Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Ungkapan


__ADS_3

Seperti bertemu dengan kawan lama saat Gayatri membuka terpal penutup motor dan tampaklah kuda besi berwarna hitam yang mengkilap di depan matanya. Darah Gayatri seperti mendidih merasakan aura panas sang petarung dari motor kesayangannya tersebut.


Tangannya mengepal kuat, sorot matanya tajam saat melihat head lampnya menyala terang, seterang sorot matanya yang dalam itu. Seluruh urat nadinya seperti berdesiran, jantungnya berpacu kencang merasakan aura jalanan yang selama dua bulan ini ia tinggalkan.


Akhirnya ia kembali ke jalanan, cara cepat mendapatkan uang yaitu dengan balapan. Dulu balapan hanya untuk menyenangkan ego seorang Gayatri yang hidup berkecukupan. Tetapi sekarang, ia sangat membutuhkan kemenangan di balapan ini, karena hadiah besar yang menanti.


“Harusnya lo jangan ngomong di grup kalau mau ada balapan.” Bisikan Anton pada Dewa di belakang sana. Gayatri bisa mendengar ungkapan kesal itu.


Namun bagi seorang Gayatri, ia sungguh sangat berterima kasih karena akhirnya ia memiliki jalan untuk tidak menggantungkan hidup sepenuhnya pada orang lain.


Harus ia akui kalau sebagian ucapan Alya ada benarnya, ia tidak boleh menyulitkan Shaka lebih dan lebih lagi. tidak membiarkan laki-laki itu terus mengasihaninya.


“Gue bawa motornya, kalau gak menang, utang gue, gue bayar pake duit hasil penjualan, tapi kalau menang, gue bakal bayar pake duit hadiah,” ucap Gayatri pada Anton.


Mendengar ujaran gadis tersebut, Anton segera mendekat. “Gue gak pernah nagih utang lo Ya. Gue juga gak berpikiran kalau lo bakalan melarikan diri dengan motor ini. Gue cuma khawatir sama keselamatan lo."


"Yang ikut balapan sekarang, anak laki semua dan cara main mereka kotor. Lo doang ceweknya. Mereka bisa aja bersikap kasar kayak lagi balapan sama laki-laki. Lo udah mikirin resiko itu?” Anton dengan segala rasa khawatirnya.


Gayatri tersenyum kecil, “Gue datang buat balapan, bukan buat ngelukain diri sendiri apalagi nyerahin nyawa di jalanan.” Ucapan Anton tidak bisa menyurutkan tekad seorang Gayatri.


“Okey, kalau itu keputusan lo, kita semua pasti datang buat dukung lo. Kita semua gak bisa bantu banyak selain ngingetin lo kalau lo harus berhati-hati, terus lo kalahin semua saingan lo.” Zaidan ikut berbicara, remaja bertubuh kurus itu berdiri di samping Gayatri dan ikut menatap motor sport milik sahabatnya.


Gayatri tidak menimpali, ia mencoba menunggangi kembali kuda besinya. Rasanya masih sama, aura jalanan jelas terasa dari sejak saat ia menggenggam handling stangnya.


Malam itu, sebelum bertanding Gayatri sempatkan untuk pulang ke rumah. Ia melihat kedainya masih buka dan Mira tampak sibuk melayani pelanggannya. Gayatri sengaja masuk diam-diam ke dalam rumah untuk mengambil beberapa peralatan balapnya. Jaket kulit dan deker yang paling penting untuk melindungi tubuhnya.


Hanya sekitar lima menit saja Gayatri berada di dalam rumahnya, ia segera pergi khawatir Mira melihatnya.

__ADS_1


“Do’ain Aya ya Nyak, maaf gak minta izin langsung,” batin gadis itu seraya memandangi sang ibu yang terlihat berpeluh di hari selarut ini. Ia bertekad dengan uang yang kelak ia dapatkan, ia akan membantu Mira membayar hutangnya.


Walau pun tidak sampai lunas, tetapi paling tidak usahanya bisa sedikit meringankan beban hutang orang tuanya.


“Si Aya ke mana ya? Kok belum balik juga? Apa masih di rumah?” tanya Barkah yang sudah beberapa kali menguap karena mengantuk.


Sore tadi, anak gadisnya tidak pulang bersama Shaka dan sampai malam begini belum kunjung terlihat batang hidungnya.


“Aya mungkin pulang ke rumah. Babeh nginep aja, temenin bang Galih. Shaka keluar dulu bentar, ada urusan.” Lelaki muda itu mengambil kunci motor juga helmnya setelah menerima pesan dari David. Ada hal yang harus ia periksa.


“Iyaaa, jangan lama ya. Jangan pulang malem-malem, tar lo masuk angin.” Hal itu yang Barkah pesankan seraya beralih menuju kamar Galih.


“Paling pagi Beh, biar aman,” sahut Shaka dengan santai.


“Gue gundulin lo kalau pulang pagi!” seru laki-laki itu seraya melotot dengan telunjuk mengacung memberi ancaman.


Shaka dibuat tertawa mendengar ujaran laki-laki itu. ternyata menyenangkan ada keluarga Gayatri di rumah ini, seperti memiliki keluarga.


“Makasih apaan? Perasaan tadi gue ngomel, bukan muji.” Barkah menatap Shaka dengan tidak mengerti.


Laki-laki itu tersenyum, lantas menghampiri Barkah. Ia berdiri di hadapan pria paruh baya itu dan menatap wajah keriput Barkah dengan penuh rasa syukur.


“Udah lama gak ada yang cemasin Shaka. Gak ada yang ngomelin Shaka kalau pulang telat. Gak ada yang manggil-manggil Shaka buat makan. Gak ada yang nanya mau makan sama apa? Gak ada juga yang nanya gimana di sekolah hari ini?"


"Tapi sekarang, Babeh ngasih perhatian itu buat Shaka. Makasih banyak,” ungkap laki-laki itu dengan penuh kesungguhan.


Barkah hanya menghembuskan napasnya kasar dengan tangis haru tertahan, ia paham benar perasaan sepi yang dirasakan lelaki muda yang memandanginya dengan perasaan yang entah.

__ADS_1


“Perhatian macam begitu sih hal wajar, kagak usah pake berterima kasij segala. Dah, pergi gih! Jangan pulang malem-malem.” Hanya itu sahutan Barkah seraya menepuk pipi kiri Shaka dengan tangannya yang lebar. Hatinya yang lembut merasakan keharuan dari ucapan Shaka.


“Okey Beh. Salim dulu Beh, biar selamat,” Shaka meraih tangan Barkah dan menyaliminya. Barkah menatap haru kepala Shaka yang menunduk mencium tangan keriputnya. Bagaimana bisa anak muda yang tumbuh sendirian ini begitu santun? ”Tangan Babeh masih bau amis,” ledek Shaka tiba-tiba.


“Ehhh sialan lo! Minggat sono! Kurang ajar emang, malah ngeledek!” seru Barkah seraya mengibaskan tangannya.


“Hahahahaha....” Shaka malah tertawa melihat amarah Barkah dan laki-laki itu pun ikut terkekeh.


“Sialan emang lo, udah sana berangkat. Katanya ada urusan. Gue mau nganyam bulu mata dulu.” laki-laki itu berlalu pergi seraya melambaikan tangannya.


“Iya Beh, semangat nganyamnya sampe jadi taplak meja.” Shaka mengepalkan tangannya ke udara untuk menyemangati Barkah.


Laki-laki itu sudah mengangkat kakinya hendak melepas sandal yang akan ia lempar pada Shaka. Shaka pun segera berlari pergi sambil tertawa-tawa.


“Brengsek emang itu bocah. Bikin gue sayang aja,” gumam Barkah seraya berjalan menuju kamar Galih.


Daun pintu berwarna putih itu di dorong oleh Barkah hingga terbuka. Ia mendapati Galih yang sudah terlelap. Saat di dekati, dahi lelaki muda itu tampak mengkerut dan berkeringat. Mengkhawatirkan sekali.


Di tepian ranjang saat ini Barkah terduduk, ia memandangi wajah Galih yang terlihat lelah dan ketakutan. Di usapnya titik-titik keringat itu dengan lembut.


Sungguh hatinya meringis menatap wajah pucat seperti tidak berdarah ini. Entah kapan putra kebanggannya ini akan pulih dan kembali menjadi Galih yang kuat seperti dulu.


“Kayak gimana pun keadaan lo sekarang, rasa sayang Babeh gak pernah berubah buat lo. Lo tetap anak kebanggan Babeh, kecintaan Babeh. Cepet sehat ya tong, Babeh kangen denger tawa lo,” batin Barkah dengan air mata yang berderai.


Tubuh laki-laki itu sampai berguncang karena menangis sesegukan. Sementara bibirnya ia katupkan, agar tidak mengeluarkan suara yang dapat mengusik tidur lelap putra kesayangannya.


“Tuhan, kalau boleh saya minta, jangan ambil nyawa saya dulu. Saya masih harus jagain anak saya yang satu ini. Kalau saya pergi, siapa yang jagain anak ini? Saya mohon Tuhan,” terselip do’a tulus dari lubuk hati Barkah yang paling dalam.

__ADS_1


Ya, satu hal yang selalu ia takutkan jika kemudian ia meninggal adalah, siapa yang akan mengurus putranya kelak? Bagaimana hidupnya nanti?


Do’a Barkah itu dilangitkan di malam yang kelam lagi sunyi. Hanya suara dengkuran halus yang terdengar bersahutan dengan suara detikan jam.


__ADS_2