
“Duhhh mereka mana sih?” batin Alya yang tampak gelisah. Gadis itu terus memandangi ke arah pintu masuk aula, memperhatikan siswa-siswi yang datang silih berganti seraya berharap Shaka dan teman-temannya menjadi salah satu di antara mereka.
Di aula saat ini para siswa sedang dikumpulkan dan menunggu kedatangan kepala sekolah beserta jajarannya. Di tangan masing-masing, erat memegangi ponsel yang katanya akan di razia. Semua hal yang menurut mereka rahasia, mereka sembunyikan, termasuk riwayat chat dan riwayat menjelajah dunia maya. Para siswa benar-benar gelisah, karena ini akan menjadi kali kedua mereka kehilangan akun media sosialnya. Entah seperti apa hukuman yang berbalut wejangan yang diberikan oleh kepala sekolah yang terkenal diktator.
Jika para siswa tengah gelisah karena takut kehilangan ponsel, Alya gelisah karena takut terjadi sesuatu pada Shaka dan teman-temannya. Mereka bilang sudah ada di jalan, tetapi sampai sekarang tidak terlihat batang hidungnya.
“Lo kenapa sih, gelisah banget? Nyembunyiin sesuatu ya lo di hape lo?” selidik Rima yang menyadari kegelisahan Alya. Ia menatap penuh selidik pada benda pipih yang di genggam Alya dengan erat.
“Ng-nggak kok.” Gadis itu mengingkari. Ponselnya ia sembunyikan di belakang punggung.
“Halah, paling juga ada video anu di hapenya. Secara orang yang belaga pendiem kayak dia, biasanya lebih....,” Winda sengaja tidak melanjutkan kalimatnya hanya mengangkat alisnya pada kedua temannya, isyarat agar menebak sendiri lanjutan kalimatnya.
“Hahahaha….” Mereka kompak tertawa. Bisa-bisanya mereka tertawa dalam kondisi seperti ini, membuat kesal saja.
“Kalian gak takut hape kalian di razia?” tanya Alya kemudian.
“Ngapain takut, hape gue ada banyak. Yang penting, akun gue udah gue hapus dari sini, terus udah gue bersihin juga isinya. Dari pada lo cemas begitu, mending lo bersihin dulu hp lo sekarang, jangan ada yang aneh-aneh. Chat yang berbau tentang sekolah dan obrolan grup kita, udah lo hapus kan?" Indah menatap Alya penuh kecurigaan.
"Udah!" Alya menjawab dengan cepat.
"Akh gue gak percaya! Sini, mana hape lo!” Indah mengulurkan tangannya meminta ponsel Alya.
“Gue bisa ngelakuinnya sendiri.” Alya enggan memberikan ponselnya. Ia memilih menghapus pesan-pesan itu sendiri. Dalam beberapa menit, sambil menahan napas, semua data di ponselnya akhirnya raib.
“Siniii!! Kasih gue! Gue gak mau ada chat yang tertinggal terus nanti bawa-bawa nama genk gue lagi!” Indah bersikukuh dengan tatapannya sinis. Direbutnya ponsel dari tangan Alya.
“Lo apaan sih?!” Alya kesal dengan tindakan kasar Indah, ia merebut kembali ponselnya.
__ADS_1
“Lo yang apaan!” seru gadis itu yang bersikukuh merebut ponsel di tangan Alya. Mereka pun berebut, saling mempertahankan ponselnya di tangan masing-masing, hingga tangan mereka memerah karena berusaha mempertahankan ponselnya.
“Lepasin gak?!” seru indah yang menyalak kesal.
“GAK!” Alya balas menyalak. Ia tidak mungkin memberikan ponsel itu pada Indah, karena khawatir Shaka menghubunginya.
“Ih lo ngeyel ya anjir!” dengus Indah. Wanita itu melirik teman-temannya dan mereka kompak merebut ponsel itu dari tangan Alya hingga terlepas. “Sorry, lo sendirian! Lo bukan akan genk pick me lagi, sana lo! iuhhh!!” Indah dengan tegas mengusir Alya.
Winda dan Rima pun kompak mendorong tubuh Alya hingga gadis itu nyaris jatuh. Alya sudah mengepalkan tangannya, kalau saja ia tidak berada di sebuah aula, mungkin ia akan menghajar anak-anak kecil yang menyebalkan ini.
Indah mulai memeriksa ponsel Alya. Membuka-buka menu pesannya juga gallery dan kontak. “Dih apaan ini bang Shaka? Lo manggil Shaka abang?” Indah segera menatap Alya dengan kesal. Tatapannya yang tajam menuntut jawaban atas pertanyaannya.
“Lo suka sama Shaka?” Rima menambahkan.
“Enggak!” kilah Alya yang berniat mengambil ponselnya, tetapi ketiga gadis itu mengibaskan dan menahan tangannya.
“Hahahaha… semua cowok ganteng dia panggil abang. Sok jadi adek-adekan nih anak. Ngareeeppp!!!” ejek Rima dengan bibirnya yang menipis mencibir.
Alya tidak menimpali, ia hanya menghembuskan napasnya kasar, hingga menerbangkan helaian rambut yang menutupi wajahnya. Indah memandangi gadis itu dengan sinis, “Sayang lo ke buru hapus semua chat lo. Padahal gue pengen tau, lo pernah chat apa aja sama abang Shaka,” ledek Indah seraya memberikan kembali ponsel tersebut pada pemiliknya.
Alya segera merebut ponsel itu, “Dia yang chat gue. Dia sering bilang, semangat Alya. Lo yang terbaik! Gitu, puas?” timpal gadis itu seraya berlalu pergi meninggalkan Indah dan teman-temannya.
“Heh brengsek lo ya!” seru Indah dengan telunjuk lentik menunjuk lurus pada Alya yang berjalan menjauh darinya.
Alya tidak menimpali, ia hanya tersenyum sinis sambil mengacungkan jari tengahnya pada Indah dan teman-temannya. Mata Indah dan teman-temannya sampai melotot kaget melihat tingkah gadis yang kemudian menghilang di pintu keluar aula.
“Nyari masalah tuh anak. Habis ini kita kasih dia pelajaran,” ujar Indah seraya bersidekap dengan penuh rasa angkuh. Alya tidak tahu dengan siapa ia berhadapan.
__ADS_1
Orang-orang yang di tunggu Alya, saat ini baru tiba di gerbang sekolah. Ada empat sepeda motor yang masuk ke gerbang sekolah.
“Pak, nitip ya. Buat disalurkan ke yang membutuhkan!” seru Zidan saat menitipkan tiga buah dus besar yang diberikan Deby. Entah mengapa ajang pura-pura itu malah menjadi nyata.
“Iyaa, siap!” seru petugas keamanan yang memeriksa isi dus yang ternyata baju bekas.
Motor-motor itu segera menuju tempat parkir. Tempat di mana Alya sedang menunggu mereka dengan gelisah.
“Bersihin chat kalian, kita lagi di kumpulin di aula, mau razia hape,” ujar gadis itu dengan tergesa-gesa, saat laju motor teman-temannya terhenti.
Zaidan dan teman-temannya pun segera melakukan pembersihan pada poselnya. “Anjir, chat gue banyak, jadi lama,” gumam Anton yang kesal.
“Pokoknya jangan ada yang tersisa, terutama obrolan kita di grup, soalnya bokapnya Dion ikut ngerazia hape kita.” Alya kembali mengingatkan, sementara pandangannya masih tertuju ke arah Gerbang.
“Shaka, David, Dewa dan Aya mana? Kok mereka belum nyampe?” gadis itu semakin gelisah.
“Mereka kayaknya masih di jalan, Si Aya dan yang lainnya kan harus nganterin dulu si Dion sama nyokapnya, terus ngambil motor. Gak mungkin mereka ke sini naik taksi,” terang Anton yang masih sibuk dengan ponselnya.
“Mereka keburu gak yah? Duh, khawatir gue.” Perasaan Alya semakin tidak karuan.
"Sedang apa kalian?!" seru sebuah suara bass. Alya dan teman-temannya refleks menoleh dan matanya membulat kaget saat melihat wakasek kesiswaan berdiri dihadapan mereka.
"Kenapa masih di sini? Mau kabur ya? Masuk aula!" seru laki-laki itu.
"Akh sial!" dengus Zaidan dengan kesal. Terpaksa ia mengikuti perintah wakil kepala sekolah tersebut. Mereka berduyun-duyun menuju aula yang berada di lantai satu.
Wakil kepala sekolah itu melihat ke sekeliling gerbang, tidak ada lagi siswa yang datang. Ia berjalan di belakang mengikuti para siswanya menuju Aula. Sesekali mereka berbisik, saling menoleh satu sama lain.
__ADS_1
"Yang cepet jalannya!" seru laki-laki itu. Para siswa itu langsung terdiam. Tidak ada yang berani berbicara. Dalam pikiran mereka mencemaskan hal yang sama, 'Bagainama nasih Shaka, Gayatri dan Dewa setelah ini?'