Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Gue gak bunuh dia


__ADS_3

“Lo tau?” tanya Gayatri yang terkejut mendengar ujaran sang kakak. Laki-laki itu tampak serius menatap papan tulis di hadapannya.


Galih mengangguk. Ia mendekati white board tersebut lalu mengusapnya pelan. “To Catch the Killer, film tahun 1992. Film itu tentang seorang remaja yang hilang di Des Plaines, AS, dan seorang detektif bernama Joseph R. Kozenczak yang menyelidikinya. Dia mencurigai pengusaha setempat bernama John Wayne Gacy terlibat dalam kasus tersebut, meskipun bukti-bukti yang dia kumpulkan terbukti tidak cukup kuat.”


“Namun, setelah menemukan bukti yang mengarahkan pada Gacy, detektif menemukan mayat-mayat korban yang terkubur di properti Gacy. Pria ini kemudian dihukum mati karena pembunuhan dan pemerkosaan terhadap banyak anak laki-laki dan pria muda,” terang Galih dengan yakin.


Seorang Alya di buat menahan tawa mendengar ujaran Galih. Ia menggeleng tidak paham dengan pemikiran laki-laki yang saat ini menjadi pusat perhatian teman-temannya.


“Sorry Bang, ini bukan lagi bedah film. Kita emang lagi menghadapi masalah ini. Masalah Abang tepatnya.” Alya yang nyeletuk mengingatkan.


Gayatri segera menoleh mendengar kalimat Alya yang asal itu, tanpa memikirkan psikologis Galih. “Alya, lo kok ketus banget sih sama Abang gue? Dia kan gak paham.” Gayatri protes dengan sikap Alya. Gadis itu tidak terima kakaknya diperlakukan dengan sinis.


“Ya, okey sorry tuan putri.” Alya segera mengangkat kedua tangannya ke udara, tidak mau cari masalah dengan gadis itu.


Shaka mengulum senyum kecil melihat perdebatan dua gadis ini. Berbeda dengan Galih yang tampak serius memandangi salah satu sudut dinding yang memajang banyak tokoh wajah. Ia mengingat benar siapa saja sosok wajah di sana. Ada wajah dirinya juga Gayatri. Yang terpenting, ada wajah Rasya.


“Gue gak bunuh dia, gue gak bunuh dia!” seru Galih tiba-tiba. Laki-laki yang mendapat serangan panik itu, berjalan mundur beberapa langkah, menjauh dari white board sambil memegangi kepalanya.


“Tenang Bang, tenang.” Gayatri segera mendekat untuk menenangkan sang kakak.


“Aya, gue gak bunuh dia. Lo harus percaya kalau gue gak bunuh dia Ya. Siapa mereka semua, SIAPA?!” teriak Galih yang ketakutan. Tubuh laki-laki itu gemetar, hingga kemudian berjongkok di tempatnya sambil memegangi kepalanya yang tertunduk lesu.


“Abang, tenang. Kita semua percaya bukan Abang yang bunuh Rasya. Makanya kita ngumpul di sini buat nyari tau.” Gayatri ikut berjongkok, untuk menenangkan sang kakak.


“Nggak, gue gak bunuh dia Ya. Gue gak bunuh dia.” Galih masih terus menggumamkan kalimat itu sambil menyembunyikan kepalanya di sela kedua kakinya, hingga tubuh kurusnya melengkung.


“Gue peraya, gue percaya.” Gayatri memeluk laki-laki itu dengan erat. Ia menatap Shaka dan laki-laki itu menggeleng. Sepertinya kondisi Galih belum bisa di paksakan.

__ADS_1


“Bang, kita ke kamar Abang dulu ya, Abang perlu istirahat,” bujuk Shaka.


Laki-laki itu mengangkat kepalanya, menatap Shaka dengan wajahnya yang ketakutan dan berurai air mata.


“Lo mau balas dendam kan? Hah?! Lo mau balas dendam kan?” tiba-tiba saja Galih mencengkram kemeja Shaka dengan erat, seraya menatap tajam wajah laki-laki yang ia rasa mirip dengan Rasya.


“Nggak, gue gak akan balas dendam sama lo. Gue mau nyari pembunuh Rasya yang sebenarnya, supaya lo gak terus menerus merasa bersalah!” seru Shaka yang balas mencengkram bahu Galih dengan erat.


Laki-laki itu menggeleng seraya terisak. “Gue gak bunuh dia. Gue gak bunuh dia.” Galih tetap dengan kalimatnya yang ia ulang terus menerus. Ia begitu mengingat saat orang-orang terus menerus memaksa dan menyudutkannya untuk mengakui sesuatu yang tidak ia lakukan.


Gayatri merasa kondisi Galih tidak memungkinkan. “Ayo ikut Aya Bang,” ucap Gayatri yang membawa Galih pergi dari ruangan ini. Galih mengikut saja, dengan kepala tertunduk dan terus menggumamkan kalimat yang sama dengan suaranya yang lirih dan penuh ketakutan.


Laki-laki itu dibawa kembali ke kamarnya. Gayatri mendudukannya di atas ranjang lalu memberinya minum dan obat. “Gue gak bunuh dia Ya. Lo percaya kan?” tanya laki-laki itu lagi.


“Gue percaya. Seribu persen percaya, karena itu gue mau lo sembuh. Gak cuma gue, tapi juga Shaka. Gue akan cari pembunuh Rasya yang sebenarnya dan orang-orang yang udah ngehancurin keluarga kita. Lo harus percaya Bang, lo harus kuat.” Gayatri berbicara dengan berapi-api. Ia ingin menyemangati Galih agar tidak putus asa dan perlahan memudarkan rasa takutnya.


“Sekarang lo istirahat ya, gue akan ada di sini nemenin lo. Jadi lo gak usah takut,” ucap Gayatri dengan penuh kesungguhan.


Galih hanya mengangguk saja. Pelan-pelan ia membaringkan tubuhnya dan menyelimuti tubuh hingga ke batas dada. Gayatri ikut berbaring di samping Galih dan sesekali memeriksa Barkah yang tidur di bawah dengan menggunakan matras. Laki-laki itu tidur dengan nyenyak hingga mendengkur dengan keras.


Napas lega bisa di hembuskan Gayatri ketika melihat kepanikan Galih yang mulai bisa terkendali. Gayatri mengusap-usap lengan sang kakak agar lak-laki itu segera tertidur. Sepertinya, malam ini ia akan menginap di kamar Galih.


****


Menjelang pagi, suara Barkah samar-samar mengusik alam tidur Gayatri. Gadis itu membuka matanya perlahan lalu menggeliat.


“Udah pagi,” bisik Barkah yang sudah terlihat segar.

__ADS_1


“Iya Beh,” Gayatri mengusap wajahnya kasar dan menguap. Rasanya baru beberapa menit saja ia memejamkan mata, tetapi ternyata pagi sudah menjelang.


Gayatri terpaksa bangkit dan duduk beberapa saat. Ia menatap Galih yang tertidur meringkuk di sampingnya dan masih terlelap.


“Lo kenapa nginep di sini? Emang semalem Galih ngamuk?” tanya Barkah yang penasaran. Suaranya pelan saja, takut mengusik lelap putranya.


“Nggak Beh. Aya cuma pengen jagain abang aja,” Gayatri terpaksa berbohong, tidak mungkin ia menjelaskan yang sejujurnya pada Barkah.


“Ya udah, sono mandi. Nanti lo kesiangan lagi,”


“Iya Beh,” Gayatri segera beranjak dari atas ranjang. Sedikit menggeliat hingga tangannya terrentang dan masih menguap satu kali sebelum kemudian ia memijat-mijat bahunya sendiri yang terasa pegal.


Gadis itu kembali ke kamarnya, untuk mandi dan berpakaian seragam. Sambil mematut dirinya di cermin, ia mengingat kejadian semalam. Sepertinya Galih sudah mulai tersadar, meski laki-laki itu masih mungkin berreaksi extreme saat mengingat kejadian memilukan itu. Walau kondisinya belum sepenuhnya baik, paling tidak laki-laki itu sudah bisa Gayatri ajak bicara.


Keluar dari kamarnya, Gayatri mendapati Shaka sedang menikmati sarapannya. Laki-laki itu meoleh dan tersenyum, “Pagi!” sapanya, ringan.


“Pagi,” Gayatri menimpali dengan dingin. Ia menarik kursi di samping Shaka dan memperhatikan laki-laki yang sedang menikmati omeletenya. “Jam berapa mereka pulang?” Gayatri penasaran dengan Alya dan David.


“Gak lama dari lo pergi.” Hanya itu sahutan Shaka. Ia mengambilkan sepiring omelete yang sudah disiapkan Barkah, lengkap dengan segelas susu dan potongan buah di piring terpisah.


“Makasih,” ucap Gayatri.


“Sama-sama,” Shaka menyahuti dengan santai dan menyuapkan kembali omelet itu ke mulutnya. Mereka sarapan dengan tenang, untuk mengisi tenaga yang terkuras.


“Gimana rencana kita soal Dion?” Gayatri bertanya dengan penasaran.


“Habisin dulu sarapannya, nanti kita bahas di sekolah.” Shaka mengetuk-ngetuk piring Gayatri dengan sendoknya hingga berbunyi berdenting. Entah apa yang direncanakan Shaka saat ini.

__ADS_1


****


__ADS_2