
“Biasa, si David. Okey, mundur dikit,” Shaka segera mengalihkan perbincangan.
Indah memundurkan mobilnya dengan malas, hanya beberapa saat sampai kemudian mobil terparkir dengan rapi.
“Jadi kita mau ke mana aja nih?” tanya Shaka sebelum turun. Ponselnya dengan terpaksa ia kantongi.
“Temenin gue beli buku, nanti sambil gue ceritain hubungan Aya sama Dion dan teman-temannya.” Jawaban Indah tepat membuat penasaran. Dalam benaknya sudah sangat siap menjatuhkan Gayatri di depan Shaka.
“Okey, yuk!” Shaka dengan semangat turun. Ketara sekali kalau laki-laki itu semangat untuk mencari tahu tentang Gayatri, bukan menemani Indah membeli buku.
Di area mall saat ini mereka berada. Suasana ramai jelas terasa. Lampu-lampu menyala terang meski di siang hari, berbagai produk di pamerkan untuk memikat hati pengunjung. Mereka bersaing dengan tehnik marketing yang beragam. Mulai dari memasang SPG yang cantik-cantik, sampai menawarkan diskonan yang menggiurkan.
Ada banyak anak berseragam sekolah yang sedang menikmati waktunya di tempat yang serba ada ini. Ada yang asyik makan-makan, bercanda dengan teman-temannya, bermain di area permainan, berbelanja pakaian dan kawan-kawannya, serta hal menyenangkan lainnya. Seorang Shaka cukup asing dengan pemandangan seperti ini. Waktunya lebih banyak belajar di kelas dan lapangan yang terik. Mempelajari cara memata-matai, menjinakkan bom dan hal lainnya yang menguras pikiran.
Sesekali mungkin ia harus menikmati kesempatan seperti ini, untuk menghibur dirinya sendiri. Menggunakan escalator untuk turun ke lantai 2, Shaka menuju sebuah toko buku yang cukup besar. Tidak terlalu ramai, karena toko semacam itu memang bukan tempat yang diminati sebagian besar pengunjung. Akan jauh berbeda dengan bioskop yang sudah pasti banyak didatangi.
Mereka masuk ke tempat bernuansa earth tone itu. Di sambut oleh suara musik yang merambat pelan dan menenangkan. Indah mulai mencari-cari buku yang ia inginkan sementara Shaka mengikuti di belakang. Berpindah dari satu rak ke rak lain, lalu mengambil satu novel bergenre romance.
“Dion suka sama Aya, sejak kami masuk ke sekolah ini.” Sambil membuka buku, Indah mulai bercerita. Shaka segera merapatkan tubuhnya agar cerita Indah terdengar jelas.
“Tapi kayaknya, si Aya gak suka sama sekali sama si Dion. Beberapa kali dia nolak Dion, tapi Dion gak pernah nyerah. Awal semester dua, gue dengar kalau Dion masuk sebuah genk motor. Gak cuma Dion sih, Dewa dan yang lainnya juga ikutan. Sejak saat itu Dion kayak gak terkontrol. Sering bikin keributan di sekolah sampai berantem sama guru. Dion bener-bener trouble maker di sekolah.”
Indah menjeda kalimatnya, dengan mengambil buku yang lain.
“Sebulan lalu, genk motor Dion di bubarin, gara-gara ada indikasi kalau Dion ngelakuin pembullyan sampai salah satu siswa di sekolah meninggal,” pada kalimat ini Indah menjeda kalimatnya. Ia menatap Shaka yang tampak kesal dan mengepalkan tangannya.
__ADS_1
“Sekolah ini jadi tambah ketat. Banyak peraturan baru yang di buat dan lo tentu tau aturannya apa aja. Salah satunya, larangan gue cerita hal semacam ini sama orang lain.” Indah sedikit berbisik dan menempatkan jemarinya di bibirnya yang berwarna kemerahan.
“Semua siswa di larang membicarakan kejadian sebulan lalu, karena pihak sekolah gak mau reputasi sekolah rusak. Kasus itu di tutup, tanpa ada kejelasan. Cuma ada satu kesimpulan, pihak sekolah gak terlibat dalam kematian siswa itu.” Indah menggenapkan kalimatnya.
Dada Shaka terasa bergemuruh mendengar kalimat itu. Bayangan wajah Rasya semakin tergambar jelas di pelupuk matanya. Ini tidak adil bagi sang adik yang tidak berdosa, pergi dengan cara yang tragis, tanpa ada yang mau bertanggung jawab.
“Lalu, apa Dion benar-benar ngebunuh siswa itu?” Pertanyaan Shaka di balut rasa marah.
Indah mengendikkan bahunya. “Gue gak btau pasti soal itu. Yang gue tau, Dion di skorsing sejak kejadian itu. Alasannya apa, gue juga gak tau. Yang jelas, bokapnya Dion orang yang cukup berkuasa." Indah menghentikan kalimatnya, Ia menoleh Shaka yang terdiam dan berpikir keras. Indah membaca ini sebagai waktu yang tepat untuk menjatuhkan Gayatri.
"Lo masih tertarik untuk tau siapa Gayatri?” pertanyaan Indah begitu memancing. Matanya yang bulat dan senyumnya yang tipis terlihat begitu menantang.
“Ya,” Jawaban Shaka terdengar parau. Kemarahan berkumpul di dadanya dan membuat jantungnya berdebar sangat kencang. Sejenak ia berusaha untuk menahan rasa penasarannya, karena ada hal lain yang harus ia tahu kebenarannya.
Gadis itu tersenyum kecil, merasa berhasil menarik perhatian besar Shaka. Ini saatnya ia menjatuhkan Gayatri. Ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto pada Shaka. Dahi Shaka mengernyit melihat foto di ponsel Indah. Sosok Gayatri yang dingin berdiri di samping seorang laki-laki yang duduk di atas motor sambil merangkulnya, menempatkan tangannya melingkar di leher Gayatri. Shaka mengenal pria itu, pria yang sama seperti yang ada di foto keluarga Gayatri.
"Apa maksudnya ini?" tanya Shaka yang semakin penasaran.
Indah tersenyum kecil, “Dia berada di genk motor yang sama dengan Dion,” ucap Indah.
Shaka terhenyak bukan kepalang. Matanya membulat dan matanya memerah. Rahangnya mengeras saat tahu kalau ternyata Gayatri adalah bagian dari genk Dion. Lebih mengagetkan lagi saat melihat motor yang semalam menyelamatkannya, sedang diduduki oleh kakak Gayatri. Jadi perkiraannya benar, kalau motor itu milik kakak Gayatri. Tidak, Gayatri lah yang menyelamatkannya semalam. Untuk apa?
"Kakaknya Aya adalah ketua genk motor ini. Orang-orang biasa manggil Aya princess kalau dia lagi balapan. Lo gak nyangka kan kalau gadis pendiam itu adalah seorang anggora genk motor?" pertanyaan Indah begitu menyebalkan saat di dengar oleh Shaka.
Shaka menatap tidak percaya pada apa yang ia lihat dan dengar. Pikirannya kusut dan perasaannya berkecambuk. Simpulannya mulai mengerucut kalau Gayatri terlibat dalam kematian sang adik. Dia diam karena rasa bersalahnya kan?
__ADS_1
“Bawa gue mendekat ke genk itu, terutama Dion. Akan lebih baik kalau gue bisa masuk ke rumahnya.” Suara Shaka terdengar sangat tegas. Berfibra berat dengan kemarahan yang terkumpul di dadanya. Ada satu hal lagi yang harus ia buktikan, yaitu sidik jari dan DNA Dion.
“Tentu. Tapi ada satu syarat,” Indah mengacungkan telunjuk lentiknya pada Shaka.
“Katakan,” Shaka sudah yakin akan mengikutinya.
“Jadiin gue pacar lo,” pinta Indah tanpa ragu.
Shaka terdiam, tidak bergeming sama sekali. Ia menatap Indah yang tersenyum kepadanya. Apa ia harus menyetujui permintaan Indah?
Di tempat berbeda seorang laki-laki terduduk di sudut ruangan, pada kursi tunggu yang terbuat dari besi tebal. Kakinya bergerak-gerak gelisah dengan kedua tangan yang saling mencengkram. Telapak tangannya dingin, sampai basah. Sudah lima belas menit ia duduk di sana tetapi belum ada yang menghampiri setelah seorang laki-laki menyuruhnya menunggu.
Ia menoleh lagi dua gody bag yang dibawanya. Satu gody bag berisi soto dan lauk lainnya sementara gody bag lainnya berisi buah-buahan. Ia menunggu dengan tidak sabar, seseorang yang sangat dirindukannya.
Suara derap langkah wanita berpantofel mendekat pada laki-laki setengah baya. Laki-laki bermata penuh binar itu segera menoleh. Seorang wanita tampak mendekat, terduduk di samping Barkah yang tampak gelisah. Tangannya yang dingin ia gosok-gosokkan hingga hangat.
“Terima kasih sudah menunggu Pak," ucap wanita berpakaian serba putih tersebut.
"Tidak masalah. Apa saya sudah bisa menemuinya sekarang?" tanya Barkah dengan tidak sabar.
Wanita itu tersenyum, tetapi jelas raut wajahnya menunjukkan sebuah penyesalan. "Mohon maaf, kami belum bisa mengizinkan Anda untuk menemuinya,” ucap wanita itu, dengan raut muka penuh empati.
Senyum penuh harap dari wajah Barkah pun mendadak hilang. Berganti sorot mata yang berkaca-kaca. Laki-laki itu mengusap wajahnya dengan kasar lantas menunduk.
"Mohon maaf ya Pak," ucap wanita itu lagi.
__ADS_1
Barkah hanya mengangguk-angguk saja, tidak menimpali wanita di sampingnya. Tangan gemetarnya mengurut dadanya kasar. Lagi, ia harus bersabar.
*****