
Cahaya berderang terlihat dari salah satu rumah mewah di sebuah cluster perumahan elite. Malam minggu itu, rumah Shaka terlihat meriah dengan suara bingar musik dan lampu yang menyala kerlap kerlip. Satu per satu tetamu berdatangan untuk memenuhi undangan sang empunya acara.
Pria bertubuh jangkung itu menunggu di ruang tamu, menyambut satu per satu temannya yang datang bergantian di antar dengan kendaraan mewah masing-masing. Terlihat sekali kalau teman-temannya ini berasal dari kaum terpandang.
Dari daftaran calon tamu yang mengisi link, sebenarnya sudah terlihat status sosial ekonomi teman-teman Shaka. Rata-rata adalah generasi muda keturunan dari para pengusaha kaya raya atau orang-orang yang memiliki pengaruh atau jabatan. Bisa dimaklumi kalau mereka adalah orang-orang yang memegang citra baik keluarganya.
Termasuk tiga orang yang baru datang ini. Indah, Wanda dan Rima. Diketahui bahwa orang tua mereka adalah pebisnis di dunia hiburan. Ibu Indah adalah seorang model dan ayahnya seorang produser. Pekerjaan yang tidak jauh berbeda dimiliki oleh orang tua Rima dan Wanda, itu mengapa mereka yang paling show off dan menunjukkan eksistensinya di banding teman sekelas lainnya.
“Malem Shaka….” sapa Indah saat tiba di pintu masuk dan mendapat sambutan dari Shaka yang terlihat tampan malam ini dengan kemejanya yang bermotif polkadot dan celana cutbray. Tema pesta adalah 80’s, di mana mereka berpenampilan layaknya orang-orang di tahun delapan puluhan.
“Malem trio cantik… makasih udah dateng,” sambut Shaka seraya merundukkan kepalanya sebagai bentuk rasa hormat.
“Iya dong pasti dateng. Lo cakep banget sih,” puji Indah yang menatap shaka dengan penuh kekaguman. Ia mengigit bibirnya tipis, gemas sendiri dengan penampilan Shaka yang memperlihatkan bagian atas dadanya yang bidang.
Ia mendekat pada lelaki itu, menatap kagum dan tersenyum kecil. Hanya dengan sebuah lirikan maut, kedua dayangnya langsung paham untuk melepas mantel berbulu dan menunjukkan dress berwarna magenta yang dikenakannya.
Bergaya layaknya Marilyn Monroe dengan sarung tangan jarring berwarna merah muda, membuat penampilan Indah paling wah malam ini. Rambut panjangnya sengaja ia tata demi terlihat pendek sebahu.
“Makasih banyak, lo juga terlihat, eemm… wow!” Shaka balas memuji walau ia sendiri tidak tahu apa kata yang tepat untuk memuji wanita yang gemerlapan dan membuat matanya syok beberapa saat. Melihat ke arah lain pun yang terlihat adalah warna magenta yang terang benderang. Shaka sampai menekan sudut matanya yang pedih dan berbayang.
Indah tersipu malu, ia memang sengaja berdandan seistimewa mungkin untuk terlihat memesona di hadapan Shaka.
“Selamat menikmati pestanya nona-nona, isi kehadiran sebelah sini karena akan ada undian hadiah menarik dari gue,” tunjuk Shaka pada sebuah alat untuk merekam sidik jari para tetamunya.
“Okey, let's go ladies!" timpal Indah seraya menjentikkan jarinya pada kedua dayangnya. Ia berlalu dari hadapan Shaka seraya mengibaskan sedikit rambutnya yang kaku dan berbau hairspray itu. Shaka sampai menahan napasnya sambil berusahan tetap tersenyum pada tamunya.
"Waahh, kira-kira gue dapet apa yaa? Dapet kesempatan nari di lantai dansa sama yang punya pesta, kayaknya udah lebih dari cukup,” gumam Indah sambil menyentuhkan permukaan ibu jarinya ke alat yang di tata sedemikian rupa agar terlihat menarik dan tidak mencurigakan.
Shaka tersenyum kecil mendengar celotehan Indah. “Di tunggu ya cantik, silakan nikmati hidangan yang udah gue sediain buat kalian.” Shaka benar-benar ramah malam ini. Bibirnya tidak henti tersenyum menyambut para tetamunya.
__ADS_1
“Okey!” Indah dengan senang hati melenggangkan kaki jenjangnya masuk ke dalam rumah berbaur dengan teman-temannya yang lain.
Suara musik mulai terdengar semakin bergemuruh. Sang DJ asyik memainkan alat mixingnya untuk membuat suara musik yang semangat. Sudah banyak siswa yang datang dan larut dalam hiburan yang disediakan. Mereka menikmati beragam makanan yang disajikan juga berbagai permainan seru yang sengaja disiapkan Shaka.
Ada yang asyik bermain billiard, berkumpul di satu meja untuk bermain uno, ada pula yang asyik bermain truth or dare dan di satu sudut ada yang berkumpul untuk bermain Dart atau panahan lempar. Mereka bertaruh di sana, dengan koin yang sudah disediakan Shaka. Suara sorakan terdengar riuh saat salah satu ada yang menang diikuti suara tepukan dan tawa para pemain dan yang bertaruh. Di permainan ini, David yang memimpinnya.
Shaka melihat jam di tangan, sudah jam tujuh lebih dan banyak siswa yang sudah datang. Rombongan berikutnya yang datang adalah Dewa bersama teman-temannya yang tiba dengan menggunakan sepeda motor sport mereka. Sementara Zaidan mengekori di belakang dengan vespa antiknya.
Perhatian Shaka benar-benar tertuju pada genk itu, ia melihat ke sekitaran mencari keberadaan Gayatri yang mungkin datang bersama mereka. Tetapi hingga para remaja itu tiba di hadapannya, sosok Gayatri tidak juga terlihat.
“Wah, rame juga acaranya,” ungkap Dewa yang melepas kacamata hitamnya.
“Makasih udah dateng bro,” Shaka bersikap seramah mungkin pada Dewa dan teman-temannya. Mengajak remaja itu tos dan Dewa tidak menolaknya.
“Lo ulang tahun apa gimana?” Anton ikut penasaran.
“Hahahaha… kagak lah. Gue gak punya tanggal lahir,” canda Shaka yang dibalas senyuman kecut dari Dewa dan teman-temannya.
“Gak usah, lo pada masuk aja gih, tapi isi absen dulu buat nanti di undi dan yang beruntung dapet hadiah,” Genk ini pun Shaka paksa agar mendapatkan sidik jari mereka.
“Kayak mau masuk kelas aja pake absen dulu,” ledek Dewa yang hanya dibalas senyum oleh Shaka.
Saat Zaidan akan berlalu, Shaka menahan tangan remaja tanggung itu. “Aya gak ikut?” tanya Shaka dengan penasaran. Ia sampai memegangi tangan Zaidan agar tidak berlalu lebih dulu.
Zaidan melirik tangannya yang di pegang oleh Shaka, sepertinya laki-laki ini sangat butuh jawaban.
“Obses banget lo nanya si Aya mulu." Remaja itu mengibaskan tangannya dari cengkraman Shaka, geli sendiri di pegangi laki-laki seperti ini. "Si Aya kagak keluar malem-malem apalagi ikutan pesta. Kalau gak ngorok, ya bantu nyokapnya jualan soto,” hanya itu jawaban Zaidan seraya berlalu pergi dari hadapan Shaka.
Cukup mengecewakan jawaban Zaidan, ia pun membiarkan Zaidan pergi begitu saja. Zaidan benar, tidak mungkin seseorang yang menarik diri seperti Gayatri menghadiri sebuah pesta seperti ini.
__ADS_1
“Thanks,” hanya itu sahutan Shaka dengan berat hati.
Zaidan hanya tersenyum miring, lalu masuk setelah melakukan absensi. Sementara itu Shaka masih mematung di tempatnya. Bersidekap sambil mengulang ingatan atas jawaban Zaidan tadi. “Aya bantu orang tuanya jualan soto? Kok gue gak liat ada kedai soto di dekat rumahnya?” gumam Shaka sambil mengernyitkan dahinya.
“Shaka,” panggil seseorang yang mengagetkannya.
“Ya!” Shaka segera menoleh.
“Oh, sorry kalau ngagetin. Aku cuma mau ngasih tau, kalau semua tamu udah ngisi absensi. Hanya satu orang yang gak jadi datang, atas nama Rosi. Kayaknya, temen satu kelompok kamu.” Alya yang memberi penjelasan.
Shaka mengangguk paham, “Makasih. Pergilah berpesta dengan yang lain,” ucap Shaka seraya menepuk lengan Alya.
“Ya,” Alya tersenyum kecil mandapat tepukan dari Shaka, meski Shaka tidak pernah melihatnya sebagai seorang wanita, tetapi sangat menyenangkan saat mendengar Shaka mengucapkan kata terima kasih. Alya senyum-senyum sendiri sambil mengusap lengan yang di tepuk Shaka.
Sepeninggal Alya, Shaka masih mematung di teras rumahnya. Menatap langit malam yang dihiasi banyak gemintang. Tiba-tiba saja muncul dalam pikirannya untuk mengecek alamat Zaidan. Ia membuka tabletnya dan mencari nama Zaidan di antara nama teman-temannya. Telunjuknya menunjuk nama Zaidan lengkap dengan alamatnya. Remaja ini tinggal di dekat sebuah parbrik.
Shaka segera mencari lokasi rumah Zaidan dengan aplikasi mapnya. Melihat ke sekitaran rumah Zaidan dan beberapa rumah dari kediaman Zaidan ada sebuah kedai soto dengan rating 4,8. Shaka sedikit berpikir kalau kedai soto ini berada cukup jauh dari rumah yang pernah di masuki Gayatri saat ia mengantarnya pulang.
“Astaga, apa dia mengecohku?” batin Shaka saat teringat kalau yang ia antar pulang adalah seorang Gayatri. Tidak habis akal, Shaka melakukan pencarian tentang kedai soto itu. Ada beberapa foto referansi di sana. Bibirnya tersenyum kecil saat ternyata foto Gayatri menjadi salah satu foto favorit para pengunjungnya. Gadis yang bercelemek warna cokelat itu membawa sebuah baki di tangannya, tampak menundukkan kepala saat gambarnya di ambil.
“Aku akan menemukanmu,” batin Shaka dengan rasa senang yang tidak terkira.
Benar yang dikatakan David bahwa ada istilah sekali mendayung dua tida pulau terlampaui. Shaka segera menemui sahabatnya dan berbisik di telinga David, “Kamu atur pestanya ya, seperti rencana kita. Aku harus pergi dulu. Sibukkan mereka, jangan buat mereka mencariku,” ujar Shaka dengan kalimat jelas dan tegas.
“Hem, siap!” sahut pelan David yang terangguk patuh.
Tidak menunggu lama, Shaka pun segera pergi dengan menggunakan sepeda motor sportnya. Melindungi kepalanya dengan helm full face, sementara tubuhnya ditutupi jaket kulit. Ia melajukan motornya keluar dari kediamannya, meninggalkan pesta yang sudah ia siapkan dengan tujuan yang sudah tercapai. Tidak ada lagi yang ia inginkan sekarang, selain mencari informasi tentang seseorang yang selalu membuatnya penasaran.
“Lo sendiri yang minta gue cari, maka dengan senang hati gue datang,” batin Shaka seraya melajukan motornya dengan kecepatan tinggi mengikuti peta di jam tangannya.
__ADS_1
****