
Seorang Shaka masih di buat terperangah oleh banyaknya sepatu yang di miliki Dion. "Sial! Mulai dari mana nih gue?" gerutu pria bertubuh jangkung itu.
Tidak ada pilihan selain harus memulainya sekarang, karena waktu Shaka tidak lah banyak. Ia mengeluarkan beberapa alat dari dalam tasnya dan menaruhnya di atas meja kaca yang memajang semua aksesoris mahal dan berkelas milik Dion. Mulai dari jam tangan bermerk dengan stok terbatas hingga gelang dan gesper.
Putra kedua dari keluarga Santoso ini memang dibesarkan dengan harta yang melimpah dan mudah untuk di dapat. Tidak ada yang salah sebenarnya karena orang tuanya mampu. Hanya saja, hal itu jadi membiasakan Dion untuk mendapatkan segala sesuatu dengan mudah dan menganggap remeh hal-hal kecil di sekitarnya.
Setelah mengenakan sarung tangan khusus, Shaka mulai memeriksa sepatu satu per satu. Di mulai dari mempotret sol bagian bawah lalu utuh bersamaan dengan brand sepatu tersebut. Ada sekitar empat puluh tujuh gambar yang diambil Shaka dan membuatnya cukup kelelahan.
Selesai dengan sepatu-sepatu itu, Shaka menutup kembali walk in closet dengan rapi dan sangat hati-hati. Ia juga mempotret sekitaran kamar dion dari berbagai sudut. Bahan barang bukti yang diperlukan telah ia dapatkan, sekarang saatnya untuk memastikan bahwa semua pemeriksaan ini mendukung simpulan awal Shaka.
Barang-barang milik Shaka pun segera dibereskan. Tidak boleh ada yang tertinggal dan meninggalkan jejak sedikit pun.
Perhatian Shaka teralihkan saat sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Shaka. “Shaka lo dimana? Kok lama banget? Lo nyasar ya?” begitu isi pesan yang ia terima dari Indah.
"Sial, gue sampe lupa kalau ada yang nungguin gue," gerutu Shaka yang mulai mengetik pesan untuk membalas Indah.
“Iya, tunggu gue.” Begitu balasan Shaka. Ia segera keluar dari kamar Dion dan berjalan mengedap-endap sambil menutup pintu perlahan.
“Lo di mana sih?” Indah mulai tidak sabaran. Shaka segera turun, sedikit berlari menuruni anak tangga hingga sampai di lantai satu.
Pesan balasan di kirimkan Sakha bersamaan dengan sebuah foto lukisan yang ada di lantai satu, “Gue terpesona sama ini, sampe lupa jalan balik.” Laki-laki itu beralasan.
“Oh astagaa, hahaha… kirain lo ke mana.” Indah membalas lagi.
Gadis itu segera menghampiri Shaka dan berdiri di samping laki-laki itu. Ikut memandangi lukisan seorang wanita yang sedang menangis dengan wajahnya yang berusaha terlihat tegar. Di tangannya ia menggenggam setangkai mawar putih dengan banyak duri tajam yang mengelilinginya. Saking banyaknya duri, tangan gadis itu sampai berdarah. Tetesan darahnya tergambar jelas di lukisan tersebut.
“Jadi benda ini yang lagi lo cari tau?” tanya Indah tiba-tiba. Pikirnya karena lukisan ini Shaka memaksanya masuk ke rumah Dion. Hal itu menjawab rasa penasaran Indah saat Shaka mengatakan ada sesuatu yang harus ia lihat di rumah Dion.
__ADS_1
“Hem,” hanya itu sahutan Shaka yang di artikan ‘iya’ oleh Indah. Semesta begitu baik pada Shaka hingga memberi pertolongan padanya lewat sebuah lukisan wanita ini.
“Bisa balik sekarang?” pinta Shaka kemudian.
“Boleh, gue juga udah di tungguin temen-temen gue yang mau datang ke rumah.”
“Okey,” tanpa menoleh Indah, Shaka berlalu pergi begitu saja, meninggalkan lukisan itu, melewati Indah dengan ekspresi datarnya. Indah menoleh lelaki itu dan memberinya segaris senyum, tetapi sepertinya Shaka memilih untuk mengabaikannya.
Sepulang dari rumah Dion, Shaka mengurung dirinya di ruang bawah tanah. Banyak hal yang harus ia periksa, mulai dari sidik jari Dion, DNA Dion, hingga sol sepatu yang ia ambil dari beberapa sepatu yang Dion punya. Sebuah bagan di siapkan Shaka untuk mencatat apa saja yang ia temukan hari ini berikut hasil uji kecocokan terhadap alat bukti tersebut.
Dua buah White board besar yang menempel di dinding sekarang menjadi sahabat Dekat Shaka satu-satunya. Di halaman putih itu Shaka menulis banyak hal. Mulai dari identitas lengkap Dion hingga alat bukti yang di periksa. Berulang kali panggilan dan pesan masuk ke ponselnya, namun ia abaikan begitu saja. Baginya lebih penting menarik benang merah atas temuan yang ia dapatkan hari ini, karena waktunya tidaklah banyak.
Satu halaman white board telah penuh oleh tulisan Shaka. Beberapa hal penting ia lingkari dengan spidol merah. DNA Dion sudah ada, tetapi tidak cocok dengan kuku dan darah yang ia temukan, pada point ini Shaka memberikan tanda silang merah.
Sidik jari Dion juga sudah ia pindai, tetapi tidak cocok dengan sidik jari mana pun. Lagi, tanda silang merah menjadi lambang yang ia berikan pada bukti ini.
Lalu yang terakhir adalah motif sol sepatu. Dari puluhan gambar sol yang ia cari, tidak ada satu pun yang ia temukan kecocokannya. Shaka menyilang hasil itu dengan penuh kemarahan.
Ia sangat kecewa atas hasil pnyelidikannya hari ini. Padahal sebelumnya ia sangat yakin kalau semua bukti yang ia kumpulkan akan mengarahkan Shaka menuju bukti valid yang menegaskan kalau Dion adalah pelaku pembunuhan Rasya tetapi mengapa laki-laki itu tidak meninggalkan jejak sedikit pun?
Apa seorang siswa SMA bisa selihai itu untuk menyembunyikan jejaknya? Kenapa hanya pesan kematian saja yang menjadi petunjuk Shaka?
Kesal karena tidak menghasilkan apa pun, tubuh Shaka terkulai lemah bersandar pada dinding. Ia menatap nanar dua buah white board yang sudah penuh dengan tulisan hitam dan merah serta anak panah. Ia frustasi karena hasilnya tidak sesuai dengan yang ia harapkan. Jemarinya menarik-narik rambut yang mulai gondrong sebagai bentuk pelampiasan.
“Kenapa semuanya tidak menemukan muara?” batin Shaka, menatap pilu dua white board yang tidak memiliki arti itu. Bayangan wajah Rasya tergambar di sana dan semakin lama semakin tenggelam dalam ketidakpastian.
Yang bisa ia lakukan sekarang hanya tertunduk lesu sambil memandangi layar ponselnya yang ia taruh di dekat kakinya. Nama Gayatri muncul sebagai salah satu orang yang mengetik pesan di grup belajar. Shaka iseng membuka pesan itu, sudah ada belasan chat yang diterima sejak sepuluh menit lalu.
__ADS_1
“Kita nugas kapan?” pertanyaan itu dari Rosi.
“Sore ini gimana?” timpal David.
“Aya bisa gak?” Rosi bertanya pada Gayatri.
“Ayok,” hanya satu kata itu saja jawabannya.
“Shaka bisa?” kali ini Shaka yang di tanya.
Pada menit berikutnya Shaka belum memberikan jawaban, hingga saat ini pun sama.
“Shaka kayaknya masih pacaran deh. Alamat pulang malam sih ini, 🫠🫠” Rosi menambahkan beberapa emoticon dengan ekspresi malas.
”Iya kayaknya. Besok aja deh, mumpung libur. Mau ngumpul di mana?” David memberi ide.
"Di panti mau? Di sini suasananya tenang dan ada perosotan besar," tawaran Rosi memang absurb.
“Ayok, tapi jangan pagi-pagi ya,” Gayatri dengan cepat membalas.
“Okey, agak siangan kalau gitu. Share loc dong alamatnya,” David kembali menimpali. Tidak lama Rosi mengirimkan alamat panti tempatnya tinggal.
Shaka tidak membaca pesan berikutnya. Ia hanya berfokus pada pesan Gayatri.
“Ayok, tapi jangan pagi-pagi.” Shaka mengumamkan kalimat itu. Otaknya mendadak berpikir serius karena satu kalimat itu. Ia memikirkan memangnya apa yang akan Gayatri lakukan di pagi hari?
Sekali lalu Shaka tersenyum kecil, lalu terkekeh hingga tubuhnya bergetar karena tawanya sendiri. Rasanya ia tahu apa yang akan dilakukan Gayatri.
__ADS_1
"Kita harus ketemu, Aya," gumam laki-laki itu yang melanjutkan tawanya.
****