
Sudah cukup lama Gayatri tidak datang ke tempat ini, tempat yang dulu ia anggap sebagai rumah kedua, yaitu base camp ‘Henka Kaizen’. Sebuah rumah minimalis model bangunan jaman dulu, milik keluarga Dewa yang dijadikan markas tempat mereka berkumpul. Rumah ini memang kecil, hanya halamannya saja yang luas. Di tempat ini mereka biasanya mengotak-atik motor yang akan mereka gunakan untuk balapan atau memasang variasi di motornya.
Saat ini pun ada enam motor yang berbaris rapi di halaman base camp tersebut. Setelah pulang sekolah anak-anak ini pasti berkumpul di base camp meski entah apa yang sedang mereka lakukan. Gayatri memperhatikan ke sekitaran rumah, dilihat dari jendela ia dapati dua orang sedang main PS. Sementara empat orang lainnya sedang berbincang di bangku besar yang ada di teras rumah tersebut,
“Tadi juga gue telepon, katanya gak enak badan. Gak tau sakit apaan.” Suara itu milik Anton yang sedang memainkan benda pipih di tangannya sambil berbaring.
Gayatri tidak langsung menghampiri, ia mendengarkan dulu apa yang sedang mereka bicarakan.
“Perasaan kemaren baik-baik aja. Lo inget kan, gimana senengnya dia pas jalan sama si Aya?" Zaidan ikut berkomentar.
"Sejak beberapa hari lalu, Si Dion emang banyak berubah, terutama sejak si Aya baikin dia. Tuh anak jadi sering ketawa, kayaknya suasana hatinya bagus. Masa sekarang tiba-tiba sakit?” Dewa ikut menimpali.
“Kenapa bisa gak mungkin? Siapa tau ini modus juga biar si Aya lebih peduli sama dia? Biar si Aya juga nyariin dia. Tapi untung sih dia kagak sekolah, coba kalau dia sekolah dan liat si Aya keluar dari indoor pool sama si Shaka, berduaan lagi. Beeuuhh bisa ngamuk dia!” Anton berujar dengan sungguh.
Gayatri baru tersadar kalau ternyata ada yang melihat ia dan Shaka. Ia pikir aman-aman saja keluar masuk tempat itu karena tidak merasa ada yang memperhatikannya, tapi ternyata teman-temannya ada yang melihat.
“Iyaaa, jangan sampe dia tau. Nanti kalau dia ngambil langkah kayak dulu gimana? Kayak waktu ngaduin si Rasya ke bang Galih. Yang ada ujung-ujungnya tuh anak celaka kan? Meninggal lagi!”
Pada kalimat ini, Gayatri terhenyak mendengar ujaran Dewa barusan. Apa maksud Dewa dengan mengatakan mengadukan ke Galih soal ia dan Rasya?
“Lo gak usah bawa-bawa yang udah meninggal. Lagian bang Galih juga gak ada, gak tau di mana? Kalau si Aya ada hubungan apa-apa, emang si Dion mau ngadu ke siapa? Ke babeh Barkah? Terus babeh Barkah gitu yang nanti bunuh di Shaka? Gak masuk akal lo, kelewat parno!” Anton terkekeh di ujung kalimatnya, membuat telinga dan dada Gayatri panas mendengarnya.
“Apa maksud lo?” tanya Gayatri yang tiba-tiba berdiri di hadapan tiga orang itu.
“ASTAGA!” seru Zaidan yang sedang asyik rebahan. Ketiga sahabatnya pun terhenyak kaget melihat sosok Gayatri yang tiba-tba berdiri di depan mereka.
“A-aya?” Dewa sampai tergagap.
“Apa maksud lo dengan ngaduin Rasya ke abang gue?” Gayatri tidak menghiraukan keterkejutan keempat remaja itu, termasuk yang sedang tertidur. Ia lebih butuh jawaban mereka.
__ADS_1
“E-Elo udah bisa ngomong?” Anton ikut tergagap.
“Apa maksud lo dengan ngaduin Rasya ke abang gue?!” Gayatri mengulang kalimatnya dan kali ini lebih keras dan kasar.
Tiga remaja itu langsung terdiam, menelan salivanya kasar-kasar dan berdiri di hadapan Gayatri. Dua orang yang sedang main PS di dalam sana pun ikut menghampiri karena kaget mendengar Gayatri yang berteriak pada empat temannya.
“Bu-bukan gue yang ngaduin Aya. Tapi si Dion.” Cepat-cepat Anton menjawab.
“Aduan apa? Jawab yang jelas atau gue habisin lo semua,” ancam Gayatri dengan mata menyalak tajam.
Bulu kuduk mereka sampai meremang melihat ekspresi dingin dan garang Gayatri.
“A-aya.” Zaidan segera menghampiri Gayatri dan memegang punggung gadis itu. “Lo tenang dulu, maksud anak-anak gak begitu,”
“JELASIN!” seru Gayatri yang mengibaskan tangan Zaidan.
“Ja-jadi, selama lo deket sama si Rasya, si Dion sering laporin lo sama abang lo. Si Dion bilang, kalau lo sama si Rasya hubungannya udah terlalu jauh. Si Rasya udah berani *****-***** lo sampe ngajak lo camping dan tidur berdua di tenda. Lo sama di Rasya, akh sial, pokoknya begitu dah Aya. Itu yang bikin abang lo kesel sama si Rasya makanya nantangin berantem di Gudang kosong itu.” Anton tidak bisa menjelaskan lebih, tubuhnya gemetaran mengingat kejadian itu.
“Oh, jadi lo tau dan lo semua pada diem aja? Lo juga gak ngomong sama gue?!” seru Gayatri seraya mendorong dada Zaidan dengan kasar hingga laki-laki itu mundur beberapa langkah dari hadapannya.
“Aya, kita bukan gak berani ngomong. Gue pribadi udah bilang sama abang lo, buat gak percaya serratus persen omongan si Dion. Tapi lo tau sendiri, abang lo lebih deket sama di Dion di banding kita-kita,” Zaidan berusaha memberikan penjelasan.
“Terus kenapa lo gak ngomong sama gue, hah?” Gayatri semakin tajam menatap keenam temannya. Terlihat sekali kalau gadis ini sangat kesal.
“Si Dion ngelarang kita-kita ngomong sama lo, soalnya lo lagi bucin, gak bakalan bisa di bilangin. Ya kita mana berani ngelawan si Dion?” Anton berujar dengan takut-takut, membuat Gayatri menyeringai tipis.
PRANK!
Tangan Gayatri dengan ringan melempar botol minuman ke dinding hingga pecah berserakan. Keenam sampat mengkerut, meringis ketakutan melihat kemarahan Gayatri.
__ADS_1
“Brengsek lo pada! Kemaren-kemaren kalian ke mana aja? Kenapa pada diem, hah? Kalian mikir gak, kalau aja kalian bilang sama gue, mungkin Rasya gak akan meninggal dan bang gue gak akan di tuduh pembunuh. MIKIR GAK?!” Gayatri setengah berteriak mengucapkan kalimat itu. Matanya menyalak merah dan berkaca-kaca, ada banyak kilatan kemarahan dan kekecewaan di dada mereka.
Mereka hanya bisa terdiam, tubuh keenam remaja itu tegang dan gemetar, tertunduk tanpa berani menatap Gayatri yang sangat marah.
“So-sory Aya. Gue sama anak-anak juga nyesel. Kita semua gak ada yang nyangka kalau bakalan ada kejadian kayak begitu, sampe almarhum Rasya meninggal. Maafin kita Aya,” Zaidan yang berujar dengan sungguh sambil menangkupkan tangannya di hadapan Gayatri.
“Iya Aya, gue sama anak-anak minta maaf. Jangan laporan kita-kita ke polisi. Gue gak mau di penjara,” Dewa sampai bertekuk lutut di hadapan Gayatri, di susul oleh kelima temannya yang lain.
Gayatri hanya bisa mengguyar rambutnya kasar, memukulkan tangannya yang mengepal ke udara, sebagai pelampiasan kemarahannya. Saat ini ia baru paham, mengapa dulu Galih selalu bersikap sinis pada Rasya, ternyata karena ia mendapat hasutan dari Dion. Laki-laki yang di curigai Shaka memiliki andil besar dalam kejadian ini.
“Mana kunci motor gue?” tanya Gayatri pada Anton. Ia menengadahkan tangannya meminta kunci motor yang selama ini di simpan sahabatnya.
“Lo mau ke mana pake motor itu?” tanya Anton yang tambah ketakutan.
Motor Gayatri di setting sebagai motor balap yang biasa digunakan gadis itu untuk balapan. Selama ini sengaja dititipkan pada Anton sebagai jaminan atas uang yang dipinjam Gayatri sebesar sepuluh juta.
“Lo gak usah takut, gue bakal bayar utang gue malam ini,” hanya itu jawaban Gayatri.
“Bukan masalah duitnya Aya. Jawab dulu pertanyaan gue, mau lo apain itu motor, mau lo jual apa mau lo pake balapan? Kalau mau lo jual, silakan. Tapi kalau mau lo pake balapan, gak boleh. Abang lo udah berpesan sama gue buat gak ngasih lo balapan lagi, apalagi balapan liar,” Anton berujar dengan cepat sambil berdiri.
Kalimat itu yang di pesankan Galih beberapa hari sebelum laki-laki itu di anggap menghilang.
“Mana kunci motor gue?!” seru Gayatri dengan suaranya yang besar dan penuh penekanan.
"Lo kasihin aja napa sih?!" Zaidan jadi ikut kesal. Berdebat dengan Gayatri tidak akan ada ujungnya.
“Akh sial!” dengus Anton, sepertinya ia tidak punya pilihan lain, selain memberikan kunci motor itu pada sang pemiliknya.
****
__ADS_1