Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Pulang


__ADS_3

Mata Mira dan Barkah masih melotot tidak percaya saat ia melihat seorang laki-laki muda terduduk di hadapannya dengan tiang infus di samping kirinya. Mata berkantung kisut itu tampak berkaca-kaca dan melelahkan buliran air mata saat ternyata yang ia lihat benar-benar putra sulungnya.


Di pintu rumah Shaka, sepasang orang tua itu berjalan dengan tertatih-tatih menghampiri putranya yang selalu menunduk dan sesekali melirik takut pada orang-orang yang menghampirinya.


Mira sampai berlari untuk menghampiri lelaki muda itu lalu bertekuk lutut di hadapan Galih, kedua tangannya membekap mulutnya sendiri yang ingin berteriak melihat putra yang ia rindukan akhirnya pulang.


“Lo pulang? Hemh?” tanya wanita itu dengan suara yang gemetar menahan tangis.


Tentu saja Galih tidak menjawabnya, tangannya yang gemetar masih menggenggam tangan Gayatri yang tidak pernah ia lepaskan sejak gadis itu mengiyakan keinginannya untuk pulang. Pria ini hanya memiliki satu tumpuan, yaitu sang adik yang selalu ada di sisinya dan melindungi dari ketakutan yang dialaminya.


“Ini Enyak Bang, lo inget kan?” pancing Gayatri, agar laki-laki itu tersadar dari pikirannya yang dalam.


“Enyaakk….” Suara pria muda itu pelan saja dan disambut tangisan oleh Mira.


“Iyaakk… ini Enyak Galih… Enyak yang bawel dan suka neriakin lo kalau lo belum bangun. Ini Enyak yang gak bisa tidur karena kangen sama lo tapi gak punya nyali buat nemuin lo. Ini Enyak Galih, ini Enyaakk….” Tangis wanita itu pecah sambil memukul-mukul dadanya sendiri yang terasa sesak.


Di belakang sana, Barkah juga mengusap air matanya dengan kasar melihat sang putra yang pulang dalam kondisi menyedihkan seperti ini.


“Enyaakk… Enyaaakk…” suara pelan Galih itu begitu menggetarkan hati Mira. Putranya selalu menunduk, tetapi mengingat dirinya dengan baik.


Tanpa menunggu lama, Mira segera memeluk putranya dengan erat. Sangat erat hingga Galih menyembunyikan wajahnya dalam dekapan Mira yang menenangkan itu. Selama ini ia sendiri, penuh rasa takut, lingkungan seperti mengancamnya. Tetapi sekarang, ia merasa telah kembali ke tempat yang tepat, yaitu pelukan ibunya.


“Badan lo panas. Lo sakit, hem?” tanya wanita itu di sela tangisnya. Ia menangkup kedua sisi wajah putranya, juga memeriksa dahi dan leher putranya yang terlihat sanga kurus.


Galih tidak menjawab, ia masih antara mimpi dan nyata bisa merasakan kembali pelukan ibunya.


“Gimana bisa lo bawa abang lo pulang? Emang dibolehin sama dokter? Terus kenapa nggak pulang ke rumah kita, malah ke rumah ini? Ini rumah siapa?” tanya Barkah bertubi-tubi pada putrinya. Tangan kekarnya dengan lembut mengusap punggung putra yang ia rindukan.


“Nanti Aya certain Beh, Nyak. Sekarang tenangin diri dulu, jangan sentuh kepala Abang ya….” Hanya itu pesan Gayatri, tanpa melepaskan genggaman tangannya dari Galih. Perubahan emosi dalam diri Galih, bisa dirasakan dengan jelas dari genggaman tangannya.


Barkah mengangguk paham, tidak ada pilihan lain, selain menurut pada putrinya.

__ADS_1


Puas meluapkan kerinduan, kali ini tiga orang itu berkumpul di ruang keluarga milik Shaka. Galih ditempatkan di sebuah kamar dekat ruang keluarga itu dengan pintu yang sengaja di buat terbuka. Khawatir laki-laki itu memerlukan bantuan.


"Kenapa lo bawa abang lo kemari? Ini rumah siapa, kok gede banget?" tanya Mira sambil melihat sekeliling rumah dengan banyak area terbuka. Jarang sekali sekat yang memisahkan antar ruangan, membuat rumah ini terlihat sangat luas dengan penataan ruangan yang hangat. Lampu kekuningan menerangi ruangan ini, juga setelan sofa dan furniture lainnya yang di buat seaestetic mungkin.


“Malem Nyak, Beh,” sapa suara seorang laki-laki muda yang baru tiba dan langsung menyalimi Barkah dan Mira bergantian.


"Malem, kenapa lo di sini juga?" Keterkejutan Mira semakin bertambah saja.


Laki-laki itu hanya tersenyum, lalu duduk di samping Gayatri. Laki-laki bertubuh jangkung itu, baru kembali setelah menebus beberapa obat-obatan milik Galih


"Ini rumah Shaka Nyak, Beh." Gayatri yang menjawab dengan cepat.


"Ooohhh... Rumah lo gede banget, padahal lo tinggal sendiri. Nggak takut lo?" Mira sedikit mencondongkan tubuhnya pada laki-laki muda itu.


"Takut apa Nyak? Setan?" Laki-laki itu menjawab dengan santai.


"Ah lo ada-ada aja. Beneran, kenapa si Galih di bawa ke sini? Lo gak dimarahin dokter bawa dia balik?" Mira masih dengan rasa penasarannya yang tinggi.


Shaka dan Gayatri saling menoleh, entah seperti apa mereka harus memulai ceritanya yang mungkin akan sangat mengejutkan. Laki-laki itu tampak mengangguk, saat Gayatri terlihat ragu. "Hak lo buat jelasin sama Enyak dan Babeh," ucap Shaka dengan segaris senyum tipis. Gayatri hanya mengangguk lemah, sepakat dengan ucapan Shaka.


"Ada apaan sih ini? Lo berdua kenapa serius banget?" Mira menatap Gayatri dan Shaka bergantian.


"Iyaa, lo berdua jangan nakutin Gue. Kita berdua udah pada tua, kalau nanti jantungan gimana?" Barkah ikut mencondongkan tubuhnya ke arah Gayatri.


Gayatri terlihat menghela napasnya dalam, lalu menghembuskannya perlahan sebelum memulai ceritanya. Kedua tangannya saling memilin dan berusaha mengumpulkan keberanian untuk berbicara pada kedua orang tuanya.


"Abang, memang Aya bawa pulang karena Aya mau jagain dia. Untuk sementara, abang akan tinggal di sini, nemenin Shaka. Abang perlu lingkungan yang tenang dan Aya akan sering ke sini buat ngurusin abang." Satu penjelasan itu yang baru bisa Gayatri kemukakan.


"Tapi abang lo sakit Aya. Apa gak bahaya nitipin abang lo di sini? Gimana kalau abang lo ngamuk pas lo lagi gak di sini? Ini bakal ngerepotin orang," Mira melirik Shaka yang tampak tenang saja.


"Nggak ngerepotin kok Nyak. Lagi pula, saya gak ada temen di sini. Kalau siang hari, selama Aya sekolah, akan ada dua perawat yang jagain bang Galih di sini. Kata dokter, kondisi yang tenang dan perasaan aman, adalah hal yang paling dibutuhkan sama bang Galih. Jadi menurut Shaka, gak masalah bang Galih tinggal di sini," Shaka menambahkan untuk menenangkan sepasang orang tua itu.

__ADS_1


Mira dan Barkah saling menoleh, tangan mereka saling menggenggam dengan perasaan yang tidak bisa diutarakan. "Kalau aja gue masih kerja dan musibah itu gak menimpa keluarga kita, gue pasti ngasih rumah ternyaman buat lo sama anak-anak kita Mir," ucap Barkah dengan kalimatnya yang penuh nestapa. Ada banyak sesal dalam dirinya. Sesal karena ia tidak bisa menjadi sosok yang bisa diandalkan oleh keluarga kecilnya.


"Lo ngomong apa sih, keluarga kita bukan tanggung jawab lo doang. Walaupun lo kepala keluarga, tapi gue sama anak-anak gak mau cuma jadi beban lo doang. Kita harus leih bekerja keras, supaya bisa ngasih tempat yang berlindung yang aman nyaman buat anak kita, terutama Galih." Mira menimpali kalimat suaminya tidak kalah sedih.


Ada kalanya tom dan jery ini memang akur, tapi mengapa harus dalam suasana sedih begini?


"Lagi pula, ini bukan waktunya buat nyesel. Ini waktunya memperbaiki semuanya. Lo nangis darah juga gak akan bawa kita tiba-tiba ada di atas lagi. Kita masih harus usaha, gak ada yang bisa bertanggung jawab atas keluarga kita selain kita sendiri." Mira menegaskan kalimatnya.


Barkah tidak menimpali. Laki-laki itu hanya terisak sambil menunduk. Sungguh beban di pundaknya sangat berat, tetapi ia tidak mungkin menyerah.


"Nyak.. Beh... Keberadaan Galih di sini, gak jadi beban buat Shaka. Shaka harap, itu juga gak jadi beban buat Enyak, Babeh dan Aya. Lagian Shaka sendirian di rumah ini, seperti yang Enyak bilang, menakutkan tinggal sendiri di rumah sebesar ini."


"Kalau ada bang Galih kan, Shaka jadi ada temen. Lagi pula, menurut dokter, bang Galih udah beberapa hari ini kondisinya stabil. Yang penting, dikurangi hal yang bisa memicu ketakutan dan rasa sedihnya. Dia juga bisa minum obat secara teratur, jadi Shaka rasa akan aman aja," imbuh Shaka dengan penuh keyakinan.


Mira dan Barkah saling menoleh, entah bahasa isyarat apa yang mereka gunakan yang jelas keduanya mengangguk.


"Kalau Babeh yang jagain Galih pas kalian sekolah gimana? Kan biar Bebh juga bisa deket sama anak Babeh." Mata bulan milik Barkah menatap Shaka dan Gayatri bergantian.


"Gak masalah. Tapi yang bantu Enyak di kedai siapa?" Shaka balik bertanya. Bagaimana pun roda penghasilan keluarga Barkah harus tetap berputar.


"Gue bisa nyari pekerja. Banyak anak-anak muda yang butuh kerjaan. Sekarang, bukan cuma duit yang mesti di cari, tapi juga kesembuhan dan perhatian buat anak kita." Mira ikut mengamini saran suaminya.


"Gue udah dapet izin dari nyonya besar. Gimana, boleh gak?" Barkah terlihat begitu bersemangat.


"Boleh. Pintu rumah ini terbuka lebar buat Enyak sama Babeh. Cuma Shaka minta satu hal sama Enyak dan Babeh,"


"Apaan?" Sepasang orang tua itu segera merundukkan tubuhnya.


"Rahasiakan keberadaan bang Galih di tempat ini. Bukan untuk apa-apa, tapi demi keselamatan dan kenyamanannya. Jangan biarkan orang luar tau bang Galih di sini dan malah mengganggu proses penyembuhan Dia. Bisa kan Beh, Nyak?" pinta Shaka dengan sungguh.


Shaka dan Gayatri menghembuskan napasnya lega. Akhirnya ada jalan untuk melindungi galih tanpa menjauhkannya dari keluarga terdekat.

__ADS_1


*****


__ADS_2