Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Kedatangan yang dinanti


__ADS_3

Kedatangan seorang Gayatri benar-benar di nanti oleh Shaka. Pria muda yang sedang berada di balkon kamarnya itu, tersenyum lebar saat melihat sebuah skuter matik memasuki halaman rumahnya. Siapa lagi pemiliknya kalau bukan Gayatri. Shaka segera berlari menuruni anak tangga demi untuk menyambut kedatangan sang gadis.


Memang tidak ada karpet merah seperti yang ia candakan, tetapi ada hati yang menanti dengan jantung yang berdebar-debar kencang. Ia sampai lupa pada sensasi berdenyut nyeri di kepalanya yang semakin terasa seiring dengan luka yang mulai mengering.


Shaka mengabaikan ruang tamu yang berantakan dan belum ia benahi. Pria muda itu berlari cepat menuju teras rumah untuk menyambut Gayatri dengan senyumnya yang lebar. Jantungnya semakin bertalu-talu saat melihat Gayatri turun dari motornya dan melepas helm bogo yang melindungi kepalanya.


Gadis itu berbeda, binar matanya semakin indah. Derap kakinya yang santai namun tegas itu seolah berbanding terbalik dengan debar jantung Shaka yang cepat dan bergemuruh. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya melihat gadis berjaket jeans warna cokelat kopi itu kini berdiri di hadapannya dengan sebuah tentengan kresek.


“Lo beneran datang?” tanya Shaka nyaris tidak percaya.


“Hem, sebelum kuman ngobrak-abrik syaraf di kepala lo yang udah berantakan itu,” timpal Gayatri seraya menyodorkan keresek di tangannya.


Entah apa isi keresek hitam itu yang jelas Shaka menghirup wangi yang tidak asing hingga matanya terpejam.


“Lo bawain pesenan gue?” tanya laki-laki itu seraya mengambil alih keresek di tangan Gayatri. Ia memeriksa isinya dan benar saja, isinya adalah ketoprak yang tidak disangka akan dibawakan oleh Gayatri. “Thanks Aya,” imbuhnya dengan sungguh.


“Hem,” hanya itu sahutan Gayatri. Sudut hatinya ikut tersenyum melihat senyuman yang tidak berhenti terkembang dari bibir Shaka, laki-laki aneh yang rela terluka demi menyelamatkannya. Laki-laki ini memang baik, hanya prilakunya saja yang sering kali di luar perkiraan BMKG.


“Ayo masuk,” ajak Shaka.


Laki-laki itu berjalan lebih dulu, diekori Gayatri yang masih memperhatikan suasana rumah yang sepi. Tidak habis pikir, di rumah yang sangat besar dan luas ini, ia hanya bertemu dengan dua orang, yaitu penjaga keamanan di depan sana dan Shaka sang empunya. Padahal sepertinya rumah ini bisa menampung warga satu RT.


“Gue tinggal sendiri, gak ada saudara, gak ada orang tua,” ucap Shaka seperti mempertegas apa yang Gayatri pikirkan.


Gayatri tidak ambil pusing, seperti halnya dirinya yang tidak ingin terlalu dicampuri masalah keluarga, maka ia pun tidak bertanya banyak pada Shaka. Cukup mereka kenal sebagai teman sekolah saja. Tidak, kali ini bertambah, mengenalnya sebagai orang yang telah menyelamatkan nyawanya.


“Duduklah, gue ambil dulu piring. Lo mau minum apa?” tawar Shaka.

__ADS_1


“Gak usah, gue gak datang buat minta minum,” jawab Gayatri dengan ketus.


“Hahahaha… ya mana tau lo mau nebeng mandi sekalian. Eh tapi kolamnya masih kotor, belum gue bersihin. Bentar ya,” pamit Shaka seraya beranjak menuju dapurnya. Jaraknya yang cukup jauh, membuat Shaka lumayan lama meninggalkan Gayatri.


Gayatri terduduk di salah satu sudut sofa. Ia melihat ke sekeliling rumah yang masih menyisakan lampu-lampu kecil yang tertempel di dinding. Tulisan ‘Welcome to the Party’ juga masih terpasang, menggantung di langit-langit rumah yang tinggi dengan lampu hias besar di tengah-tengah.


Sepertinya Shaka benar-benar niat mengadakan pesta ini, hingga dekorasinya begitu maksimal. Balon-balon berwarna warni juga masih terlihat bertebaran di beranda belakang rumah Shaka, tepatnya di taman dan kolam renang. Entah berapa lama waktu yang akan Shaka habiskan untuk membereskan semuanya.


“Sorry lama,” ucap Shaka saat ia kembali.


Laki-laki itu membawa piring dan sendok serta segelas minuman untuk Gayatri. Minuman dingin berwarna putih sedikit keruh dengan beberapa buah leci di dalamnya. Gelasnya pun sangat cantik, mirip gelas di café-café.


“Gue gak punya makanan, kalau lo lapar nanti kita keluar aja ya.” Shaka menaruh gelas dan piring itu di atas meja, tepat di hadapan Gayatri.


Gayatri tidak menimpali, ia lebih memilih membantu Shaka membuka bungkusan ketopraknya lalu menempatkannya di piring. Shaka tersenyum kecil melihat bantuan kecil yang Gayatri lakukan.


“Makasih,” Shaka dengan senang hati menerimanya. “Lo udah makan?” tanya Shaka kemudian.


“Udah,” hanya itu sahutan Gayatri seraya menoleh ke arah lain.


“Okey, kalau udah.” Shaka memulai suapan pertamanya. “Eemm… ini enak Aya!” seru Shaka dengan mata membulat. “Ini ketoprak pertama yang rasanya paling enak. Lo beli di mana sih?” Shaka benar-benar penasaran. Ia mengunyah dengan cepat makanannya dan menyuap untuk kedua hingga ketiga kalinya bertubi-tubi.


“Perasaan B aja deh. Lo juga pasti lewat, deket bunderan,” tutur Gayatri sekenanya.


“Perasaan semalam gue lewat gak ada. Apa gue gak liat karena kepala gue pusing?” Shaka berusaha mengingat-ngingat.


“Kalau kepala lo pusing, berhenti tuh mulut ngoceh, makan!” decik Gayatri dengan dingin.

__ADS_1


“Wiihh galak banget sih Ya, gue kan lagi sakit,” Shaka memasang wajah sedihnya sambil menyuap kembali ketoprak ke mulutnya.


“Ya udah abisin ketopraknya, nanti minum obat,” Gayatri kesal juga pada tingkah kekanakan Shaka. Ia tidak menyangka kalau tingkah seorang bad boy ini berubah menjadi anak bayi.


“Tangan gue lemes Ya. Luka lebamnya cenat-cenut. Udah kepegelan ngangkat sendok dari tadi.” Tangan kanan Shaka terkulai lemah, ia menaruh sendoknya begitu saja. Ia memang sedang memancing beriak perhatian Gayatri.


Gayatri tidak berkomentar, ia memandangi lengan Shaka yang lebam. Sepertinya gara-gara laki-laki ini menahan pukulan balok yang hampir mengenai wajah Gayatri, semalam.


“Masih mau lo lanjutin gak makannya?” tanya Gayatri seraya melirik ketoprak yang masih tersisa setengahnya.


Shaka mengangguk dengan manja. "Kalau ada yang bersedia menolong orang lemah ini," rengeknya dengan bibir yang mencibir, pura-pura menahan tangis manja.


Tidak banyak komentar, Gayatri mengambil alih piring Shaka juga sendoknya. Lalu menyuapkan ketoprak itu ke mulut Shaka. Mulut Shaka terbuka lebar, segera menyambar suapan Gayatri yang terarah padanya lalu mengunyahnya dengan nikmati. “Lebih enak kalau lo yang nyuapin,” cetusnya sambil tersenyum senang.


Gayatri tidak menimpali, ia menyumpal kembali mulut Shaka dengan ketoprak, setiap Shaka membuka mulut hendak bicara, Gayatri selalu menyumpalnya dengan makanan itu, terus begitu sampai kemudian makanan di piring bersih tandas.


“Enak banget Aya. Ini namanya makan sambil sprint,” cicit Shaka yang tersenyum lebar.


“Minum obat lo,” titah gadis itu seraya mendekatkan gelas dan obat pada sang empunya.


“Okey,” Shaka membuka kemasan obatnya, ada tiga obat yang harus ia minum. Ia tenggak bersamaan hingga ketiganya kompak masuk ke perut Shaka dalam waktu yang bersamaan. Syukurlah tidak ada drama.


“Gue mau cuci tangan,” ujar Gayatri.


“Oh, kita ke belakang aja.” Shaka mengajak Gayatri masuk semakin dalam ke rumahnya. Melewati mini bar, lalu ruang keluarga yang sepi dan berbelok ke kanan, ada sebuah dapur di sana. Dapurnya cukup rapi untuk ukuran seorang Shaka. Gayatri mencuci tangan di wastafel sementara Shaka memandanginya dari belakang, sambil bersidekap bersandar pada meja makan. Masih seperti mimpi melihat Gayatri datang ke rumahnya dan berbicara dengan suaranya yang khas.


Gayatri melihat wajah Shaka yang tersenyum dari pantulan kaca kecil yang ada di hadapannya. Entah kenapa laki-laki itu selalu tersenyum. Apa hidupnya sebahagia itu?

__ADS_1


****


__ADS_2