
“Iya, suara itu persis dari sini, Shaka,” ucap Gayatri setelah berdiri di samping Shaka. Di balik pohon yang terlihat dari tempat Gayatri.
“Lalu,” Shaka semakin penasaran.
“Sekitar empat orang datang, entah dari mana asalnya. Mereka nyamperin abang gue sambil ikut berteriak, ‘PEMBUNUHAN! PEMBUNUHAN!’, mereka mengelilingi Rasya sama abang gue. Abang gue di pukuli walau dia bilang dia gak bunuh Rasya. Terus badan Rasya di tutup pake kain putih. Gak terlalu lama dari situ, mobil polisi datang bersama ambulance.” Gayatri mencoba mengingat rentetan kejadian yang memilukan itu.
“Berapa menit?” Shaka ingin meyakinkan.
“Gue gak terlalu inget. Mungkin sekitar setengah jam,” Dahi Gayatri mengernyit, ia sedang berusaha berpikir keras.
Shaka pun ikut terdiam, memikirkan apa yang terjadi saat itu. “Mengingat jarak yang cukup jauh dari sini, itu artinya seseorang udah nyiapin penyergapan itu. Tepat setelah Rasya dipastikan meninggal,” tutur Shaka dengan penuh keyakinan.
“Tapi gue gak ngeliat orang-orang itu ngehubungin polisi atau menggunakan hape buat menghubungi polisi. Hanya saja,” Gayatri menjeda kalimatnya. Tiba-tiba ia mengingat sesuatu.
“Kenapa?” Shaka segera bertanya. Ia melihat jelas perubahan ekspresi Gayatri.
“Dion ngehubungin bokapnya, tepat setelah orang-orang itu datang.” Gayatri berujar dengan pelan. "Dia juga nahan gue supaya gak nyamperin ke sana dengan alasan takut gue ikut dipukulin," suara Gayatri terdengar pelan karena nalarnya masih berusaha mengingat kejadian malam itu. Bagaimana bersikukuhnya Dion yang melarang Gayatri untuk mendekat.
“Dion? Kenapa dia ngehubungin bokapnya?” Shaka semakin penasaran.
“Dia bilang dia mau minta pertolongan bokapnya, ngasih tau abang gue udah bunuh seseorang,” jawaban Gayatri pelan saja membuat dua orang itu saling bertatapan dengan pikiran yang sama.
“Bokap Dion yang bikin polisi itu datang ke sini,” ucap dua orang itu bersamaan.
“Sial! Itu artinya si Dion juga terlibat. Kenapa dia gak diperiksa? Kenapa dia gak diintrogasi?” Shaka semakin gelisah. Kecurigaannya pada Dion semakin bertambah.
Gayatri hanya menggeleng, ia juga tidak bisa memikirkan alasan yang tepat selain kenyataan kalau keluarga Dion adalah orang yang berkuasa.
“Sekarang gue tanya, kenapa si Dion di skorsing selama satu bulan?” tanya Shaka kemudian.
“Dia di skorsing karena ngebully siswa lain, anak kelas dua. Semua siswa yang oernah ngebully, di skorsing sama pihak sekolah.” Gayatri menjawab sesuai dengan pengetahuannya.
“Kapan?”
“Selama ini dia memang suka ngebully siswa lain. Gue gak tau mulainya kapan.”
Shaka terdiam, lalu kemudian tersenyum kecil. “Sial! Gue rasa ini cuma trik supaya si Dion gak dilibatkan dalam pemeriksaan,” tegas laki-laki itu sekali lalu menatap tiang listrik di hadapannya dengan tajam. Membayangkan sang adik meninggal di sana.
“Maksud lo, abang gue sengaja di jebak, sama bokap Dion?” Pikiran Gayatri mulai mengerucut ke sana.
“Gue belum tau pasti, tapi gue rasa mulai sekarang kita harus nyelidikin Dion diam-diam.” Shaka berujar dengan penuh tekad.
Gayatri terangguk setuju, sepertinya tidak ada pilihan lain selain mendekat pada Dion. “Apa sebaiknya gue mulai bersikap lebih baik sama dia? Buat nyelidikin dia?” tanya Gayatri.
__ADS_1
Shaka segera menoleh, menatap gadis itu dengan lekat, lalu tersenyum kelu. “Ide yang bagus. Gue tau pasti dia suka banget sama lo. Kenapa nggak kita gunain kesempatan itu buat deketin dia?” Shaka mulai bersiasat.
“Ya, akan gue coba,” sahut Gayatri dengan penuh keyakinan.
Sore itu, penyelidikan masih terus berlanjut. Shaka memeriksa kembali area itu, tepat di tempat saat ia menemukan jejak sepatu di tempat itu.
“Apa abang lo punya sepatu boots militer?” tanya Shaka kemudian.
“Eemm, seinget gue sih nggak. Sepatu abang gue rata-rata sepatu sneaker. Ada beberapa pantofel dan slip on. Kenapa?”
“Boleh nanti gue liat?” tanya shaka sambil memperhatikan ke bawah sana, kebun singkong yang belum dipanen.
“Boleh,” sahut Gayatri dengan yakin. Ya ia sangat yakin untuk bekerja sama dan terbuka pada Shaka.
“Gue rasa, kita harus nyari tau orang-orang yang datang malam itu. Kita harus tau identitas mereka.” Shaka berujar sambil memandangi ke bawah sana, kebun singkong yang menjadi saksi biru kepergian adiknya.
“Gue setuju. Kapan kita mulai?” semangat sekali gadis ini, membuat Shaka mengulum senyum.
“Sekarang, sebelum kita pulang.” Shaka berujar dengan yakin.
Saat itu juga, sebelum pulang dua orang muda itu berkeliling di sekitar area perkebunan. Mendatangi rumah warga yang paling dekat dengan lokasi kejadian. Mereka masuk ke sebuah desa yang tidak terlalu padat. Berada di pinggiran kota Jakarta dan jauh dari hiruk pikuk.
Bertanya pada beberapa warga dan mereka mulai mendapatkan identitas orang-orang itu. Gayatri dan Shaka mencari keempat orang tersebut. Satu orang di antaranya adalah laki-laki paruh baya yang sedang bersantai di sebuah pos ronda.
“Kami ingin tau karena kami lihat singkong di kebun itu jadi tidak di panen. Apa karena ada cerita mistis di tempat itu?” tanya Shaka yang berpura-pura.
“Cerita mistis sih kagak ada, cuma ya kami masih takut aja. trauma liatnya,” ucap laki-laki itu.
“Trauma kenapa pak?” Gayatri ikut penasaran.
“Ya trauma, liat darah anak itu nyembur ke muka anak satunya. Banyak banget sampe mukanya dipenuhi darah.” Laki-laki itu mengusap wajahnya seolah wajah itu yang dilumuri darah.
“Kok bisa sampe di sembur darah pak?” Shaka dengan gaya bertanyanya yang perlahan namun pasti.
“Gak tau juga kenapa. Kita pikir tuh anak sakit, makanya sampe ada darah nyembur. Tapi pas kita liat, ternyata perutnya di tusuk. Tapi anehnya, pelaku gak bawa pisau. Kita cari di ladang juga gak ada pisau yang di buang. Aneh kan?” laki-laki itu dengan wajahnya yang bingung.
“Berarti bapak gak liat dia di tusuk?” Gayatri menegaskan.
“Ya kagak.”
“Terus kenapa bapak pukulin pelaku kalau bapak gak liat dia nusuk?” Gayatri mulai berreaksi. Bagaimana pun laki-laki ini salah satu orang yang menyakiti kakaknya hingga trauma.
“Ya refleks aja gitu. Gue pikir dia yang ngebunuh. Jadi ya kita pukulin biar kapok dan gak kabur.” Laki-laki itu menjawab dengan santai, tapi tidak sesantai itu untuk Gayatri.
__ADS_1
Tangan gadis itu sudah mengepal, dadanya bergemuruh menahan kesal. Bisa-bisanya ia menjawab dengan enteng sambil menyesap kembali rokoknya, sementara ia dan keluarganya di buat menderita hingga sang kakak masuk rumah sakit jiwa karena traumanya.
Shaka yang melihat reaksi Gayatri, segera meraih Pundak gadis itu. Mencengkramnya pelan dan menepuk-nepuknya untuk menenangkannya beberapa saat. Ia tidak mau emosi Gayatri terpancing. Terlihat jelas kalau Gayatri menghela napasnya dalam untuk menenangkan dirinya sendiri. Usaha yang bagus menurut Shaka.
“Berapa orang yang waktu itu nyamperin lokasi kejadian?” Shaka masih dengan rasa penasarannya.
“Gue, si Samsul, Idris, sama Tukin. Berempat doang,” aku laki-laki tersebut.
Shaka mengernyitkan dahinya karena menurut Gayatri ada lima orang di tempat itu. Ia melirik Gayatri dan gadis itu menggeleng.
“Bapak berempat datang gitu aja setelah melihat kejadian itu?”
“Ya nggak. Awalnya kita kira tuh bocah lagi pada berantem aja, biasa lah anak muda. Sampe gue liat, itu bocah satunya di sembur darah. Terus ada orang yang teriak pembunuhan! Katanya. Ya gue sama temen gue langsung nyamperin.”
“Bapak liat gak orang yang teriak pembunuhan itu?” Shaka semakin menyelidik.
“Liat remang-remang doang. Bajunya serba item, mukanya keliatan dikit doang soalnya pake topi. Hidungnya mancung banget, itu yang gue inget. Terus pake sarung tangan item. Sama kalung emas putih gitu. Liontinnya bikin silau, emas putih ada merahnya di tengah. Keliatan banget pas kena lampu. Itu doang yang gue inget,” terang laki-laki tersebut.
Shaka dan Gayatri kompak saling menoleh setelah mendengar penjelasan laki-laki itu.
“Ngomong-ngomong kalian bukan polisi kan? Nanya-nanya gue bukan buat di laporin ke polisi kan?” laki-laki itu menatap Shaka dan Gayatri penuh selidik.
“Bukan lah pak. Bapak gak liat saya masih abege gini? Mana mau urusan sama polisi.” Shaka menjawab sekenanya sambil mencandai laki-laki itu.
“Kiraaiin… Kalian berdua kayaknya suka balapan ya, motornya bagus begitu. Gue boleh foto gak sama motornya?” tanya pria tua tersebut dengan semangat.
“Wah boleh dong Pak. Sini biar saya fotoin,” ucap Shaka dengan senang hati.
“Wah bener ya. Nih hapenya. Ambil gambar yang banyak, buat gue pamerin!” laki-laki itu beranjak dengan semangat, merapikan baju juga rambutnya yang kelimis.
“Siap Pak! Bapak berdiri di sini biar saya fotoin.” Shaka dengan senang hati membantu.
Laki-laki itu pun segera berpose di sebelah motor Shaka. Mengambil beberapa gaya yang diabadikan lewat ponsel pintarnya. Gayatri hanya tersenyum saja melihat tingkah Shaka dan lelaki itu.
“Wiihh, fotonya kece-kece. Makasih ya!” seru laki-laki itu.
“Iya sama-sama Pak. Nanti kalau semisal saya nemuin bapak lagi, buat nanya-nanya boleh?” pinta Shaka.
“Ya boleh, datang aja kemari.”
“Siap Pak, terima kasih banyak.” Shaka menyahuti dengan senang hati. Suatu hari ia bisa menggunakan laki-laki ini sebagai saksi atas kasus adiknya.
****
__ADS_1