
“Test DNA dan cek sidik jari,” gumam Shaka, mengucapkan apa yang ia tulis. Langkah-langkah itu yang harus ia lakukan untuk menggenapkan barang bukti.
Yang paling mungkin di lakukan saat ini adalah memeriksa DNA dari benda-benda ini. Terutama kuku dan beberapa tets darah yang mengering di atas beberapa selembar daun kecil. Sementara untuk pemeriksaan sidik jari, tidak bisa ia lakukan sendiri. Ia harus menghubungi pihak berwenang dan belum tentu mendapat izin. Shaka menjadikan test sidik jari ini sebagai pilihan terakhir.
Bukti berikutnya adalah foto jejak kaki. Shaka mengunggah foto tersebut dan mencari jenis sol sepatu yang biasa di gunakan, ternyata sol ini digunakan pada tipe sepatu boots.
“Apa genk motor sekarang suka pake sepatu boots? Kalau pun ini jejak kaki pihak yang mengevakuasi, apa mungkin mereka menggunakan sepatu boots? Ukuran kakinya juga sangat besar,” gumam Shaka saat mendapat perkiraan ukuran sepatu yang digunakan.
Ukurannya lebih besar, tidak seperti ukuran kaki orang asia. Shaka mencoba mencari motif sol sepatu yang digunakan, tidak ada dalam jajaran bentuk sol sepatu brand lokal. Shaka membaca kembali artikel di internet mengenai sol sepatu yang saat ini di carinya. Dari banyaknya jenis sepatu boots, sol sepatu boots yang Shaka temukan mirip dengan sebuah brand sepatu khusus militer eropa.
“Kemungkinannya ada dua, sepatu ini di beli di luar negeri atau pelakunya orang asing.” Pemikiran Shaka mulai mengerucut.
Selera makan Shaka mendadak hilang. Ia menaruh kembali roti yang sudah ia balik dengan posisi selai di luar. Lantas menengadahkan kepalanya, mencoba berpikir dengan tenang. Ada satu hal yang masih bisa ia lakukan saat ini. Shaka mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Selamat pagi Dirga, saya Shaka. Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan, bisa bantu saya?" Shaka menghubungi asisstant badan intelegent.
"Siap selamat pagi mayor Shaka. Apa yang bisa saya bantu?" Laki-laki itu cukup sigap untuk membantu Shaka.
"Boleh tau brand sepatu mana saja yang bekerja sama dengan para satuan?" Shaka bertanya dengan lugas.
Dirga tidak lantas menjawab, sepertinya laki-laki itu sedang berpikir. Shaka menunggunya dengan tidak sabar. "Izin, harus saya tanyakan dulu. Mohon waktunya." Begitu bunyi balasan pesan Dirga.
"Terima kasih. Kabari saya secepatnya." Shaka bisa menghela napasnya sedikit lega. Ia berharap Dirga benar-benar akan membantunya.
Tring!
Sebuah notifikasi pesan masuk kembali mengalihkan perhatian Shaka. Laki-laki itu segera mengeceknya.
“Tugas baru dari guru geograpi. Di buku paket halaman 126. Di kumpulkan senin depan.” Pesan itu dari Rosi, di grupnya yang hanya tiga orang itu.
“Waahh makasih Rosi. Gue gak bisa ngerjain di sekolah nih, sayang banget. Tugas kelompok apa tugas pribadi tuh? Ngomong-ngomong besok libur, kalian ada acara ke mana? Pada datang kan ke pesta gue?” tanya Shaka bertubi-tubi.
Tidak lama berselang Gayatri typing, Shaka langsung menegakkan badannya. Menunggu beberapa saat sampai Gayatri mengirimkan pesannya.
__ADS_1
“Duh kebiasaan deh, ngetiknya lama banget.” Shaka menggerutu kesal sambil menggaruk kepalanya dengan frustasi. Setelah lama menunggu, typing itu hilang dan tidak ada pesan yang di kirim.
“Nungguin ya Shaka? Hahahaha... Aya gak jadi ngetik pesan, dia salah grup. Hahahaha….” Rosi seolah paham kegundahan Shaka.
“Astagaaa… gue udah nungguin. Emang niatnya mau ngetik di grup mana?” lagi Shaka bertanya dengan penasaran.
“Di grup yang gak ada kamunya. Hehehe….” Rosi menjawab dengan ringan.
“Gak ada guenya? Grup apa wey?” Shaka semakin penasaran. Dan kali ini pesan Shaka malah tidak di balas, di baca pun tidak.
“Astagaaa!! Mecahin masalah Rasya sama peliknya dengan ngehadapin Aya. Aaarrgghhh!!!” Shaka menggeram kesal hingga berdiri. Harus seperti apa ia menghadapi semuanya?
Grup baru itu adalah grup tugas geography. Gayatri satu kelompok dengan dua murid baru dan Rosi. Saat ini mereka sedang berkumpul di perpustakaan untuk mengerjakan tugas bersama-sama. David dan Alya menatap bingung bagaimana cara berkomunikasi dengan Gayatri. Sedari tadi gadis ini sibuk membaca buku dan mencatat tanpa mengatakan apa pun.
“Kita bikin grup aja ya?” tawar Rosi yang tersenyum lebar.
“Grup apa?” Alya bingung sendiri.
“Grup buat kita berkomunikasi. Jadi nanti kita bahasnya di grup. Materi kita share di situ jadi tinggal di pelajari aja. Sama nanti kita ngobrol-ngobrol aja di situ. Gimana?” Rosi menjelaskan dengan sederhana.
“Okey, aku bikin dulu grupnya.” Tangan Rosi bergerak dengan cepat membuat grup baru dan menambahkan tiga temannya. Gayatri yang sedang beranjak untuk mencari buku lain sementara David dan Alya yang masih menatap bingung, menunggu notifikasi pesan di ponselnya.
“Nah, udah aku tambahin. Sekarang kita cari materi dulu, nanti baru kita bahas bareng-bareng. Okey?” ringan sekali Rosi berujar. David hanya bisa mengangguk begitu pun dengan Alya. Rosi beranjak mengikuti Gayatri, mencari materi untuk tugas.
“Ini kita nanti diskusinya gimana? Di grup ini? Boleh pake pesan suara gak sih? Males banget ngetiknya.” Alya sudah mengeluh lebih dulu. Tidak terbayang harus mengetik panjang-panjang dan membuat jarinya keriting.
“Udah ikutin dulu ajaa, jangan panik. Yuk sabar yuk….” David mencoba menenangkan juniornya.
Alya hanya menghembuskan napasnya kesal. Sudah terlalu lama ia lulus sekolah, jadi feelnya untuk belajar sudah hilang. Di tambah kerja kelompokpun harus sesulit ini.
“Weeyy, kelompok apa weyyy! Kenapa gue gak di ajakin?” Shaka masih saja bertanya-tanya di dalam grupnya.
“Kelompok baru Shaka, ngerjain tugas geograpi. Kamu satu kelompoknya sama trio pick me… selamat berkumpul dengan cewek-cewek cantik… hahahaha….” Rosi menjawab dengan puas.
__ADS_1
“Lo berdua tega. Kenapa gue gak di ajak?” Shaka mulai merajuk.
“Ya mau gimana lagi, trio pick me yang minta. Aku sama Aya sekelompok sama dua murid baru. Jadi pas, satu kelompoknya empat orang.”
“Tukeran aja sama gue gimana? Gue yakin kalian lebih cocok sama gue.” Shaka setengah memohon.
“LO MASIH BERISIK GUE KICK YA!”
"Astaga!" Shaka sampai terhenyak. Baru kali ini Gayatri membalas di grup, itu pun dengan huruf kapital.
“Astagaaa, lo tega ya Aya. Kalau gue di kick, berarti gue boleh japri lo kan?” Shaka mengubah rajukannya menjadi ancaman.
Gayatri tidak membalas. “Diam berarti iya. Coba kick gue sekarang. Buruan! Gue nunggu banget di kick dari group!” Shaka balas menantang. Di tempatnya ia terkekeh menunggu respon Gayatri.
“Ish Shaka rusuh banget sih, cocok deh sekelompok sama pick me.” Rosi yang menimpali.
“Astagaa, ketikan lo. Masa gue harus kuketkan warna pink?” balas Shaka.
“COBAIN AJA!” Gayatri membalas dengan dingin.
“Tolong matikan capslock Anda nona,” timpal Shaka.
“Hahahahaha… kalian lucuk. Iya sih, serunya kita sekelompok lagi. Coba aja kamu bilang sama guru geograpinya. Kalau ngizinin, baru kita ubah grupnya,” saran Rosi.
Setelah Rosi mengirimkan pesan itu, ia mendapat lirikan maut dari Gayatri.
“Hehehehe… jangan marah Aya, aku cuma pengen ketawa tiap hari liat tingkah kalian,” bujuk Rosi seraya menyandarkan kepalanya bermanja di lengan Gayatri.
Gayatri tidak menimpali. Ia kembali fokus pada buku yang ia baca dan memasukkan ponselnya ke dalam saku.
“Okey, gue akan ngehubungin guru Geographynya. Share gue kontaknya,” pinta Shaka dengan berani.
“Astagaaa, Shaka beneran mau minta izin sama bu Ima. Kira-kira gimana dia minta izinnya ya? Mana galak banget lagi,” ujar Rosi seraya menatap layar ponselnya dan mengirimkan kontak guru geographynya pada Shaka.
__ADS_1
Gayatri tidak menimpali, hanya terkejut kalau Shaka benar-benar meminta ganti kelompok pada gurunya.
****