadis berambut panjang ini dalam perjalanan untuk mengantar pesanan soto milik langganannya. Di temani angin malam yang dingin dan menerbangkan helaian rambutnya yang sebagian tidak terikat, gadis ini melajukan motornya menuju alamat rumah yang cukup jauh. Gayatri harus mengantarnya karena pelanggannya sedang kurang enak badan. Pria tua itu memesan sekitar tiga porsi soto dan ingin segera di antar untuk lauk makan malam.


Masuk ke sebuah kompleks perumahan mewah, rumah pelanggan setia itu berada di ujung kompleks. Rumah paling besar yang berjarak sekitar empat rumah dari rumah yang pernah Gayatri masuki. Suasana di area ini memang sudah sepi. Sebagian penghuninya adalah pekerja kantoran, ini jam istirahat mereka dan tentunya mereka ada di dalam rumah masing-masing.


Sekitar empat menit kemudian Gayatri tiba di depan rumah mewah tersebut. Seorang ART sudah menunggunya di depan gerbang. Gayatri menghentikan laju motornya dan segera turun untuk menyerahkan pesanan sotonya.


“Makasih banyak Neng Aya. Maap udah ngerepotin. Bibi teh gak ada yang anter, mau pake ojek online juga gak tau caranya, jadi kepaksa minta sotonya dianterin sama neng Aya,” ucap wanita paruh baya tersebut dengan logat sundanya yang lembut.


Seperti biasa, Gayatri tidak menimpalinya. Ia segera menyerahkan godybag itu dan menerima uang bayarannya. Transaksi mereka tidak lama, ART itu segera masuk, karena tuan rumahnya sudah menunggu hendak makan malam.


Gayatri tidak berlama-lama dan segera pergi dari rumah itu. Ia menuju jalan yang sama untuk pulang, yaitu jalan memotong yang biasa ia lalui. Laju motor matiknya harus terhenti saat ternyata ada sebuah truk sampah yang baru saja tiba dan akan mengangkut sampah dari bak penampungan. Jalan yang harus Gayatri lewati pun tertutup. Terpaksa ia harus memutar arahnya dan melewati jalanan utama.


Sepeda motornya berbaur dengan kendaraan lain yang cukup ramai. Area ini biasa dilalui orang-orang yang ingin pergi ke salah satu mall besar ibukota. Sekitar sepuluh menit Gayatri melaju di jalanan yang lebar itu sebelum kemudian harus berbelok menuju jalanan yang lebih sempit lagi sepi.


“Akh sial!” dengus Gayatri dalam hati, saat melihat sekumpulan genk motor yang sedang berkumpul di pertigaan menuju rumahnya.


Mereka yang mengenali Gayatri, segera memindahkan motornya, sengaja berbaris untuk menutupi jalan yang akan dilewati Gayatri. Suasana di pertigaan ini tergolong sepi, di banding jalan utama. Itu mengapa Gayatri malas melewati jalan ini terutama di malam hari. Karena kemungkinan genk motor ini akan berkumpul di sini untuk memalak anak-anak muda yang lewat.


Seorang laki-laki melambaikan tangannya pada Gayatri dan memintanya berhenti. Terpaksa Gayatri menurut dan menghentikan laju motornya.


“Selamat malam tuan putriiiii….” Sapa seorang ketua genk motor yang cukup mengenal Gayatri. Ia mengangguk sopan sebelum kemudian menghampiri dan memegangi head lamp motor Gayatri agar tidak menyilaukan matanya yang sedang mabuk.


“Apa dunia masih sepi? Kok gue gak denger suara?" Laki-laki itu mengucek telinganya, menyindir Gayatri yang hanya diam. "Halaawww, ada orang di sini?” Laki-laki itu mengulang ejekannya dan disahuti tawa oleh teman-temannya.


Gayatri tidak menimpali, membuat laki-laki itu menyeringai tipis dengan tatapan yang menyebalkan. Teman-temannya asyik terkekeh, menyaksikan ketua genk mereka berhasil mengganggu seorang Gayatri yang cukup mereka kenal.


Laki-laki itu berjalan sempoyongan ke samping Gayatri, memegangi sebelah stang motor yang sedang digenggam Gayatri. Sengaja memang, agar menyentuh tangan gadis itu. Gayatri segera mengibaskan tangannya, membuat laki-laki itu merasa tertantang dan mendekatkan wajahnya pada Gayatri.


Sepertinya mereka sedang pesta minuman keras, karena bau alkohol tercium jelas dari hembusan napas laki-laki itu. Beberapa botol minuman yang berjejer rapi di trotoar jalan, bekas mereka tenggak.


“Lo kemana aja? Kok makin cantik aja sih?” dengan berani laki-laki itu mencolek dagu Gayatri.


Gayatri segera menepisnya dan memalingkan wajahnya dari laki-laki itu. Usianya lebih tua dari Gayatri, mungkin sekitar dua puluh lima tahunan.


“Hehehehe… sok jual mahal lo.” Laki-laki itu menunjuk-nunjuk Gayatri dengan telunjuknya yang melengkung dan gemetar. “Gue inget banget waktu si Galih bilang, adeknya bakal jadi penerus dia. Tapi, mana ada seorang penerus bisu kayak gini! Cantik sih, tapi bebebebebebe....” ledek laki-laki itu, mencontohkan Gayatri yang tidak berbicara.


“Hahahahahaha….” Teman-temannya menyahuti dengan suara tawa yang keras.

__ADS_1


Gayatri tidak ambil pusing, ia masih tetap memalingkan wajahnya dari laki-laki itu. Bau minuman dari mulut pria tersebut terlalu menyengat dan membuatnya mual.


“Lo udah gede, udah bisa dipacarin. Mau gak jadi pacar gue. Bang Ale! Ale nih bos!!!!” pamer laki-laki itu seraya menepuk dadanya bangga dihadapan Gayatri.


“Terima! Terima! Terima!" seru teman-temannya dengan diiringi tawa. Laki-laki bernama Ale merasa di atas angin, ia mengulurkan tangannya pada temannya dan dengan sigap salah satu temannya memberikan botol minuman pada Ale. Laki-laki itu tersenyum puas sambil menatap Gayatri lantas meneguk minuman itu hingga habis setengahnya.


“Cobain, ini seger banget. Pikiran lo bakalan happy, gue jamin.” Ale menyodorkan botol minumannya pada mulut Gayatri, terus memaksa meski Gayatri menepisnya.


“BRENGSEK!!! MINUM AYA!!” seru laki-laki itu. Kesal dengan penolakan Gayatri, ia cengkram dagu gadis itu dan ia paksa untuk meminum minuman keras itu.


Dengan serta merta Gayatri melepaskan tangannya dari stang motor yang sedang ia pegangi. Ia balas mencengkram tangan laki-laki itu dengan erat lalu memelintirnya dan mendorong laki-laki itu menjauh darinya.


“AKH! SIAL NIH PEREMPUAN!” seru Ale yang meringis kesakitan sambil memegangi tangannya yang di pelintir Gayatri.


Tidak tinggal diam, Gayatri melanjutkan perlawanannya. Ia turun dari motornya dan berdiri tegak berhadapan dengan laki-laki itu.


“Beresin cewek ini. Bikin dia gak sadar dan bawa ke gudang!” seru Ale yang memberi perintah pada ke delapan anak buahnya.


Seperti di beri semangat, anak buah Ale kompak menyerang. Satu per satu melayangkan pukulannya pada Gayatri. Pada pukulan pertama, Gayatri masih bisa menghindar, ia balas menendang laki-laki itu hingga jatuh tersungkur.


Laki-laki kedua ikut menyerang, hendak memukul Gayatri dengan sebuah balok, namun Gayatri segera menahannya dengan kedua tangan yang tersilang di depan wajahnya, dengan gerakan yang cepat ia balas memukulkan balok itu pada laki-laki tersebut dan teman di sampingnya, hingga dua orang itu terpaksa mundur.


Menghadapi delapan laki-laki bukan perkara mudah. Mereka batu hantam menyerang seorang gadis. Beruntung sebuah sepeda motor melintas dan segera berhenti di tepian. Satu tendangan mengenai punggung Gayatri hingga gadis itu jatuh tersungkur.


Tidak menunggu lama, laki-laki itu segera melepas helmnya dan berlari untuk membantu Gayatri yang hendak di pukul dengan balok.


BUK!


Pukulan itu mengenai lengan laki-laki yang melindungi Gayatri. Meski lengannya terasa sangat sakit, ia tetap menahannya dan balas menendang perut laki-laki yang menyerangnya hingga terjengkang.


“Lo gak apa-apa?” tanya laki-laki itu yang tidak lain adalah Shaka. Ia menarik tubuh Gayatri agar segera bangkit.


Gayatri yang cukup terkejut, tidak sempat untuk menjawab sekalipun dengan anggukan. Ia segera melayangkan bogem mentahnya, memukul dengan menukik wajah laki-laki yang hendak memukul Shaka dari belakang. Kecemasannya pada Gayatri membuat kepekaan Shaka memudar.


Laki-laki yang dipukul Gayati langsung rubuh. “Wah, lo keren,” ucap Shaka yang baru tahu kalau Gayatri bisa melakukan perlawanan.


Dua orang ini sama-sama berdiri tegak, menghadapi anggota genk motor yang berbaris siap menyerang mereka. Beberapa di antara mereka sudah mengeluarkan benda tajam, memutar-mutar sebilah pisau di tangan dan siap mereka hunuskan entah pada Shaka atau pun Gayatri.

__ADS_1


“Lo kanan, gue kiri,” ucap Shaka dengan tatapan yang waspada pada musuhnya. Ia sengaja memilih kanan, karena dua orang bersenjata tajam ada di sana.


Gayatri hanya mengangguk, anggukan pertama yang membuat Shaka tersenyum. Anggota genk motor itu berlari bersamaan menyerang Gayatri dan Shaka. Saling melayangkan pukulan yang masih bisa di tahan oleh keduanya. Baku hantam itu tidak terelakan. Beberapa kali Gayatri memukul mundur anggota genk motor hingga rubuh, tapi mereka selalu bangun lagi seperti mayat hidup yang tidak mengenal rasa sakit dan menyerah.


Gayatri mulai kewalahan. Napasnya terengah dan tubuhnya berkeringat hingga rambutnya basah. Rambutnya terburai, terkena sabetan pisau dari salah satu lawannya. Sakha segera mendorong tubuh Gayatri menjauh saat pisau kedua mengarah pada gadis itu.


Seseorang memukul punggung Shaka dengan geer motor hingga mengaduh kesakitan, di waktu yang bersamaan satu orang kembali menyerang dengan pisau pada Shaka. Di luar dugaan, sebilah pisau berhasil menggores tangan Shaka hingga jaketnya robek dan tangannya berdarah.


Gayatri sampai terperangah melihat tetesan darah di tangan Shaka yang masih terbungkus Jaket. Teralihnya fokus Gayatri membuat ketua genk motor dengan mudah memukulnya menggunakan balok.


“AKH!” Gayatri melenguh kesakitan saat balok itu menghantam punggungnya, hingga kepalanya pusing berputar dan membuatnya jatuh terhuyung. Gadis itu berusaha bertahan dengan bertumpu pada satu tangan yang bertahan di tanah beraspal.


Melihat Gayatri yang berhasil di lumpuhkan, Shaka segera menghampiri. Wajahnya terlihat cemas melihat Gayatri yang meringis kesakitan.


“Lo gak apa-apa?” tanya Shaka seraya memegangi lengan Gayatri.


Gayatri hanya menggeleng sambil berusaha menahan sakitnya. Di waktu yang bersamaan, dua laki-laki berlari menyerang Shaka dari belakang dengan membawa botol minuman di tangannya.


“AWAS!!!” Gayatri refleks berteriak. Sayangnya terlambat, botol minuman itu sudah lebih dulu menghantam kepala Shaka hingga pecah berkeping-keping.


Untuk pertama kalinya suara Gayatri terdengar cukup keras di telinga Shaka, namun kemudian terredam bersamaan dengan kepala Shaka yang terasa pusing berputar. Waktu seperti merambat pelan, sangat pelan bersamaan dengan tetesan darah dari pelipis Shaka.


Dalam satu gerakan, gadis itu bangkit. Menjadikan tubuh Shaka yang berjongkok sebagai tolakan yang ia pijak lalu memutar tubuhnya di udara tepat di atas tubuh Shaka lalu menendang dua orang di belakang Shaka secara bergantian.


BRUK!!! Dua orang itu jatuh terjengkang, terkapar lemah di atas jalanan beraspal. Sementara sang gadis mendarat dengan sempurna di belakang Shaka dengan tatapan tajam dan menghujam di balik rambutnya yang berantakan dan menutupi wajahnya. Napasnya terengah-enggah, antara lelah bertarung atau marah pada orang-orang yang ada di hadapannya.


Sosok Gayatri benar-benar berbeda. Tidak hanya Shaka, Ale dan teman-temanya pun di buat kaget oleh serangan Gayatri yang tiba-tiba itu. Sorot mata Gayatri yang tajam seolah menunjukkan kalau jiwa gadis itu telah kembali pada sosoknya satu bulan lalu.


“MUNDUR!!” seru Ale pada teman-temannya.


Tidak ada yang berani mendekat pada Gayatri. Mereka kompak berangsur mundur, menarik tubuh temannya yang terkapar tidak berdaya setelah mendapat serangan hebat dari kaki Gayatri, tepat di dada keduanya. Sementara Shaka jatuh tersungkur di tanah, dengan darah yang menutupi sebagian wajahnya.


Dalam beberapa saat mereka segera naik ke atas motor mereka. Membawa temannya dalam boncengan dan meninggalkan satu motor yang tersisa begitu saja. Mereka pergi dari hadapan Gayatri dan hanya menyisakan kepulan asap knalpot di hadapan Gayatri dan Shaka.


Gayatri segera menghampiri Shaka, menarik tubuh lelaki itu dan menjadikan pahanya sebagai bantalan. Mata lelaki itu sudah nyaris tertutup saat semua perlahan gelap. Hanya suara samar-samar yang terdengar di telinganya.


“Bertahanlah,” kata itu yang terdengar di telinga Shaka sebelum kemudian laki-laki tu tidak sadarkan diri di pangkuan Gayatri.

__ADS_1


****


__ADS_2