
Sebuah gebrakan dilakukan Shaka dan Gayatri untuk memancing beriak di sekolah tersebut. Pagi itu, Shaka sengaja mengunggah postingan tentang kematian Rasya di berbagai akun media social dengan menggunakan jasa buzzer.
“Menolak lupa. Menunggu keadilan untuk Rasya.”
Begitu hastag yang digunakan dalam postingan tersebut. Dalam hitungan menit, postingan tersebut menyebar di dunia maya. Ada pun hal yang disoroti adalah tentang adanya pembullyan di sekolah yang dilakukan oleh entah oleh siapa hingga nyawa seseorang melayang. Tidak ada identitas sekolah yang di sebutkan Shaka, ia membiarkan netizen mencari tahu sendiri tentang kejadian tersebut.
Beragam spekulasi akhirnya muncul ke permukaan. Beberapa orang di luaran sana yang merasa mengenal Rasya sebagai ketua OSIS di salah satu sekolah internasional, mulai berreaksi. Mereka juga tahu kalau Rasya adalah siswa yang aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan ikut mengkampanyekan kegiatan sosial untuk pelajar.
Postingan yang terus menyebar ini, tidak ubahnya seperti bola panas yang memnacing pihak sekolah untuk berreaksi. Kepala sekolah kalang kabut hingga langsung mengumpulkan para guru dan anggota komite sekolah untuk membahas hal tersebut, salah satunya Arisman.
Di indoor pool, saat ini Shaka sedang mengumpulkan teman-temannya. Mereka adalah teman satu genk Dion yang semalaman tadi di buat resah oleh kabar yang Gayatri bawa. Gayatri sengaja memutar rekaman yang dikirimkan Dion agar teman-temannya mendengar.
Yang membuat mereka merinding, bukan hanya isi pengakuan Dion melainkan cara Dion berbicara.
“Dia kok kayak kesakitan banget?” tanya Anton yang langsung tersadar.
“Iyaa, gue sama Shaka juga berpikir begitu. Waktu gue nengok dia, gue gak diizinin ketemu sama Dion. Terus nyokapnya ngasih isyarat minta tolong. Gue rasa, mereka mengalami penganiayaan. Kita harus ngeluarin Dion dan nyokapnya dari rumah itu,” terang Gayatri dengan penuh kesungguhan.
“Tapi di rumah si Dion itu banyak penjaganya Aya. Kita bakal kesulitan buat masuk.” Dewa ikut berargumen. Ia mengingat jelas bagaimana ketatnya penjagaan di rumah Dion.
“Gue sama Shaka udah nyusun rencana, tapi gue butuh bantuan lo semua." Gayatri menoleh Shaka dan laki-laki itu mengangguk dengan yakin.
"Ya okey, gimana caranya?" Anton yang terlihat sangat antusias.
"Lo semua, bisa pura-pura mau nengok Dion, kayak gue sama Shaka kemaren. Lo bawa makanan, nanti gue selipin pesan buat tante Deby. Om Arisman sekarang ada di sekolah dan dia pasti rapat untuk beberapa jam ke depan. Jadi, kita gunakan waktu itu seefektif mungkin buat nyelametin Dion sama tante Deby. Gue akan nunggu di pintu belakang, pintu biasanya Dion keluar malam-malam.” Gayatri membagi tugas dengan teman-temannya.
“Terus kita bawa dia ke mana?” Lagi Anton bertanya.
“Gue udah nyiapin tempat buat mereka. Gue ke sana pake taksi online dengan plat nomor palsu supaya mereka gak bisa ngikutin jejak gue sama Aya.” Shaka berujar dengan sungguh.
“Okey, kapan kita mulai bergerak?” Dewa berujar dengan semangat. Ia tidak mungkin membiarkan Dion terus mengalami penganiayaan, walau pun oleh orang tuanya sendiri.
"SEKARANG!!" tegas Gayatri tanpa bisa di bantah.
Setelah sepakat, mereka segera menuju ke rumah Dion. Dewa dan teman-temannya berangkat lebih dulu menggunakan motor mereka, sementara Gayatri dan Shaka menyusul di belakang. David masih dengan tugasnya memantau dan memastikan kondisi aman, sementara Alya memastikan kalau Indah CS tidak berulah dan memperkeruh suasana.
Beberapa sepeda motor terlihat melaju cepat dijalanan. Salah satu teman Anton membawa makanan di tangannya. Mereka dalam perjalanan menuju rumah Dion. Saat tiba, mereka di sambut oleh petugas keamanan. Seperti halnya Shaka dan Gayatri, mereka tidak langsung di perbolehkan masuk, melainkan meminta izin dulu pada Deby.
Beruntung mereka di perbolehkan masuk. Petugas keamanan itu memantau dari kamera pengawas interaksi Deby dan anak-anak muda itu.
“Ada titipan dari Aya, Tan. Periksa dulu ya,” ucap Zaidan dengan suara pelan. Ia memberikan bingkisan itu pada Deby.
__ADS_1
“Oh iya, kalian tunggu sebentar.” Deby segera membawa bingkisan itu masuk ke rumah dan membaca pesan Gayatri.
“Tan, Aya akan bawa tante keluar dari rumah itu. tolong kerjasamanya ya…” itu kalimat pertama Gayatri yang berhasil membuat Deby tiba-tiba menangis di kamar mandi. ia membekap mulutnya agar suara tangisnya tidak terdengar keluar.
“Akhirnya mereka datang untuk menolongku,” Gumam deby yang sudah tidak tahan dengan penyiksaan suaminya. Tangannya sampai gemetar memegangi kertas dari Gayatri.
“Kasih tau Dewa di mana keberadaan Dion. Tapi sebelum itu, sibukkan dulu penjaga keamanan depan, supaya teman-teman bisa mengambil alih CCTV di ruangan penjaga keamanan tersebut. Aya akan nunggu tante dan Dion di pintu belakang, jangan ada yang tau.” Begitu pesan Gayatri selanjutnya.
Deby mengangguk paham. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin dan segera mengusap air matanya agar tidak terlihat. Ia sudah bertekad, kalau ia dan putranya harus bisa keluar dari rumah ini.
Keluar dari kamar mandi, Deby segera menghubungi petugas keamanan di depan.
“Siap Nyonya, ada yang bisa saya bantu?” tanya laki-laki itu.
“Aku perlu mengambil beberapa barang dari Gudang bawah, tolong ambilkan. Baju-baju lama yang ada di dalam dus. Aku akan memberikannya ada orang yang membutuhkan,” titah Deby dengan tegas.
“Baik Nyonya,” petugas keamanan itu menurut saja. Ia keluar dari pos penjagaan dan mengajak dua temannya untuk masuk ke Gudang.
Setelah mereka pergi, Zaidan segera masuk ke ruang pos pengamanan, ia memonitor teman-temannya dari sana. Beberapa CCTV ia non aktifkan agar tidak merekam apa yang mereka lakukan di dalam rumah sana.
Terlihat dari layar kalau Deby mengajak teman-temannya masuk ke kamar Dion dan mendapati Dion meringkuk di atas tempat tidurnya. Remaja itu dipenuhi luka lebam di seluruh wajahnya juga tangan dan perutnya.
"Astaga, gue gak tau lo semenderita ini," ucap Dewa dengan suaranya yang gemetar. Dion tidak menimpali, laki-laki itu berusaha membuka matanya yang terasa berat. Tubuhnya kurus, jauh berbeda dengan Dion yang seminggu lalu bermain PS dengannya.
“Akh sial!” dengus Zaidan saat melihat tiga petugas keamanan telah selesai mengeluarkan semua barang yang Deby minta. Dengan Gerakan tangan yang cepat, Zaidan mengembalikan fungsi CCTV dan menghapus beberapa rekaman. Ia juga mengambil beberapa rekaman yang dianggap penting sesuai arahan Shaka.
Ia pun segera keluar dari ruang pos pengamanan bersamaan dengan teman-temannya yang keluar dari rumah Dion.
“Kalian mau ke mana?” tanya petugas keamanan saat melihat Zaidan dan teman-temannya keluar rumah.
“Kami mau pulang. Tolong berikan dus-dus itu pada kami. Mau kami kasih ke panti asuhan.” Anton menjawab dengan cepat.
“Oh, ya, silakan.” Petugas keamanan itu percaya begitu saja.
Zaidan dan teman-temannya segera mengambil dus-dus itu dan bergegas pulang bersama teman-temannya. Sementara Deby dan Dion sudah masuk ke dalam taksi dan segera berlalu pergi menuju tempat yang telah Shaka siapkan.
****
“Tante gak apa-apa?” tanya Gayatri seraya memeriksa Deby yang memiliki banyak lebam di tubuhnya.
Bukannya menjawab, Deby malah langsung memeluk Gayatri dengan erat. “Makasih Aya, makasih udah datang buat selametin tante dan Dion,” ujar wanita itu dengan suara bergetar dan tangisnya yang pecah. Tubuhnya sampai gemetar ketakutan mengingat semua siksaan yang kerap ia terima dari suaminya.
__ADS_1
“Sama-sama Tan. Sekarang Tante sama Dion aman. Aya akan bawa Tante sama Dion ke tempat yang paling aman. Tolong bekerja sama lah dengan mereka.” Begitu yang Gayatri pesankan. Mata nanar Gayatri juga memandangi Dion yang terbaring tidak berdaya.
Matanya sulit terbuka karena bengkak dan lebam bekas pukulan yang menghalangi pandangannya. Hanya bibirnya yang kering dan pucat yang bergetar seperti ingin bicara, tetapi tenaganya tak ada.
"Lo gak usah takut bro, lo aman. Kita-kita bakal jagain lo. Lo harus kuat!" seru Dewa sambil mengepalkan tangannya menyemangati Dion walau pada akhirnya air matanya menetes dengan sendirinya, sedih melihat kondisi Dion yang seperti sedang sekarat. Andai saja Gayatri tidak memutuskan untuk menengok sahabatnya ini, mungkin ia tidak akan bertemu dengan Dion lagi. Akh tidak, Dewa enggan membayangkan itu.
Dion yang mendengar ujaran sahabatnya, mencoba berbicara. Dari gerakan bibirnya, bisa terbaca kalau laki-laki ini sedang mengucapkan terima kasih. Entah apa yang akan terjadi jika kemudian teman-temannya tidak datang. Mungkin hari ini akan menjadi hari terakhir dirinya melihat matahari. Hampir setiap malam Arisman menyiksanya saat laki-laki itu merasa kesal dengan hal apa pun.
Dion tidak ubahnya menjadi pelampiasan semua keksalan Arisman. Laki-laki itu mulai kecanduan untuk menyiksa putranya, memukulinya hingga babak belur bahkan menendanginya. Tapi sekarang, Dion bisa berharap kalau penderitaannya akan berakhir. Ia menatap nanar wajah Gayatri yang sedang mencemaskannya. Wajah cantik yang selalu ia puja siang dan malam. Meski gadis itu sangat marah terhadapnya, tetapi ia tidak mengabaikan penderitaan Dion. Gadis itu datang di waktu yang tepat. Sepertinya pilihannya tepat, untuk memenuhi permintaan Gayatri beberapa waktu lalu.
"Terima kasih udah datang dalam hidup gue yang hancur ini, Ya...." batin Dion dengan air mata yang menetes di sudut matanya yang bengkak dan lebam.
Seorang David akhirnya bisa menghela napas lega, karena dari pengintaiannya di atas Gedung telah berhasil dilakukan. Ia bisa memastikan semua teman-temanna berhasil pergi dari rumah itu dengan selamat. Ia sempatkan untuk menghubungi Alya untuk mencari tahu kondisi di sekolah.
“Gimana kondisi di sekolah?” tanya David lewat sambungan telepon.
“Kami di larang pulang bang dan hape kami akan di periksa. Kalian cepat ke sekolah, akan aneh kalau kalian tidak ada.” Begitu penjelasan dari Alya yang tergesa-gesa dan berbisik-bisik. Suara gaduh terdengar jelas di belakang gadis itu.
“Okey, kamu umumkan di group, biar temen-teman baca. Aku juga akan coba kabari bang Shaka, biar dia bergegas,” timpal David kemudian.
“Siap Bang!” seru Alya.
Gadis itu segera mengumumkan apa yang kepala sekolah perintahkan dan meminta teman-temannya bergegas datang. Pesan itu pun di terima Gayatri, “Kita harus cepet-cepet,” ujar gadis tersebut pada Dewa dan Shaka.
“Sebentar lagi, mereka nunggu di depan.” Laki-laki yang duduk di depan itu membungkukkan tubuhnya, memperhatikan sisi kiri dan kanan jalanan. "Itu mereka," ucap Shaka saat melihat keberadaan seorang laki-laki yang menunggunya tidak jauh dari tempat mereka berada sekarang.
Sebuah mobil SUV hitam terparkir di tepian jalan bersama sebuah ambulance. Shaka meminta sopir menepikan mobilnya dan bergegas turun menemui seorang laki-laki yang sedang menunggunya.
“Abang berhasil membawa mereka keluar?” tanya seorang laki-laki yang tak lain adalah ajudan kepala intelligent.
“Iya, aku titipkan mereka sama kamu. Tolong jaga mereka dengan baik.” Begitu pesan Shaka.
“Siap!” sahut laki-laki itu.
Mereka segera menuju taksi online yang Shaka tumpangi. Menurunkan Deby dan Dion. Dua orang itu di tempatkan di dalam ambulance karena keduanya harus mendapatkan penanganan segera.
“Aku rasa, perutnya mengalami trauma. Dia sangat kesakitan saat bergerak sedikit pun. Saat aku periksa, tulang dadanya pun sepertinya ada yang retak, napasnya tidak lepas, sering tertahan.” Hal itu yang Shaka kemudian sampaikan.
“Siap Bang, saya akan memeriksanya dengan seksama. Dokter juga sudah menunggu untuk penanganan korban.”
“Iya, terima kasih banyak.” Hanya itu kalimat terakhir Shaka dengan temannya sebelum kemudian taksi itu melaju dengan cepat menuju sekolah. Dion dan Deby telah berhasil di evakuasi, sekarang taksi online itu melaju dengan kencang menuju sekolah
__ADS_1
Apa mereka akan tiba tepat waktu?
****