
Api telah berhasil di padamkan sepenuhnya dan hanya menyisakan puing-puing bangunan yang telah hangus terbakar. Mira dan Barkah juga para warga yang membantu pemadaman api itu, bisa menghembuskan napasnya lega karena pada akhirnya api itu tidak menjalar ke sekeliling rumah yang di kenal padat penduduk. Lokasinya yang berada di dekat pabrik, membuat waswas banyak pihak.
Mira dan Barkah masih mematung di tepian jalan, menatap nanar bangunan kedai yang telah rata dengan tanah dan hanya menyisakan kepulan asap kecil di beberapa titik. Sementara rumah yang mereka tinggali selama empat bulan, tinggal bangunan kosong dan gosong.
Tidak ada asset yang bisa diselamatkan, karena api menjalar dengan cepat sesaat setelah beberapa orang yang melintas di atas motor melempari dua bangunan itu dengan botol berisi minyak dan api yang menyala di atasnya.
Entah siapa orang-orang yang begitu tega hendak membakar hidup-hidup pengunjung kedai yang sedang makan malam. Mereka kompak berlarian untuk menyelamatkan diri masing-masing, saat si jago merah itu tidak memberi tempo. Tidak ada waktu untuk Mira dan Barkah menyelamatkan satupun barang berharga milik mereka.
Semuanya hangus, hilang bersama harapan mereka yang pupus. Hanya bersisa tubuh yang gemetar dipenuhi trauma dengan baju lecek yang membungkus tubuh lunglai nyaris tanpa tenaga.
Warga berangsur pulang. Bukan tidak peduli pada keluarga yang tengah di timpa kemalangan, melainkan mereka sudah kelelahan memberikan bantuan. Tinggallah Mira dan Barkah serta Zaidan dan teman-temannya yang masih memandangi asap yang mengepul.
Mira beranjak dari tempatnya. Dengan langkah gontai nyaris rubuh, wanita lemah itu berjalan pelan menuju reruntuhan bangunan yang sekian lama melindungi keluarga kecilnya dari panas dan hujan.
“Lo mau ke mana Mir?” Dengan perasaan yang sama hancurnya, laki-laki itu masih berupaya menegarkan diri sembari menyusut air matanya yang sulit berhenti menetes.
Mira tidak menyahuti. Wanita itu malah terdiam di dalam ruangan hangus itu lalu berjongkok di hadapan sebuah meja besar yang sudah ambruk dilahap api.
Dulu, meja ini adalah meja kasir. Sekarang hanya tumpukan rongsokan yang sudah tidak ada gunanya.
Tangan gemetar Mira mengambil sebuah kartu nama yang masih setengah utuh. Ada pengenalnya di sana, ‘Kedai Mpok M,” hanya tulisan itu yang tersisa. Mira kembali menitikkan air matanya saat usaha yang ia rintis dengan modal hasil meminjam itu, hanya tinggal kenangan.
Hutangnya memang sudah lunas dibayar oleh putrinya, tetapi ia pun kehilangan sumber mata pencaharian satu-satunya. Pada siapa lagi ia harus menggantungkan hidupnya? Bagaimana masa depan keluarga kecilnya yang sudah hancur berantakan?
“Mir,” suara Barkah terdengar memanggil Mira yang tengah terisak tersedu-sedu sendirian sambil menelungkupkan wajahnya. Laki-laki itu ikut berjongkok di samping Mira dan mengusap punggung wanita yang ia cintai. “Kita kudu Ikhlas Mir, kudu Ikhlas,” ucap Barkah dengan suaranya yang gemetar.
Bukannya berhenti menangis, Mira malah semakin sesegukan. Tangisnya sangat keras dan rasanya ia ingin berteriak dengan suaranya yang parau itu. Tengorokannya sampai sakit karena berteriak meminta tolong dan kini ia gunakan untuk menangis meraung-raung.
“Ikhlas kayak gimana yang lo maksud hah? Kayak gimana?” Mira memukul bahu suaminya dengan kesal. Mana mungkin ia bisa ikhlas saat sadar kalau semua ini terjadi karena serangan seseorang terhadapnya. Setelah terror-teror kecil yang dialaminya, hidupnya kini benar-benar telah dihancurkan.
“Ya lo sabar! Kita udah gak bisa apa-apa. Emang lo mau gimana lagi hah? Mau gimana gue tanya! Masalahnya gak bakal selesai dengan kita terpuruk begini Mir,” Barkah mencengkram kedua lengan Mira agar berhenti memukulinya. Mereka sudah cukup terpukul, untuk apa menambah rasa sakit lagi.
Tangis Mira malah semakin keras dan Barkah segera memeluknya. Mereka menangis berangkulan di tengah-tengah kedai yang hanya tinggal menyisakan abu hitam.
__ADS_1
“Ya ampun mpok,” ucap ayah Zaidan yang kemudian hanya bisa berempati. Ia dan istri mudanya memandangi dari kejauhan sepasang suami istri yang tengah berduka. Adakah yang bisa ia lakukan untuk meringankan tetangga baik hatinya?
Kegelisahan itu tidak hanya milik Barkah dan Mira, melainkan juga milik Zaidan dan teman-temannya.
“Shaka, si Aya ada balik lagi ke tempat lo gak? Kok dia belum nyampe juga ya?” tanya Zaidan di group.
Sudah satu jam lamanya mereka menunggu dan Gayatri belum kunjung tiba. Padahal seharusnya perjalanan Gayatri hanya sekitar setengah jam. Mungkin akan lebih cepat di tempuh dengan motor besar yang biasa Gayatri pacu dengan gayanya sebagai pembalap.
“Lo serius dia belum nyampe?” Shaka langsung terhenyak. Ia menjauh sedikit dari Galih yang sedang makan dan mencoba melanjutkan percakapannya di grup.
“Asli! Kita semua nungguin dia dari tadi. Tapi kagak keliatan tuh batang hidungnya,” begitu timpalan Anton yang diiyakan teman-temannya.
"Coba lo lacak keberadaan si Aya. Soalnya gue mulai khawatir." Dewa yang memberikan saran.
“Akh sial!” dengus Shaka dengan kegundahan yang menjadi.
Ia segera melakukan pelacakan pada Gayatri, sinyal Gayatri sepertinya tidak terlalu bagus atau mungkin memang jaraknya cukup jauh dari Shaka? Shaka berpikir sejenak, memperkirakan keberadaan Gayatri dengan lokasi yang ke arah Bogor.
“Kenapa?” tanya Galh yang terkejut dengan dengusan Shaka. Laki-laki itu tidak lantas menjawab, melainkan langsung naik ke kamarnya dengan tergesa-gesa. Tapi langkahnya kembali terhenti saat memikirkan kondisi mental Galih. apa boleh buat, laki-laki ini pun terpaksa harus ia ajak bersiap.
“Kalau udah selesai makan, lo pake jaket tebal. Kita harus keluar!” Begitu pesan Shaka pada Galih sebelum benar-benar pergi menuju kamarnya.
“Iya,” sahutan Galih pelan saja, pikirannya tengah menerka-nerka apa yang sedang terjadi saat ini.
Di kamarnya, Shaka langsung membuat voice note untuk teman-temannya. “Gais, kalian datang ke rumah gue sekarang. Gue rasa, Aya di culik. Gue lagi siap-siap, gue tunggu lo semua secepatnya.” Begitu isi pesan suara yang di kirim Shaka.
“Akh sial!” timpalan itu yang dikirimkan David dari kediaman Gayatri yang hangus terbakar.
“Ini serius?” bisik Zaidan agar tidak terdengar oleh Barkah dan Mira.
“Lo pikir Shaka bisa becanda dalam kondisi kayak gini?” Anton menyalak kesal mendengar pertanyaan bodoh Zaidan. Tidak bodoh, laki-laki itu hanya sedang mengingkari.
“Brengsek itu *******. Gue habisin juga tuh orang.” Zaidan berkacak pinggang dengan kesal.
__ADS_1
“Lo jangan berisik dulu, nanti enyak sama babeh denger." David sedikit mendesis dan membuat kawan-kawannya tersadar, namun hanya bisa memegangi kepalanya yang pusing, kompak kehabisan akal dan panik. David terpaksa mengambil alih komando.
"Alya, kamu ajak orang tua Gayatri tinggal di apartemen kamu sementara. Dia belum boleh tau kalau Gayatri di culik. Kalau dia ikut ke rumah Shaka, dia bisa tahu yang sebenarnya terjadi dan gue khawatir sama kondisi kesehatannya.” Perintah itu yang David berikan pada alya.
“Siap Bang!” seru Alya dengan sigap.
“Wih!” Dewa menatap Alya dengn lekat, terkejut dengan respon patuh gadis itu.
“Jangan wah wih wah wih, bawa senjata apa aja yang bisa kalian gunakan untuk melindungi diri kalian. Kita berangkat tiga menit lagi.” Komando itu diberikan pula pada kawan-kawannya.
“SIAP BANG!” mereka pun kompak menimpali.
David hanya menggeleng melihat tingkah temannya, ada saja tingkah anak-anak badung ini. Bukan, kali ini mereka akan menjadi seorang pahlawan. Mereka bersiap dengan cepat dan beramai-ramai konvoi menuju rumah Shaka.
Di rumahnya, Shaka sudah menunggu di ruang tamu. Ada banyak senjata yang ia siapkan di atas meja dan di taruh di beberapa bagian tubuhnya.
“Kita mau kemana?” tanya Galih yang keheranan. Laki-laki itu tampak bingung. Baru saja ia akan tidur tapi sekarang ia di minta bersiap.
“Seperti yang gue bilang, lo harus kuat buat keluarga lo. Lo bisa pake senjata?” tanya Shaka kemudian. Laki-laki itu memakaikan rompi anti peluru di tubuh Galih yang harus ia lindungi.
“Bisa, gue pernah latihan nembak selama satu bulan. Tunggu, siapa yang harus gue tembak?” Galih menatap Shaka dengan penuh tanya.
Shaka tidak langsung menjawab. Di ajaknya Galih ke teras belakang lalu ia berikan sepucuk pistol pada laki-laki tersebut.
“Anggap lampu itu orang yang udah bunuh Rasya dan bikin lo jadi tersangka. Dia juga yang saat ini nyulik adek lo,” tegas Shaka dengan penuh kemarahan.
Galih terhenyak. Mata bulatnya menatap Shaka dengan tajam. Mata bulat itu tampak berkaca-kaca dan di detik yang sama ada banyak kemarahan yang di simpannya.
“Gue udah bilang, lo harus kuat. Berjuang buat keluarga lo dan ini saatnya. Lo bisa?” Shaka kembali menegaskan.
Tanpa menjawab pertanyaan Shaka, Galih segera mengambil senjata di tangan Shaka. Ia membidik lampu taman dengan sorot matanya yang tajam. Tangannya yang selalu gemetar, coba ia fokuskan. Dengan segenap keberanian ia menarik pelatuk pistolnya.
DOR!
__ADS_1