
“Ini apa?” tanya Mira seraya melempar amplop cokelat ke atas meja. Tidak hanya satu melainkan empat.
“Bukannya tadi udah lo baca?” tanya Barkah yang menatap Mira dengan heran. Ia masih mengingat persis bagaimana reaksi Mira tadi. Berteriak histeris lalu tertawa sambil menangis sampai pengunjung kedai satu per satu kabur.
“Diem! Gue nanya sama anak lo. Sama dua anak ini.” Mira segera mencengkram bibir Barkah agar tidak bersuara.
Bibir Barkah terkatup paksa, tidak bisa berbicara. Hanya matanya saja yang memberi isyarat agar Gayatri segera membuka keempat amplop tersebut.
Ragu-ragu namun pada akhirnya Gayatri tetap membuka amplop itu. Amplop pertama cukup mengejutkan karena berisi surat panggilan untuk orang tua Gayatri dari pihak sekolah. Ia baca benar-benar isi surat panggilan itu.
Pihak sekolah memanggil orang tua Gayatri dengan alasan putrinya melakukan pelanggaran berupa tindakan indisipliner yaitu penggunaan akun media social yang jelas dilarang oleh pihak sekolah. Terlebih isi akun media sosial itu adalah tentang atraksi balapan Gayatri yang dinilai meresahkan dan memberi contoh buruk bagi teman-temannya.
Gayatri menoleh Shaka yang ikut membaca surat panggilan itu. Mereka berdua memang sudah menduganya kalau akan ada hal semacam ini.
“Ngapa lo berdua diem? Si Zaidan bilang lo juga ikutan balapan sama anak gue, iya?” seru Mira pada Shaka.
Shaka tidak lantas menimpali, ia hanya tertunduk menyesal telah membuat Mira kecewa. Padahal ia sudah berjanji pada wanita ini akan menjaga Gayatri dengan baik.
“Maafin Shaka Nyak….” Hanya itu yang diucapkan Shaka.
Mira tidak menjawab, ia hanya terisak seraya membuka amplop lainnya. Sungguh ekspresi yang tidak di duga oleh Mira.
“Duit balapannya lo pake buat bayar hutang-hutang gue kan?” tanya wanita itu dengan suara bergetar. Ia menunjukkan tiga bukti pelunasan hutang yang dikirimkan pihak yang meminjami Mira dan Barkah uang.
“Lo sialan emang. LO SIALAN!!!” teriak Mira seraya memukuli lengan Gayatri.
“Lo gue sekolahin biar jadi anak yang pinter! Sekarang lo malah kena teguran gara-gara ikut balapan dan lo pamerin sama semua orang di internet! Di mana otak lo Aya? Lo mau hidup susah kayak gue sama babeh lo? Lo mau selamanya jadi orang susah yang dihina orang? Lo mau masa depan lo suram?”
"Lo pikir gue seneng hutang gue lo lunasin, hah?!" Kali ini suara Mira seperti petir yang menggelegar. Matanya basah oleh air mata dengan bibir yang bergetar karena tangisnya.
“Gue gak butuh lo lunsin hutang gue! Lo cuma butuh lo belajar yang bener supaya lo bisa nolong diri lo sendiri. Kenapa susah banget sih lo, HAH?!!!” Mira bertubi-tubi memukuli lengan Gayatri, tetapi gadis itu tidak melawan. Ia biarkan saja ibunya menumpahkan semua kemarahannya.
“Lo apaan sih Mir! Berhenti gak! Lo jangan mukulin anak gue! Anak kita!” Barkah segera memeluk sang istri yang menangis sejadinya dengan kekesalan yang menggunung di hatinya.
“Gimana bisa gue berhenti? Anak lo kurang ajar! Gue hampir kehilangan anak pertama gue, sekarang dia malah nantang maut di jalanan. Lo gak sayang gak sih sama gue sama babeh lo? Lo mau gue hidup sengsara gara-gara kehilangan anak gue?”
“Gue gak masalah harus kerja banting tulang buat besarin lo berdua. Buat mastiin lo hidup aman dan nyaman. Berhutang ke mana-mana pun gue gak malu. Tapi jangan kasih gue ujian dengan masalah kek beginian? Gimana hidup gue kalau ada apa-apa sama lo berdua hah? GIMANA?! JAWAB GUE AYA!!!” teriak Mira di telinga Gayatri dengan tangisnya yang tidak terbendung.
Gadis itu hanya terdiam, tidak menjawab. Ia paham benar kecemasan ibunya dan sungguh ia menyesal. Air matanya menetes begitu saja, melewati pipinya yang putih lagi kemerahan.
__ADS_1
“ASTAGA MIRAA!!! LO NYAKITIN ANAK GUE! SI AYA SAMPE NANGIS!” Barkah akhirnya ikut kesal. Ia selalu ketakutan setiap kali melihat Gayatri yang menangis tanpa isakan. Ia takut jika mental putrinya kembali terpuruk. Ya, ia sangat takut.
Mira tidak menjawab, ia hanya menangis tersedu-sedu sambil menatap Gayatri yang tidak bergeming. Di raihnya tangan sang putri lalu ia peluk dengan erat.
“Enyak mohon, jangan balapan lagi. Enyak gak mau lo kenapa-napa. Enyak bisa mati kalau hal buruk terjadi sama anak Enyak. Lo paham kan Neng? Hah?” ujar Mira dengan suara terbata-bata di sela tangisnya.
Gayatri hanya mengangguk, ia pun sebenarnya takut setiap kali harus memulai balapan. Tapi keinginan untuk mengakhiri pederitaan orang tua dan kakaknya membuat ia nekad melakukan semua itu.
Di pintu kamar sana, ada Galih yang menatap nanar pemandangan menyakitkan di depan matanya. Suara teriakan dan tangisan Mira seperti alarm pengingat yang menyadarkannya. Keluarganya menderita dan itu karena dirinya. Lantas apa yang harus ia lakukan sekarang?
Galih tidak berani menemui keluarganya yang menangis berangkulan. Dengan langkahnya yang tertatih-tatih Ia memilih kembali ke atas ranjangnya dan membaringkan tubuhnya di sana. Menyelimuti tubuhnya yang gemetar dan air mata yang berderai.
“Enyaak, Beh, Ayaa… Maafin gue….” Batin laki-laki berrambut gondrong tersebut.
****
Kericuhan semalam, telah berakhir saat matahari terbit. Suara sapu yang beradu dengan paving blok mengalihkan perhatian Shaka yang baru turun dari kamarnya.
Suasana rumah begitu hening, hanya ada Barkah yang sedang menyapu halaman belakang, menyingkirkan dedaunan yang berjatuhan karena mengering akibat teriknya matahari dan angin yang lumayan kencang.
Sesekali laki-laki itu terbatuk saat debu dari paving blok terhisap olehnya. Shaka mempercepat langkahnya untuk menghampiri laki-laki paruh baya tersebut.
“Udeh gak apa-apa. Lo sarapan sana, Babeh udah bikinin telor ceplok. Ada susu juga. Maafin ya, Babeh gak bawa sarapan yang bener. Enyaknya si Aya lagi gak enak badan, gak bikin soto. Si Aya juga belum bangun.” Barkah sedikit mengibaskan tangan Shaka yang hendak mengambil alih sapu dari tangannya.
“Babeh udah sarapan?” tanya shaka kemudian.
“Udah gue mah gampang. Udah sana lo aja duluan,” Barkah tetap memaksa.
Dari kalimatnya seolah menegaskan kalau laki-laki ini sebenarnya belum sarapan, hanya saja ia mendahulukan sang tuan rumah.
Shaka tidak lagi protes, ia berangsur menuju meja makan dan melihat ternyata hanya ada dua telur mata sapi dan segelas susu. Sepertinya stok makananya habis.
“Beh, mau temenin Shaka jalan pagi gak?” tawar Shaka kemudian.
“Jalan ke mana?” tanya laki-laki itu.
“Ke mana aja, Shaka udah lama gak jalan santai.”
“Ya udah deh ayo.” Barkah menaruh sapunya lantas pergi ke dapur untuk mencuci tangannya. Ia juga mengusap wajahnya dengan air segar lalu bergegas menghampiri Shaka. “Babeh cek Galih dulu ya bentar. Tadi dia lagi tiduran,” pamitnya.
__ADS_1
“Iya Beh,” sahut Shaka.
Laki-laki itu menunggu di sofa, sementara Barkah mengecek putranya ke kamar. “Astaga!” seru Barkah sesaat setelah membuka pintu kamarnya.
“Kenapa Beh?” Shaka segera menoleh.
Barkah tidak menjawab, ia segera masuk ke kamar Galih dan mendapati putranya sedang terduduk di depan cermin. Padahal tadi ia lihat masih berbaring di ranjangnya.
“Lo lagi ngapain tong?” tanya laki-laki itu seraya mengusap punggung putranya. Shaka yang mengintip di pintu kamar pun menghembuskan napasnya lega saat mendapati Galih yang baik-baik saja.
“Aya, balapan….” gumam laki-laki itu, seraya memeluk kedua kakinya yang tertekuk.
Barkah sedikit kaget mendengar kalimat putranya, rupanya semalam ia mendengar kemarahan Mira yang menjadi-jadi itu. Barkah harus bersikap bijak, ia tidak mau putranya semakin terguncang.
Psikiater Galih mengatakan kalau kondisi Galih sudah menunjukkan perkembangan. Ketenangan di rumah ini membawa pengaruh besar bagi pria muda ini. Keberadaan keluarga di dekatnya juga membuat Galh merasa aman dan tidak merasa di tinggalkan. Barkah tidak mau merusak itu.
“Si Aya kagak kenapa-napa. Dia ada di kamarnya. Masih tiduran. Lo mau nemuin dia?” tanya Barkah kemudian. Ia ingin menjalin kepercayaan dengan putranya.
Tanpa di duga pria itu mengangguk. Barkah cukup kaget karena putranya mau melihat dunia luar, keluar dari kamar yang selama 24 jam ditempatinya.
“Ayo kalau mau liat si Aya." Barkah mengajak Galih beranjak, ia berjalan sambil merangkul bahu putranya.
Shaka tersenyum kecil saat melihat ekspresi bahagia Barkah karena putranya mau keluar kamar. Di ketuknya pintu kamar anak gadisnya perlahan.
"Aya, lo udah bangun? Abang lo mau ketemu," panggil Barkah dari luar.
Tidak berselang lama, terdengar suara langkah kaki mendekat ke pintu. Handle pintu pun berputar dan tampaklah sosok Gayatri yang masih mengenakan piyama.
"Abang?" Gadis itu setengah tidak percaya.
Sosok Galih hanya tertunduk, tanpa berkata satu kalimatpun.
"Abang lo mau ketemu," ucap Barkah dengan mata berkaca-kaca.
Gayatri mengulum senyum haru. Di peluknya tubuh Galih yang membungkuk dengan erat. Ia pun membenamkan kepalanya di sana.
"Gue kangen lo, Bang," ucap lirih Gayatri.
Galih tidak menimpali, ia hanya terdiam dan membiarkan Gayatri memeluknya dengan sangat erat.
__ADS_1
****