
“Kenapa dia?” tanya Mira saat melihat Shaka terbaring di bangku beranda belakang. Sudah sekitar setengah jam lamanya laki-laki muda itu memejamkan mata, seperti sedang tertidur. Kedua tangannya bersidekap memeluk tubuhnya sendiri yang kedinginan.
“Sakit kepala katanya,” hanya itu jawaban Gayatri.
Beberapa waktu lalu laki-laki ini mengatakan kalau kepalanya pusing dan meminta obat sakit kepala. Setelah meminumnya, ia meminta izin untuk membaringkan tubuhnya sebentar di bangku panjang itu. Sampai sekarang matanya terpejam seperti benar-benar tidur.
“Jam berapa ini?” Mira menoleh jam dinding yang ada di dalam rumahnya. Jam setengah sebelas malam. “Kasian banget dah nih anak. Lo bangunin gih, suruh tidur di kamar abang lo,” ucap Mira lagi.
Mau menyuruhnya pulang, tetapi tidak tega. Ia membayangkan jika anak ini adalah putranya, tentu tidak tega menyuruhnya pulang dalam kondisi sudah tertidur begini.
“Enyak mau nyuruh dia nginep?” Gayatri balik bertanya. Selama ini nyaris tidak pernah ada yang masuk ke kamar Galih. Wanita ini mengatakan kalau tidak ada yang boleh membuatnya berantakan. Takut putranya pulang dan merasa asing dengan kamarnya. Terlebih di kamar itu menyimpan banyak barang berharga milik Galih, kakaknya.
“Ya mau gimana lagi, daripada dia tidur semaleman di sini? Mana anginnya dingin banget lagi. Bisa tambah sakit dia,” alasan itu yang membuat Mira mengizinkan anak laki-laki ini menggunakan kamar putranya. Dengan punggung tangan kanannya ia mengecek suhu di dahi Shaka, memang teraba panas.
“Ya udah,” Gayatri hanya bisa menurut.
Sepeninggal Mira, Gayatri menghampiri Shaka, ia berjongkok di depan laki-laki itu dan memandangi wajahnya yang terlelap. Sekilas wajah ini memang tidak asing, mirip dengan seseorang. Yang berbeda hanya bibirnya saja yang lebih tipis dan sepasang alisnya yang sangat tegas.
“Shakaa, heey… bangun….” panggil Gayatri sambil menepuk pelan lengan Shaka. Ia berusaha membangunkan laki-laki itu selembut mungkin, agar tidak mengagetkannya.
“Astaga!” seru Gayatri saat mata Shaka tiba-tiba terbuka dan terlihat sangat merah. Gayatri sampai jatuh terduduk karena kaget.
“Kenapa?” tanya laki-laki itu seraya mengernyitkan dahinya. Kepalanya sangat pusing, tetapi ia tahan.
“Pindah tidurnya, nanti lo masuk angin.” Gayatri segara menegakkan kembali tubuhnya dan beranjak dari tempatnya. “Enyak nyuruh lo tidur di kamar abang gue,” imbuh gadis itu membuat Shaka cukup terkejut mendengarnya.
“Emang boleh?” Shaka segera bangkit.
“Kalau enyak gue nawarin ya berarti boleh. Kalau lo mau pulang juga, itu lebih baik.” Gayatri berujar dengan acuh. Ia tidak mau memaksa.
__ADS_1
Cepat-cepat Shaka bangkit saat sadar ini penawaran terbatas. Ia menepuk-nepuk pipinya untuk mengumpulkan kesadarannya. Bukankah ia bisa beristirahat sambil mencari tahu banyak hal?
“Yang mana kamarnya?” tanya laki-laki itu seraya beranjak.
Gayatri masuk lebih dulu untuk menunjukkan jalan. Ia berdiri di depan pintu kamar Galih yang bersebelahan dengannya, lalu membukakan pintu untuk Shaka. Suasana dingin langsung terasa dari kamar yang hampir dua bulan ini kosong. Ada banyak stiker tentang motor juga poster beberapa band metal legend.
“Gue boleh masuk?” tanya Shaka ragu-ragu.
“Jangan pindahin barang apa pun. Kalau toiletnya gak jalan, lo bisa pake toilet yang itu?” cara kjawab Gayatri memang agak lain. Ia menunjuk kamar mandi yang ada di sebelah dapur.
“Hem, thank Aya.” Shaka segera masuk ke kamar itu. Tidak ada lagi perbincangan berarti karena Gayatri memilih masuk ke kamarnya. Matanya sudah mengantuk dan badannya minta diistirahatkan.
Di kamar yang cukup luas ini, Shaka menatap sebuah poster yang menempel di dinding. Poster ini sama dengan foto yang Indah tunjukkan padanya. Bedanya di bagian atas ada tulisan ‘Henka Kaizen.’ Tidak hanya itu, sebuah foto besar juga terpajang. Foto seorang laki-laki yang sedang menerima medali kejuaran taekwondo. Ia tersenyum dengan cerah menunjukkan rasa bangganya.
Di atas sebuah meja bertumpuk foto-foto kecil yang kemudian Shaka periksa. Ternyata foto-foto milik Gayatri dan Kakaknya. Dari beberapa foto yang ada, terlihat jelas kalau Ia melihat sebuah piagam di antara tumpukan foto.
Shaka segera terduduk di tepi tempat tidurnya. Ia mencari tahu tentang sosok ‘Galih Pradana’ di dunia maya. Ada banyak oraang Bernama Galih Pradana dan wajah laki-laki yang ia cari hanya beberapa saja.
“Apa mungkin dia gak pake nama asli?” gumam Shaka. Ia berpikir demikian mengingat selain seorang atlet, laki-laki ini juga seorang ketua genk motor. Seperti yang Edric katakana, kalau Galih tidak pernah mengekspose dirinya.
Beberapa foto menunjukkan kalau Gayatri dan Galih sangat dekat. Mereka bermain-main di pantai, pergi camping bahkan ada foto Gayatri sedang panjat tebing dan sang kakak berada di bawah dengan pose bersidekap yang terlihat keren. Sekompak itu kakak beradik ini.
Di foto lainnya, Galih berpose bersama sang adik di atas motor kesayangannya. Ia jadi teringat kata-kata Rasya di halaman terakhir buku hariannya,
"Dia pembohong.
Dia tidak benar-benar ingin berteman denganku.
Dia hanya sedang menjagaku agar tidak ada yang membully aku yang lemah ini.
__ADS_1
Aya, bagaimana ini? Aku sudah terlanjur berharap lebih,
Bolehkah jika aku mulai bersikap egois?"
Kalimat itu terus tergambar di pikiran Shaka, sulit ia tepis. Sambil membaringkan tubuhnya di atas kasur milik Galih, perlahan Shaka mulai mengurai hubungan tiga orang itu. Gayatri, Dion dan Rasya. Apa pembunuhan ini terjadi karena cinta segitiga?
Di kamar berbeda, Gayatri baru membaringkan tubuhnya. Ia masih berpikir kalau saat ini Shaka pasti melihat foto-fotonya dengan sang kakak yang seorang ketua genk motor. Laki-laki itu melihat dengan jelas semua hal yang selama ini Gayatri sembunyikan. Shaka bukan orang yang bodoh, ia pasti sadar kalau motor yang menyelamatkannya berada di rumah ini.
“Jawaban apa yang mesti gue siapain kalau dia nanya?” gumam Gayatri sambil menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih.
Malam di lalui dengan gelisah oleh Gayatri. Lagi-lagi mimpi buruk itu datang sesaat setelah ia terlelap dalam bayangan gelap. Gayatri berlari di lorong yang gelap, tangannya di tarik oleh sebuah tangan kokoh yang sangat ia kenali.
“Lepasin gue, gue gak mau ikut!” Gayatri mencoba berontak, tetapi cengkraman tangan itu terlalu kuat.
“Lo harus ikut gue,” kali ini suara itu terdengar jelas. Suara yang selalu membuatnya merasa terintimidasi.
“Nggak gue gak mau, gue gak mau!” seru Gayatri yang langsung terbangun hingga terduduk di atas ranjangnya. Tubuhnya berkeringat dingin dengan mata membola kaget. Ia menelan saliva yang memenuhi tenggorokannya dengan kasar. Diliriknya jam dinding yang ada di sebelah kanan, sudah jam setengah enam pagi.
“Itu anak kayaknya demam, semalam gue liat dia menggigil, tapi keukeuh gak mau ke dokter, katanya mau balik aja,” Kalimat itu di dengar Gayatri saat ia keluar dari kamarnya. Ia menoleh ke arah kamar Galih dan pintu kamar sang kakak sudah terbuka lebar tanpa ada sosok Shaka di sana.
“Temen lo udah balik, setengah jam lalu,” Mira yang sedang menyiapkan sarapan seperti paham alasan putrinya mematung di depan pintu.
Gayatri tidak banyak bertanya, ia segera duduk di samping Barkah yang sedang mengupasi bawang merah.
“Emak bapaknya si Shaka ke mana emang Ya? Kasian kayaknya dia hidup sendirian,” tanya Mira yang sedang mengambilkan telor dadar untuk putrinya. Memindahkannya dalam satu piring yang berbeda lalu menaruhnya di hadapan Gayatri.
“Gak tau,” hanya itu sahutan Gayatri. Ia sarapan dengan cepat agar bisa berangkat ke sekolah.
****
__ADS_1