
"Apa maksud kamu dengan menghasut para siswa hah, Apa?!" teriak kepala sekolah di depan wajah Shaka. Mata bulatnya menyalak merah, penuh kemarahan pada siswa yang berdiri tegak di hadapannya.
Saat ini tiga siswa itu sudah berada di ruang kepala sekolah. Setelah tadi di paksa keluar dari aula lalu setengah di seret menuju ruang kepala sekolah, mereka kini tengah diintrograsi. Selain Shaka, Gayatri dan Dewa, ada empat orang lainnya di ruangan tersebut. Empat pasang mata yang menatap tajam pada ketiganya.
Kepala sekolah, wakasek kesiswaan yang terlihat sedang ngefly, wakasek umum dan tentu saja Arisman. Seorang Arisman sesekali memandangi Gayatri, entah pikiran apa yang sedang muncul di benak laki-laki itu. Ia memalingkan kembali wajahnya saat Gayatri balas menatapnya. Risih sepertinya.
"Saya tidak menghasut Pak. Saya hanya ingin mengingatkan mereka, kalau mereka berhak membela hak mereka. Apa lagi jika hak mereka di jegal tanpa alasan yang jelas." begitu pembelaan Shaka.
"Di jegal?" tanya kepala sekolah seraya menatap Shaka dengan tajam. Shaka mengangguk yakin. "Hahahaha... kamu anak baru yang sok tau!" Laki-laki itu menunjuk-nunjuk kepala Shaka dengan kesal. Bibirnya sampai menipis dan gigi yang rapat menggeretak.
"Larangan itu sudah di acc oleh lembaga terkait. Media sosial itu merusak mental anak-anak muda. Dan kamu malah mau melegalkannya. Kamu pikir kamu siapa hah, sampai berani melakukan hal itu?!" tantang kepala sekolah sambil berkacak pinggang. Menunjuk Shaka dengan matanya yang tajam.
Shaka malah tersenyum, tidak ada rasa takut sedikit pun. "Bapak yakin alasannya karena itu? Bukan karena takut rahasia sekolah ini terbongkar? Karena itu juga kan kalian cuci tangan atas kasus kematian Rasya?" pancing Shaka dengan berani.
"DIAM!!" Suara kepala sekolah menggema di ruangan tersebut. "Sudah saya bilang, kematian Rasya tidak ada hubungannya dengan masalah narkoba di sekolah ini!" seru laki-laki itu dengan suara keras.
"Narkoba? Tapi saya gak pernah bilang masalah narkoba loh Pak. Apa mungkin Rasya tau kalau salah satu gurunya adalah pemakai?" Shaka menoleh wakasek kesiswaan yang berdiri di salah satu sudut, bersandar pada dinding dengan matanya yang memerah.
PLAK!
Satu tamparan diberikan Arisman di pipi kiri Shaka, hingga wajah Shaka berpaling. Gayatri dan Dewa sama-sama terhenyak melihat ringannya tangan Arisman menampar wajah salah satu anak didik di sekolah ini. Shaka tidak bergeming, meski pipinya terasa panas dan telinganya berdengung bekas tamparan, tetapi ia hanya menyeringai. Rasa sakit hati dan kehilangannya, jauh lebih besar di banding tamparan Arisman. Pria muda itu menyentuh sudut bibirnya yang luka dan berdarah dengan ujung lidahnya, lalu menatap laki-laki itu dengan tajam.
"Waah, sepertinya tangan Anda sangat ringan sekali pak komite. Apa Anda sudah terbiasa melakukannya?" tanya Shaka seraya mengusap darah di sudut bibirnya.
Arisman balas menyeringai, tidak menyangka kalau siswa yang satu ini begitu berani. "Saya melakukannya agar kamu sadar. Pikiran kamu sudah kacau dengan memikirkan hal yang tidak-tidak tentang sekolah ini dan para gurunya. Saya bisa memanggil orang tua kamu dan mengeluarkan kamu dari sekolah ini atas tuduhan pencemaran nama baik yang tidak mendasar. Paham?" Kalimat Arisman berujung ancaman.
Shaka tersenyum kecut, laki-laki ini mengancam seperti pada anak kecil. Sayangnya, yang ia hadapi adalah seorang Shaka. Tentu saja ia memberanikan diri berhadapan dengan Arisman. Laki-laki berdarah dingin yang memiliki gangguan emosional.
"Yaaa, tidak masalah. Dengan senang hati, saya sendiri yang akan menyampaikan surat itu pada orang tua saya. Paling tidak, mereka akan paham alasan saya dan tidak akan menampar saya seperti yang Anda lakukan. Mereka bukan orang tua yang suka menyiksa anaknya hingga sekarat." Shaka menimpali dengan tegas. Ia menatap wajah Arisman yang menegang, entah karena marah atau merasa tersindir. Yang jelas sudut bibirnya berdenyut hendak menyeringai.
"Siapkan surat panggilan untuk orang tua anak ini!" ucap Arisman pada kepala sekolah. Matanya membulat menatap Shaka sebelum kemudian pergi bersama teman-temannya dan hanya meninggalkan kepala sekolah di ruangan tersebut. "Urus mereka!" bisik Arisman sambil berlalu pergi.
Kepala sekolah itu mengangguk patuh. Ia menatap ketiga siswanya bergantian. Penuh kemarahan dan kekecewaan. "Kalian kelewatan! Tunggu di sini, bawa surat perigatan untuk orang tua kalian!" seru kepala sekolah yang beranjak keluar ruangan untuk meminta salah satu guru membuatkan surat panggilan.
__ADS_1
Tersisa tiga orang di ruangan tersebut, ketiganya kompak menghembuskan napasnya kasar. "Kita harus gimana?" tanya Dewa yang masih ketar-ketir. Sementara Gayatri menatap Shaka dengan khawatir, melihat gambar tangan di pipi kiri Shaka serta sudut bibirnya yang berdarah.
"Ubah kondisi terdesak ini jadi kesempatan," ucap Shaka kemudian. Ia mengusap kepala Gayatri dengan lembut. Ia tahu benar gadis ini sedang mencemaskannya.
"Maksud lo?" tanya Gayatri. Bisa-bisanya laki-laki ini mengabaikan rasa khawatirnya.
Shaka hanya tersenyum kecil. Ia beranjak untuk mengunci pintu ruangan kepala sekolah.
"Lo mau ngapain?" tanya Dewa takut-takut. Kalau ada Dewa yang penakut, maka inilah orangnya.
"Bersenang-seneng." Shaka menjawab dengan ringan sambil tersenyum kecil. "Kita cari bukti yang bisa membalik keadaan berpihak sama kita. Apa pun bentuknya kesalahan mereka." ucap Shaka dengan penuh percaya diri. Ia sangat yakin kalau mereka akan berhasil menemukan hal penting di ruangan ini.
"Lo Gila?! Gimana kalau kita ketauan?" seru Gayatri, tidak yakin dengan ide yang dicetuskan Shaka.
"Ya! Terkadang perlu kegilaan untuk bertahan agar tetap waras." Laki-laki itu berujar dengan santai. "Kalau kalian mau selamat, bantu gue buat geledah tempat ini. Foto hal apa pun yang mencurigakan. Jangan menyentuhnya, cukup kasih tau gue." Hal itu yang kemudian Shaka perintahkan.
"Kita mau balas ngejatuhin kepala sekolah?" tanya Dewa yang tiba-tiba antusias.
"Ya!" Shaka menatap Dewa dengan lekat, keduanya saling melempar senyum dan kompak berujar, "Mata untuk mata, gigi untuk gigi. RAWRR!!" ucap dua lelaki muda itu bersamaan dengan seringai penuh rasa puas. Sementara Gayatri hanya menggeleng melihat tingkah dua lelaki ini.
Tiga orang muda itu mulai bekerja. Mereka menggeledah seisi ruangan yang Shaka percaya pasti menyembunyikan sesuatu. Di mulai dari mengeluarkan sarung tangan di sakunya, selanjutnya Shaka menyambungkan ponselnya ke laptop milik kepala sekolah. Ia mengambil beberapa data penting yang cukup mengejutkan. Ia tidak menyangka kalau sampai ada bukti dan fakta semacam ini di laptop kepala sekolah.
"Shaka, ini ada hape diumpetin di sini," ucap Gayatri saat membuka billing cabinet.
Shaka segera menghampiri dan benar saja ada ponsel jadul di sana. Shaka mengambil ponsel itu dengan menggunakan sarung tangan. Entah untuk apa fungsi ponsel ini, yang jelas, ponsel tipe ini membuat sulit untuk di lacak. Terlintas ide dalam pikiran Shaka. "Lo masih inget nomor dari Dion?" tanya Shaka.
"Masih," Gayatri menjawab pasti.
"Good!" Shaka segera menyalakan ponsel itu. Cukup lama sampai kemudian ponsel itu menampilkan layar utama. Gayatri sudah ketar-ketir, berulang kali ia menoleh ke arah pintu takut ada yang datang. Beruntung ponsel itu segera menyala dan siap digunakan meski baterainya lemah. "Okey, sebutin," imbuh Shaka.
Gayatri menyebutkan satu per satu digit nomor ponsel tersebut dan Shaka melakukan panggilan setelah nomor itu lengkap. Tidak lama, sebuah nama muncul di ponsel tersebut. Shaka dan Gayatri kompak saling menatap. Mereka sama-sama menelan saliva kasar-kasar saat tahu siapa pemilik nomor yang kerap mengancam Dion. Mereka benar-benar terhubung dengan alasan yang jelas.
"Ini bukti kita," ucap Shaka dengan penuh keyakinan. Gayatri mengangguk setuju dengan ucapan Shaka. Satu per satu misteri terpecahkan dan siap untuk mereka ungkap.
__ADS_1
"Shaka! Ini apa?" seru Dewa, dengan suara tertahan.
Shaka segera menghampiri lemari arsip yang di tunjuk Dewa. Ada tumpukan berkas di sana, dan di bagian tengah, ada sebuah buku tebal yang dilubangi di bagian belakang. Isinya mengejutkan, yaitu berisi lintingan rokok. Shaka mengambilnya satu batang, lalu ia cium.
"Ini harta karun," ucap Shaka. Ia mengambil beberapa foto, meminta teman-temannya menyingkir lalu menempatkan kembali barang tersebut di tempatnya.
"Apa kepsek kita pemake?" tanya Dewa yang sepertinya mulai sadar saat melihat sebuah botol kecil yang berisi butiran obat. Entah apa jenis obat berwarna hijau muda berbentuk persegi panjang yang Shaka keluarkan dari botolnya. Ada juga lintingan ganj^ dan bungkusan kecil shabu.
"Kita gak tau, sebelum mereka di periksa. Yang jelas ini barang bukti." Shaka mengambil beberapa foto lalu memasang kamera kecil tersembunyi di salah satu sudut. Menghalanginya dengan tanaman bunga imitasi.
"Gue lapor polisi sekarang ya? Biar mereka segera di tangkap!" Dewa terlihat begitu bersemangat.
"Jangan dulu. Tunggu sampe mereka ngebebasin kita. Gue udah pasang kamera di sini, buat ngerekam semua kejadian di ruangan ini," tahan Shaka.
"Tapi,"
"Ada yang datang!" seru Gayatri saat mendengar derap langkah.
Shaka bergegas mengembalikan semuanya pada tempatnya. Melepas ponselnya, menutup lagi laptop dan berlari untuk membuka pintu lalu kembali ke posisinya semula. Jantung tiga orang itu berdebar sangat kencang, seperti habis terjun bebas dari tebing yang tinggi lagi curam. Keringat dingin berucucuran di punggung juga pelipis. Tangan mereka sampai basah karena tegang. Sambil menunduk, mereka berusaha menenangkan diri mereka masing-masing.
Suara handle pintu yang di putar, terdengar jelas, membuat ketiga orang itu menahan napasnya beberapa saat. Sang kepala sekolah menatap tiga remaja itu dan terlihat menyelidik.
"Bagus, kalian masih di sini. Saya pikir kalian akan kabur," kepala sekolah datang dengan sebuah map di tangannya. Ia berdiri di hadapan tiga siswanya lalu mengeluarkan tiga amplop dalam map tersebut.
"Suruh orang tua kalian datang, jika tidak, kalian akan dikeluarkan dari sekolah ini!" titah laki-laki itu seraya memberikan amplop tersebut pada ketiga siswanya.
Tidak ada keberatan sama sekali. Mereka langsung menerima amplop itu tanpa rasa ragu. Tentu mereka tidak ragu, karena kali ini mereka pun memiliki kartu as kepala sekolah.
"Keluar!" gertak laki-laki itu dengan kasar.
"Iya pak, selamat sore," hanya itu sahutan Shaka yang melangkah lebih dulu diikuti oleh kedua temannya.
Kepala sekolah hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah tiga siswa yang seperti tidak ada rasa takut sama sekali. Berbeda dengan Shaka, Gayatri dan Dewa, yang kompak tersenyum lebar sesaat setelah keluar dari ruangan itu dengan langkah berani tanpa menunduk sedikit pun.
__ADS_1
Mereka kompak tos, merayakan langkah penting yang mereka ambil.
*****