Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Bujukan


__ADS_3

Suara sepeda motor milik Barkah mulai terdengar di pintu belakang kediaman Shaka. Melewati lorong kecil, Barkah membawa motor itu masuk ke basement. Gayatri yang sedang menyiapkan sarapan pun segera menyelesaikan pekerjaannya.


“Babeh ya?” tanya Gayatri pada Shaka yang sedang membuat dua gelas susu untuk dirinya dan Shaka.


Pagi ini mereka terlihat kompak bersama-sama untuk membuat sarapan.


“Iyaa… bikin banyak aja sarapannya, takutnya babeh belum makan,” ucap laki-laki itu.


“Babeh gak pernah dibolehin pergi kalau perutnya masih kosong.” Hanya itu sahutan Gayatri seraya membawa dua piring omelete dan sosis untuk dirinya dan Shaka.


“Okey, lo yang lebih tau.” Shaka mengikuti Gayatri menuju meja makan. "Kira-kira, sepuluh atau dua puluh tahun ke depan, kita masih bisa kayak gini gak yah? Nyiapin sarapan bareng?" tanya Shaka yang terduduk lebih dulu di kursi makan sambil memandangi Gayatri yang masih sibuk menatap piring.


"Ngarep lo?" decik Gayatri yang tersenyum sinis.


"Emang! Masa lo gak paham sama omongan gue semalem?" Shaka masih dengan usahanya untuk meyakinkan Gayatri.


"Pengen percaya, tapi yang ngomong Shaka Praditya, yang kerjaannya baperin anak orang. Chuaaxxx!!!" seru Gayatri di akhir kalimatnya.


"Dih kata siapa? Yang semalem ngomong begitu adalah Arshaka Gibran, buat Gayatri Sekar Ayu. Masa lo gak bisa bedain?" Shaka berujar dengan sesungguhnya. Lagi, Gayatri menjadi pengecualian, hingga ia bisa berbicara lugas dan terbuka.


Gayatri terdiam beberapa saat, mengingat nama yang Shaka sebutkan. Katanya namanya Arshaka Gibran, ya memang tidak jauh dari adiknya yang bernama Arrasya Haikal.


"Lo bisa belajar percaya gak sama gue?" Shaka berujar dengan serius, ia menatap Gayatri dengan sungguh.


"Kasih tau semua tentang lo, maka gue akan belajar buat percaya," tegas Gayatri yang membalas lirikan Shaka. Mereka bertatapan beberapa saat. Lihat, laki-lakii tu tersenyum kecil.


“Pagiii….” Suara Barkah terdengar dari pintu belakang, membuyarkan tatapan dua orang yang jantungnya sedang berdenyut-denyut itu.


“Pagi Beh….” Shaka segera menyalimi Barkah, begitu pun dengan Gayatri. “Babeh udah sarapan?” tanya Shaka kemudian.


“Udaah. Enyaknya Aya mana bolehin gue pergi kalau belum sarapan. Nih, dia juga bekelin makanan. Katanya biar gak beli di luar mulu.” Barkah menaruh semua gody bag berisi rantang makanan. “Lo pindahin Ya, siapa tau Shaka mau,” imbuh laki-laki itu.


“Iya, bentar.” Gayatri beranjak dari tempatnya, membawa rantang itu ke dapur. “Seragam Aya, di bawain gak Beh?” tanya gadis itu lagi. Ia terlihat sibuk mengambil beberapa mangkuk dan piring.


“Ada, di tas ini. Enyak lo cuma bekelin empat potong baju, katanya kalau kurang, lo balik aja. Ngambil sendiri,” Barkah menyampaikan pesan sang istri pada putrinya.


“Iya, nanti Aya ambil sendiri.” Gadis itu kembali ke meja makan dengan membawa makanan yang sudah ia tempatkan di mangkuk dan piring.


“Gimana abang lo, semalam aman gak?” tanya Barkah yang penasaran.

__ADS_1


“Aman. Cuma bangun sekali buat minum. Tidurnya juga pules, gak bersuara aneh-aneh.”


“Terus, sekarang udah bangun belum?”


“Tadi Aya liat belum, Babeh cek aja, mana tau udah bangun.”


“Iya, gue liat dulu ya….”


Barkah segera beranjak dari tempatnya dan menuju kamar Galih yang tidak terlalu jauh. Ia mengintip sedikit dari pintu yang tidak tertutup rapat dan terlihat kalau putranya sedang terduduk di Kasur sambil melamun. Memandagi detikan jam kecil yang ada di atas meja.


“Tong, lo udah bangun?” suara Barkah di buat selembut mungkin.


Galih tidak menimpali, hanya mengerjapkan matanya, kaget mendengar suara Barkah. Barkah segera masuk ke kamar itu dengan langkahnya yang di buat pelan. “Mau minum kagak?” tanya laki-laki itu yang kemudian duduk di tepian tempat tidur.


“Lo kan biasanya suka langsung minum kalau bangun, biar ginjal lo sehat. Babeh juga sekarang rajin minum air putih. Biar pinggang gak encokan. Eh ngaruh gak sih? Apa ini gara-gara gue udah tua aja?” Barkah terus berceloteh demi memancing perhatian Galih.


Tetapi laki-laki itu masih tetap terdiam. Barkah tersenyum getir melihat putranya. Ia mengambil gelas di atas meja kecil lalu mendekatkannya pada Galih. “Minum dulu dah, biar segeran. Habis itu kita sarapan, nanti Babeh suapin pake soto bikinan Enyak. Lo gak tau kan kalau Enyak lo sekarang jago bikin soto. Itu, soto yang dulu sering dia masak kalau mau hari raya atau kalau orang rumah ada yang ulang tahun.”


Barkah mendekatkan gelas itu ke bibir Galih. “Ayo tong, minum pelan-pelan. Biar tenggorokan lo gak sakit dan kering,” bujuk Barkah dengan rasa sedih yang mengisi dadanya. Putranya yang selalu penuh semangat ini sekarang hanya menjadi laki-laki pendiam yang entah sedang memikirkan apa.


“Tong… ayo di minum….” Barkah masih berusaha membujuk dan akhirnya Galih luluh. Ia mau membuka mulutnya dan meminum sedikit air di gelas. “Naah cakep dah anak Babeh. Lo mau sarapan dulu apa mau mandi dulu? Biar Babeh bantuin,” lagi Barkah membujuk.


“Mandi dulu dah, biar seger. Babeh siapin dulu ya,” Barkah pergi untuk menyiapkan air mandi untuk Galih. Ia juga menaruh baju ganti dan handuk yang siap digunakan.


“Udah siap tong, ayo mandi sama Babeh,” ajak laki-laki itu. Ia meraih tangan Galih dan mengajaknya berdiri.


Tidak di duga ternyata Galih mau. Laki-laki itu berjalan sambil berpegangan tangan pada Barkah, sementara sang ayah membawakan tiang infusan di tangan kirinya. Mereka masuk ke kamar mandi dan mendudukan Galih di atas closet duduk.


“Bajunya lepas dulu ya,” layaknya mengurus anak kecil, Barkah begitu berhati-hati. Semua pakaian pun tertanggalkan. Barkah mulai mengambil Gayung untuk memandikan Galih, tetapi saat gayung itu terangkat, tatapan Galih mulai waspada.


BYUR… air itu disiramkan Barkah ke tubuh putranya.


“ARRGHH… AARRGH… AAARRGHH…” tiba-tiba saja Galih berteriak sambil berontak. Ia mendorong tubuh Barkah dengan kuat hingga terjerembab membentur dinding.


“Astaga, lo kenapa? AYA!!!” teriak Barkah yang kaget bukan kepalang.


Galih mengamuk, ia memukuli kepalanya sendiri dan mencabut infusan hinga darah mengucur dari bekas luka infusannya.


Gayatri dan Shaka segera berlari ke dalam kamar dan mendapati Galih yang sedang mengacak kamar mandi dengan tubuh telanjang.

__ADS_1


“Ayaaa, tolongin Babeh, gimana ini?” Barkah tampak kebingungan, laki-laki itu sampai menangis ketakutan dan tubuhnya sampai gemetar, merasa bersalah membuat putranya mengamuk.


Dengan berani Gayatri menghampiri sang kakak. “Abang, tenang Bang. Ini Aya… Abang…” Gayatri segera meraih tangan Galih lalu ia peluk tubuh yang basah itu.


Galih masih meronta-ronta memukuli kepalanya sendiri.


“Abang, tenang. Lo gak di apa-apain. Gak ada yang akan mukulin lo. Ada gue di sini. Nanti gue beri orang yang jahat sama lo. Lo tenang bang.” Gayatri terus memeluk Galih walau laki-laki itu berontak.


Tidak lama kemudian, Galih mulai tenang, ia mengenal benar sang adik dari gelang yang dipakainya. Shaka segera memberikan handuk pada Gayatri untuk membalut tubuh Galih.


“Abang lo tenang, gak ada orang jahat di sini.” Gayatri bertekuk lutut di hadapan sang kakak yang sudah ia selimuti dengan handuk. Tubuhnya masih menggigil tapi tidak berontak.


“Ini gue, Aya. Ade lo. Itu Babeh Barkah, Babeh kesayangan kita. Ini Shaka, sahabat Aya. Orang yang bawa Abang pulang. Gak ada orang jahat di sini, gak ada orang yang akan nyiksa lo. Lo harus percaya sama gue,” Gayatri berujar dengan penuh penekanan, ia menatap sepasang mata Galih yang bergerak-gerak ketakutan.


“Maksud Babeh tadi, Babeh mau bantuin lo mandi. Liat ini,” Gayatri menggenggam tangan Barkah dan memegang gayung bersamaan. Lantas mengambil air dari bak mandi yang kemudian Gayatri siramkan ke tubuhnya sendiri.


Usaha Gayatri yang menyiram tubuhnya sendiri dengan gayung di tangan Barkah, ternyata menarik perhatian Galih. Gadis itu mengusap wajahnya kasar untuk membuang sisa air di wajahnya.


“Lo liat kan? Babeh juga mandiin gue. Bukan mau nyakitin gue. Babeh sayang sama lo juga sama gue. Biar badan lo gak gatel-gatel dan sakit. Lo percaya sama gue, gak ada yang jahat di sini. Semua orang di sini, sayang sama lo, mau ngelindungin lo,” ucap Gayatri dengan tubuh yang kedinginan namun ia coba tahan. Apa pun akan ia lakukan agar Galih percaya.


Laki-laki itu menoleh Gayatri, memandangi tubuh sang adik yang basah kuyup. “Man di,” ujarnya perlahan.


“Iyaa, Babeh mau mandiin Abang, bukan mau nyakitin Abang,” Gayatri segera mengiyakan ucapan Galih.


Laki-laki itu mengangguk pelan, membuat Barkah tersenyum haru melihat keberhasilan usaha Gayatri.


“Mandinya di lanjutin ya sama Babeh. Aya tungguin Abang di depan. Aya gak akan ke mana-mana,” tegas gadis itu seraya mengusap punggung Galih.


Laki-laki itu mengangguk pelan, ia melirik Barkah yang berdiri di pojokan, “Mandi...” ucapnya pelan.


“Iya tong, lo gue mandiin yaa… maafin Babeh karena tadi gak permisi dulu. Maafin yaa….” Barkah berujar dengan sungguh-sungguh. Ia segera mendekat dan mengusap punggung Galih dan lelaki itu sedikit meringis.


Gayatri sengaja keluar dari kamar mandi dan membiarkan Barkah melanjutkan pekerjaannya. Ia ingin membiarkan ayah dan anak itu menjalin kedekatan.


“Lo hebat!” ucap Shaka seraya menatap Gayatri yang basah kuyup. Ia sungguh tidak menyangka kalau kedekatan Gayatri dan Galih di masa lalu, bisa memberi banyak pertolongan. Sepertinya hanya Gayatri yang dipercaya oleh Galih.


“Gue titip bentar, ganti baju dulu.” hanya itu sahutan Gayatri sebelum kemudian berlalu untuk berganti pakaian di kamar sebelah.


“Bocil yang gak bocah, cuma lo doang Ya,” gumam Shaka dengan penuh kekaguman.

__ADS_1


****


__ADS_2