
Banyak hal yang Shaka dapatkan hari ini, setelah melakukan penyelidikan langsung bersama Gayatri. Benar adanya bahwa keberadaan Gayatri telah membantu banyak dalam proses penyelidikannya. Bekerja sama dengan gadis itu membantu Shaka dalam mengurai benang merah yang semula sangat kusut. Banyak fakta yang terkuak dan tidak ia duga sebelumnya. Sepertinya Gayatri adalah partner yang tepat untuk menyelesaikan masalah ini.
Setelah mengantar gadis itu pulang, Shaka mengurung dirinya di ruang kerja. Saat ini Shaka memiliki banyak peer baru yang sedang ia tulis di white boardnya. Semua yang ia temukan hari ini pun ia catat di sana.
“Ini penemuan abang semua?” tanya David yang menemani Shaka mengulur benang merah kasus sang adik.
Laki-laki itu sengaja di panggil untuk membantunya memikirkan beberapa hal janggal. Mungkin saja semakin banyak kepala, maka semakin banyak simpulan yang bisa di ambil.
“Iya. Aku menemukan noda darah itu di dinding gudang dan karung yang menutup pintu keluar Rasya saat kabur dari gudang. Darah yang ada di dinding itu mengandung sidik jari Rasya, sementara yang ada di karung goni, tidak mengandung sidik jari sama sekali. Sepertinya benar kalau pelaku memakai sarung tangan,” terang Shaka seraya menatap white board yang sudah ia isi dengan banyak temuan barang bukti.
“Lalu, soal motif sol sepatu ini?” David memeriksa gambar sol sepatu yang di cetak dan selesai di periksa Shaka. “Sama dengan motif sol di dekat jenazah Rasya ya Bang?” Laki-laki itu menatap lekat kedua gambar yang Shaka cetak.
“Iya. Menurut pengakuan Aya, setelah orang-orang itu pergi membawa Rasya dan Galih, hanya tersisa dua orang polisi yang melanjutkan penyelidikan malam itu. Kemungkinan besar, pelaku tiba di tempat itu setelah dua polisi itu pergi.” Sahaka masih memikirkan kemungkinan itu.
“Atau dia mungkin salah satu dari dua polisi itu? Mungkin gak bang?” tanya David tiba-tiba.
Shaka langsung menoleh dan menatap sahabatnya. “Maksud kamu?” Shaka segera bertanya.
“Maksudku, gak mungkin kan dia membiarkan orang lain yang meriksa tempat itu lebih dulu? Atau dia memang mengenal dua oknum polisi itu dan memanfaatkan dua orang itu untuk nyari tau info temuan apa yang polisi itu dapatkan. Kedatangan dia ke tempat tergeletaknya jenazah Rasya, hanyaa untuk memastikan tidak ada barang bukti yang tersisa di sana.” Hal itu yang disimpulkan David saat ini.
“Kamu benar. Bisa saja orang itu punya akses untuk nyari informasi kan?” Mata Shaka sampai membulat menatap sahabatnya.
“Ya, bisa jadi.” David mengiyakannya.
Sesuatu mulai terpikir di benak Shaka. Ia segera mengambil ponselnya dan menghubungi Gayatri. Ada hal yang harus ia tanyakan.
“Lo udah tidur?” tanya Shaka saat suara Gayatri terdengar menjawab panggilannya.
“Belum, kenapa?” gadis itu masih terduduk di meja belajarnya sambil memandangi wajah Rasya di fotonya.
“Bisa kirim gue identitas pengacara yang pernah bantu kasus abang lo?” tanya Shaka dengan cepat.
“Harus gue maintain dulu sama babeh, dia yang nyimpen. Tapi kayaknya babeh udah tidur,” ujar Gayatri seraya menatap jam dinding yang sudah menunjukkan jam setengah satu malam.
__ADS_1
“Okey, gak masalah. Kasih tau gue saat lo dapet infonya.” Shaka terpaksa harus menunggu lagi.
”Hem,” hanya itu sahutan Gayatri. Dua orang itu sama-sama terdiam, tetapi tidak ada yang mengakhiri panggilan.
“Aya,” pangil Shaka.
“Hem,” lagi Gayatri menjawab singkat.
“Makasih untuk hari ini. Makasih udah berjuang ngelawan rasa takut lo. Gue percaya kalau bukan abang lo yang bunuh Rasya. Lo juga bukan penyebab kematian Rasya. Jadi, berhenti nyalahin diri lo sendiri. Kita pasti bisa nemuin pelaku yang sebenarnya.” Kalimat itu Shaka lontarkan dengan lancar pada Gayatri. Ia yakin kalau gadis ini belum bisa tidur karena rasa bersalahnya.
“Harus berapa lama lagi Shaka? Gue capek….” Suara Gayatri terdengar lirih, ada tangis yang coba ditahannya.
“Heeyy… Capek boleh, kita bisa istirahat sebentar. Tapi jangan ada pikiran buat behenti.” Suara Shaka terdengar tegas namun lembut di waktu yang bersamaan. Ia ingin menguatkan Gayatri.
“Kita gak boleh lupa kalau ada orang-orang yang nunggu hasil kerja keras kita. Ada Rasya dan Galih yang lagi nunggu keadilan buat mereka. Ada enyak dan babeh lo yang nunggu keluarganya utuh. Dan ada kita, yang gak akan ngebiarin ketidakadilan ini lewat gitu aja di depan mata kita.”
“Lo kuat Aya, kita bisa jalani ini sama-sama, saling percaya dan menguatkan kalau kita akan tiba ke tempat tujuan kita, tempat semua kebenaran yang tersimpan,” sepenuh hati Shaka menyemangati gadis itu. Tidak, ia juga sedang menyemangati dirinya sendiri yang beberapa kali nyaris putus asa dan menyerah.
“Tidur ya, besok kita ketemu di sekolah. Jangan terlambat,” begitu pesan terakhir Shaka.
“Iya, lama-lama lo bawel ya kayak kakek-kakek,” ungkap gadis itu seraya menyusut air matanya. Shaka benar, ia tidak bisa menyerah sekarang.
Shaka hanya tersenyum kecil mendengar omelan Gayatri. “Tidur yang nyenyak, istirahat yaa… malem Aya,”
“Malem Shaka,” timpal Gayatri. Tidak berselang lama, panggilan pun terputus. Gayatri tersenyum kecil seraya memandangi layar ponselnya. “Abang lo aneh! Bikin jantung gue gak bisa diem,” umpat Gayatri pada sosok Rasya yang tersenyum lebar di fotonya.
Gadis itu beranjak dari tempatnya lalu membaringkan tubuhnya di sana. Di peluknya guling lepek kesayangannya sambil berusaha memejamkan mata. “Iya, kita ketemu lagi besok,” ucap lirih bibir mungil Gayatri seraya mengeratkan pelukannya pada guling. Entah sejak kapan harapan akan bertemu kembali dengan Shaka membuatnya tenang.
“Ini apa bang?” tanya David setelah Shaka mengakhiri panggilannya. Laki-laki itu memandangi gambar kalung yang dibuat Shaka.
“Oh, menurut petani yang aku temuin, katanya laki-laki yang ada di tempat kejadian itu memakai kalung seperti itu. Emas putih dan ada liontinnya sangat menyilaukan dengan titik merah di tengah liontin.” Shaka menjelaskan sesuai dengan yang dikatakan petani itu.
“Bahannya titanium kali ya Bang?” tanya David yang memperhatikan lekat gambar itu.
__ADS_1
“Ya sepertinya begitu,” Shaka melanjutkan menulis temuannya hari ini.
“Aku kok rasanya gak asing ya sama gambar ini?” David masih bepikir dengan sepasang alis yang tertaut. Juga tangan yang mengusap-usap dagunya.
“Liat di mana?” tanya Shaka seraya menoleh. Ia segera menghampiri sahabatnya yang sedang berusaha mengingat.
“Abang inget gak ledakan bom di kantor perdagangan Berlin?” tanya David kemudian.
“Iya, kenapa?”
“Kalung pelakunya rasanya mirip dengan kalung ini. Kalau gak salah, di dalam kalung ini ada trackernya. Pemiliknya adalah gembong narkoba yang kita tangkap saat penyelidikan dua tahun lalu di Thailand. Abang ingat gak?” pikiran David semakin mengerucut.
Tanpa menjawab, Shaka segera duduk di depan komputernya. Ia memeriksa beberapa file laporan yang ia buat, khususnya file penyelidikan saat di Thailand.
“Akh sial!” dengus Shaka saat ternyata ucapan David benar.
Ia memperhatikan dengan seksama kalung itu, mirip dengan yang dideskripsikan petani singkong itu. Setiap anggota gembong penyalur narkoba ini pun memiliki tato yang sama, berbentuk naga yang mengelilingi sebuah prisma mirip berlian.
Shaka tersenyum menatap tajam layar komputernya saat sadar kalau ternyata musuhnya selama ini bukan orang sembarangan.
“Aku rasa, Rasya di bunuh bukan karena cinta segitiga antara Gayatri dan Dion dengan Galih sebagai excecutor, tapi karena dia melihat sesuatu. Dia melihat seseorang yang membuat dia lari saat berhadapan dengan Galih,” gumam Shaka dengan penuh keyakinan.
“Astaga! Ternyata masalahnya sebesar ini. Apa itu berarti Galih dan Gayatri juga sasaran berikutnya Bang?” tanya David.
Shaka langsung terhenyak. “Apa itu arti terror yang sering menyuruh Gayatri diam? Apa ada hubungannya dengan dokumen kesiswaan mereka yang hilang?” Pikiran Shaka dan David sama-sama mengerucut. Dua laki-laki ini saling bertatapan dengan isi pikiran yang sama.
“Ya, bisa jadi. Dia masih belum bertindak karena yakin Gayatri tidak akan mengatakan apa pun,” David menambahkan.
“SIAL!” dengus Shaka seraya memukul meja komputernya. Saat ia sadar, kalau tidak hanya Rasya yang diicar pelaku, tetapi mungkin juga Gayatri dan Galih. Atau mungkin Dion dan teman-temannya.
Lantas apa yang harus ia lakukan sekarang?
****
__ADS_1