
“Gue udah nyampe rumah,” sebaris pesan itu yang saat ini di baca Gayatri. Pengirimnya tidak lain adalah Shaka, yang setengah jam lalu pulang setelah asyik main remi Bullshit/Cheat bersama Barkah.
Mereka tertawa-tawa saat berhasil mengalahkan satu sama lain. Shaka yang lebih sering menang, dia pandai mengatur strategi. Suasana kedai yang biasanya hanya bising oleh suara pelanggan, kali ini terasa hangat oleh tawa sang pemilik. Setelah sekian lama, baru sekarang lagi suara tawa Barkah terdengar sangat menggelegar.
Hingga masuk ke rumah, Barkah masih membahas kehebatan Shaka. Dengar saja di luar sana, laki-laki itu masih memuji-muji Shaka. Gayatri paham benar, itu bentuk salah satu pelampiasan kerinduannya pada putranya yang masih sedang menjalani perawatan di rumah sakit jiwa.
“Ok,” hanya dua huruf itu yang menjadi balasan Gayatri.
Ia menaruh kembali ponselnya, hendak mencuci mukanya. Rambut panjangnya ia cepol tinggi-tinggi. Sambil berjalan menuju kamar mandi, ia menarik handuk yang tergantung.
Tring!
Suara pesan itu kembali terdengar. Gadis bertubuh tinggi itu urung masuk ke kamar mandi dan menghampiri lagi benda pipih yang tergeletak di meja. Handuk berwarna biru muda itu ia selendangkan di leher.
“Singkat amat balesnya, kayak kilat. Gue namain lo si cepat, wkwkwkwk....” Shaka membalasnya dengan candaan.
“Gak lucu! Gak perlu juga lo lapor sama gue, kalo udah nyampe rumah.” Gayatri membalas dengan sinis.
“Yaa siapa tau bokap lo nanyain.”
“Kagak yaaa... gak usah geer.”
“Ayaaaa... si Shaka udah nyampe rumah belom?” suara Barkah terdengar di balik pintu.
“Astaga, kok bisa pas gini sih?” Gayatri sampai terhenyak karena kaget sendiri. “Ayaa....” laki-laki itu bahkan tidak sabar mendengar jawaban Gayatri, hingga mengetuk-ngetuk pintu kamarnya.
“Udah tidur kali si Aya. Udah biarin, jangan di gangguin.” Mira menarik tangan suaminya agar menjauh dari pintu kamar putrinya.
“Astaga!” Dua orang itu langsung terhenyak saat tiba-tiba Gayatri membuka pintu.
“Udah nyampe,” ucap gadis itu tanpa aba-aba.
“Oh, ya syukur,” hanya itu jawaban Barkah.
"Apa gue bilang, resek sih lo." Mira menyikut suaminya dengan kesal.
"Eehh bukan resek, gue khawatir Mir." Barkah menyahuti sang istri yang hanyak mencebikkan suaranya. "Lo tidur gih, udah malem,” lanjut pria itu pada Gayatri, seraya membaringkan tubuhnya di sofa. Ia menggunakan sarung untuk menyelimuti tubuhnya.
Gayatri menatap laki-laki itu beberapa saat. Sempat terpikir untuk bercerita apa yang terjadi hari ini, tetapi ia urungkan karena belum tahu harus memulainya dari mana. Akhirnya, gadis itu memutuskan untuk masuk kembali ke kamarnya.
“Udah gue bilangin,” tulis Gayatri pada Shaka.
“Okey, makasih. Lo belum tidur?” Shaka membalas dengan cepat. Sepertinya laki-laki ini memang sedang menunggu pesan balasan Gayatri.
“Ngelindur dong gue, balas wa sambil tidur,” Gayatri menimpali dengan sinis.
“Hahahaha... iya juga. Kalau lo belum tidur, gue mau ngobrol sama lo bentar. Bisa?”
__ADS_1
“Gue mau ke toilet, lo wa mulu anjir!”
“Gue tungguin. Gih buruan, sebelum cepirit.”
Gayatri membalasnya dengan emoticon acungan jari tengah. Shaka hanya membalasnya dengan reaksi tertawa.
“Nih anak emang aneh,” dengus Gayatri yang melempar ponselnya ke atas kasur. Ia membiarkan saja aplikasi chatnya terbuka seolah ia sedang online. Padahal pemiliknya sedang berada di kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
“Ya...”
“Ayaaa... udah balik belum? Lo gak tidur di kamar mandi kan?” pesan itu di kirim Shaka setelah 10 menit berlalu dari terakhir Gayatri membalas pesannya.
Laki-laki itu masih berada di ruang rahasianya, duduk di kursi yang ia putar-putar.
“Lama banget nih anak ke kamar mandi? Apa dia langsung tidur ya?” Shaka bergumam sendiri sambil memandangi layar ponsel yang berada di atas wajahnya. Menutup dan masuk ke aplikasi pesannya berulang kali, tetapi Gayatri masih belum online juga.
Ia bangkit dari kursinya dan beralih menuju white board. Ia menulis beberapa rencana yang akan ia lakukan bersama Gayatri.
“Apa?” pesan itu kembali di terima oleh Shaka. Sang gadis sudah selesai membersihkan tubuhnya dan duduk bersandar di ranjangnya.
“Besok jalan yuk. Kita ke lokasi,” ajak Shaka tiba-tiba.
“Lokasi apa?” Dahi Gayatri mengernyit sambil membalas pesan Shaka.
“Lokasi kejadian Rasya. Gue mau ngecek beberapa hal. Ada banyak hal janggal. Gue rasa, kita harus kerjasama buat nyari tau siapa pembunuh Rasya sebenarnya.” Balasan Shaka kali ini cukup panjang.
Gayatri terdiam beberapa saat, mempertimbangkan apa mungkin traumanya muncul kembali kalau ia pergi ke tempat itu.
“Hem, jemput gue pagi.” Akhirnya Gayatri menyetujuinya.
“Okey, besok pagi gue ke rumah. Met malem Aya, mimpi indah.” Begitu isi pesan terakhir Shaka.
Gayatri termenung memandangi pesan dari Shaka. “Gue bukan mau mimpi indah, gue cuma mau tidur lelap. Dan saat bangun, mimpi buruk ini udah berakhir,” gumam Gayatri seraya mematikan layar ponselnya. Ia tidak lagi membalas pesan Shaka. Membaringkan tubuhnya dan memeluk guling sambil menatap nanar foto dirinya bersama Rasya.
*****
“Jangan belagu lo! Lo pikir karena lo pinter, lo bisa cari muka depan guru, hah?!” suara Dion terdengar di rongga telinga Gayatri.
Saat itu ia hendak pergi ke perpustakaan untuk mengembalikan buku pelajaran yang ia pinjam. Tanpa sengaja, ia melihat sosok putra ketua komite sekolah ini sedang membully seorang siswa laki-laki berkaca mata. Memukul kepala anak itu dengan buku hingga tubuhnya ambruk di tanah.
Gayatri mengabaikan hal itu, baginya apa yang Dion lakukan bukanlah urusannya.
Hari-hari berganti, Gayatri semakin sering melihat tindakan pembullyan yang dilakukan Dion terhadap siswa yang kelas 1 SMA itu. Hal terparah adalah saat Gayatri melihat Dion menumpahkan makan siang Rasya. Baju remaja itu sampai kotor kena tumpahan makanan. Tanpa sengaja makanan itu juga tumpah ke sepatu Gayatri.
“Minta maaf lo!” seru Dion pada Rasya, seraya mendorong tubuh kurus anak itu ke arah Gayatri.
Rasya sampai tersungkur, hampir menabrak Gayatri yang sedang terduduk di kursinya. Beruntung Gayatri bisa menghindar sehingga Rasya jatuh tepat di belakang tubuh Gayatri yang refleks berdiri.
__ADS_1
“Eh brengsek lo ya! Lo sengaja caper sama Aya?!” teriak Dion seraya mengangkat tangannya hendak memukul Rasya.
Di detik yang sama, Gayatri segera menahan tangan Dion agar tidak mengenai Rasya. Gadis itu menatap Dion dengan tajam dan penuh kekesalan. Tingkah Dion saat ini mulai mengusiknya. “Lo yang numpahin, kenapa dia yang harus minta maaf?” tanya Gayatri pada Dion.
Laki-laki itu berusaha melepaskan cengkraman tangannya dari Gayatri, tetapi cengkraman Gayatri terlalu kuat.
“Bersihin,” ucap Gayatri yang menunjuk sepatunya dengan sudut matanya yang tajam.
Dion segera mengibaskan tangannya dan cengkraman tangan Gayatri pun terlepas.
“Kenapa lo belain dia Aya? Dia yang begok, jalan aja gak bisa!” Dion menyalak tidak terima.
Gayatri tidak lantas menimpali. Ia bersidekap dan tersenyum sinis pada Dion. “Bangun,” ucapnya pada Rasya.
Remaja yang terjerembab itu segera bangkit. Ia tertunduk malu menyembunyikan wajahnya yang lebam karena pukulan Dion beberapa hari lalu. Laki-laki itu berusaha berdiri di samping Gayatri, tanpa berani menatap Dion atau Gayatri sedikit pun. Perhatian orang-orang yang berada di kantin pun tertuju pada Gayatri dan Dion.
“Lo liat kan dia cupu?” tanya Gayatri pada Dion.
Dion menyeringai, “Ya, gue liat. Rupanya pikiran lo samaan sama gue. Dia cupu dan ngeselin.” Laki-laki itu menjawab dengan angkuh.
Gayatri balas tersenyum miring. “Kalau lo liat dia cupu, jangan jadi banci dong. Masa lo ngehajar orang yang gak sebanding sama lo? Mau berantem, yuk sama gue,” tantang gadis itu seraya mendekatkan tubuhnya pada Dion, sedikit berbisik di telinganya.
Dion pun mundur satu langkah. Mana mungkin laki-laki itu mau bertengkar dengan Gayatri, gadis yang ia sukai sejak pertama kali masuk di sekolah ini. Laki-laki itu menggeleng, menunjuk pada Rasya lalu mengepalkan tangannya di udara, setelah itu ia kibaskan dengan kesal.
“Cabut!” seru Dion pada teman-temannya tanpa melepaskan pandangannya dari Gayatri. Laki-laki itu terus berjalan mundur sampai kemudian berbalik meninggalkan Gayatri dan orang-orang di kantin dengan penuh rasa kesal.
Gayatri tersenyum sinis mengiringi kepergian Dion. Remaja itu semakin dibiarkan semakin menyebelkan. Pihak sekolah juga tidak berani mengambil tindakan karena Dion anak dari ketua komite sekolah sekaligus penyumbang dana terbesar di sekolah ini.
“Ma-makasih udah nolongin gue. Biar gue bersihin sepatu lo,” ucap Rasya yang segera berjongkok di hadapan Gayatri. Ia hendak menyentuh kaki Gayatri, namun Gayatri segera menariknya.
“Sekalipun gak ada yang bisa lo banggain dalam diri lo, kenapa lo harus merendahkan diri lo sendiri?” tanya gadis itu pada Rasya.
Ia menurunkan tangannya yang bersidekap, menatap kepala Rasya yang masih tertunduk. Laki-laki terdiam beberapa saat, mencoba mencerna ucapan Gayatri. Benar, bukankah tidak boleh ada yang merendahkannya? Mengapa ia merendahkan dirinya sendiri?
Mendadak tangannya mengepal, seperti ada jutaan energi yang masuk ke tubuhnya. Dengan segenap keberanian remaja itu mengangkat kepalanya. Ia menatap Gayatri yang sedang memandanginya. Sudut matanya yang bengkak dan merah, terlihat menyipit saat laki-laki itu tersenyum. Lantas ia berdiri di hadapan Gayatri dan menatapnya dengan berani. Tatapan yang membuat Rasya sendiri ingin selalu menatap wajah gadis itu.
“Ya, lo bener. Gak boleh ada yang ngerendahin gue,” ucapnya dengan bibir yang bengkak dan tidak terlalu jelas.
Gayatri hanya tersenyum sinis, tidak ada timpalan kalimat dari gadis itu. Ia memilih berlalu pergi meninggalkan Rasya yang masih mematung di tempatnya.
“Gue Arrasya Haikal. Gue tau nama lo, lo Gayatri Sekar Ayu kan?” seru Rasya yang menggema di ruangan bernama kantin itu. Semuanya hening, tidak ada yang bersuara setelah drama Dion dengan Gayatri.
Gayatri tidak menimpali, apalagi berbalik. Ia tetap melanjutkan langkahnya meninggalkan Rasya sambil tersenyum kecil.
Sejak saat itu, Rasya mulai mendekati Gayatri. Banyak hal yang dilakukan remaja itu demi bisa mendekat pada Gayatri. Seperti sengaja duduk di depan Gayatri. Menonton Gayatri bermain basket. Menemani Gayatri saat belajar sendirian di perpustakaan, hingga memberi bantuan kecil seperti menemaninya piket kelas.
Gadis itu telah memberi banyak keberanian pada Rasya. Rasya mulai percaya diri untuk menujukkan dirinya sebagai anak yang cerdas di bidang pelajaran. Guru-guru banyak yang memuji kepintarannya. Remaja itu juga terpilih menjadi ketua OSIS.
__ADS_1
Seorang Rasya, bertumbuh bersama sosok Gayatri yang keras kepala dan menyebalkan. Namun di balik itu, mereka dua orang yang saling mendukung dan menyemangati. Persahabatan mereka pun terjalin erat dari waktu ke waktu. Sayangnya, harus berakhir karena maut yang memisahkan.
****