Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Nostalgia


__ADS_3

“Lo apain si Aya?” tanya Mira saat melihat bulir air mata jatuh di pipi putrinya. Meski sudah Gayatri seka, sisanya masih jelas terlihat.


“Ngg-nggak kok, gak gue apa-apain. Gue tadi cuma ngasih si Aya semangat dan motivasi biar dia semangat. Noh dia ampe terharu, mewek deh. Iya kan Ya?” Zaidan sampai gelagapan di tatap setajam silet oleh Mira.


“Beneran Aya?” Mira tidak lantas percaya.


Gayatri hanya mengangguk. “Tuh kan!” seru Zaidan merasa di bela oleh sahabatnya.


“Tuh kan, tuh kan! Lo motivasi anak gue pake apaan sampe mewek? Balik lo sono, di cariin emak lo!” dengan sapu yang ada di tangannya, Mira menunjuk ke arah rumah Zaidan.


“Ah elah, emak gue kan masih di arab Nyak.” Zaidan menjawab dengan kesal.


“Lah itu, Perempuan yang sama babeh lo,” Mira masih tidak mau kalah.


“Benalu dia mah. Emak gue yang kerja, dia yang morotin lewat babeh. Hah, brengsek emang!” dengus Zaidan dengan kesal.


“Makanya, lo cepet gede, nyari duit sendiri biar emak lo cepet balik. Udeh sono, balik dulu. Ganti tuh baju seragam, kalau laper lo kemari aja!” Mira memang garang tetapi perhatian.


“Iyaa, makasih Nyak. Balik dulu ya. Yuk Aya!” pamit Zaidan seraya menaiki sepeda motornya.


“Gaya lo pake pamit segala, tibang rumah lima langkah doang,” timpal Mira yang membuat Zaidan terkekeh.


Remaja itu hanya membunyikan klaksonnya sebelum kemudian berlalu pergi menuju rumahnya.


“Masuk lo! Ganti baju terus makan. Gue bikin bakwan,” titah Mira pada putrinya.


Gadis itu tidak menjawab, pergi begitu saja menuju rumahnya.


“Si Zaidan ngomong apa sih sampe lo mewek? Padahal gue seneng lo udah ngomong, tapi sekarang gue malah liat lo mewek lagi. Kapan sih lo senengnya?” gumam Mira seraya memandangi arah berlalunya Gayatri. Ia masih sangat mencemaskan putrinya yang sepertinya kondisi mentalnya belum benar-benar pulih.


Di dalam kamarnya, Gayatri menaruh helm dan tasnya di meja belajar. Sambil terduduk di tepian tempat tidur, ia melepas satu per satu sepatu dan kaos kakinya. Tubuhnya yang terasa lemah coba ia baringkan di atas Kasur. Nyaman, tulang punggungya terasa lurus.


Pikirannya mengingat kembali kejadian saat di kantin tadi. Ia melihat Shaka di gandeng oleh Indah dan laki-laki itu tidak protes. Tetapi mengapa hatinya merasa terusik?


“Lo mikir apaan sih Aya, Shaka kan emang begitu. Bad boy, playboy, suka tebar pesona sama semua cewek, semua cewek di bikin ngarep. Yaa, dasarnya dia emang suka main-main, kenapa lo mendadak risih?” Gayatri bertanya pada dirinya sendiri.


Ada rasa yang mengganjal saat mengingat sorot mata Shaka ketika laki-laki itu duduk bersama dengan Indah. Kejadian yang mirip saat Rasya dulu di paksa duduk dengan gadis itu karena kalah taruhan.


Sorot matanya sama, penuh kecemasan pada Gayatri.


“Aya lo mulai ngelantur... Rasya sama Shaka itu beda, beda! Cuma kejadiannya aja yang mirip. Iya kan? Iya gak sih?” Gayatri mengetuk-ngetuk kepalanya sendiri untuk membuyarkan pikiran itu. Ia memiringkan tubuhnya dan memeluk guling yang sudah lepek itu. Ponsel yang tertinggal tergeletak di sana, di dekat jari telujuknya yang lunglai karena kelelahan.


Gayatri mengambil benda pipih itu. Saat di lihat, ternyata ada banyak panggilan dari Barkah pagi tadi. Mungkin saat sang ayah mengantarkan baju olah raga miliknya. Lalu ada satu pesan dari Shaka, “Lo baik-baik aja?” begitu bunyi pesan yang Shaka tulis. Di kirim beberapa jam lalu, pasti saat Dion menghampirinya.

__ADS_1


“Ngapain lo peduli banget sama gue? Lo gak usah ikut campur masalah gue sama Dion,” gumam Gayatri seraya memandangi foto profil Shaka. Seorang pengendara motor dengan helm full facenya. Tampilannya gagah sesuai dengan sosok Shaka yang sebenarnya.


Tring!


Tiba-tiba saja sebuah pesan masuk. Gayatri langsung terhenyak dan bangkit dari baringannya. Ia memeriksa pesan masuk itu dengan segera. “Tumben lo online?” tanya Shaka dengan emot senyum di ujung kalimatnya.


“Hak gue lah,” balas Gayatri. Ada debaran yang tidak biasa saat melihat pesan masuk dari Shaka.


“Iyaa hak lo deh. Ngomong-ngomong gue laper, main ke tempat lo ya,”


Gayatri langsung terhenyak, jemarinya refleks membalas. “Cari tempat lain, tempat makan kan banyak.” Gadis itu melarang. Shaka tidak lantas menjawab, membuat Gayatri gelisah sendiri menunggu jawaban Shaka.


“Kenapa balesnya lama banget? Dia marah gitu?” Gayatri jadi kepikiran. Menunggu cukup lama dan Shaka benar-benar belum membalasnya. Sudah berjalan mondar mandir di kamarnya sambil menggigiti kukunya dengan gelisah, tetapi pesan itu baru di baca saja.


“Ayaaa, makan dulu!!” lagi suara Mira terdengar. Dengan malas Gayatri menaruh ponselnya, sepertinya laki-laki itu memang marah.


“Gue kan cuma mau ngerjain lo, kenapa lo marah? Lo ngerjain gue aja, gue gak pernah marah,” gerutu Gayatri pada benda pipih di tangannya yang rasanya ingin ia gigit.


“Jangan ngomel, makan dulu!!! Urusan si Zaidan biar nanti gue yang omelin!” Mira yang menguping di pintu kamar putrinya, yang menimpali.


“Enyak ngapain sih, nguping kayaknya dia.” Gayatri kaget sendiri. ia benar-benar sedang di awasi.


Sebuah pesan kembali masuk dan Gayatri segera memeriksanya. “Gue di depan,” begitu isi pesan Shaka.


“Adduhhh…” Mira yang sedang menguping sambil bersandar di pintu pun nyaris jatuh.


“Ya ampun Enyak, ngapain sih!” Gayatri kesal sendiri.


“Ya gak ngapa-ngapain. Kepala gue pusing makanya gue senderan bentar. Emang gak boleh! Ini pintu kan gue yang beli, kenapa lo yang pelit?!” Mira beralasan.


“Ish!” Gayatri hanya berdecik. Ia segera pergi meninggalkan ibunya yang melotot kesal.


“Astaga, berani mendecik lo ya sama gue? Mana main pergi aja lagi. Kenapa, ada si Zaidan lagi? Gue sunat dua kali baru tau rasa tuh bocah!” maki Mira. Sabar ya Zaidaann, siap-siap di sunat dua kali.


Gayatri segera berlari ke luar kedainya. Ia mencari keberadaan Shaka, tetapi tidak ada. “Mana sih tuh anak?” Gayatri masih terengah karena berlari dengan cepat. Ia mengecek lagi ponselnya hendak menghubungi Shaka.


Tanpa ia duga ternyata Shaka mengirim PAP nya, sedang berada di depan mini market. “Nih gue udah di depan, lo mau nitip apa, biar gue bawain,” begitu isi kalimat berikutnya.


“Akh sialan! Gue kira lo udah di depan kedai, tau-taunya di depan mini market,” gerutu Gayatri seraya mengusap wajahnya yang berkeringat. Kecewa dan malu sendiri.


“Nyari siapa lo?”


“Astaga!” Gayatri terhenyak saat suara Barkah tiba-tiba terdengar di sampingnya.

__ADS_1


“Kaget bener… nungguin pacar lo ya?” selidik laki-laki itu.


“Sok tau!” dengus Gayatri seraya berlalu pergi.


“Nah begitu tuh kelakuan anaknya Mira.” Protes Barkah yang merasa di tinggalkan.


“Kenapa emang anak gue? Beban buat lo?” Mira yang mendengar gerutuan suaminya langsung menimpali.


“Kagak! Maksud gue anaknya Mira cantik, begitu!” Barkah langsung merubah raut muka kesalnya menjadi senyum selengean.


“Ck!” Mira hanya berdecik, tidak menimpali lagi suaminya yang berjalan mendekat.


“Wooyy, nitip apa wooyy!!! Lama bener mikirnya!” kali ini suara voice note Shaka yang sedang di putar Gayatri. Gadis itu masuk kembali ke kamarnya.


“Gak usah gue gak pengen apa-apa,” Gayatri refleks membalas dengan pesan suara.


“Nyet, ini beneran suara lo? Candu banget anjir!!” ungkap Shaka dengan suara yang tersenyum.


Gayatri hanya tersenyum mendengar suara Shaka yang besar dan bulat itu. Jangan sampai laki-laki ini tahu kalau tadi Gayatri tiba-tiba berlari untuk menyambutnya. Pasti akan sangat memalukan.


“Gue bawain ini yaa…” Shaka mempotretkan beberapa makanan yang ia beli.


“Dih, kok dia tau makanan kesukaan gue?” Gayatri bingung sendiri. Semua makanan yang di fotokan Shaka adalah makanan favoritnya. Padahal tidak sulit bagi Shaka karena semua hal tentang Gayatri ada di agenda adiknya.


“Ada yang kurang gak?” lagi Shaka mengirimi pesan.


“Gue gak minta.” Gayatri membalasnya dengan kalimat itu.


“Hak gue buat beliin apa pun dan buat siapa pun.” Shaka membalasnya dengan pesan suara.


“Hak gue buat nerima atau nggak makanan yang lo bawa.” Gayatri ikut membalas dengan pesan suara.


“Mie kremes pake saos dan mayonnaise enak kali ya,” balas Shaka yang membuat Gayatri langsung terdiam. Bagaimana bisa laki-laki ini bahkan tahu makannya absurb itu?


Gayatri memilih untuk tidak membalas. Ia menoleh foto Rasya yang ada di atas meja belajarnya, “Kenapa dia tau semuanya?” Gayatri menatap foto Rasya dengan bingung. Ia tahu persis kalau cara makan yang absurb itu hanya dilakukan sekali oleh Gayatri dan Rasya saat mereka camping di Bromo.


Saat itu mereka akan memasak Mie, tetapi karena udara yang begitu dingin, perampian mereka tidak mau menyala. Akhirnya Gayatri dan Rasya makan yang ada saja. Mereka menghancurkan mie instan dan membumbuinya. Isengnya Gayatri menambahkan mayonnaise dan sause pada mie yang di buat kremes itu. Tidak di sangka ternyata Rasya mau memakannya dan rasanya pun lumayan enak.


“Ini makanan kenangan kita di Bromo. Kalau kita ke sini lagi, kita bikin mie begini lagi, okey?” ajak Rasya dengan semangat.


“Okey,” Gayatri dan Rasya mentautkan kelingking mereka untuk membuat janji. Janji terakhir yang tidak akan pernah bisa di tepati.


“Ayaaa!! Ada temen lo noh dateng!” seru Barkah dari luar kamar Gayatri.

__ADS_1


****


__ADS_2