Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Berandal


__ADS_3

Memulai persiapan dengan matang, Shaka segera keluar dari ruang kerjanya. Yang ia lakukan pertama kali adalah memeriksa kondisi motornya. Mulai dari membersihkan bagian-bagian motornya yang kotor, untuk melihat apa bagian itu bermasalah atau tidak.


Shaka mencoba handle gasnya dan suara mesin motor pun terdengar menderu di seisi basemanet hingga lantainya seperti ikut bergetar. Beralih pada kopling dan bagian itu pun berfungsi dengan baik. Kali ini bagian yang tidak kalah pentingnya yaitu rem. Untuk menguji remnya, Shaka menungangi motor besar itu lalu mengitari bundaran taman di depan rumahnya. Mengeremnya beberapa kali dan cukup pakem.


Tidak cukup sampai di sana, Shaka membawa motornya ke jalanan. Helm kesayangannya pun ia kenakan, lengkap dengan jaket kulit yang membentuk postur tubuhnya menjadi gagah dan tegap. Beralih ke jalanan kompleks, Shaka mulai memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Berbelok tajam saat akan masuk ke jalan raya. Ia bersaing dengan kendaraan lain, menyalip beberapa kendaraan di depannya dan menuju jalanan yang sepi.


Jalan di hadapan Shaka tidak terlalu bagus, tetapi cukup layak untuk di jadikan arena latihan karena kondisi jalan yang mengharuskan Shaka bergerak lincah dengan motornya. Motor itu melaju lurus di jalanan beraspal tipis, berbelok tajam untuk menghindari lubang yang cukup dalam. Di depan sana juga ada tumpukan material untuk pembenahan jalan, Shaka sengaja mengelilinginya untuk menguji manuver kendaraannya.


“YES!!” seru Shaka saat ia berhasil mengendalikan kemudinya dengan aman.


Beberapa kali melakukan latihan di rasa cukup oleh Shaka. Sekarang waktunya untuk menyiapkan dirinya agar tampil prima saat balapan.


Laki-laki itu kembali ke rumahnya, mandi dengan bersih dan memakai pakaian yang nyaman untuk balapan. Sosok tinggi itu mematut dirinya di cermin, memakai dua lapis pakaian hingga jaket kulit berwarna hitam legam. Rambut lurusnya ia sisir dengan rapi, sedikit anak rambut yang ada di dahinya ia tiup hingga terbang lantas tersenyum kecil pada wajahnya yang terlihat bersih.


“Lo harus fokus sama apa yang mau lo cari Shaka,” ucap Shaka dengan tatapan tajam pada bayangannya sendiri. Ia menepuk kedua sisi pipinya, lantas tersenyum sinis pada bayangan wajah Dion yang muncul di benaknya. Ia sangat yakin kalau hari ini ia akan mendapatkan banyak informasi tentang pria itu.


“Mau kemana lo? Mau balapan ya?” suara Mira terdengar nyaring di depan kedai yang akan segera tutup.  Sedari tadi ia mendengar suara mesin motor yang menderu-deru saling bersahutan padahal hari sudah larut.


Gayatri yang sedang mengelap meja pun ikut melongok ke luar. Ternyata ada Zaidan bersama Dewa dan teman-temannya. Mereka tengah bersiap dengan motor besar masing-masing. Dari tampilannya mereka seperti bersiap untuk balapan.


“Nggak Nyak, mau maen doang,” sahut Zaidan yang ketara berbohong, oleh Gayatri.


“Gak mungkin maen doang, kalau maen doang lo pasti pake motor kecil. Masuk lo! Kagak usah ikut balapan. Gue laporin sama bokap lo baru tau rasa!” ancam Mira seraya mengacung-acungkan spatula sup di tangannya.


“Kagak Nyak, nongkrong doangan sumpah. Lagian bokap gak ada, lagi ke rumah bini mudanya. Janji dah, dua jam doang gue nongkrongnya.” Zaidan mengacungkan dua jarinya pada Mira sebagai tanda bersumpah.

__ADS_1


“Bocah gak bisa dibilangin. Terserah lo dah! Awas aja kalau lo pulang babak belur. Kagak bakal gue tolongin!”  seru Mira dengan kesal.


“Iyaakk Nyak, kagak bakalan kenapa-napa. Nanti pulangnya dengan selamat sentosa dan bahagia. Okey Nyak?” ucap Zaidan yang tersenyum lebar seraya mengacungkan jempol kanannya.


“Bodo Amat! Bocah gak bisa di urus!” Mira yang kesal akhirnya memutuskan untuk masuk. Ia melirik Gayatri yang masih merapikan meja dan kursi.


“Udah cukup beres-beresnya, lo masuk gih. Tar lo kesiangan lagi,” imbuh wanita itu. Sedikit banyak anak gadisnya pasti mendengar sahut-sahutan ia dengan Zaidan.


“Sini,” Gayatri meminta spatula sup dari tangan ibunya untuk ia bawa masuk.


Mira pun memberikannya dengan kesal sambil menatap Gayatri. “Lo jangan keluar,” ia tahu benar kalau putrinya juga suka nongkrong bersama Zaidan. "Kalau sampe lo ketauan nongkrong, si Zaidan yang gue sunat. Habis-habis dah!" Gayatri pun mendapatkan ancaman yang sama dari ibunya.


Gayatri tidak menjawab, ia memilih masuk karena mendadak perasaannya tidak nyaman.


Ditinggalkan Gayatri, membuat Mira termenung sendirian di kursi pelanggan. Ia menangkup wajahnya dengan kedua tangan dan tiba-tiba saja wanita itu menangis tersedu-sedu. Bayangan seorang anak muda muncul dalam benaknya. Rasa cemas mendadak hadir dan mengisi relung hatinya.


Masuk ke kamarnya dan Gayatri segera memeriksa ponselnya. Ada satu orang yang kemudian ia hubungi.


“Lo di mana?” pesan itu Gayatri kirim pada Shaka. Laki-laki yang sore tadi mendadak menjadi seorang petugas sensus. Sudah selarut ini tidak ada pesan random darinya, entah ke mana perginya lelaki itu.


“Kenapa, lo kangen?” balas Shaka dengan cepat. Sengaja menggoda gadis itu. Gayatri menghembuskan napasnya lega, sepertinya Shaka baik-baik saja.


“PAP,” Gayatri dengan cepat membalas.


“Tumben?” Shaka mengetik itu seraya mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


“PAP!” lagi Gayatri mengirimkan kata itu.


“Nih cewek lagi romantis apa feelingnya kuat banget sih?” gumam Shaka yang saat ini sedang berada di sudut jalanan. Ia baru tiba di markas genk motor yang mengajaknya balapan.


Suara musik disko terdengar menggelegar di sekelilingnya, membuat jantungnya seperti berloncatan. Musik ini sengaja di stel keras-keras  untuk menyemangati anggota genk motor yang akan mengikuti balapan.


Lebih dari 100 orang yang berkumpul dengan bendera genk motor masing-masing. Motor yang akan mengikuti balapan sudah berbaris dengan rapi, hanya menunggu waktu pertandingan di mulai.


Beberapa orang baru berdatangan, membuat suasana semakin ramai. Satu ruas jalanan kota metropolitan itu di tutup dan di pasangi pembatas jalan. Mereka jadikan sirkuit untuk balapan.


Beberapa orang sedang berpesta pora, meliukkan tubuhnya mengelilingi nyala api di dalam tong besi besar dengan botol minuman yang dicekik di tangannya. Pijarnya yang kemerahan membuat wajah Shaka terlihat berwarna jingga.


Orang terlarut dalam suasana pesta yang penuh adrenalin. Meneguk minumannya berkali-kali hingga merasakan tubuhnya yang seperti terbakar. Sorakan demi sorakan terdengar jelas dari beberapa anggota genk motor yang sedang menyemangati kawannya.


“Gue permisi bentar,” pamit Shaka pada ketua genk motor yang memintanya datang.


“Hem,” laki-laki berjenggot tebal itu hanya mengangguk, membiarkan Shaka pergi.


Shaka melipir ke salah satu sudut jalan, sedikit menjauh dari kerumunan itu. Ia juga melepas jaket kulitnya dan mengacak rambutnya agar terlihat berantakan seolah sedang tertidur dan malas-malasan. Ia berfoto sambil tersenyum pada kamera dan mengirimkan foto itu pada Gayatri dengan caption, "Gue lagi santai,"


Gayatri memperhatikan benar foto kiriman Shaka. Bukan pada wajah tampan dan senyum manis laki-laki itu melainkan pada dinding yang Shaka sandari.


“Dia bukan lagi di rumah,” gumam Gayatri. Ia juga melihat detail foto yang Shaka kirim, bibirnya tersenyum kecil saat foto live itu jelas menunjukkan lokasi keberadaannya.


“Dasar berandal!” dengus Gayatri.

__ADS_1


***


__ADS_2